
Siang itu, para dosen yang mengikuti jalannya seminar tengah beristirahat. Novi dan Ajeng tengah berbincang di sebuah kursi taman sambil menikmati hidangan makan siang mereka yang diberi panitia seminar. Keduanya memang tidak ikut ke kelas seminar lagi, karena ada jadwal mengajar setelah ini.
"Jadi gimana, kamu udah ajak Ardi makan?"
"Udah!" respon Novi sambil meminum air mineralnya.
"Terus gimana?" tanya Ajeng antusias.
"Entahlah Jeng! Aku kira dia emang belum move on dari kamu. Padahal udah hampir setahun ya sejak kalian umumkan pernikahan ke kerabat kampus," ucap Novi lemas.
"Emang gimana ceritanya? Aku gak mau menyimpulkan sesuatu yang bahkan kamu belum ceritakan!" ujar Ajeng menyuapkan sendok makanannya.
Novi menghela nafas.
"Sabtu kemaren aku ajak dia makan, sekalian curhat gitu kan modusnya, tapi aku lihat ekspresinya biasa aja, datar gitu."
"Emang kamu cerita apa Nov?"
"Aku cerita aja masalah aku yang mau dijodohin sama orang tua aku," ungkap Novi.
"Terus Ardi bilang apa?"
"Dia bilang ke aku untuk coba dulu aja jalanin, kalau emang sama-sama gak cocok baru gak usah dilanjut, gitu katanya."
Ajeng bergumam.
"Terus kamu gak bilang kalau kamu sebenarnya suka sama dia?"
"Aku belum berani, Jeng!" ucap Novi panik.
"Yee....kalau gak berani mau sampai kapan dia bakal nyadar sama perasaan kamu?!"
Novi tertunduk lesu.
"Tembak dia Nov! Ajakin dia untuk jalin hubungan serius sama kamu."
Novi mengerutkan alis dan matanya. Ia tidak sanggup menjatuhkan harga dirinya di depan pria matang itu.
"Hey boleh aku gabung?" tiba-tiba Ardi datang menghampiri. Tubuh Novi langsung terasa kaku.
"Boleh banget!" jawab Ajeng antusias.
"Thanks ya!"
Beberapa menit suasana sempat canggung di antara mereka. Ajeng sedang memikirkan bagaimana agar percakapan di antara mereka bisa berharga meski hanya beberapa menit saja.
"Kamu kapan lahiran Jeng?" tanya Ardi membuka percakapan.
"Kurang lebih dua bulan lagi," jawab Ajeng.
"Ooh...terus kapan ambil cuti?"
"Nanti aku konsultasi lagi sama dokter kandungan aku," jelas Ajeng.
Ardi mengangguk-angguk saja.
__ADS_1
"Tadi sorry ya, aku bukan maksud mau menjatuhkan Ferdian kok, cuma aku pikir dia pasti bisa nemuin sesuatu lain dari karya yang dia ambil," ucap Ardi.
"Gak apa-apa kok, aku seneng malah kamu yang jadi dospem buat dia," jawab Ajeng.
Ardi tersenyum.
"Kalian kapan married?" tanya Ajeng tiba-tiba.
Sontak saja membuat kedua kawannya itu membelalakan matanya.
"Maksud kamu?" tanya Ardi mengernyitkan kening.
"Aku kira kalian...."Ajeng mengisyaratkan dengan jari yang saling bertautan.
Ardi terkekeh geli.
"Kamu kira, aku dan Novi ada hubungan?" tanya Ardi memastikan.
Ajeng mengangguk.
"Iya aku sering lihat kalian jalan dan makan bareng akhir-akhir ini. Pasti kalian ada sesuatu kan ya?" tanya Ajeng memicingkan matanya.
Novi hanya tertunduk saja. Ia mengumpat terus pada Ajeng di dalam hatinya.
"Gimana Nov?" Ardi malah bertanya pada wanita yang sedari tadi menunduk karena sedang menahan malu dan rasa groginya.
"Eh? Eh itu ah.... " Novi menyengir kaku.
Senyuman berbinar muncul di wajah Ajeng, ia melirik pada Novi yang masih menahan malunya.
"Wah....ditunggu segera ya!" ucap Ajeng antusias.
"Oh iya jadi keingat sesuatu. Nov, weekend ini kosong? Boleh aku ke rumah kamu?" tanya Ardi tanpa basa-basi.
Novi tidak bergeming, matanya saling tatap dengan Ardi. Ajeng menyenggolnya untuk menyadarkannya.
"Ah...iya, aku gak kemana-mana kok!" jawab Novi kikuk.
Ardi tersenyum. Ia melanjutkan makan siangnya tanpa berkata apa-apa lagi. Sementara Ajeng ingin sekali tertawa melihat kekakuan Novi di sampingnya. Entah kenapa ia merasa bahagia atas rekan-rekannya ini, termasuk Andre yang juga sama-sama sedang memperjuangkan perasaan yang sudah ditahannya lama sekali.
"Kalian masih ngawasin seminar ya?"
"Aku masih sih!" jawab Ardi.
"Kamu juga ya, Nov?! Aku duluan ya, mau sholat dulu langsung ngajar lagi!" ujar Ajeng yang sebenarnya sudah tahu kalau Novi ada jadwal mengajar, namun ia ingin membiarkan keduanya berbincang dulu.
"Bye!" pamit wanita hamil itu.
Burung-burung berkicau riang, hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Sepertinya manusia memang harus belajar dari burung-burung itu. Tak perlu bertahan di pohon yang sama, apalagi ketika apa yang mereka cari tidak ada di sana.
\=====
"Hei, Sayang? Kamu dimana?" tanya Ferdian sore itu setelah perkuliahan selesai. Ia menelepon istrinya.
"Aku lagi mau jalan ke gedung dekanat, ini habis mengembalikan novel dari perpustakaan," jawab Ajeng.
"Oke aku kesana sekarang!"
__ADS_1
Ajeng berjalan menuju gedung kantornya itu untuk mengambil tas dan mapnya. Tiba-tiba Novi yang muncul dari gedung B, yang bersebelahan dengan gedung perpustakaan berlarian menghampirinya.
"Kenapa Nov? Bikin kaget aja ih!"
"Ardi Jeng!"
"Kenapa dia?" tanya Ajeng penasaran.
Novi menunjukan cincin di jari manisnya. Ajeng membelalakan mata dan mengangkat mulutnya tidak percaya. Keduanya berteriak senang.
"Gila! Cepet banget Nov!" seru Ajeng riang.
"Aku juga gak nyangka lho! Setelah kamu pergi, dia ngasih cincin ini dan tanya apa aku mau jadi istrinya?"
"Huwaaa... ngelamar di tempat ramai gitu?!"
Novi mengangguk-angguk senang.
"Congratulation (selamat)!!!" seru Ajeng memeluk Novi.
"Tuh kan aku bilang juga apa, pria itu cuma perlu umpan! Gila Ardi, gak nyangka bakal secepat ini!"
"Doain ya, weekend ini dia bener mau lamaran ke rumah, ketemu orangtua aku!" ucap Novi senang.
"Semoga lancar ya, Nov!"
Ferdian yang hendak menghampiri istrinya itu, menatap kedua dosennya dengan tatapan heran. Ada apa dengan keduanya sampai-sampai terlihat girang sekali? tanyanya dalam hati.
"Ehem...." Ferdian menghampiri keduanya. Seketika Novi membuat dirinya normal.
"Eh, Sayang! Mau pulang sekarang?"
"Iya, aku tunggu di mobil ya?"
"Aku ambil tas dulu sebentar. Ayo Nov!" ajaknya, keduanya pun berjalan menuju ruangan mereka.
Ajeng kembali, dan ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya dimana Ferdian sudah duduk di dalamnya.
"Kok wajahnya sumringah gitu, jadi kepo deh!" ucap Ferdian ketika istrinya itu masuk ke dalam mobil.
"Ikut seneng karena habis denger berita gembira!" jawab Ajeng tersenyum lebar.
"Emang ada berita gembira apa?" tanya Ferdian menyalakan mesin mobilnya.
"Jangan ampe nyebar dulu ya?!" pinta Ajeng. Ferdian mengangguk.
"Novi dilamar Ardi tadi siang!"
Ferdian tidak kalah kaget seperti Ajeng tadi, bahkan ia tidak berkedip sama sekali. Bukan apa-apa, kata 'tadi siang' itu yang membuat ia lebih tidak menyangka.
"Tadi siang?!!" tanya Ferdian memastikan.
"Iya, sehabis makan siang tadi katanya!"
"Wow, keren! Akhirnya Pak Ardi move on! Aku jadi tenang kalau bimbingan nanti!"
Ajeng tertawa-tawa saja. Mereka pun akhirnya melaju menuju apartemen mereka.
\=====
Bersambung dulu yaa
Like, Comment, dan Vote juga jangan lupa
See you ^_^
__ADS_1