Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 93. Cemburu?


__ADS_3

Masjid Parramatta terletak di Jalan Marsden, sebuah jalan yang dipenuhi dengan berbagai jenis bangunan ruko dan bisnis kecil. Arsene kembali berlari setelah turun dari bus yang berhenti sampai perempatan Jalan Smith. Kemudian ia menaiki taksi agar bisa segera sampai di depan masjid. Sebuah bangunan kotak yang terdapat enam lantai dimasukinya, itulah Masjid Parramatta.


Masih banyak Kaum Muslimin yang tinggal di sekitar untuk melaksanakan shalat isya di masjid berbentuk gedung ruko itu. Ia harus mencari dulu istrinya di lantai khusus untuk jamaah wanita di lantai tiga.


“Assalamu’alaikum, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita paruh baya berhijab. Wajahnya terlihat ketimuran. Ia adalah seorang pegawai di sini yang terbiasa menjaga khusus ruangan muslimah.


“Wa’alaikumsalam. Saya sedang mencari seseorang di dalam. Apakah Nyonya bisa bantu?” tanya Arsene berusaha untuk tetap tenang dan sopan, meski raut wajahnya terlihat panik.


“Siapa namanya?” tanya wanita yang sudah memiliki kerutan dan kantung mata itu.


“Zaara Haniya, dia istri saya,” jawabnya.


“Baik tunggu sebentar, anak muda!”


Wanita yang mengenakan setelan panjang itu memasuki ruangan khusus jamaah wanita. Tidak banyak wanita muslimah di sana yang menunaikan shalat isya. Biasanya hanya para pelajar yang baru berpulang kerja paruh waktu, atau wanita yang datang bersama mahram mereka kesini.


Wanita itu mendatangi seorang gadis berhijab beige yang duduk bersila sambil membaca Al-Quran. Wanita itu menanyakan namanya.


“Maaf, apakah namamu Zaara?” tanya wanita itu dengan ramah.


Gadis itu menatapnya terkejut, “Iya betul. Ada apa, Nyonya?” matanya terlihat sembab. Suaranya bergetar.


“Ada seseorang mencarimu di luar.”


“Siapa?” tanyanya penasaran.


“Katanya kau istrinya!”


Gadis itu langsung menutup Al-Qurannya, lalu bangkit dan menuju keluar diikuti wanita yang tadi menghampirinya.


Arsene berjalan mondar-mandir di depan sebuah rak kecil yang kosong. Jantungnya belum benar-benar tenang sebelum ia melihat wajah yang selalu dirindukannya.


“Abang!” panggilan itu membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh. Perasaannya meleleh ketika mendapati wajah istrinya yang terlihat kemerahan karena beberapa jam terakhir terus menangis. Arsene langsung memeluknya erat.


“Kamu darimana aja, Sayang? Aku cemas!” ucap Arsene mengelus kepala istrinya itu.


“Maafin aku! Maafin aku!” ucap Zaara tidak terbendung lagi air matanya.


Wanita penjaga tadi berdeham, dan menyuruh kedua anak muda di depannya itu menunjukkan identitasnya serta bukti kalau mereka adalah suami istri. Arsene menunjukkannya dari ponsel miliknya. Setelah percaya, wanita itu mempersilakan keduanya menyelesaikan urusan mereka. Arsene mengajak Zaara keluar, karena tidak enak jika harus berpelukan erat di dalam masjid.


“Maafin aku, Abang! Aku pergi gak seizin kamu!” ucap Zaara berderai air mata.

__ADS_1


“Aku berdosa, dan Allah langsung menghukum aku!” lanjut Zaara.


“Apa yang terjadi?” tanya Arsene tidak mengerti.


“Dompetku dicuri. Ponselku mati dan terjatuh saat pergi ke sini! Aku gak ingat sama sekali jalan ke asrama. Jadi aku diem aja di sini sambil terus berdoa!” terang Zaara sesenggukan. Gadis itu merasa berdosa karena telah pergi tanpa seizin suaminya. Entah apa yang dipikirkannya saat itu sehingga ngotot untuk tetap pergi ke masjid ini. Ia hanya merasa kesal setelah mendengar percakapan di belakang gedung restoran tadi.


“Subhanallah, Zaara! Untung kamu gak apa-apa, dan lokasi kamu masih bisa kelacak sama ponsel aku! Janji ya kamu gak akan pergi kemana-mana lagi tanpa aku?” Arsene menangkup pipi istrinya yang basah. Ia mengusapnya beberapa kali, air mata Zaara terlalu deras.


Zaara mengangguk sambil terus menangisi kebodohan dan kesalahannya. Arsene menariknya ke dalam pelukannya dan mengelus punggung gadis itu untuk menenangkannya.


“Jadi kamu sama sekali gak pegang uang?” tanya Arsene.


“Iya, aku gak tau gimana, pas udah nyampe sini aku baru sadar kalau dompet aku gak ada. Mungkin orang yang duduk di sebelahku yang udah ngambil saat naik bis tadi siang.”


“Ya udah gak apa-apa. Nanti kita coba blokir kartu atm kamu ya? Sekarang kamu tunggu di dalam, aku sholat isya dulu.”


Zaara mengangguk sambil menyeka air matanya.


Hati Arsene benar-benar lega karena menemukan istrinya dalam keadaan baik-baik saja, meski dalam kondisi tertekan dan panik. Ia bergegas menunaikan shalat isya, lalu kembali menemui istrinya yang duduk di kursi lobi.


“Kamu pasti lapar ya?” tebak Arsene.


“Iya, tapi rasa laparnya hilang karena aku terus nangis di dalam masjid.”


“Aku sama sekali gak inget nomor ponsel kamu atau nama jalannya. Aku udah coba pinjem kabel charger, tapi gak tau kenapa ponsel aku gak nyala. Aku cuma bisa berdoa di sana!”


“Ya udah, yuk kita pulang!” Arsene mengelus bahu Zaara dan menuntunnya keluar.


Malam itu sudah sunyi. Beruntungnya, bus menuju Blaxland masih ada, sehingga mereka lekas menaikinya sambil menikmati suasana hening yang menemani. Tidak ada percakapan di dalam bus. Arsene membiarkan gadisnya merenung dalam pikirannya sendiri, menyadari kesalahannya hari itu. Hatinya benar-benar kalut dan cemas. Entah apa yang dipikirkan Zaara sehingga nekat pergi jauh, bahkan ia tidak ingat sama sekali tempat tinggalnya. Arsene hanya memeluk bahunya dari samping.


“Makan dulu!” ucap Arsene setibanya di kamar.


Zaara mengangguk pelan. Sementara Arsene pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Apalagi dirinya berkeringat setelah berlari-lari mengejar bus.


Zaara melihat kotak makannya yang berisi nasi goreng dengan telur mata sapi serta dua potong sosis ayam berukuran mini. Salad arugula yang tadi dimakannya siang juga ada di sana. Nasi itu sudah terasa dingin. Apa Arsene yang memasaknya di dapur kerjanya? Ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak selera. Rasa bersalahnya terlalu besar. Dirinya terlalu dikuasai pikiran negatif. Zaara hanya memandangi makanan malam di depannya.


“Kenapa gak dimakan? Gak suka?!” tanya Arsene setelah keluar dari kamar mandi. Dari intonasinya pria itu terdengar memendam rasa kesal.


Zaara menggeleng, hatinya merasa tidak enak. Ia tidak sanggup menatap suaminya.


“Aku mau mandi dulu!” jawab Zaara pada akhirnya. Ia menutup kembali kotak makannya dan meraih handuknya, lalu masuk ke dalam kamar mandi melewati suaminya yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Arsene menghela nafas berat. Segera ia memakai pakaian lengkapnya. Menyantap makan malamnya, perutnya sudah terasa sangat lapar. Nasi goreng itu buatan Fiona, yang memang sengaja menyiapkan bagi para chef yang pulang lebih dahulu. Arsene memintanya untuk dua porsi. Gadis itu memberikannya.


Wangi green tea tercium ketika pintu terbuka. Wangi itu selalu membuat tenang dan nyaman perasaan. Oleh karena itu, Zaara memilih untuk mandi sekaligus membantu memperbaiki perasaannya yang tidak karuan. Gadis itu telah mengenakan sebuah gaun tidur tipis berwarna yang dibelikan untuk hantaran. Ibu mertuanya sendiri yang memilihkan. Ia teringat wajah terkejut Arsene saat diperlihatkan gaun itu, terlihat lucu.


Arsene menatap ke arahnya dan kembali menyuruhnya makan. Zaara duduk di hadapannya, bersandar pada sisi tembok yang kosong dari benda perabotan milik Arsene. Zaara mulai menyantap nasi goreng itu dengan perlahan.


Arsene berdiri, dan membuang kotak bekas makan malamnya ke tong sampah kecil. Pria itu meneguk air mineralnya lalu duduk berselonjor di atas kasur. Suasana di antara mereka berdua hening, hanya terdengar gerak-gerik Zaara yang menyendok nasi ke dalam mulutnya. Arsene menengadahkan wajahnya ke atas langit-langit, matanya terpejam.


Jantung Zaara berdebar cepat. Perasaannya belum membaik. Pikirannya masih berkelana. Dilihatnya suaminya yang sudah terpejam sambil terduduk itu. Apakah Arsene marah padanya? Ia ingin menanyakan sesuatu padanya tetapi tidak tega. Arsene pasti kelelahan setelah bekerja dan mencari dirinya. Zaara menutup kotak makannya, lalu mengambil ponselnya yang mati. Ia mencoba menyambungkannya dengan kabel penambah daya, berharap agar ponsel itu tidak rusak. Ponsel itu terjatuh ketika dirinya panik karena mengetahui dompet di dalam tasnya telah raib. Tangannya bergetar ketika akan mencoba menelepon Arsene. Sayang ternyata baterainya pun habis. Ia semakin panik saja dan tidak sengaja menjatuhkannya ke atas trotoar di depan masjid. Sore itu Zaara berusaha meminjam kabel penambah daya pada pengelola masjid, tetapi ponsel itu tidak menyala.


Zaara terkejut sekaligus lega, ponselnya masih bisa menyala setelah disambungkan dengan kabel penambah daya miliknya sendiri. Ia bernafas lega sejenak. Ia tidak boleh tidur karena baru saja makan. Jadi ia putuskan untuk membuka laptop suaminya untuk mengecek emailnya, siapa tahu ada kerjaan baru menanti.


Benar saja, ada dua naskah baru yang masuk ke emailnya. Padahal kerjaannya itu baru selesai sehari kemarin. Kini deadline kembali menghantuinya. Tetapi tidak apa, ia lebih suka diberi pekerjaan seperti itu sehingga pikirannya tidak berkelana kemana-mana. Meskipun gajinya tidak seberapa karena ia masih editor lepas. Ia bisa menerima atau menolak naskah. Pamannya memberi kebebasan padanya, asal tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan. Ia berusaha mengerjakannya malam itu, tetapi ternyata matanya yang bengkak karena setengah hari menangis membuatnya terkantuk dan tertidur di atas lantai yang dingin dengan keadaan laptopnya yang menyala.


Malam telah berlalu berganti fajar yang segera menyongsong. Suara bunyi alarm terdengar nyaring dari ponsel milik Arsene yang tergeletak di meja pendeknya tepat di pukul satu dini hari. Arsene terbangun dan mematikan suara ponselnya. Menyadari tubuh Zaara tidak ada di sampingnya, pria itu terkejut. Apalagi ia teringat semalam Zaara menghilang. Tetapi ternyata Zaara tertidur pulas di atas lantai. Arsene jadi khawatir hipotermia datang. Ia segera menghampirinya dan memindahkannya dengan susah payah ke atas kasur, dan menyelimuti tubuh istrinya.


Arsene memperhatikan wajah istrinya. Mata bulatnya itu semakin bengkak saja kelihatannya. Ia mengelus-ngelus kepala istrinya lalu mengecupnya lekat. Entah berapa kali kejadian mengerikan selalu menimpa pada gadis pemilik bulu mata lentik itu. Arsene selalu menjadi saksi.


Apa sebelum mereka bertemu Zaara juga sering mengalaminya? Gadis itu terlalu rapuh dan sensitif. Ia memang galak di awal tetapi kenyataannya gadis itu tidak sekuat itu. Sifat galaknya dulu hanya kamuflase agar tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Semakin melihatnya seperti itu, semakin besar saja rasa cintanya. Ia ingin selalu melindungi gadis itu dimana pun berada.


Perlahan kelopak mata milik Zaara terbuka, merasakan belaian lembut tangan suaminya di kepalanya. Zaara mengernyitkan matanya yang terasa lengket.


“Maaf, aku bangunin kamu ya?” ucap Arsene lirih.


“Gak apa-apa.” Suara Zaara serak.


Manik mereka saling bertatapan dalam. Saling berusaha menerjemahkan tatapan apa itu? Arsene mengecup singkat bibir istrinya.


“Tidur aja lagi! Nanti aku bangunin pas subuh!” ucap Arsene sambil bangkit dari kasur.


Namun dengan cepat Zaara mencegahnya.


“Aku cemburu!” ucapnya serak, membuat Arsene menaikan alisnya.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung...


Klik LIKE dan sumbang poin terbaik kamu ya untuk dukung Author Aerii


Jangan lupa tulis komentarnya terkait episode ini

__ADS_1


Terima kasiiih ^_^


__ADS_2