Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 107. Jaga


__ADS_3

“Kamu gak apa-apa ikut jaga toko? Gak akan sakit pinggang?” tanya Arsene cemas karena Zaara ngotot untuk ikut berjaga toko Sweet Recipes.


“Gak apa-apa, Abang Sayang! Aku mau bantu abang, seenggaknya aku juga masih bisa kerja juga untuk edit naskah.” Zaara menaiki motor suaminya.


“Kalau capek bilang ya?”


“Iya!”


Arsene melajukan motornya dari apartemen ke tokonya. Zaara terlihat membawa beberapa barang belanjaan untuk bahan-bahan yang sudah habis.


Kuliah mereka sedang libur. Jadi Arsene berharap beberapa hari ini setidaknya tokonya bisa memberikan harapan. Jika tidak, ia sudah memikirkan hal lain untuk dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekonominya.


Keduanya memasuki toko yang sudah rapi, karena mereka selalu membereskannya setelah toko tutup. Zaara hanya perlu menyapu dan mengelap sedikit perabotan. Sementara Arsene bersiap-siap untuk membuat kue.


Ide dalam kepala Arsene memang sedang buntu untuk mengembangkan usahanya. Ia hanya memikirkan bagaimana memutar modal yang ada di tangannya. Sementara dalam masalah pemasaran, ia benar-benar tidak menguasainya. Dulu, masalah pemasaran ia serahkan pada tim yang dibayar oleh ayahnya. Sekarang berbeda, ia sama sekali tidak melek dengan masalah marketing, meskipun ayahnya sering menjelaskan. Ia angkat tangan untuk itu. Untuk membayar tim marketing pun sepertinya tidak mungkin.


Zaara menaruh kue-kue yang sudah jadi di dalam etalase. Sambil menunggu pelanggan datang, gadis itu membuka laptop di salah satu meja makan bersiap-siap untuk kerja. Arsene keluar dari dapur untuk memastikan semuanya.


“Sayang, kamu gak mau duduk selonjoran di atas?” tawar Arsene. Ia sudah membeli sebuah karpet empuk dan bantal kecil untuk ditaruh di lantai dua khusus untuk istirahat.


“Nanti kalau pegel aku pindah!” jawab Zaara.


Arsene tersenyum, ia menjadi lebih bersemangat bekerja ketika istrinya menemani. Meskipun mungkin hari ini akan sunyi dari para pelanggan, setidaknya Zaara memberinya motivasi. Pria itu membuka pintu tokonya dan membalik sebuah gantungan bertulis ‘OPEN’.


“Bismillah!”


Arsene berjalan menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya.


“Ada berapa naskah yang kamu edit?” tanya Arsene melihat layar laptop istrinya.


“Tiga. Kemarin baru selesai satu yang genre teen fiction. Tinggal dua lagi yang genre young adult roman.”


“Kamu nyaman kerjain ini?” tanya Arsene.


“Aku suka banget, karena kerjanya fleksibel meski tetep dikejar deadline. Aku juga bisa baca karya penulis-penulis muda. Mudah-mudahan aku bisa jadi editor tetap di Natabooks.”


Arsene mengusap kepala istrinya. Ia tersenyum.


“Hasil aku kerja juga kan untuk kita berdua. Aku ingin nabung juga bantu-bantu kamu. Jadi kamu gak perlu terlalu cemas. Emang sih gaji aku masih kecil, tapi seenggaknya aku juga berkontribusi.”


“Makasih Sayang!” Arsene menarik kepala istrinya dan mengecupnya.


“Ayo semangaaaaat!” teriak Zaara sambil mengangkat kedua tangannya.


Arsene terkekeh saja melihat ekspresi istrinya itu.


Hari sudah siang, ada beberapa pelanggan yang datang untuk membeli. Arsene bersyukur karena masih ada pelanggan hari itu. Meskipun ia ragu hasil kerjanya setiap hari akan bisa menambah tabungannya. Mungkin hasil penjualan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian mereka saja. Arsene semakin galau saja. Ia memang tidak bisa berdiam diri dan menunggu seperti itu. Tubuhnya selalu ingin bergerak kesana kemari melakukan pekerjaan yang dicintainya. Tetapi jika ia terlalu banyak membuat kue, sudah pasti stok akan menumpuk dan akan menjadi mubazir ketika tidak ada yang membeli.


Arsene dan Zaara menikmati momen berdua mereka di dalam toko yang sepi itu. Zaara tidur di atas paha suaminya. Sejenak beristirahat karena tubuhnya terasa pegal-pegal. Arsene mengelus kepala istrinya.


“Zaara Sayang!” panggil Arsene. Zaara menoleh dan melihat wajah suaminya dari bawah.


“Kenapa?”


“Kalau aku kerja di luar boleh gak?” tanyanya menatap wajah Zaara.


“Kerja dimana?”


“Di restoran hotel bintang 5 atau restoran mewah gitu. Aku kan punya ijazah dari Le Cordon Bleu, mereka pasti mau bayar mahal kerja aku.”

__ADS_1


“Kenapa, Abang gak bisa fokus ke bisnis ini lagi?”


“Rasanya harapan di sini makin tipis aja. Kalau keadaan masih kaya gini, tabungan kita gak akan bertambah. Impian kita akan tertunda lebih lama.”


Zaara terdiam, merenung. Memang pasti seperti itu. Bahkan mereka saja sudah berusaha menghemat pengeluaran kebutuhan sehari-hari. Untung saja Zaara mendapatkan penghasilan, jadi mereka masih bisa menghibur diri untuk jalan-jalan keluar atau makan di luar. Kalau tidak ada, Arsene mungkin tidak menginginkan tabungannya diganggu gugat.


“Abang mau coba kerja di luar?”


“Iya, seenggaknya aku ingin cari pengalaman juga di luar sana.”


“Terus kuliahnya?”


“Aku akan ambil kerja part-time. Jadi sepulang kuliah atau pas libur aku bisa kerja.”


“Emang ada?” Zaara bangkit dan duduk di sebelah suaminya.


“Aku mau minta tolong Pakde Damian, beliau pasti punya relasi banyak pemilik hotel atau restoran mewah di Bandung.”


“Kenapa gak kerja di restoran Daddy aja?” tanya Zaara membetulkan kerudungnya.


“Restoran Daddy gak akan bisa bayar mahal aku, haha! Restoran Daddy memang berkualitas, tapi pasarnya untuk menengah ke bawah. Bisa aja sih Daddy bayar mahal aku, tapi gak baik buat perputaran keuangannya. Aku ingin jadi chef profesional yang dibayar sesuai dengan servis yang aku kasih!”


Zaara meng-ooh-kan saja.


“Aku dukung Abang aja! Kalau Abang mau coba, aku akan tetap dukung.” Zaara meyakinkan pria di sebelahnya.


“Alhamdulillah. Kamu emang istri pengertian.” Arsene mencubit pipi istrinya.


“Sakit, Abang!” ucap Zaara mengusap-usap pipinya.


“Uuuuh, sini sini obatin dulu!”


“Modus aja itu mah!”


Arsene tertawa-tawa.


“Lagian kita harus siapin buat si kecil ini. Kebutuhan kita pasti nambah kalau dia udah lahir nanti.” Elusan tangan Arsene di atas perut Zaara membuat gadis itu geli.


“Iya sih! Tapi kamu jangan cuekin aku ya kalau udah kerja?! Kamu kan gitu, kalau udah nyaman kerja sering lupa sama aku!” ucap Zaara membulatkan bibirnya.


“Hehe… insya Allah! Sering-sering aja pakai baju tipis, nanti aku gak lupa, wkwk!”


“Dasar genit!”


 Zaara menyenggol tubuh suaminya.


“Tuh ada yang beli!” Zaara berdiri dan siap menyambut pelanggan. Sementara Arsene menyiapkan kotak.


\======


Keesokan harinya


Sudah hampir 5 jam, Arsene menunggu di toko bersama istrinya. Zaara sedang beristirahat di lantai atas setelah tadi pagi gadis itu muntah hebat. Sebenarnya Arsene tidak tega membiarkan istrinya itu ikut dengannya berjaga di toko agar Zaara bisa beristirahat lebih nyaman di apartemen. Hanya saja, Zaara tetap bersikukuh, ia tidak ingin suaminya kesepian, meskipun ia hanya bisa menemani saja sebagai bentuk dukungannya.


Hari ini belum ada pelanggan yang datang berkunjung. Hal itu membuat tingkat kecemasan Arsene semakin tinggi. Teringat percakapan dengan istrinya kemarin, sepertinya ia harus segera memutuskan sesuatu. Arsene mengambil ponselnya.


“Halo Dad?!” Arsene menelpon ayahnya.


“Kenapa, Bang?!”

__ADS_1


“Daddy dimana?”


“Di rumah Opa, kenapa?”


“Apa Daddy bisa bantu aku untuk bicara sama Pakde?”


“Pakde? Mau apa kamu?”


“Aku mau minta tolong sama pakde untuk carikan hotel atau restoran mewah yang bisa mempekerjakan mahasiswa paruh waktu!” ujar Arsene.


Pria muda itu memang tidak memiliki pilihan lain kecuali bekerja di restoran. Sudah tipis sekali harapannya untuk membangun kembali toko yang pernah membuatnya optimis. Kini ia berharap skill memasaknya bisa membantunya lebih baik untuk memperbaiki ekonomi keluarganya.


“Kamu mau kerja di restoran?” tanya Ferdian memastikan.


“Iya Dad! Aku akan tutup toko dan kerja di restoran. Aku harap dua ijazah memasak ini bisa membantuku!”


Hening di sana. Ferdian merasa iba dengan kondisi bisnis anaknya. Tetapi anak itu sudah menolak tawarannya kemarin-kemarin.


“Gimana Dad?!”


“Iya nanti, Daddy bicara sama pakdemu dulu! Nanti Daddy kabarin lagi.”


“Alhamdulillah. Makasih Dad!”


“Kamu yakin bakal tutup toko?”


“Iya, kalau udah kerja aku bakal fokus kerja di restoran,” terang Arsene, nadanya terdengar berat.


“Oh, ya udah. Mudah-mudahan ini yang terbaik untuk kamu dan keluarga kamu.”


“Aamiin. Aku tutup ya Dad. Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam.”


Arsene mengembuskan nafasnya. Ia hanya berharap bisa segera bekerja di sebuah restoran kelas atas yang akan membayarnya mahal. Ijazah memasaknya tentu menjadi modal, dan skill memasaknya tidak bisa dibohongi. Hanya karena kondisi tokonya saja yang membuatnya sedikit turun. Kini harapan hidupnya bersinar kembali.


\======


Zaara memandangi suaminya yang sedang menatap bangunan tokonya yang telah tutup. Hari ini mereka tidak berjualan di sana. Arsene sudah membulatkan keputusannya untuk menutup usaha perdananya itu. Raut wajah pria muda itu terlihat sedih, terdengar helaan di nafasnya yang berat.


Pria yang mengenakan setelan kaos berkerah merah dengan celana jeansnya itu kini melangkah tepat ke depan rolling door toko. Ia menempelkan sebuah kertas poster berlaminasi, bertuliskan ‘FOR RENT’ dan juga nomor kontaknya untuk dihubungi.


“Apa Abang ada rencana untuk bikin usaha lagi?” tanya Zaara setelah Arsene selesai menempel kertas posternya itu.


Arsene menepuk tangannya, membersihkan debu yang menempel.


“Ada. Tapi gak tau kapan. Mungkin aku bakal susun ulang rencana hidup untuk tahun ini. Kita fokus untuk dedek dan tabungan dulu, baru aku akan pikirkan bisnis ke depannya.”


Arsene mengambil helm, dan menaiki motornya. Sementara Zaara masih tertegun memandangi toko itu. Ia hanya berdoa semoga pilihan suaminya selalu mendapat kelancaran dan keberkahan dari Tuhannya.


Keduanya pergi ke kampus untuk melanjutkan perkuliahan di hari itu.


\======


Bersambung dulu yaa


Keep support Author dengan klik LIKE, kasih komentar kamu, dan Vote Poin/ Koin


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2