Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 142. Aneh


__ADS_3

Arsene memangku dagunya di atas sebuah meja di sudut tokonya yang sedang sepi di pagi hari menuju siang. Ia sudah selesai memberikan arahan pada tim dan seluruh karyawannya, kalau mulai awal bulan mereka akan mengadakan promo untuk paket pelajar dan mahasiswa. Rencananya, ia dan Zaara juga akan membagikan leaflet di kampus mereka saat masuk kuliah.


Pria muda itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Teringat akan tingkah istrinya yang aneh sejak kemarin, bahkan pagi ini Zaara menolak untuk sekedar diciumnya.


“Kenapa Cen?” tanya Alice.


“Zaara aneh, Kak!” jawab Arsene.


“Aneh gimana maksud lu?” Alice jadi menghampirinya dan duduk di depannya.


“Dia selalu ngehindar sejak kemarin.”


“Ngehindar?”


“Ya, dia gak mau aku peluk. Kalau aku duduk di sebelahnya, dia pindah. Tadi malam aja dia gak mau deket-deket. Tadi pagi, dia gak mau dicium. Padahal tiap hari aku udah biasa kaya gitu.”


“Ehem, ehem! Ah lu mah malah bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta.” Alice malah menanggapi seperti itu, membuat Arsene makin tidak mengerti mengapa perempuan bersikap aneh.


“Euuuh! Kak Al! Aku serius nih! Apa dia tau kejadian kemarin gitu ya?”


“Kejadian lu sama mantan boongan lu itu?!”


Arsene mengangguk sedih.


“Entah, yang jelas gue masih tutup mulut soal itu! Gak tau tuh, kalau ada yang tau juga masalah itu, terus ada yang bilang ke dia.”


“Tapi siapa? Waktu itu perasaan gak ada orang. Apa toko sebelah? Ah gak mungkin.”


“Liza sendiri mungkin?”


“Ah masa dia ngehubungi Zaara langsung, buat apa? Dan darimana tau nomor kontaknya? Aku udah peringatkan adik-adik aku untuk gak usah kasih info apapun buat Liza!”


“Yaa… entahlah, Cen! Dia mungkin lagi sebel aja sama lu! Coba deh obrolin, jangan menduga-duga.” Alice pergi kembali ke meja kasirnya.


Arsene termenung. Sepupunya benar. Ia harus menanyakan hal ini pada Zaara agar asumsinya tidak kemana-mana.


“Aku balik dulu, Kak!” ucap Arsene beranjak.


“Ya!”


Arsene kembali ke dalam apartemennya. Melihat kedatangan suaminya, Zaara yang sedang memasak makan siang tersenyum.

__ADS_1


“Udah lapar?” tanya Zaara ramah.


Senyuman ramah istrinya membuat Arsene berhenti berasumsi. Tadi pagi Zaara terlihat galak, sekarang ramah. Ada apa?


“Iya,” jawab Arsene, meskipun perutnya belum terlalu lapar.


“Masih lama masaknya?” tanya Arsene.


“Bentar lagi nih!” jawab Zaara.


Arsene mencoba mendekati istrinya, merangkul tubuhnya dari belakang dan mengecup pucuk kepalanya.


“Abang duduk aja sih, jangan ganggu aku!” Zaara mencoba melepas diri dari rangkulan suaminya.


“Aku kangen kamu, Sayang!”


“Kamu bau, aku gak suka!” seru Zaara.


“Bau apaan sih?!” Arsene mengendus pakaiannya sendiri. Tidak ada bau yang aneh, hanya tercium parfumnya saja. Apa Zaara sedang mencari-cari alasan untuk menghindar darinya?


“Udah sana! Nanti masaknya jadi lama lho!”


Arsene memberengut kesal. Ia ditolak lagi oleh istrinya. Pria itu memutuskan pergi ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di sana.


Sesekali pria itu menengok keberadaan istrinya yang masih memasak. Khawatir dirinya akan terciduk ketika berusaha mencaritahu apa yang terjadi. Kali ini Arsene membuka akun media sosial milik istrinya. Memperhatikan pesan dan foto-foto yang menandainya. Tetapi tetap saja tidak ada yang mencurigakan. Arsene menaruh kembali ponsel istrinya yang terlihat normal di matanya. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar saja.


\=\=\=\=\=\=


Arsene sudah kembali ke toko setelah makan siang di hari Minggu itu. Zaara tengah memakan potongan buah apel, pir, dan strawberry yang sudah ia buat menjadi salad buah manis, menggunakan mayones, susu kental manis, dan parutan keju. Ia juga sudah menyisihkannya untuk suaminya nanti sore di dalam kulkas.


Sambil menikmati salad buatannya, tangan kirinya memegang ponsel, mengecek akun media sosial miliknya. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk. @elizaford671_ ingin mengirimi Anda sebuah pesan.


Zaara mengernyitkan alisnya. Ia membuka pesan langsung yang masuk ke akun instagramnya.


Halo, ini aku Eliza Ford. Maaf aku mengirimkanmu pesan ini. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku masih sangat menyukai Arsene. Arsene adalah cinta pertamaku. Beberapa orang bilang, cinta pertama mesti diperjuangkan. Menurut kamu apakah aku masih bisa mendapatkan hatinya?


Di dalam pesan itu juga Liza melampirkan sebuah foto, Liza dan Arsene yang sedang berangkulan. Arsene terlihat tersenyum meski senyuman terlihat aneh dari sudut manapun. Sedangkan Liza terlihat ceria.


Melihat foto itu, Zaara membulatkan bibirnya. Lekas-lekas ia menerima pesan itu dan membalasnya.


Hey Mbak, Arsene itu suami aku! Kalau mau dapetin hati Arsene gak usah tanya aku. Kamu pasti tau jawabannya. Mbaknya cari aja cowok lain, kayak cowok udah langka aja di dunia. Ya kecuali kamu cari badak bercula satu atau bigfoot sih iya. Dan foto itu gak bikin aku panas kok. Aku punya foto yang lebih panas dari itu :)

__ADS_1


elizaford671_ sedang mengetik


Aku cuma ingin kamu tau, kalau aku masih sangat menyukai Arsene bahkan saat kita baru bertemu. Aku pikir, aku lebih berhak mendapatkannya karena lebih dulu mengenalnya daripada kamu.


Entah mengapa Zaara lebih tenang menanggapi apa yang terjadi di depannya kali ini. Ia tidak tersulut emosi. Meski ia ingin sekali mengata-ngatai perempuan tidak tahu diri itu.


Duh, ikut sedih deh Mbak :(


Kamu masih kalah sama aku. Arsene dan aku itu udah ketemu bahkan sejak orangtua kami sedang sama-sama hamil. Zaman balita aja kami udah sering main bareng. Lagian ya Mbak, kamu percaya gak sih, kalau jodoh itu sudah ditentukan sejak ruh kami diciptakan Tuhan. Jadi aku dan Arsene udah ketemu jauh sebelum kami dilahirkan. Jadi Mbaknya jangan klaim sembarangan karena kamu udah kenal Arsene duluan. Emangnya jodoh itu kaya beli barang obral ya? Siapa cepat dia dapat? :D


Semoga cepat laku ya Mbak, eh maksudnya cepet ketemu jodohnya :)


Zaara menunggu beberapa menit, tetapi tidak ada balasan dari Liza. Apakah perempuan itu sudah mati kutu dengan jawabannya? Entahlah. Zaara jadi ingin menyusul suaminya ke toko. Perempuan itu lekas mengenakan gamis dan kerudungnya. Membawa tas selempang kecil, memasukkan dompet dan ponselnya, lalu pergi dari apartemennya.


“Lho kamu ngapain kesini?” tanya Arsene melihat kedatangan Zaara di tokonya yang ramai siang itu. Zaara menghampiri suaminya langsung ke dapur.


“Enggak, mau bantu aja!” ucapnya ramah.


Lagi-lagi Arsene merasa ada keanehan dengan istrinya. Zaara mendudukkan dirinya di sofa bersama Alice.


“Kenapa Ra?” tanya Alice.


“Aku mencium sesuatu yang mencurigakan dan memprediksi sesuatu yang akan terjadi.”


Mendengar jawaban Zaara seperti itu, Alice tertawa-tawa. Arsene benar, Zaara terlihat aneh.


“Emang apaan sih?” tanya Alice masih terkekeh.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi di sini beberapa hari yang lalu ya?” tebak Zaara.


“Apa maksud lu, Ra?” Alice memicingkan matanya, hatinya ragu.


“Emmh, nanti aja deh! Tuh ada yang mau bayar Kak!”


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa


Support aku dengan like, komen, dan vote kalian


Makasih banyak buat kalian yang tetap setia baca cerita dari zaman Ajeng sampai Arsene ini

__ADS_1


I love you all ^_^


__ADS_2