Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 56


__ADS_3

Seorang wanita cantik berusia 25 tahun, sedang mengadakan talk show di sebuah mall Kota Bandung siang itu. Ia baru saja meluncurkan novel kelimanya yang berjudul 'Ending Overcast'. Ia diminta untuk memberikan tips dan trik terkait dunia kepenulisan yang semakin hari semakin digemari oleh kaula muda, mulai anak remaja hingga dewasa.


Dengan nama pena-nya, Miss Aurella, wanita itu tampak santai memberikan sedikit banyak pengalamannya di dunia sastra yang digelutinya saat ia mengenyam bangku kuliah sarjana. Ia tampak cantik mengenakan setelan blouse berwarna dusty pink dan rok sebetis dengan motif salur.


"Apakah karya yang diluncurkan oleh kamu ini diambil dari pengalaman pribadi kamu sendiri?" tanya moderator acara.


Wanita itu tersenyum, "Selebihnya memang banyak yang berasal dari pengalaman pribadi saya, tetapi kemudian kejadian itu saya improvisasi lagi sehingga bisa lebih menarik," jawab wanita itu.


"Untuk novel kelima kamu, kan disana menceritakan sebuah penantian cinta panjang seorang wanita, apakah itu juga berasal dari kisah hidup seorang Miss Aurella?"


Wanita itu terkekeh.


"Kalau boleh jujur, iya! Haha! Tapi seperti tadi kata saya, saya mengimprovisasi lagi cerita-cerita di sana agar terlihat dramatis," jawab wanita yang tak ingin disebutkan nama aslinya itu.


"Wah berarti memang Miss Aurella ini masih single dong ya?" ucap moderator.


"Ya begitulah!"


"Untuk Anda yang ingin mendapatkan tanda tangan langsung dari penulis best seller novel 'Miss Dreamer & Elizabeth's Diary', 'Two Sides of Love', 'Seasons of Love' dan 'On The Other Side', langsung saja membeli novel 'Ending Overcast' ini. Kalian juga bisa dapetin bonus langsung ya ada buku catatan dan juga tumbler, hanya khusus pembelian hari ini!" ucap moderator.


"Terima kasih banyak buat sharingnya ya, Miss Aurella! Semoga sukses selalu! Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah pada Miss Aurella," seru moderator, membuat wanita itu pamit mengundurkan diri dari panggung kecil diantarkan oleh sorak tepuk tangan dari penonton yang hadir, yang sebagian besar memang para penggemar author bertubuh mungil dan berkulit putih itu.


Miss Aurella duduk di sebuah stand dimana ia akan bertemu dengan para penggemar dan orang-orang yang membeli bukunya. Ia membubuhkan tanda tangan di novel barunya dan memberikannya kepada mereka dengan ramah. Miss Aurella adalah seorang penulis lokal yang namanya sempat booming di karyanya yang berjudul Two Sides of Love. Spesialis penulisannya adalah untuk karya sastra fiksi roman, drama, dan young adult. Padahal dulu ia ingin sekali menjadi penulis fantasi, tetapi ternyata ia merubah orientasi kepenulisannya.


"Nava!" panggil sebuah suara, setelah acara itu benar-benar selesai.


Wanita itu menoleh dan melihat seorang pria berwajah oriental datang kepadanya sambil membawa buket bunga kertas.


"Gerry?!" tanya wanita itu meyakinkan dirinya.


"Hei, selamat ya buat peluncuran novel terbaru kamu!" ucap pria itu dan memberikan buket bunganya.


"Terima kasih!" ucap wanita itu berseri.


"Kamu itu ya, kalau aku gak tahu nama pena kamu, mungkin aku gak akan pernah tahu kalau novel kamu itu bagus banget!" puji Gerry.


"Haha, bisa aja! Eh, Ger, bukannya kamu kerja di Singapura?"


"Iya kebetulan lagi pulang aja, makanya bisa kesini!" jawab pria itu.


"Oohh..."


"Va, kamu masih ada waktu ga?"


"Kenapa emangnya?"


"Kita makan yuk, sekalian ngobrol kan udah lama gak ketemu!"


"Boleh!"

__ADS_1


Nava adalah nama asli dari Miss Aurella, nama pena-nya yang sebenarnya adalah nama kepanjangannya sendiri. Navarina Aurella, begitulah nama lengkapnya. Ia berjalan menuju sebuah restoran western bersama Gerry, salah satu sahabatnya di SMA dulu.


"Gimana karir kamu di Singapura, Ger?" tanya Nava setelah memberikan menu makanan siang itu.


"Lancar, alhamdulillah, sejauh ini sih!"


"Jadi kamu bolak-balik Singapura - Bandung gitu?"


"Paling aku pulang enam bulan sekali, gimana papa butuh aja!"


"Ohh..."


Tak lama kemudian pesanan keduanya datang. Mereka langsung saja melahap menu hidangan yang ada di hadapan mereka.


"Kemarin katanya anak-anak pada ngumpul ya?" tanya Gerry setelah menelan potongan daging burger yang telah dipesannya.


"Anak-anak mana?"


"Geng kita pas SMA," jawab Gerry.


"Oh iya?!" Nava membelalakan matanya.


"Iya lho! Kamu pakai nomor yang mana sih?" tanya Gerry.


"HP-ku kan sempet hilang tujuh bulan yang lalu kalau gak salah. Jadi nomor aku ganti. Aku sama sekali ga ingat nomor kalian. Akun medsos aku aja bikin lagi, saking lupanya sama pasword aku sendiri!"


"Hehehe..."


"Ceroboh kamu tuh gak ilang-ilang!" ucap pria di hadapannya itu.


Nava terkekeh saja, memang dia begitu ceroboh sampai-sampai akun medsos sendirinya tidak bisa diakses.


"Kamu ikut kumpul kemarin?" tanya Nava sambil menyuapkan steaknya.


"Irvan ngajakin aku, tapi aku masih di Singapura, jadi ya gak bisa,"


"Ooh... jadi siapa aja yang kumpul?"


"Irvan, Diandra, Shera sama ...."


"Cindy?"


"Bukan!"


"Hah?"


"Tebaklah satu lagi siapa!" seru Gerry tersenyum.


Nava tampak menghitung kawan-kawan SMA-nya itu dengan jari. Hatinya berdegup kencang, ketika ia memperkirakan satu lagi kawannya yang hadir adalah orang itu. Pasti.

__ADS_1


"A..an...andre?" tebaknya ragu-ragu. Grogi lebih tepatnya.


Gerry mengangguk mantap.


"Andre? Ada di Bandung?!" tanya Nava tidak percaya.


"Iya, nih!" ucap Gerry, ia memperlihatkan sebuah foto yang dipost Irvan di akun instagramnya, saat keempat kawannya itu berkumpul di sebuah kafe di Bandung.


Nava mengambil ponsel itu dari tangan Gerry dan memperhatikan foto itu. Itu benar-benar Andre, entah sudah berapa lama ia tidak melihat wajah orang itu, yang kali ini terlihat sangat dewasa dan semakin tampan. Hatinya terus berdebar kencang. Nava memperhatikan alamat kafe itu karena Irvan membagikan lokasinya. Ia begitu terkejut saat mengetahui kalau dirinya pada hari itu juga datang ke kafe itu.


"Aku datang juga ke sini dong, hari itu!" ucap Nava memberikan ponsel itu pada Gerry.


"Masa?!"


"Iya! Waktu itu aku ada janji sama salah satu publisher yang bantu aku luncurin novel aku ini! Tapi mungkin aku telat makanya gak lihat mereka!"


"Va....!!" panggil Gerry.


"Kenapa?"


"Ajak ketemuan si Andre sana!"


Jantungnya bertambah cepat berdebar.


"Ahh....aku belum siap!!!" ucap wanita itu cukup panik.


"Ya ampun! Kalau dia keburu balik ke England lagi gimana? Kalian udah loss kontak lama banget!" seru Gerry.


"Iya tapi....,"


"Nanti aku bantuin! Kita bertiga ketemuan, mau?"


Nava menggoyang-goyangkan kaki dan lututnya di bawah meja. Tak pernah ia segugup ini meski seringkali ia muncul di panggung juga merasa gugup, tapi kalau harus bertemu Andre ia tidak bisa sembunyikan lagi rasa gugupnya.


"Nanti biar aku yang urus, kamu siapin diri aja!" ujar Gerry.


Nava tak sanggup berkata apa-apa. Selera makannya hilang begitu saja. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya tiba-tiba. Keringat dingin keluar dari tubuhnya.


\=====


Perkenalkan ini karakter baru ya, Navarina Aurella, atau Nava yang juga bakal ngeramein cerita di novel ini



Mirip Ajeng gak? Haha gak usah dibandingin, pokoknya ya mereka mirip-mirip gitu lah. Cuma kalau Ajeng rambutnya selalu panjang, nah kalau Nava memang selalu pendek rambutnya.


Keep reading ya


Vote dan like juga, makasiiiiih ^^

__ADS_1


__ADS_2