Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 63. Silaturahmi


__ADS_3

“Mama kenapa sih selalu umbar ke Tante Ajeng terkait rencana aku?!” tanya Raffa kesal ketika mereka berjalan di koridor mall yang masih ramai.


“Gak tau tuh, gatel aja bawaannya. Lagian Mama heran sama kamu, udah ditolak sama Zaara terus aja minta datang lagi ke rumahnya. Kamu pernah evaluasi gak kenapa Zaara akhirnya nolak kamu?!” Sita membalikan keadaan, rasa kesalnya kini tumpah pada anak keduanya itu.


Raffa terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan ibunya itu.


“Coba kalau evaluasi diri, perbaiki sikap egois dan akhlak kamu itu, bisa aja Zaara mau coba. Ini malah makin menjadi aja sifat temperamen kamu itu. Ingat Fa, jodoh itu cerminan!” ucap Sita mendengus kesal.


Raffa masih kesal tetapi ia tidak bisa melawan ibunya, kalau tidak bisa jadi uang bulanannya akan dipotong.


“Udah batalin aja rencana kamu besok! Mama gak mau antar sebelum kamu perbaiki sikap kamu, lulus kuliah dan berkarir! Titik!” Sita mempercepat langkahnya menuju lift.


“Tapi Ma!” sergah Raffa mengejar ibunya itu.


“Stop! Mama gak mau denger keluhan kamu lagi sebelum tadi! Atau uang bulananmu terpaksa Mama potong, atau... mungkin lebih baik uang kuliah semester terakhir kamu gak Mama bayarin?! Mau mana?”


Raffa hanya menatap tajam wajah ibunya itu.


\======


Sementara itu di kediaman Ferdian, Ajeng dan anak-anaknya telah tiba di sana. Ferdian menyambut keluarganya itu dan menggendong Finn yang sudah tidur di dekapan ibunya.


“Kok tumben jalan malam tanpa Daddy?!” tanya Ferdian yang sudah menempelkan kepala Finn pada bahunya.


“Ya gimana lagi dadakan sih!” jawab Ajeng mengangkat bahunya yang terasa pegal.


“Hehe, ya udah gak apa-apa yang penting urusan Abang Acen lancar! Jadi udah dapet cinderamatanya buat besok?” tanya Ferdian pada Arsene yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


“Udah nih!” ujarnya menunjukkan sebuah kotak.


“Mantaplah! Semangat besok!”


“Tapi Sita juga mau datang lho, aku bingung beneran!” ujar Ajeng merebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Hah? Kok bisa?!” tanya Ferdian terkejut.


“Tadi ketemu di mall, katanya besok Raffa mau datang ke rumah Karin. Entah mau apa lagi itu anak!”


“Jadi gimana dong?” tanya Ferdian.


“Udahlah biarin aja, toh Arsene kan emang udah punya janji duluan sama Reza. Aku capek kalau harus ribut sama mereka,” ucap Ajeng.


“Ya udah deh, kita kan gak ada maksud buat nyakitin perasaan Raffa. Dia emang udah ditolak sama Zaara dan sekarang terima Abang,” sahut Ferdian.


“Tenang aja mommy sama daddy, biar ini jadi urusan Abang. Mudah-mudahan silaturahmi mommy, Tante Karin, dan Tante Sita tetep baik setelah ini,” timpal Arsene.


“Iya deh, Mommy percaya kamu!”

__ADS_1


\======


Keesokan harinya. Matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau riang. Arsene dan keluarganya tengah bersiap-siap untuk menuju kediaman Reza. Hanya Ferdian, Ajeng, dan Finn yang mengantar Arsene hari itu. Mobil SUV sport Ferdian berjalan menuju rumah Reza yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari rumahnya. Hanya butuh waktu 10 menit saja, mereka telah tiba di depan kediaman Reza.


Arsene turun dari mobil ayahnya dengan jantung berdebar. Ia membawa kotak yang akan menjadi hadiah khitbahnya pada Zaara. Seketika Reza dan Karin menyambut kedatangan mereka dari teras.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ferdian dan keluarganya berbarengan ketika memasuki halaman rumah keluarga Reza.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Karin dan Reza bersamaan.


“Ayo silakan masuk,” ujar Reza pada tamunya dengan ramah.


Arsene yang mengenakan setelan casual kemeja berwarna abu muda dan celana katunnya semakin tegang saja ketika memasuki rumah itu. Aura rumah itu terasa berbeda, hangat tetapi membuatnya tegang. Ia duduk di atas sofa di antara kedua orangtuanya yang mengantarnya hari itu untuk melamar gadis pujaan hatinya.


“Santai aja, Cen!” ujar Ajeng membisiki anaknya.


Arsene menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa tegang dan canggungnya.


“Dulu waktu lamaran mommy tegang gak?”


“Mommy pingsan!” ucap Ajeng tertawa kecil dengan Finn yang berada di atas pangkuannya.


Arsene memandangi ibunya terkejut.


“Daddy waktu lamaran ke mommy tegang gak?” tanya Arsene, kali ini berbisik pada ayah di sampingnya.


“Enggak tuh. Biasa aja! Mommy aja yang tegang! Kamu santai aja, kan Daddy yang ngomong duluan!” ucap Ferdian menenangkan anaknya.


Reza telah duduk di hadapan para tamunya, diikuti Karin dan Zaara yang berjalan di belakang ibunya. Gadis itu tertunduk tersipu lalu duduk di antara kedua orangtuanya. Ia tidak sanggup melihat pria yang kini berada di depannya meski terhalang oleh meja tamu.


“Iih, warna outfit kalian kok samaan gitu?! Janjian ya?!” ucap Ajeng memperhatikan kedua anak muda itu.


Arsene dan Zaara saling melihat, kemudian tertunduk lagi setelah mengetahui warna outfit yang mereka kenakan untuk hari ini sama-sama menggunakan warna abu muda. Keduanya tersipu-sipu diiringi tawa kecil dari orangtua mereka.


“Wah emang jodoh nih!” canda Ajeng lagi, semakin membuat kedua anak muda itu salah tingkah.


Reza sebagai tuan rumah membuka acara dengan terlebih dahulu memuji kebesaran Allah, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah. Acara memang tidak dipersiapkan formal baku, mengingat yang datang hanyalah keluarga inti saja, jadi sepertinya acara hari ini berkesan formal santai. Reza mempersilakan kepada Ferdian untuk mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumahnya.


“Bismillah. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada kita semua, dan memberkahi acara di pagi hari ini. Terima kasih kepada Bapak Reza yang telah menerima kami dengan baik. Adapun tujuan kedatangan keluarga kami kemari adalah untuk mengantarkan putra sulung kami yang bernama Arsene Rezka Winata, yang ingin menyampaikan niat baiknya untuk mengkhitbah saudari Zaara Haniya, putri dari Bapak Reza. Sepertinya, dari proses ta’aruf yang tidak membutuhkan waktu lama itu, anak kami merasa menaruh kecocokan dan ketertarikan pada saudari Zaara. Oleh karena itu, izinkan anak kami untuk melamar putri Bapak pada hari ini,” terang Ferdian menggunakan bahasa yang formal.


Arsene terlihat tegang sambil memainkan jari jemarinya, sesekali ia mencuri pandang pada akhwat cantik yang ada di depannya.


“Terima kasih atas penjelasan dari Bapak Ferdian. Adapun niat baik yang diantarkan oleh putra Bapak, saya serahkan kepada putri kami untuk menjawabnya. Bagaimana Neng Zaara? Lamaran Arsene diterima gak nih?” tanya Reza santai pada gadis yang terus tertunduk itu.


“Ingat, tanda diamnya perempuan adalah iya. Sok mangga dijawab,” ujar Reza lagi.


Zaara terdiam sambil menarik nafasnya, berusaha mengatur temponya agar tidak terdengar kaku.

__ADS_1


“Insya Allah Zaara terima khitbahnya,” ucap gadis itu, suaranya tetap saja terdengar bergetar.


“Alhamdulillah!” ucap semua yang ada di sana. Kini Arsene bernafas lega meskipun sedikit, Zaara sudah menjadi calon istrinya. Artinya, tidak boleh ada lelaki lain yang meminangnya. Begitupun dengan dirinya. Seulas senyum muncul di bibirnya.


“Ini kebetulan kita gak bawa barang berharga. Ini hanya hadiah dari Arsene untuk Zaara, semoga hadiahnya bisa bermanfaat,” ucap Ferdian menaruh kotak biru itu di atas meja di hadapan Zaara. Gadis itu berterima kasih dan mengambil kotak itu.


“Untuk selanjutnya, apakah kita akan langsung tentukan saja terkait pernikahan Zaara dan Arsene sekarang?” tanya Reza pada Ferdian dan Arsene. Ferdian berbisik pada anaknya, Arsene sepakat saja.


“Atau ada yang mau disampaikan dulu oleh Nak Arsene sebelum penentuan tanggal nikah?” tanya Reza.


Arsene mengangguk sopan, ia ingin mengutarakan sesuatu.


“Bismillah. Saya mengucapkan terima kasih banyak karena Zaara mau menerima lamaran saya. Hanya saja, terkait tanggal pernikahan, kebetulan saya telah mendaftar di akademi memasak, seperti yang sudah saya sampaikan kemarin. Oleh karena itu, saya ingin minta pendapat dari Zaara juga Om dan Tante dulu. Baiknya apakah pernikahan ini diselenggarakan lebih cepat? Mengingat dua bulan lagi saya akan berangkat ke Sydney.” Meski gugup, Arsene berusaha menjelaskan hal itu.


Reza memandangi putrinya yang masih terdiam.


“Mungkin Zaara akan pertimbangkan dulu jawabannya ya, silakan diminum dan dimakan dulu jamuannya,” ujar Reza.


Zaara pamit untuk ke belakang sebentar dan berdiskusi dengan kedua orangtuanya terkait tanggal pernikahan. Sebenarnya mereka telah mendiskusikan hal ini sebelumnya. Reza hanya memastikan kembali keinginan anaknya itu. Tak lama, mereka pun kembali. Perut Arsene terasa melilit, karena terlalu tegang dalam kondisi seperti ini. Ia tidak berharap banyak pada gadis di depannya itu, kalau pernikahan harus ditunda pun tidak menjadi masalah.


Reza berdeham.


“Kebetulan kita sudah mendiskusikan terkait hal ini. Kami sepakat, jika memang tidak keberatan, pernikahan sebaiknya disegerakan saja sebelum Nak Arsene berangkat ke Sydney.”


Mata Arsene berbinar, debaran hati yang tadi mengganggunya kini sedikit demi sedikit pergi. Rupanya hal itu yang membuatnya gugup sejak tadi.


“Kapan Arsene akan berangkat ke Sydney?” tanya Reza.


“Bulan Agustus awal!”


“Untuk pesta resepsi akan diselenggarakan seperti apa?” tanya Reza pada Keluarga Ferdian.


“Keluarga Winata meminta pesta resepsi diadakan besar, mengingat Arsene adalah cucu pertama dari Keluarga Winata, jadi sepertinya kami akan mengundang keluarga besar. Apakah tidak masalah? Untuk pesta biar kami yang akan tanggung biayanya,” terang Ferdian.


“Apakah bersedia untuk pesta infishol? Maksudnya antara tamu laki-laki dan perempuan dipisah?” tanya Reza.


“Ya, kami bersedia. Sudah tidak ada masalah,” jawab Ferdian.


“Alhamdulillah.”


Arsene memberitahukan tanggal keberangkatannya ke Sydney. Mereka menghitung-hitung antara persiapan pesta, agenda terjadwal yang sudah ada sebelumnya seperti ujian akhir semester kuliah mereka, lalu dicocokan dengan kemungkinan lokasi pesta diadakan nanti. Akhirnya ketemulah dengan satu-satunya tanggal yang cocok, yaitu H-3 sebelum keberangkatan Arsene ke Sydney.


\=======


Waaah


Bersambung dulu yaa

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan vote


Makasiiiih ^_^


__ADS_2