Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 41. Pertimbangan


__ADS_3

Sudah satu minggu berjalan sejak peristiwa di hari Sabtu itu. Arsene benar-benar menghindari Zaara meskipun ia sempat bertemu dengannya ketika belajar di kelas mata kuliah umum. Padahal biasanya ia akan menyapa gadis itu meski hanya mengucap salam.


Arsene tidak mau mencari tahu soal apa yang terjadi pada Zaara dan Raffa, meski Ajeng berusaha mengajaknya mengobrol. Meskipun begitu Arsene yang terlihat adalah seperti Arsene yang biasanya. Hatinya sakit, tetapi dengan cepat pria muda itu mengembalikannya lagi ke status normal. Ia hanya ingin kehidupan berjalan normal, tak ingin berlama-lama dengan kubangan hitam yang ada di hatinya. Pria itu memasukan buku catatannya ke dalam buku lalu keluar kelas bersama dua kawan dekatnya, Angga dan Adit.


Hari ini dijadwalkan akan ada malam puncak kegiatan ospek di fakultas mereka. Acara itu akan berlangsung dari pukul 18.30 sampai 20.30 wib. Terpaksa ia mengikutinya demi mendapatkan sertifikat yang katanya akan menjadi syarat atau tiket untuk mengikuti seminar kewirausahaan yang akan dihelat bulan depan. Tentu saja, Arsene tidak akan melewatkan seminar yang mungkin akan menambah ilmunya terkait dunia wirausaha.


Ketiga pria itu pergi menuju masjid kampus setelah adzan dzuhur berkumandang. Hari ini jadwal Arsene penuh, sehingga ia tidak bisa mengontrol tokonya. Jadi ia akan berada seharian saja di kampus. Ia melepas sepatunya lalu berjalan menuju tempat wudhu. Sambil melewati lorong, ia memperhatikan bermacam-macam poster yang menempel di majalah dinding masjid. Ada satu poster acara yang menarik perhatiannya. Kajian Seminar Pra-Nikah. Dengan judul Nikah Muda: Dilema antara Cita-Cita dan Cinta. Ia jadi teringat satu rencananya itu, tetapi menyadari gadis pujaan hatinya sudah dimiliki orang lain, perlukah ia datang ke kajian yang sebenarnya dibutuhkannya juga untuk menambah ilmu? Seketika terbersit olehnya, pesan dari Om Reza. Manusia tidak akan pernah tahu jodohnya, tetapi melayakan diri untuk jodoh terbaik yang diberikan Allah tentu lebih baik untuknya.


“Hoy! Mau nikah muda lu, Sen?!” tanya Angga yang mengagetkannya.


“Hmm …,” Arsene hanya menggumam kecil.


“Lu mah pasti gampang kalau nikah, udah punya usaha, tajir, ganteng, pinter, beuh idaman para wanita!”


“Ya, tapi hidup setelah nikah emang bakalan sama?! Apalagi apa yang gue punya itu masih punya orangtua semua. Gue gak mau hidup di atas kekayaan ortu gue!” tanggapannya masih terus memandangi poster itu.


“Gengsi ya?!”


“Bukan gengsi, tapi marwah (kehormatan) suami itu berada di nafkahnya! Malu lah kalau pengen nikah tapi jajan aja masih minta sama ortu. Muka mau ditaro dimana di hadapan mertua?!” ucapnya santai melirik pada kawannya.


“Aseeek, bahasanya, Mas Bro! Ampun dah, gak kuat gue mah masih bocil ingusan. Gue mah kuliah juga mpot-mpotan, apalagi minta kawin, bakal diusir gue!” seru Adit mengangkat kedua tangannya, lalu membungkuk di hadapannya. Arsene terkekeh melihat kawannya itu.


“Emang kalau jajan, lu masih minta ortu?” tanya Adit lagi.


“Kalau jajan sih enggak, kalau biaya kuliah sama modal usaha masih!”


“Buseeet, udah cocok nikah muda sih lu mah!” timpal Angga.


“Yuk ah buruan wudhu, mau iqomat tuh!” ajak Arsene yang kemudian memfoto poster acara itu dengan ponselnya lalu berjalan ke tempat wudhu khusus ikhwan.


Matahari sudah tepat berada di singgasananya di atas langit, menyebar sinar dan panasnya ke satu sisi dunia yang menghadap ke arahnya. Para jemaah lelaki dan perempuan sudah berbaris rapi dalam deretan sholat untuk menghadap-Nya, sejenak menundukan hati mereka sambil terus bermunajat pada Ilahi.


Arsene duduk bersila di atas teras masjid yang terasa dingin. Angin sepoi-sepoi meniup dan membelai wajahnya hingga rasa kantuk terasa di matanya. Suasana ini menjadi favoritnya di masjid ini. Desiran angin yang menyapa dedaunan, membuat matanya terasa sejuk. Ia enggan beranjak, hatinya sudah jatuh cinta pada tempat ini. Sepulang kuliah, pria muda itu selalu singgah sebelum pergi ke toko miliknya. Kajian keislaman, tahsin, dan kajian sejarah Islam selalu diikutinya.


Sore ini sebelum mengikuti kegiatan malam puncak, ia mengikuti kajian keislaman yang diadakan oleh LDK, sebagai proses kaderisasi dan pembinaan anggota. Ini adalah kajian ketiga untuknya setelah bergabung bersama LDK DKM Asy-Syifa. Bersama tiga orang kawannya dari berbagai fakultas, ia tampak bersemangat mengikuti majelis ilmu bersama kakak seniornya, Kang Ilman.


“Allah swt. memberikan potensi berupa akal kepada manusia, agar kita bisa membedakan mana yang *haq (*benar) dan bathil (salah). Allah juga memberikan potensi pada manusia dalam bentuk lainnya, diantaranya kebutuhan jasmani, rasa berkasih sayang dan juga eksistensi diri. Nah, kesemuanya haruslah berjalan beriringan dengan keimanan. Tanpa keimanan, maka mustahil manusia itu akan tunduk pada peraturan yang diturunkan oleh Allah. Akal bersanding dengan keimanan, akan mengantarkannya pada hakikat keberadaan Tuhan. Dari sana, manusia akan menyadari bahwa hidupnya adalah terikat pada hukum-Nya, manusia tidak bisa hidup sembarangan dan bebas tanpa aturan. Kemudian, hal lain akan mengikutinya karena pemahamannya telah berubah, yaitu hidup terikat pada hukum Allah.”


Ilman kemudian melanjutkan penjelasannya, “Ketika manusia sudah menyadari hal itu, otomatis ia akan memenuhi kebutuhan jasmaninya berstandar pada aturan Allah, misalnya, apakah yang dimakannya haram atau halal? Begitu pula ketika naluri berkasih sayangnya muncul, apakah disalurkannya sesuai dengan apa yang disyariatkan agama atau tidak? Misalnya, jika dua orang berlainan jenis kemudian berpacaran apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak? Tentu tidak. Ia akan memilih cara halal untuk bisa menyalurkan kasih sayangnya, seperti pernikahan. Begitu pun dengan eksistensi diri, manusia yang beriman tidak akan menjerumuskan dirinya pada hal-hal yang buruk yang akan mendzalimi dirinya.”

__ADS_1


Arsene begitu fokus pada materi yang disampaikan oleh Kang Ilman, sehingga muncul banyak pertanyaan di benaknya.


“Berarti pacaran itu gak boleh ya Kang?” tanya Firman, mahasiswa baru dari jurusan Sastra Jepang.


“Betul. Dalam Islam tidak pernah ada istilah pacaran. Bahkan Allah berfirman, ‘Wa laa taqrobuz zina …,’ Janganlah kalian dekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Isra: 32), dan menurut para ulama, segala sesuatu yang mengantarkan pada zina maka jatuhnya menjadi haram. Contohnya ya pacaran. Apa sih yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis di satu tempat yang sepi? Awalnya pegangan tangan, terus mulai menggerayang kemana-mana, eh tiba-tiba blasss! Zina bisa merusak akal sehat dan fitrah manusia, karena ini bertentangan dengan aturan Allah.” Ilman menjelaskan dengan wajah ekspresifnya.


“Terus gimana caranya menuju pernikahan kalau enggak pacaran?” tanya Firman lagi.


“Pacaran itu cuma kedok dan topeng doang, belum tentu pasangan mereka berterus terang akan sifat yang ditunjukkan di depannya. Kalau dalam Islam, ada yang namanya ta’aruf (perkenalan), khitbah (meminang), dan lanjut ke pernikahan. Ta’aruf gak bisa disamakan dengan pacaran. Ta’aruf berarti dua orang dipertemukan oleh seorang perantara, mereka gak akan dibiarkan berdua-duaan tanpa mahram. Jika cocok langsung ke tahap khitbah yaitu meminang wanitanya, sehingga bisa maju ke tahap pernikahan. Itu gambaran sekilas aja ya, emang ada yang tertarik mau nikah muda?” tanya Ilman iseng pada adik juniornya.


Keempat pria di depannya tertawa-tawa kecil, termasuk Arsene.


“Kalau langsung khitbah apa boleh, Kang?” tanya Arsene penasaran.


“Mau khitbah atau taaruf dulu gak masalah, itu tergantung pada kesepakatan masing-masing. Yang penting niatnya tetap lurus, tahapan itu dilakukan untuk menyegerakan nikah, bukan untuk mem-booking akhwat ya?! Eh kenapa jadi bahas nikah ya?”


Lagi-lagi mereka tertawa-tawa saja.


“Satu lagi ya Kang. Kalau akhwatnya sudah dipinang apa masih ada kesempatan untuk meminangnya?” tanya Arsene.


“Hmm … saya pernah baca sebuah hadits, kalau perempuannya sudah dipinang, maka ikhwan lain tidak boleh meminangnya. Kecuali, jika pinangannya itu ternyata tidak jadi, maka gugur status pinangannya. Jadi kalau kita berniat untuk meminang seseorang, maka kita wajib menelusuri status perempuan itu, jangan-jangan sudah ada yang miliki. Jangan ber-su’udzan, jangan sungkan untuk ber-tabayyun atau mengkonfirmasi langsung pada yang bersangkutan,” terang Ilman.


Arsene jadi tersipu-sipu dibuatnya. Pertanyaannya memang terlalu spesifik.


“Insya Allah, Kang! Cuma sepertinya saya harus ber-tabayyun lagi pada orangnya terkait statusnya,” jawab Arsene terus terang.


“Masya Allah, luar biasa saudara kita ini. Beneran ada niat untuk nikah muda?”


“Insya Allah lagi melayakan diri.”


“Wow!” refleks teman-teman kajiannya itu bersorak.


“Kita doakan saja saudara kita ya, semoga apa yang diharapkan bisa terwujud, tentunya yang terbaik dari Allah!”


“Aamiin!”


Matahari sudah bersembunyi di balik ujung dunia. Langit tersapukan warna jingga terang yang indah berhias awan tipis. Burung-burung terbang tanpa lagi hirau akan rezeki di hari esok, karena mereka yakin Allah sudah memberikan rezeki sesuai porsi masing-masing.


Arsene berjalan di atas trotoar berteman dengan suasana temaram lampu jalanan dan nyanyian serangga malam. Suasana kampus sudah sepi dan hening. Adzan maghrib telah lewat sejak 20 menit yang lalu. Terdengar sayup-sayup musik dan ocehan dari gedung aula FIB. Acara malam puncak pasti sudah berjalan. Seorang motivator bisnis katanya akan menjadi tamu malam ini, yang merupakan lulusan FIB kampus ini juga. Arsene memasang jas almamaternya, lalu menaiki tangga pendek menuju aula. Beberapa senior berdiri di luar aula sambil memantau acara.

__ADS_1


“Kamu angkatan baru?” tanya mahasiswa berambut gondrong.


“Iya, Kang!” jawabnya.


“Jurusan apa?”


“Sastra Inggris.”


“Isi daftar hadirnya dulu ya! Sekalian untuk dibikinkan sertifikatnya.”


Arsene mengisi daftar hadir lalu masuk ke dalam aula yang cukup penuh itu. Seorang mahasiswa terlihat masih memberi sambutannya di atas podium. Dua orang mahasiswa tengah melambai ke arahnya, dan menyuruhnya duduk di sana. Itu Angga dan Adit yang sudah datang dan duduk mengampar di atas lantai.


Acara telah berlangsung selama satu jam setengah. Seorang motivator alumni FIB dari Sastra Indonesia telah mengisi acara kegiatan malam ini. Pesan-pesannya cukup membuat Arsene bersemangat, meskipun ia merasa masih ada yang kurang darinya. Walaupun begitu, pria muda itu tetap mengambil banyak hal positif dari penyampaiannya.


Senior menutup acara itu setelah pemilihan ketua angkatan bagi mahasiswa baru. Arsene tidak eksis seperti ayahnya dulu, ia memang populer tetapi popularitasnya itu tidak akan memaksanya untuk lebih eksis di kampus. Pria itu berjalan menuju parkiran motornya untuk kembali pulang dan beristirahat.


“Ra, kamu pulang sama siapa?”


Sebuah suara berhasil membuat Arsene menoleh. Itu Terry, Zaara, dan Hana yang masih berdiri di depan gedung B. Arsene menatapnya terkejut, ia kira Zaara tidak akan datang pada acara-acara semacam ini. Apa mungkin ia juga butuh sertifikat itu untuk ikut seminar wirausaha? Arsene mencuri dengar percakapan mereka yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya. Arsene memakai helmnya agar wajahnya tidak terlihat.


“Aku naik angkutan umum aja, Ry! Abiku ada di Jakarta, sementara motor rusak, jadi adik aku belum bisa jemput!”


“Kamu yakin pulang sendiri? Nginep aja yuk!” ajak Hana yang cemas.


“Aku gak bawa baju ganti, lagian tugasku buat besok ada di flashdisk lain.”


“Ya udah, kalau ada apa-apa kasih tau kita ya? Kita jalan bareng sampai gerbang!” ucap Hana lagi.


Ketiga gadis itu pun melangkahkan kaki mereka di atas trotoar dengan lampu temaram. Arsene tertegun. Ia melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 20 lewat. Ini termasuk larut bagi seorang gadis yang berada di luar rumah. Tetapi ia tidak akan mungkin membawa Zaara berboncengan dengan motornya, pasti Zaara pun tidak akan mau. Padahal tempat tinggal mereka searah, bahkan masih satu jalan masuk meski rumah Zaara lebih dekat dengan jalan raya.


Apa yang harus dilakukannya?


\=\=\=\=\=


Hmm.... Arsene harus ngapain nih?


Bersambung dulu, lanjut besok


like, comment, dan vote jangan lupa yaa (jangan peliiit, wkwk)

__ADS_1


Makasiiih


__ADS_2