Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Bonus Ep. Takdir Cinta (1)


__ADS_3

Pagi itu mendung menyapa. Udara Kota Jakarta terasa panas dan lembab, membuat keringat terus bercucuran di dahi orang yang bukan penghuni asli kota metropolitan ini. Ridho terus berpeluh keringat ketika keluar dari mobil yang mengantarkannya menuju sebuah masjid besar di kawasan Jakarta Selatan. Pria itu telah siap dengan pakaian rapi nan sederhananya untuk mengucap akad dan janji setia di hadapan Allah untuk menjadikan Namira sebagai istri sahnya.


Keluarga dan kerabat dekat telah hadir memenuhi ruang masjid tanpa sekat. Acara akad nikah hari ini sangat sederhana. Hanya berupa syukuran setelah akad, tanpa pesta resepsi. Karena begitulah permintaan sang mempelai wanita.


Ridho yang berbalut pakaian serba hitam kecuali kemejanya, terus berdegup kencang. Ia berusaha mengatur ritme nafasnya. Ibu dan bapaknya telah berdiri di sampingnya, mengantarkan ia pada meja pelaminan yang ada di depan mimbar masjid. Begitu juga dengan Keluarga Pak Gunawan, termasuk Ajeng dan Ferdian mendampingi sahabat mereka.


“Gimana kabar Patricia?” bisik Ajeng pada suaminya.


“Dia udah jadi mualaf, itu kabar yang aku dengar dari Ustadz Ahmed minggu lalu,” jawab Ferdian di samping telinga kanan istrinya.


“Alhamdulillah… duh semoga dia dapat jodoh terbaiknya!” ucap Ajeng.


“Aamiin… Yuk masuk, acara mau mulai!”


Wajah Ridho terlihat tegang dilihat dari sudut manapun. Ia duduk di depan meja pelaminan, didampingi bapaknya, Pak Yusuf, dan juga Pak Gunawan dan Ferdian yang akan menjadi saksi nikahnya hari ini. Sementara di hadapannya telah duduk ayah dari Namira dan bapak penghulu. Calon mempelai wanita masih berada di dalam ruangan, menunggu harap-harap cemas acara itu.


Dalam satu kali tarikan nafas, Ridho menjawab ijab dari calon mertuanya itu.


“Bagaimana para saksi? Sah?!” ucap bapak penghulu setelah akad telah selesai diucapkan oleh kedua belah pihak.


“Sah, sah!”


“Alhamdulillah…”


Semuanya memanjatkan doa, berharap pernikahan antara Ridho dan Namira mendapat keberkahan dan rahmat dari Allah. Semua hadirin berpeluh haru. Setelah itu, Namira keluar dari ruangannya. Dengan anggun ia berjalan menuju meja pelaminan dan duduk di samping Ridho, pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Ia menyalami punggung tangannya penuh hormat. Ridho mengusap kepalanya seraya melafalkan doa terbaik untuknya, untuk pernikahan mereka.


Acara itu pun berakhir ketika matahari sedang merangkak naik ke puncak. Ajeng dan Ferdian memberikan ucapan selamat sekaligus perpisahan pada kedua pengantin baru itu.


“Dho, selamat ya Men! Akhirnya pulang dari Amerika dapat jodoh!” ucap Ferdian memeluk dan menepuk pundak sahabat dari kecilnya itu.

__ADS_1


“Nuhun ya Fer, doain kita terus! Kamu mau langsung off ke Singapura?” tanyanya, logat Sundanya kembali mengental setelah pulang dari Amerika.


“Iya, hari ini kita take off langsung. Sampai ketemu lagi ya, Men! Sedih aku tuh, baru kali ini kita pisah….” ucap Ferdian terdengar lebay, tetapi serius. Memang karena kedua sahabat itu tidak pernah berjauhan.


“Baik-baik di sana ya Fer! Moga Arsene cepet pulih. Tambah momongan lagi pas pulang ke sini,” ucap Ridho terkekeh-kekeh.


“Haha… hayo duluan siapa nanti?” tantang Ferdian, membuat dua wanita di samping mereka ikut tertawa.


“Oh ya Mir, kenalin ini istri saya, Ajeng!” kali ini Ferdian mengenalkan istrinya.


“Saya Namira,” ucap wanita berhijab putih itu.


“Saya Ajeng… Selamat ya buat kalian berdua, semoga Allah memberkahi pernikahan kalian,” ucap Ajeng tersenyum.


“Terimakasih banyak Miss Ajeng!” jawab Ridho mengangguk.


“Woy, udah lama berubah jadi Mrs. Ferdian ya?!” sergah Ferdian


\=\=\=\=\=


Setahun Kemudian


Seorang pria mengenakan setelan jas hitam dengan kaos putih terlihat sendu terduduk di atas bebatuan nisan yang sengaja dibuat untuk tempat duduk. Air mata yang terbendung di pelupuk, membuatnya terjatuh ketika pria itu mengedipkan matanya. Kepalanya menunduk sehingga menjatuhkan bulir kristal itu di atas sebuah pusara yang ditutupi rerumputan hijau.


Matahari pagi yang menyorotnya, terasa hangat menembus pakaian hitamnya. Suasana hening di area perkuburan itu. Hanya ada pria itu di sana, diletakannya sebuket bunga berbagai warna di atas pusara.


Pria bermata sipit itu mengusap batu nisan bertuliskan nama kekasihnya di sana. Hatinya bergetar, terlihat dari rahangnya yang mengeras dan urat leher yang tegang. Ia kembali menunduk seraya mendoakan kekasih hatinya agar ditempatkan di sisi-Nya yang terbaik. Juga ia panjatkan doa tulus untuk calon buah hati yang ikut dibawa oleh kekasihnya itu.


Pria itu terisak. Hatinya masih tegar. Sudah diputuskannya, bahwa hari ini ia akan membuka lembaran baru. Kenangan indah itu tidak akan pernah terhapus, biarlah ia simpan di dalam sebuah peti baja yang kuat menahannya.

__ADS_1


Pria berkulit cokelat terang itu berdiri sambil mengusap wajahnya. Waktunya bekerja dan kembali menggapai mimpi yang tertunda. Ia mesti mengontrol jalannya sebuah acara tahunan, dimana perusahaan tempat ia bekerja menjadi sponsornya.


\=\=\=\=\=


Patricia melihat dirinya di depan cermin. Wajah cantiknya yang selalu ia banggakan kini tampak berbeda. Ia tersenyum puas pada dirinya sendiri. Aura lain terpancar dari sana, sejak ia memutuskan menjadi mualaf dan mengenakan hijab. Sudah berbulan-bulan lalu sebenarnya, entah mengapa hatinya terasa lebih lega hari ini.


Ia menarik kopernya di sepanjang koridor bandara kedatangan di Soekarno Hatta. Kaca mata hitam dikenakannya untuk menghalau sorot sinar matahari pagi yang menyambutnya. Berbekal Bahasa Inggris, ia dan asisten pribadinya nekat pergi ke Indonesia untuk mencari inspirasi dan referensi fashion hijab yang akan digarapnya mulai saat ini.


Wanita berhidung lancip itu tidak lagi memikirkan siapapun. Ia hanya ingin berkontribusi untuk agama barunya, melalui passion yang hidup dalam jiwanya, yaitu desain dan fashion. Jadi mengunjungi Indonesia adalah keputusan yang tepat karena negara ini selalu menjadi kiblat dan tren busana muslim dunia. Meskipun ia sendiri tidak pernah melewatkan parade busana muslim terkenal yang ada di seluruh dunia.


Beberapa hari yang lalu, Ajeng, yang kini bersahabat dengannya, memberitahunya lewat telepon, bahwa ada festival hijab fashion di Jakarta. Tanpa pikir panjang, Patricia langsung memesan tiket pesawat dan hotel di Jakarta, meskipun ia cukup sedih karena Ajeng dan Ferdian tidak bisa menemaninya karena mereka sudah pindah ke Singapura.


Patricia merebahkan tubuhnya di sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan, Hijab Fashion Week akan diadakan esok lusa, jadi lebih baik ia memutuskan untuk beristirahat seharian penuh. Lagipula ia masih mengalami jet lag setelah melakukan perjalanan dari London ke Jakarta.


Keesokan harinya.


Di salah satu mall besar di Kota Jakarta, banner acara tahun ini sudah ramai memenuhi sudut-sudut tempat strategis. Acara yang dihadiri oleh banyak kalangan mulai masyarakat biasa sampai artis akan dihelat siang ini. Patricia bersama asisten pribadinya sudah duduk di kursi paling depan untuk memperhatikan setiap detail busana muslim yang akan tampil untuk menjadi inspirasinya, menjadi desainer hijab fashion terkenal di dunia.


Model-model ramping berwajah khas Timur, berlenggak-lenggok di atas catwalk vertikal. Mereka dengan handal menunjukkan detail-detail serta aksen pakaian yang mereka kenakan. Mulai dari desain yang elegan, dengan material mengkilap atau jatuh berlayer. Sampai casual edgy, dengan desain simpel yang memainkan tabrak warna meskipun tetap terlihat keren. Patricia takjub dengan hasil rancangan dari desainer busana muslim Indonesia. Bahkan banyak di antara mereka meramu desain dengan memainkan corak khas daerah ke dalam karya mereka. Semua itu dicatatnya baik-baik dalam kepalanya juga buku kerjanya. Tak terasa, sesi demi sesi dilewati. Inspirasi memenuhi ruang pikiran wanita itu sehingga ia tidak sabar untuk kembali ke hotel tempat menginapnya, untuk menuangkan idenya.


Dengan langkah terburu-buru malam itu, ia berjalan menuju keluar dari tempat acara itu terselenggara, meninggalkan asistennya yang masih terduduk di kursi.


BRUK.


Buku catatan Patricia terjatuh di atas lantai mengkilap, begitu juga dengan pena yang baru saja digunakannya. Wanita itu memandangi apa yang terjadi di hadapannya, ketika seorang pria mengenakan jas hitam mengambil buku miliknya.


“Maaf, saya tidak sengaja,” ucapnya berdiri lalu mengembalikan buku itu padanya.


“Ah-eh, I’m so sorry!” ucapnya dengan aksen Inggris yang pecah dan kaku, masih sambil menundukan pandangannya.

__ADS_1


Tiba-tiba, pria di depannya itu menatapnya lekat dengan kedua matanya. Suara itu dan juga aksennya, ia hafal betul siapa pemiliknya. Patricia mendongakan wajahnya, memandang wajah pria itu, seketika meledaklah jantungnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2