Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 84


__ADS_3

Ferdian merebahkan tubuhnya di atas sofa, di hari Minggu yang mendung itu. Ajeng memberikannya semangkuk bakso yang masih panas. Cocok sekali menemani di cuaca dingin di musim hujan seperti ini.


 


 


"Masih panas ya?" tanya Ferdian melihat kepulan asap yang keluar dari mangkuk itu. Aroma daging dan kuahnya benar-benar menggoda selera.


"Cobain aja!" ucap Ajeng berlalu ke dapur.


"Gak mau ah, nanti lidahku kebakar."


Ajeng terkekeh. Ia mengambil satu mangkuk lagi untuk dirinya.


 


 


Ferdian menyalakan televisinya lalu mencari siaran olahraga, berharap ada pertandingan sepak bola pagi itu, meskipun siaran ulang atau tunda. Sementara Ajeng duduk di sampingnya sambil menaruh mangkuk bakso dan segelas air putih.


 


 


"Jangan nonton bola dong! Cari siaran Masterchef Junior US!" pinta Ajeng.


"Hmm..." Ferdian mengiyakan permintaan Ajeng, lalu mengganti siaran tersebut ke siaran TV on demand, sehingga acara yang sudah lewat bisa diputar lagi.


 


 


"Keren nih koki-koki cilik kaya mereka," ucap Ajeng antusias ketika acara dimulai.


"Iya, udah kaya koki dewasa aja."


 


 


Ferdian mengambil mangkuk baksonya yang panasnya sudah berkurang. Ia menyeruput kuah yang terasa sedap itu, meski hanya bakso instan tetapi sudah dimodifikasi lagi resepnya oleh Ajeng, sehingga terasa lebih nikmat. Dengan lahap ia menyantap bakso dan pelengkapnya.


 


 


"Enyaaak," ucapnya sambil mengunyah.


"Alhamdulillah," ucap Ajeng tersenyum senang.


 


 


"Kalau anak kita nanti bakal jadi apa ya?" tanya Ajeng ketika menonton serial TV populer itu.


"Ya, tergantung dianya mau jadi apa. Yang penting kita harus bisa mengarahkan, tapi gak boleh juga maksain apa yang kita pengen. Aku pengennya anak-anak kita mandiri, mereka bisa memilih apa yang mereka mau, termasuk dalam masalah jodoh."


"Hihi, gak kaya kita ya?"


"Iya, tapi aku sih beruntung dapetin dosen cantik yang satu ini, karena sesuai dengan kemauanku," jawab Ferdian sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Aku juga beruntung dapetin kamu, Sayang! Mahasiswa pecicilan ganteng yang ternyata dewasa banget."


Ferdian tersenyum lebar, matanya yang sipit itu sampai-sampai seperti sedang terpejam. Ajeng mencolek pipi suaminya.


 


 


"Eh, Sayang, rencana nanti setelah cuti selesai gimana?" tanya Ferdian yang kali ini mulai serius.


"Aku udah memikirkan itu. Memang saran sebagian orang, kalau ada rencana untuk tetap berkarir, maka bayi kita harus dititip ke orang yang bisa dipercaya, seperti neneknya. Tapi masalahnya mereka mau atau enggak, sebenarnya aku juga masih galau. Tapi aku harus tetap bikin opsi dan rencana untuk hal ini."


 


 


Ferdian termenung. Kalau bayinya dititip ke bundanya, sepertinya tidak mungkin mengingat bundanya itu masih merawat ayahnya. Sedangkan jika dititip pada mama mertuanya, rumahnya terlalu jauh dari kampus. Pasti sangat merepotkan sekali jika harus bolak-balik.


 


 


"Apa aku minta mama biar Bi Asih yang ngurus ya? Bi Asih udah kaya keluarga aku sendiri, soalnya beliau juga yang urus aku sejak SD pas mama masih kerja," ujar Ajeng.


"Emang Bi Asih usianya berapa?"


"Kayanya gak jauh beda usianya sama mama, sekitar 60-an."


"Coba aja hubungi mama, lagian mama masih ada asisten rumah tangga yang lain kan ya?"


"Iya, masih ada Teh Nilam, keponakannya Bi Asih."


 


 


Ferdian mengangguk-angguk.


"Tapi kamu gak masalah kan, sama aku yang pengen tetap berkarir? Meski sebenarnya aku juga belum tahu kedepannya kaya gimana?" tanya Ajeng cemas.


"Aku gak masalah sih sejauh ini yang penting kamu bisa tetap fokus sama karir kamu dengan catatan anak kita harus tetap jadi prioritas utama. Semoga aja Bi Asih bisa jadi baby sitter kita."


Ajeng tersenyum ia berterima kasih pada suaminya yang bisa mengerti dirinya.


 


 


Ferdian membalas senyuman istrinya. Meskipun tetap saja hati terdalamnya itu, ia ingin Ajeng yang merawat anaknya secara penuh. Namun ia akan mencoba menghargai pilihan Ajeng, yang jelas ia pun harus tetap mengarahkan istrinya agar tetap fokus pada anaknya.


 


 


\=====


 


 


Hari Senin itu Ajeng memberikan berkas-berkas pengajuan cuti bersalin kepada bidang administrasi kepegawaian lebih cepat. Ia tinggal menunggu persetujuan atasannya untuk cuti selama 3 bulan kedepan itu. Hatinya berdebar karena ia harus libur dari pekerjaan yang dicintainya itu. Namun bagaimana lagi, ia harus berkorban demi anaknya nanti. Sepertinya minggu ini akan menjadi minggu terakhirnya di kampus sebelum melahirkan nanti. Rapat dosen akan diadakan nanti siang untuk memutuskan siapa yang cocok untuk menggantikan tugas Ajeng selama 3 bulan kedepan.


 


 


"Halo, kamu dimana?" tanya Ajeng di ponselnya.


"Kok lemes gitu? Aku baru keluar kelas," jawab Ferdian.

__ADS_1


"Entahlah, butuh kamu kayanya!"


"Udah jadi vitamin hidup aja nih aku, hehe!" ucap Ferdian terkekeh.


"Masih ada kelas ya?" tanya Ajeng lagi.


"Enggak sih, cuma aku mau bimbingan sama Andre. Mau ikut?"


"Dimana?"


"Di gedung D, ruang 401"


"Ya udah aku ikut, aku kesana sekarang!"


"Oke!"


 


 


Ajeng bergegas menuju gedung D, menyusul suaminya yang akan bimbingan di sana. Namun ia mampir ke kantin dulu untuk membeli makanan dan minuman ringan yang rencananya akan ia beri juga pada Ferdian dan Andre. Ajeng melihat nomor ruangan dan langsung masuk ke dalam ketika ia menemukan ruangan yang dituju Ferdian. Ia melihat Andre yang baru saja membereskan barang-barang miliknya.


 


 


"Baru selesai ngajar?" tanya Ajeng, membuat pria yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu itu terkejut.


"Eh, Jeng! Kamu ngapain disini?" tanya Andre.


"Katanya kamu mau bimbingan sama Ferdian ya?"


"Iya, sekarang!"


"Aku ikut di sini gak apa-apa kan?"


"Boleh," jawab Andre tersenyum.


 


 


Ajeng duduk di salah satu kursi. Sesekali ia memperhatikan wajah Andre yang terlihat aneh di matanya. Tidak seperti Andre yang enerjik biasanya.


"Dre, kalau ada yang mau diceritain, aku siap dengerin!" tawar Ajeng.


"Makasih banyak, Jeng!" jawab Andre tersenyum tipis.


 


 


Ajeng menduga-duga dalam batinnya. Ini pasti berkaitan dengan curhatan Nava waktu itu. Ia tahu Andre telah melamar Nava, tapi ia tidak tahu apa Nava sudah memberi jawabannya atau belum, sehingga membuat kawan dosen di depannya itu berwajah lesu.


 


 


"Assalamu'alaikum..." tiba-tiba Ferdian datang, bersama dua kawannya, Ghani dan Ridho, yang juga sama-sama akan dibimbing oleh Andre dalam penelitian mereka.


"Eh ada Bu Dosen cantik," ujar Ferdian menghampiri istrinya, lalu mengambil tangannya untuk dikecup.


"Ih, malu tau!" sergah Ajeng menarik tangannya. Ridho dan Ghani jadi mual melihat tingkah kawannya yang genit.


Ferdian duduk di samping Ajeng, sebelum ia menghadap Andre.


"Kangen sama aku?" tanya Ferdian genit.


"Biarin aku giliran terakhir aja, Ghani sama Ridho aja duluan! Kan pengen temenin ratuku ini," ujar Ferdian sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


 


 


Ajeng jadi salah tingkah dibuatnya, wajahnya merona. Ia mengeluarkan sekotak minuman jus dan makanan ringan.


"Nih buat kamu!"


"Duh, perhatian banget istriku ini, jadi pengen cium deh!"


Ketiga pria yang berada di ruangan itu jadi garuk-garuk kepala dibuatnya karena mendengar ucapan Ferdian.


 


 


"Fer, suaranya bisa dikecilin gak sih?" pinta Ajeng yang wajahnya memerah. Ia sadar kalau keberadaan mereka mengganggu.


Pria di sampingnya itu malah tersenyum saja, "Iya!" jawab Ferdian singkat.


 


 


Ferdian menikmati makanan ringan yang dibawakan oleh istrinya sambil mendengar Andre yang sedang memberikan bimbingan pada dua kawannya. Tiba-tiba Ajeng menyenggol lengannya.


 


 


"Kenapa?" tanya Ferdian.


"Ngerasa beda gak sih sama wajah Andre?" tanya istrinya itu.


Ferdian pun memperhatikan wajah Andre lebih teliti. Ia merasa tidak ada yang beda dengan wajah sepupunya itu.


"Gak tuh, emang kenapa?"


"Tadi pas aku masuk ke sini, wajahnya kaya lagi murung dan sedih gitu."


"Oh ya?"


"Iya, ah tapi nanti aku tanya langsung deh!"


"Emang kenapa sih? Aku pengen tau!" tanya Ferdian penasaran.


"Nanti aku ceritain di rumah!" jawab Ajeng meneguk smoothies miliknya.


 


 


Setengah jam kemudian, Ridho dan Ghani pamit keluar kelas dan kini giliran Ferdian. Ferdian duduk di hadapan Andre sambil membawa kertas hasil penelitiannya sementara ini. Sementara Ajeng tetap berada di kursinya sambil menyantap makan siang.


 


 


"Wuih, udah banyak aja!" ujar Andre melihat hasil penelitian Ferdian sudah masuk bab 2.


"Hehe, rajin kan?"

__ADS_1


"Banget! Coba sini aku baca dulu!" ucap Andre mengambil kertas-kertas itu.


 


 


Andre membaca hasil penelitian yang sudah dibuat oleh Ferdian sejauh ini. Ia juga sempat mengoreksi beberapa kata dan kalimat yang kurang padupadan. Untuk bab 2, Andre menyarankan Ferdian untuk lebih mengeksplorasi teori yang dipakainya, karena menurutnya masih kurang, apalagi teori tentang simbol dan mitos cukup banyak yang membahas. Ia mengirim file-file digital berupa teori sastra yang didapatnya sewaktu kuliah di London dulu.


 


 


"Wah, banyak banget teorinya?!" ucap Ferdian antusias menatap laptop milik Andre ketika file-file itu dikirim ke flashdisk miliknya.


"Kamu pilah-pilah aja lagi, baca judulnya, pasti ada yang berhubungan sama penelitian kamu!" ujar Andre.


"Siap, Sir!"


 


 


"Kalau bisa, kamu langsung juga tulis bab 4-nya. Jadi teori yang udah kamu pakai, bisa langsung diterapkan ke isu yang kamu bahas di novel."


"Oh, iya deh! Padahal Ajeng juga kasih tau dari kemaren, cuma aku bingung aja karena jadinya gak berurutan bahasnya."


"Justru lebih gampang gitu lho. Soalnya bab 3 kan cuma bahas metodologi penelitian! Bukan pembahasan!"


"Ah gitu, iya deh! Aku coba nanti!" ujar Ferdian menurut.


 


 


"Ya paling gitu aja bimbingan hari ini ya, aku mau langsung balik nih! Gak enak badan!" ujar Andre mematikan laptopnya.


"Lagi kurang sehat?" tanya Ferdian.


"Ya gitu lah!"


 


 


Ajeng yang sudah selesai menghabiskan makan siangnya, kini berjalan menghampiri kedua pria itu.


"Lagi galau ya, Dre?" tanya Ajeng sok tau.


Andre terkekeh saja. Ia memasukan laptop ke dalam tasnya.


"Ya sepertinya!" jawabnya pada akhirnya.


"Mau konsultasi cinta?" tanya Ferdian tertawa-tawa.


"Ogah deh kalau sama kamu, Fer! Lebih baik dipendam aja!" ucap Andre terkekeh-kekeh.


"Eh gak baik dipendam gitu, nanti stress, jerawatan, gemuk, lemak numpuk, sakit jantung deh!" ujar Ferdian.


"Dre, aku tau masalah kamu!" ujar Ajeng kembali ingin memancing agar Andre bercerita.


 


 


"Tapi terserah deh, gak mau cerita juga gak masalah! Toh kita cuma mau bantu kan, Sayang?" ujar Ajeng melirik ke suaminya.


"Cerita berat, gak cerita juga berat!" ucap Andre yang duduk kembali di kursinya.


"Nah gitu dong, mumpung kelas sepi nih!" ucap Ajeng yang menilai Andre akan bercerita.


 


 


"Jadi kenapa nih?" tanya Ferdian tidak sabar.


 


 


"Kamu ngelamar Nava kan?" tembak Ajeng pada Andre, sontak membuat Andre dan Ferdian terkejut-kejut.


"Darimana kamu tau, Jeng?" tanya Andre membelalakan matanya.


"Ada deh! Terus gimana diterima gak?" tanya Ajeng tanpa basa-basi sama sekali.


 


 


Andre tertunduk lalu menggeleng.


"Gak diterima?!!!" tanya Ajeng terkejut. Ferdian hanya memperhatikan saja.


"Bukan, gak diterima. Tapi, belum dijawab!" koreksi Andre, membuat Ajeng lega.


"Ooh..."


"Aku udah ajak dia makan kemarin, bahkan aku udah lamar dia di depan orangtuanya langsung. Tapi dia --"


"Kenapa?" tanya Ajeng.


"Belum bisa jawab, masih butuh waktu katanya."


"Hmm... padahal kalian sama-sama udah nunggu lama, tapi kok kaya gini ya?" tanya Ajeng merenung.


 


 


Ferdian melirik ke kanan dan kirinya, tampak memikirkan sesuatu. Lalu ia membisikan sesuatu pada istrinya, Ajeng mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sementara Andre hanya memandangi keduanya dengan heran. Entah apa yang mereka bicarakan, hatinya sudah cukup lelah.


 


 


\=====


 


 


Nah lho, Ferdian bisikin apa sih sama Ajeng?


Tunggu lanjutannya yaa


 


 


Jangan lupa like, comment, vote dan tipsnya

__ADS_1


Thank youuuu ^_^


__ADS_2