
Rainer menuruni tangga dengan langkah ringan cepatnya. Anak muda itu sudah tampan dengan setelan celana jeans dan t-shirt navy. Sambil menenteng kunci motor, ia bersiul. Ajeng menatap heran pada anak lelaki ke duanya itu. Biasanya Rain akan bermalas-malasan saja di dalam kamar ketika hari libur tiba.
“Mau kemana kamu?” tanya Ajeng pada Rain yang sedang memetik buah anggur dari dalam kulkas.
“Mau main, Mom!”
“Sama siapa?”
“Zayyan. Kita mau kumpul sama komunitas anak-anak basket se-kota Bandung di car free day”
“Emang Zayyan suka main basket?”
“Suka tapi jarang main. Aku minta anter sama dia.”
“Ooh…”
Tiba-tiba Ajeng terperanjat.
“Oh iya, kamu bisa gak sekalian antar titipan Daddy buat Om Syaiful?”
“Om Syaiful?” Rainer bertanya-tanya, berusaha mengingat sosoknya.
“Itu ayahnya Sera, saingan kamu di tim basket!”
Rainer mengernyitkan alisnya.
“Bentar aja. Kemaren Daddy mau titip apalah itu, tadinya Mommy mau antar via ojek online aja. Tapi lihat kamu keluar kan bisa sekalian.” Ajeng memasang senyuman lebarnya.
“Emang rumahnya dimana?” tanya Rainer.
“Di deket sekolah kamu kok! Mommy kirim alamatnya ya?” Ajeng membuka ponselnya.
Rainer menghela nafasnya. Kalau sudah begitu, ia tidak akan bisa menolak lagi permintaan ibunya itu. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
“Deket kan?” ucap Ajeng.
“Iyaaa…”
“Oke, tunggu sebentar!” Ajeng berlari ke kamarnya mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian, wanita berambut gelombang itu keluar dengan sebuah tas kertas jinjing dan langsung memberikannya pada Rainer.
“Bilang ini dari Daddy buat reunian!”
Rainer mengintip isi dari tas itu, terdapat sebuah bingkisan berbalut kertas cokelat. Ia tidak tahu apa isinya.
“Thank anak mommy paling ganteng!” ucap Ajeng mengecup pipi putranya.
“Hmm… Aku berangkat dulu Mom!”
“Hati-hati, Sayang!”
Rainer menjinjing tas itu, dan mengaitkannya di gantungan motor matic miliknya sendiri. Pria muda itu melenggang melajukan gasnya menuju rumah Zayyan untuk menjemputnya. Lalu kemudian pergi menuju rumah Syaiful yang kebetulan mereka lewati untuk menuju car free day pagi itu.
“Kita ke rumah temen daddy gue dulu ya?” ucap Rainer pada Zayyan yang duduk di belakangnya.
“Yoi!”
Tidak terlalu jauh dari jalan raya. Rumah bergaya minimalis yang terletak di dalam sebuah komplek itu kini disinggahi oleh Rainer dan Zayyan. Rainer melihat alamat yang dikirim oleh ibunya tadi. Tiba-tiba pintu depannya terbuka, seorang gadis berkuncir ekor kuda keluar dengan pakaian santai olahraganya. Keduanya saling bertatapan terkejut.
“Rain, gak salah lo parkir di depan rumah gue?” tanya Sera.
“Enggak. Gue ada perlu sama Om Syaiful.”
__ADS_1
Sera terkejut. Rainer dan Zayyan turun dari motor mengetahui mereka sudah berada di alamat yang benar.
“Bokap gue lagi di luar kota. Emang mau ngapain?!”
“Ini ada titipan dari bokap gue!” jawab Rainer.
Sera segera membukakan pintu pagar rumahnya.
“Nyokap lo ada?” tanya Rain lagi.
“Ada. Tunggu bentar!”
Sera berlari kembali masuk ke dalam rumahnya sambil meneriakan ibunya.
“Apa sih Ser, kamu tarik-tarik Mami gini?!” Sally terlihat sedang mengikat rambutnya yang berantakan.
“Itu Mi, ada anaknya Om Ferdian!”
“Eh ada Rainer ganteng!” ucap Sally yang baru menyadari kedatangan pemuda itu di depan rumahnya.
“Masuk dulu sini!”
“Makasih Tante, bentar aja! Ini ada titipan dari Daddy buat Om Syaiful, katanya buat reunian.” Rainer membungkuk sambil menyerahkan bingkisan di tangannya.
“Ooh iya, makasih ya!” Sally mengambil bingkisan yang disodorkan oleh Rainer.
“Kalau gitu, kita langsung permisi lagi, Tante!” ucap Rainer sopan.
“Iya.”
Rainer mengucap salam lalu kembali menaiki motornya, disusul Zayyan yang duduk di belakangnya. Sera mengejar keberadaan adik kelasnya itu.
“Bukan urusan lo!” ucapnya datar.
“Ish, kebiasaan kalau ditanya jawabnya gitu!”
Rainer melirik sebentar ke arah gadis yang sedang bersandar di pagarnya, lalu melajukan gas motornya begitu saja. Sementara Sera menatapnya dengan kesal. Padahal ia sudah berusaha bisa sebaik mungkin mendekatinya dan mencoba akrab dengannya. Hanya saja Rainer sangat sulit didekati. Misi awalnya sedari kelas sebelas dulu sepertinya akan gagal, mengingat beberapa bulan lagi ia akan lulus sekolah. Untung saja orangtua mereka berteman baik, jadi kesempatan itu selalu ada, pikirnya.
“Mami aku berangkat dulu!”
“Hati-hati!”
Orang-orang berlalu lalang di sebuah jalan lebar yang setiap hari Minggu dijadikan sebagai ajang car free day. Kebanyakan orang melakukan jalan-jalan santai, sebagian lainnya mengejar kuliner pagi di sana. Berbagai komunitas berkumpul, kadang sambil merekrut anggota baru juga. Atau mereka menyebarkan undangan untuk acara-acara yang akan dihelat.
Rainer duduk di salah satu kursi tribun di sebuah lapangan kecil di taman dekat area car free day, bersama Zayyan di sampingnya. Sambil menikmati surabi panas, mereka memperhatikan para pemuda yang kebanyakan adalah mahasiswa yang sedang bermain basket, mempraktikkan beberapa skill dan teknik memasukkan bola ke keranjang.
“Kamu bisa ngelakuin gitu, Rain?” tanya Zayyan yang baru menghabiskan surabi oncom miliknya, ketika melihat seorang pemuda memasukkan bola sambil memutar badannya.
“Ah itu sih cuma buat pamer. Yang penting bola masuk!” jawab Rain memangku dagunya santai.
“Iya sih, ngapain riweuh bergaya taunya gak masuk.”
“Nah itu! Yang penting skill dan teknik dasar, poin masuk!” respon Rain lagi.
Gadis berkuncir yang baru saja ditemuinya tadi tiba-tiba muncul di tengah lapangan itu. Ia terlihat tersenyum lebar sambil beradu tangan dengan kawan-kawan laki-lakinya. Seraphine memang memiliki banyak kawan lelaki. Ia selalu bersikap santai seolah-olah dirinya bagian dari mereka. Rainer menatap ke arahnya.
“Itu Teh Sera ternyata udah gabung komunitas basket ini ya?”
“Sepertinya!”
“Kamu jadi mau gabung gak?”
__ADS_1
“Enggak kayanya! Emang gue cuma mau lihat teknik main mereka aja.”
“Ya udah, aku mau jajan lagi! Mau nitip gak?”
“Beliin cakwe, Yan!” seru Rain.
“Sip!”
Sera terlihat duduk di salah satu tribun di bawah bersama seorang lelaki yang kelihatannya sudah mahasiswa senior. Tempat duduk Rainer dan Sera berada di satu jajar. Wajah gadis itu terlihat riang berbincang dengan kawan yang menjadi lawan bicaranya. Rainer membuka ponselnya yang berbunyi, sebuah panggilan ada di sana.
“Yes Mom?” tanyanya matanya tetap tertuju pada kakak kelasnya itu.
“Udah disampaikan titipan Daddy kamu?” tanya Ajeng.
“Iya, tapi Om Syaifulnya gak ada. Jadi titip sama istrinya.”
“Oke deh, gak apa-apa. Makasih ya Sayang!”
“Anytime!”
Rainer memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jeansnya. Seketika ia melihat tangan mahasiswa senior itu membetulkan anak rambut Sera yang tergerai ke depan wajahnya. Sera terlihat memasang wajah kikuk.
“Dasar modus!” sungut Rainer pelan.
Entah mengapa pemandangan itu yang dilihat oleh matanya bukan permainan para mahasiswa lainnya yang sedang bermain basket.
Sera dan cowok di sebelahnya terlihat sedang memberikan semangat pada orang-orang yang sedang bermain di lapangan. Cowok di sebelah Sera merentangkan tangannya ke atas sambil bersorak, ketika seorang pemain berhasil memasukan bola ke dalam keranjang. Tiba-tiba satu tangannya seperti berusaha merangkul bahu Sera.
“Aww!” ucap cowok itu ketika sebuah botol air minum mengenai kepala bagian belakang. Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa linu sambil melihat ke belakangnya.
“Lo gak kenapa-napa, Kak?” tanya Sera.
“Gak. Tapi siapa yang lempar botol ini?”
“Mungkin ada yang lagi turun tangga gak sengaja ketendang!” jawab Sera.
“Gue pindah deh!” ucap cowok yang bertubuh agak berisi itu.
Sera memandangi ke kursi tribun bagian atas. Melihat Rainer di sana sambil memangku dagu di atas tangannya dengan pandangan ke arah para pemain, membuat gadis itu terkejut dan berpikir, lalu mengedikkan bahunya sambil berlalu. *Masa sih cowok jutek itu yang nendang botol? *pikirnya.
Sementara itu Zayyan kembali dengan bermacam-macam jajanan di tangannya.
“Nih!” pria bermata besar itu memberikan sebungkus cakwe yang sudah dilumuri saus cabe pada Rainer.
“Thanks! Bagi minum dong!” ujar Rainer.
“Lha bukannya tadi masih banyak isinya?!” tanya Zayyan.
“Tumpah!” jawabnya singkat.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung...
Like, comment, dan votenya yaa
Thank youu
__ADS_1