
“Salah satu kewajiban suami, yakni memberi nafkah kepada keluarganya. Baik nafkah lahir berupa materi dan nafkah batin. Dalam surat al-Baqarah ayat 233, Allah swt. berfirman, '…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai kadar kesanggupanya…'
Dalam ayat lain, yaitu an-Nisaa ayat 34, Allah berfirman '...Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…'
Keutamaan suami yang menafkahi keluarganya juga sangat besar. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap istrinya.” Dalam hadis lain riwayat Muslim juga disebutkan satu dinar untuk nafkah pada keluarga jauh lebih baik dibanding satu dinar untuk jihad, sedekah, dan memerdekakan budak.
"Bisa dibayangkan, bahwa seorang suami memegang peranan yang sangat luar biasa dalam keluarganya. Kita adalah tombak dan perisai di saat yang sama. Mengais rezeki untuk dinafkahkan kepada anak dan istri sudah pasti sangat luar biasa pahalanya. Inilah kewajiban utama bagi seorang laki-laki yang telah berkeluarga. Oleh karena itu, pakailah jubah kehormatan seorang suami dengan menafkahi anak dan istri. Itulah kehormatan bagi seorang laki-laki."
Seorang ustadz memberikan ceramah di sebuah masjid besar yang Arsene kunjungi setelah pulang dari kediaman orangtuanya. Pria muda itu tampak memperhatikan dengan seksama. Ia sadar, pembatasan keuangan yang dilakukan dirinya adalah demi menyelamatkan masa depan rumah tangganya yang kini kondisi ekonominya tengah terseok-seok. Ia hanya berharap istrinya akan sabar melanjutkan hidup bersamanya, karena ia yakin keadaan seperti ini hanya sementara saja jika komitmen itu dipegang teguh. Mereka hanya perlu bersabar sebentar dan bersyukur terus menerus.
Arsene sadar betul, kehormatan suami terletak di pundaknya ketika ia bisa menafkahi anak dan istrinya dengan sebaik-baiknya. Ia merasa sudah berada di jalan yang benar, karena kini keuangan keluarga yang dibangunnya benar-benar mandiri tanpa campur tangan orangtuanya. Bahkan termasuk modal usahanya pun ia tetap usahakan sendiri, meskipun dirinya sangat was-was karena pendapatan dari usahanya sama sekali belum bisa memperbaiki ekonominya. Walaupun tetap ada penjualan setiap hari, tetapi tetap saja pemasukannya sangat kecil. Ia memang masih memiliki tabungan,tetapi ia tidak bisa menggugat tabungan itu. Apalagi kini Zaara tengah mengandung anaknya. Keuangannya sudah disisihkan untuk kelahiran anaknya nanti.
Arsene kembali pulang selepas mengikuti kajian sore itu setelah mengantar pesanan kue yang ditujukan untuk teman-teman orangtuanya.
“Assalamu’alaikum…” ucap Arsene memasuki kamar apartemennya.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Zaara. Gadis itu sedang mengambil pakaian basah dari mesin cuci.
“Kok nyuci sore?” tanya Arsene melihat istrinya yang akan menjemur pakaian di balkon.
“Mumpung badan lagi enakan. Aku gak bisa lihat pakaian kotor kita numpuk terus.”
Arsene menghampirinya, mengambil beberapa baju dan ikut menjemurnya.
“Udah kamu istirahat aja, biar aku yang jemur!” ucap Arsene.
“Barengan aja sih, biar cepet!” tawar Zaara.
“Oke deh!”
Zaara kembali ke dapur dan menyiapkan air minum untuk suaminya. Ia menyodorkan segelas air putih hangat di atas meja makan bersama sepiring pisang kukus.
“Minum dulu, Abang!” seru Zaara.
“Iya ini satu lagi nanggung!”
Arsene menutup mesin cucinya dan ia mencuci tangan. Melihat ada potongan pisang kukus di atas meja, ia bertanya-tanya.
“Kapan beli pisang?”
“Tadi umi sama abi mampir kesini, bawain pisang nangka mentah. Ya udah aku kukus aja biar lebih sehat daripada harus digoreng.”
“Umi sama abi kesini? Nengok kamu?”
Zaara mengangguk.
“Abi juga ngasih uang jajan buat aku. Katanya biar aku makan banyak!”
“Astaghfirullah!” ucap Arsene kaget.
“Kenapa emangnya?”
“Aku jadi gak enak sama abi. Itu kan kewajiban aku ngasih kamu uang jajan. Meskipun aku tau, keuangan kita emang lagi gak bagus saat ini.” Arsene memijat pelipisnya.
“Ya udah, rezeki gak boleh ditolak. Jarang lho abi kasih kaya gini!”
“Iya, tapi….”
Arsene menghela nafas. Ia benar-benar merasa tidak nyaman. Zaara memang sedang ia suruh berhemat untuk tidak jajan keluar. Bukan karena masalah keuangan saja, ia ingin istrinya lebih memperhatikan asupan gizi dari apa yang dimakannya. Lebih baik dan lebih sehat jika membuat apa-apa sendiri agar janin anak mereka berkembang dengan baik.
“Ya udah, pakai dengan baik ya?” pinta Arsene.
“Siap Abang Sayang!”
Arsene tersenyum kecil, dan mengambil potongan pisang kukus yang sudah tersaji di atas meja makan.
“Besok pulang kuliah jam berapa?” tanya Arsene setelah menelan pisang yang terasa lembut itu.
“Jam 4 sore. Kamu bisa anter ke klinik? Aku pengen periksa. Ini kan udah lewat satu bulan setelah kita cek pakai testpack!”
“Boleh. Aku gak ada kuliah soalnya. Jadi besok aku jemput setelah dari toko ya?”
“Iya!”
Toko Sweet Recipes kini tidak ada jam operasional baku. Tokonya bisa buka dan tutup sesuai dengan kepentingan Arsene. Biasanya ia akan membuka toko jika kuliahnya kosong, atau saat pulang kuliah di siang hari. Jika jadwal kuliahnya penuh, terpaksa ia tidak membuka toko. Hal itulah yang membuat pendapatan dari tokonya tidak pasti.
Arsene memikirkan cara lain untuk bisa mendapatkan sumber pendapatan lainnya. Ia tidak bisa hidup begini terus dengan ketidakpastian pemasukan bisnisnya.
“Tolong catat pemasukan hari ini ya, aku udah kirim ke whatsapp kamu!” ucap Arsene pada istrinya, lalu ia pergi ke kamar mandi.
“Siyap Pak Bos!”
__ADS_1
Arsene tersenyum.
Suasana klinik Pertiwi Husada sore itu terlihat tidak terlalu ramai. Memang, klinik itu milik Universitas Bumi Pertiwi, hanya saja tetap diperuntukkan untuk masyarakat umum. Banyak dokter muda maupun dokter yang sedang menuju jenjang profesi melakukan praktikum di sana, tentu saja dengan pengawasan dari dokter yang membimbingnya. Jika dibandingkan dengan klinik swasta, maka klinik ini lebih murah biaya pemeriksaan atau pengobatannya.
Zaara dan Arsene melakukan pendaftaran menuju poli klinik kandungan. Masih ada dokter spesialis kandungan yang memiliki jadwal di sore hari. Zaara sudah mendapat nomor antrian. Ia duduk di salah satu kursi bersama Arsene di sampingnya.
Seorang ibu muda berusia kurang lebih 25 tahun dengan perut besar menyapa Zaara.
“Mau periksa kandungan?” tanyanya ramah, meski di raut wajahnya terlihat ada rasa ingin tahu pada pasangan yang duduk di sebelahnya ini.
“Iya Teh!” jawab Zaara membalas senyumannya.
“Usia berapa?”
“Saya 20 tahun.”
“Muda banget! Nikah muda?” tanyanya lagi.
“Iya!”
“Oooh alhamdulillah. Udah isi?”
“Iya kemarin pakai testpack ada garis merah dua, sekarang mau mastiin.”
Seorang perawat keluar dan memanggil sebuah nama.
“Saya duluan ya Teh!” pamit wanita itu.
Zaara mengangguk.
“Abang mau ke toilet dulu ya bentar!” ucap Arsene.
“Perasaan baru tadi deh di apartemen!”
“Hehe gak tau, kebelet pipis terus!”
Kebiasaan Arsene yang banyak meminum air putih membuatnya sering bolak-balik ke kamar mandi. Zaara menggeleng-geleng saja melihat kebiasaan suaminya itu.
Seorang dokter muda terlihat sedang berjalan bersama rekannya di lorong. Ia menggantung jas dokternya di lengannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok gadis berhijab hitam dengan gamis abu.
“Kamu duluan aja! Saya ada perlu dulu!” ucapnya pada rekannya.
“Zaara ngapain di sini?” tanya Raffa.
Otomatis Zaara menoleh terkejut.
“Mau periksa!” jawabnya singkat.
Raffa melihat ke arah papan di atas pintu. Ia memang belum hafal dengan letak-letak poli spesialis di klinik ini. Melihat tulisan itu, hatinya terkejut bukan main. Gadis di hadapannya itu sedang seorang diri untuk memeriksakan dirinya ke poli kandungan. Kadang ia sendiri tidak percaya, kalau Zaara telah menikah. Tidak ingin percaya lebih tepatnya, ia masih belum bisa menerima kenyataan itu.
“Ooh! Kamu udah hamil?!” tanyanya ingin tahu.
Zaara menyengir kaku, “sepertinya!”
“Wow, se-la-mat!” ucapnya terpaksa. Ada ribuan paku menghantam tubuhnya. Ia benar-benar harus menerima kenyataan itu.
Seseorang berdeham, mengejutkan Raffa.
“Hei, apa kabar?” tanya Raffa berusaha ramah. Arsene berdiri di sebelahnya.
“Luar biasa, Mas! Mas apa kabar?” Arsene mengulurkan tangannya.
“Saya juga baik!” Raffa membalasnya tersenyum kaku.
Pria itu tidak tersenyum sinis lagi seperti dulu, hanya ada kekakuan di wajahnya kini.
“Mau periksa sama Dokter Aliyah?” tanya Raffa.
“Iya. Mau pastikan kehamilan Zaara.”
“Udah berapa bulan?”
“Saya belum tau, mungkin udah sebulan!”
“Ooh, oke. Semoga sehat terus. Saya pamit duluan!” Raffa tersenyum kecil meninggalkan keduanya menuju pintu keluar.
Arsene memandangi tubuh tegak Raffa yang mengenakan kemeja salur hitam. Ia berharap pria itu sudah move on dari istrinya.
“Udah lama?” tanya Arsene pada istrinya.
“Lama apanya?” Zaara tidak mengerti.
__ADS_1
“Dia ngobrol sama kamu?”
“Iih Abang cemburu ya?” goda Zaara.
“Enggak, aku cuma tanya aja!”
Zaara mencebik, “Iya udah lama,” Zaara ingin mengetes tingkat kecemburuan suaminya.
“Masa?” Arsene tidak yakin.
“Udah lama, sampai-sampai gak kerasa Abang udah datang aja!”
Arsene mendelik istrinya. Terdiam dan kesal.
Zaara menyenggol tubuh suaminya.
“Bercanda! Dia cuma ngasih ucapan selamat buat aku!”
“Ooh!”
“Kayanya bakal sering ketemu Mas Raffa di sini deh!” ucap Zaara, ia masih ingin menggoda suaminya itu.
“Iya kah?”
“Iya, sepertinya Mas Raffa kerja di sini!”
“Belum tentu juga bakal ketemu.”
“Kalau sering ketemu gimana? Apa dia udah move on?”
Arsene terdiam. Ia melihat sekilas tatapan Raffa pada istrinya tadi.
“Gak tau. Aku harap dia udah move on. Walaupun move on kenyataannya gak mudah!”
“Eh, abang emang pernah move on dari seseorang?” tanya Zaara, malah ia yang kini penasaran.
“Pernah.”
“Siapa?!”
“Ada deh!” ucap Arsene mengusap kepala istrinya.
“Iih, nyebelin!” gantian Zaara yang merasa kesal.
“Tuh jadi kamu yang cemburu kan? Tadi cuma mau tes abang ya?”
“Gak tau! Aku ngambek!”
“Hahahaha!” Arsene tertawa-tawa. “Aku juga bercanda, we!”
Arsene dan Zaara masuk ke dalam ruang pemeriksaan, setelah perawat memanggil. Melihat keduanya yang masih sangat muda, Dokter Aliyah bertanya.
"Wah kalian masih muda banget. Masih kuliah atau gimana?"
"Iya Dok, kita masih kuliah semester 4." Zaara menjawab sambil tersenyum.
"Jadi, mau tes kehamilan? Apa udah pernah dicek sebelumnya?"
"Pakai test pack aja, Dok!" jawab Zaara.
"Yuk kita ke matras dulu!"
Gadis berhijab hitam itu dicek tekanan darah, berat badan, ditanyakan juga padanya terakhir menstruasi. Dokter Aliyah memeriksa perut bawah Zaara dengan mesin ultrasonografi 2 dimensi. Terdapat sebuah kantung janin di sana. Dokter Aliyah juga menanyakan keluhan gadis itu selama ini.
"Alhamdulillah, menurut perhitungan, janinnya sudah berusia 7 minggu. Tolong perhatikan asupan gizinya. Perbanyak konsumsi asam folat. Jaga kesehatan juga, jangan kerja yang berat, jangan terlalu banyak pikiran, jangan sampai tertekan ya! Usahakan bahagia selalu," terang dokter berhijab pendek itu.
"Aa-nya juga nanti tolong selalu perhatikan kondisi Tetehnya ya?" pinta dokter pada Arsene.
"Siap Dok!" jawab Arsene.
"Kalau ada keluhan abnormal, silakan langsung kesini aja atau hubungi saya."
"Baik, Dok! Terima kasih banyak!"
\======
Bersambung dulu yaa
LIKE, VOTE, & COMMENT
Makasiiiih ^_^
__ADS_1