Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 76


__ADS_3

"Ferdian, maafin aku!" Tangisan Ajeng semakin malam semakin menjadi.


Ferdian yang tertidur di kamar sebelah, terkejut mendengar tangisan istrinya itu. Hatinya teriris mendengarnya. Ia jadi tidak tega untuk lebih lama mendiamkan istrinya itu, apalagi ia khawatir akan membebani psikis dan kondisi janinnya. Ia segera beranjak dari kasur, dan keluar dari kamarnya.


Ferdian langsung menghamburkan dirinya pada istrinya yang tengah berlutut di lantai. Ia memeluk erat tubuh istrinya. Seketika Ajeng terperangah, sejak kapan suaminya itu ada di rumah?


"Maafin aku, Sayang!" ucapnya lagi masih dengan tangisan kencangnya.


Ferdian terus memeluknya, membelai rambutnya dengan lembut, namun ia belum berkata-kata. Ajeng terus menangis di pelukan suaminya. Ferdian membawanya ke dalam kamar, dan mendudukannya di atas kasur. Ia memegang wajah istrinya, menatap matanya dengan tajam dan berkaca-kaca. Ajeng memejamkan matanya, ia merasa bersalah.


"Aku percaya kamu, tapi tidak seharusnya kamu pergi dengan pria itu!" ucap Ferdian lirih.


Ajeng masih berderai air mata. Kepalanya tertunduk menyesal.


"Aku menyesal, Fer!"


"Sstt...udah, kamu bisa jelasin ini nanti!"


"Tolong jangan menghindar dari aku, aku butuh kamu!"


"Ssst, aku di sini, Sayang!" ucapnya, ia mengecup keningnya lekat.


Ferdian membuat istrinya itu tertidur di atas dadanya, sambil terus membelai punggung istrinya, berusaha menenangkannya. Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya. Isakan tangis Ajeng masih terdengar namun sudah berkurang. Begitu nyaman rasanya dipeluk seperti ini seolah dunia akan baik-baik saja setelah ini. Itulah yang dirasakan oleh Ajeng saat ini. Keduanya pun kembali sama-sama tertidur meski perasaan mereka sebenarnya belum reda.


\=====


Ferdian mengetikan sesuatu di ponselnya, ia memberi tahu teman-temannya kalau hari ini ia tidak akan masuk kuliah dulu. Begitu pula dengan Ajeng yang meminta izin untuk tidak mengajar hari ini kepada mahasiswa-mahasiswanya karena tubuhnya kurang fit.


Keduanya menyantap sarapan pagi tanpa canda dan suara. Tatapan mereka pun sama-sama tertunduk. Hati Ajeng begitu berdebar kencang merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Begitu kaku, canggung, dan sepi. Biasanya Ferdian selalu mengajaknya berbincang meski bukan sesuatu hal yang penting. Lalu keduanya akan sama-sama tertawa untuk hal yang sebenarnya tidak lucu. Tetapi hal itu tidak ada di suasana pagi ini. Ia begitu cemas.


 


Ajeng hanya fokus untuk menghabiskan sarapannya. Begitu juga dengan Ferdian yang tampak tidak selera menyantap menu sarapannya, karena suasana hatinya tidak bagus. Tetapi pria itu sudah berniat akan mengajak istrinya untuk membahas masalah yang terjadi kemarin.


Ajeng dan Ferdian telah selesai menghabiskan sarapan. Keduanya masih berada di meja makan dengan pandangan saling menunduk.


"Jadi apa yang terjadi kemarin? Sampai pria itu menahan kamu pergi?" tanya Ferdian menatap tajam mata istrinya.


Ajeng menahan nafasnya. Pandangannya tertunduk, ia tidak berani membalas tatapan suaminya. Ia mengambil nafas.


"Selama ini ada salah paham di antara aku dan Kevin!"


"Jangan sebut nama itu, aku gak suka!" ucap Ferdian dingin. "Teruskan..."

__ADS_1


Ajeng menenggak salivanya. "Dia menagih janji padaku, yang katanya aku berjanji akan menunggunya pulang. Maksudnya selama ini dia salah paham, kalau aku menunggunya pulang untuk melanjutkan hubungan yang dulu sempat tidak terjalin. Mungkin aku pernah bilang akan menunggunya, tetapi maksudku itu tidak sampai sana."


Ferdian masih menatapnya tajam.


"Lalu, dia juga bilang..." ucap Ajeng terhenti, matanya sempat melirik ke kanan lalu ke kiri.


"Bilang apa?"


"Kalau dia masih cinta sama aku," ucap Ajeng tertunduk.


Ferdian memalingkan pandangannya sambil mendengus. Tangannya mengepal keras. "Pria gila!" ketusnya kesal.


"Dia masih berani bilang cinta sama kamu yang sudah menikah dan sekarang sedang mengandung ini?!"


Ajeng menunduk saja.


"Ingat, aku peringatkan sekali saja! Jangan pernah temui dia lagi!" ucap Ferdian dengan nada serius.


Ajeng mengangguk.


"Kalau ada sesuatu yang mengharuskan kamu ketemu dengan dia, panggil aku! Atau kamu tolak semua, itu lebih baik!" ujar Ferdian lagi.


Ajeng mengangguk lagi.


Ajeng mau tidak mau harus menerima konsekuensi apa yang diucapkan suaminya itu. Ia tidak boleh main-main atau sekedar menganggap hal ini bukan perkara yang serius. Ia harus menjaga dirinya sendiri dan membuat pagar pembatas antara dirinya dengan laki-laki lain di luar sana.


Ferdian berjalan mendekati istrinya, ia berlutut di hadapannya. Ferdian menggenggam erat tangannya.


"Ini berlaku juga untukku! Kalau kamu melihat aku dengan wanita selain kamu, tegur aku, marahi aku, siksa saja aku sekalian! Kita sudah berkomitmen untuk terus bersama, jadi kita harus saling menjaga. Aku lebih suka kamu tidak tampil berlebihan. Aku tahu kamu itu sangat cantik, pintar, dan mandiri. Semua orang tidak bisa mengelak dari pesonamu, tetapi kita tidak bisa menyuruh mereka menundukkan keinginannya untuk memperhatikanmu. Aku ingin kamu tampil cantik di depan aku aja. Apa itu cukup?"


Ajeng memandangi Ferdian dengan tatapan sendu. Ia memejamkan mata dan mengangguk.


Ferdian memeluk tubuh istrinya, menyesap wangi tubuhnya yang selalu menjadi favoritnya selama ini. Entah berapa besar rasa cinta untuknya, ia tidak akan bisa menghitungnya. Yang ia tahu bahwa rasa cinta untuk seorang Ajeng sangatlah besar.


"I love you..." ucap Ferdian lirih.


"I love you too!" bisik Ajeng.


Dung, dung. Sesuatu di dalam perut Ajeng merespon. Makhluk kecil itu pasti bahagia kedua orangtuanya saling mengeratkan pelukan. Keduanya tersenyum bahagia. Sungguh pagi yang hangat di hari itu.


\=====


Ajeng dan Ferdian, keduanya tertidur pulas setelah perbincangan tadi pagi. Keduanya merasa lelah terlebih-lebih lagi perasaan mereka. Namun tampaknya masalah di antara mereka telah berhasil diselesaikan dengan baik. Ajeng memeluk tubuh suaminya di sampingnya, begitu terasa nyaman.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Ia terbangun dan mengangkatnya.


"Halo..." jawab Ajeng pelan, matanya masih terasa sembap karena tangisannya semalam.


"Ajeng!"


"Siapa ini?" tanya wanita itu.


"Aku minta maaf atas kejadian kemarin!" ah itu Kevin, Ajeng terkejut.


"Anggap saja tidak terjadi apa-apa! Maaf aku harus tutup teleponnya!" ujar Ajeng tegas.


"Tapi..."


Ferdian yang sudah bangun, merebut ponsel itu dari tangan istrinya.


"Jangan temui istriku lagi, mengerti?" ucapnya dengan nada ketus.


"Maaf saya tidak bermaksud berbuat seperti itu."


"Aku anggap kau mengerti, dan jangan pernah ganggu kami lagi!" ucap Ferdian ketus


Ferdian memutus sambungan secara sepihak. Ia memblokir nomor itu pada ponsel istrinya, lalu mengembalikan ponsel istrinya dengan menaruhnya di atas nakas. Ia menarik kembali tubuh istrinya yang menatapnya tertegun.


"Yuk bobo lagi, aku masih ngantuk!" ucapnya membuat wanita itu tidak bergerak.


Ajeng menuruti kata suaminya saja dan kembali memejamkan matanya. Ia lega Ferdian tidak marah dan langsung berbicara pada Kevin dengan tegas.


 


Siang itu keduanya terbangun setelah hampir dua jam tertidur. Mereka memutuskan untuk mandi berendam bersama untuk sama-sama menyegarkan pikiran dan menenangkan perasaan mereka. Wangi minyak esensial beraroma greentea benar-benar membuat keduanya larut dalam kebersamaan yang indah. Suasana yang sempat tegang sejak kemarin malam hingga tadi pagi, terlupakan sejenak dalam aura kasih yang membalut keduanya. Menghangatkan kembali perasaan diantara mereka berdua, hingga hampir saja seperti merasakan waktu berhenti tiba-tiba.


\=====


Ehem...lega gak nih?


Yuk like, comment, vote, dan tipsnya


Thankyouuu ^_^



__ADS_1


__ADS_2