
Senin itu, setelah jam pelajaran kedua selesai, Arsene pergi ke pendopo seni, tempat dimana geng Blackdot berkumpul. Ia berjalan sambil membawa beberapa kotak makan siang seperti janjinya saat itu. Terdengar suara-suara tawa yang menggelegak.
Ini adalah hari kesekian dimana ia selalu memberikan makan siang untuk mereka Ricky dkk. Arsene sama sekali tidak terbebani, justru skill memasaknya untuk menu savory alias masakan yang memiliki rasa gurih dan asin bisa terlatih kembali. Meskipun ia harus berbelanja seminggu sekali dengan uang tabungannya untuk memberi mereka bekal makan. Tetapi itu tidak menjadi masalah baginya, ia anggap sedekah untuk mereka. Arsene mendekati kelompok yang paling ditakuti oleh siswa-siswi sekolah.
"Oy, koki kita udah datang nih!" seru Ricky menghampiri Arsene, ia menepuk pundaknya.
"Bawa apa lo, Sen?" tanya Beni sudah tidak sabar.
"Hari ini gue bawa burger," ucap Arsene mengeluarkan kotak makan yang terbuat kertas karton tebal.
"Wah asik nih! Akhirnya bisa makan enak lagi," ucap Nicko.
Arsene tersenyum melihat mata-mata berbinar itu. Meskipun ia belum terlalu dekat dengan kelompok itu, tetapi ia yakin bahwa ketiganya adalah orang-orang yang baik.
Keempatnya langsung melahap menu yang sebenarnya simpel dalam membuatnya. Bahkan Arsene membuatnya setelah ia membersihkan tubuhnya. Ia hanya perlu memanggang beef burger, irisan bawang bombay, timun, tomat, serta roti tentunya, lalu menambahkan saus dan sedikit mayones jika suka. Sangat mudah bukan?
“Ini ruangan apa?” tanya Arsene setelah ia menghabiskan burger miliknya. Ia menunjuk sebuah bangunan yang cukup lebar, ada dua buah jendela yang juga lebar. Namun jendela itu terlihat berdebu, seperti jarang digunakan.
“Itu dulunya ruang penyimpanan karya anak-anak seni. Mereka juga biasa pake untuk mengekspresikan diri, ya semacam melukis atau kerajinan tangan lainnya. Cuma semenjak ada pendopo di sini, ruangan itu gak pernah dipake lagi, kecuali untuk tempat menyimpan karya seni yang udah lama,” jelas Ricky.
Arsene mengangguk. Sayang sekali ruangan sebesar itu tidak difungsikan lagi dan malah terabaikan sekarang.
“Lo belajar masak dari mana, Sen? Gue baru nemu cowok yang punya masakan enak kaya lo!” puji Ricky yang diiyakan oleh kawan-kawannya yang lain.
“Gue udah suka masak sejak kecil. Sebenarnya gue lebih suka bikin kue daripada masak, cuma karena kemarin-kemarin kalian bilang masakan gue enak, ya udah gue coba latih lagi,” jelas Arsene.
“Lo mau jadi koki?” tanya Ricky lagi.
“Ya, gue punya impian pengen jadi head chef di restoran bintang lima terbaik atau minimal jadi head chef di usaha punya gue sendiri.”
Ricky menatapnya takjub. Tak menyangka di usia mereka, Arsene sudah memiliki cita-cita yang tergambar jelas di benaknya. Sementara dirinya saja masih kebingungan untuk melanjutkan kuliah atau tidak. Pamornya sebagai siswa buruk, preman sekolah, dan brandalan sudah melekat sekali, meskipun ia sebenarnya tidak seburuk apa yang dibicarakan oleh siswa-siswa lain. Hanya saja, merasa pamor itu sudah melekat dalam dirinya, ia jadi memanfaatkan hal itu agar ia bisa mendapatkan keuntungan. Panggilan dari BK sudah biasa ia terima bersama dua sahabatnya, ketika ada siswa yang melaporkannya. Ia tetap tidak peduli. Namun, bertemu dengan Arsene, ia merasa ada seorang teman yang bisa menerima dia apa adanya, meskipun Arsene pun memintanya untuk tidak melakukan apa yang biasa ia lakukan.
“Lo sendiri habis lulus mau ngapain, Rick?” tanya Arsene menatapnya.
Ricky tertegun.
“Belom tau. Gue masih bingung,” jawabnya singkat.
Arsene menepuk pundak kokoh milik Ricky.
“Impian itu bisa datang kapan aja. Bahkan di saat lo sedang sakit sekalipun. Tapi jangan pernah lo putus asa, coba bangun impian lo kapan pun itu dengan harapan tinggi dan usaha yang keras,” ucap Arsene membuat mata Ricky berbinar.
“Thanks!” ucap Ricky tersenyum tipis.
Arsene membalasnya dengan senyuman lebar.
“Gue mau tanya sama lo, Sen! Kenapa lo mau berteman sama kita-kita?” tanya Ricky.
“Entahlah. Gue rasa kalian gak seburuk apa yang orang bilang. Meskipun gue udah pernah dapet bogem dari Beni, tapi menurut gue kalian justru butuh temen yang pengertian macam gue,” ucap Arsene percaya diri.
Ricky tertawa-tawa sambil menyenggol Arsene. Begitu pula dengan Beni yang tampak merasa bersalah telah meninggalkan kenangan buruk di kesan pertama.
“Lo udah gak pernah malakin anak lain lagi kan?” tanya Arsene memastikan.
__ADS_1
“Jawab Nick!” suruh Ricky pada kawannya.
“Eh kok gue?!” sergah Nicko.
“Ya kan lo yang barengan terus sama gue di kelas dan kemana pun!”
“Ooh… itu, enggak kok! Meskipun ada temen-temen yang emang suka ngasih setoran, tapi Ricky gak pernah terima lagi. Makanya banyak anak-anak yang heran.”
“Mantap!” puji Arsene, memeluk bahu Ricky.
“Kapan-kapan kita main keluar yok!” ajak Arsene lagi.
“Holang kaya mah beda euy!” ucap Beni.
“Kalau harta masih bisa dicari, tapi temen setia susah dibeli. Gue lihat itu di lo semua,” ucap Arsene.
“Asal, temen setianya untuk kebaikan ya?!” tambah Arsene lagi.
Entah mengapa ucapan Arsene sama sekali tidak menyinggung ketiganya, mereka justru menyadari bahwa kekuatan persahabatan di antara mereka bertiga sudah sangat kuat, dan Arsene menyadarkannya bahwa persahabatan memang haruslah untuk kebaikan bukan untuk keburukan.
Arsene pun berpamitan untuk kembali ke kelasnya setelah obrolan mereka selesai siang itu. Pria muda itu berjalan dengan sedikit senyuman terulas di bibirnya, membuat siswi-siswi yang berpapasan dengannya terpana. Ia pun masuk ke dalam kelas, menemui kawan-kawannya yang lain, Fahri dan Abdul. Kedua siswa itu sedang tertawa-tawa, entah membicarakan apa.
“Hey, kemana aja lu, Sen?” tanya Fahri menghentikan tawanya.
“Ada lah!” jawab Arsene menutupi.
“Lo, ada masalah sama geng Ricky? Kok gue perhatiin, lo sering ketemu dia akhir-akhir ini?” tanya Fahri lagi.
“Gak kok. Sama sekali gak ada masalah.”
Arsene tertawa-tawa. “Gak kok! Baguslah kalau dia udah berubah!”
“Ya tapi tetep aja sih gue curiga.”
“Udahlah gak usah dibahas lagi. Kalau ada orang berubah lebih baik harusnya diapresiasi, bukan dicurigai!” ucap Arsene menepuk bahu Fahri, membuatnya tersenyum kaku.
“Sama Zaara juga kalian udah akur ya?” kini Abdul yang bertanya.
“Kita gak pernah cekcok kok, ya cuma sedikit aja karena kita sama-sama belum kenal,” jelas Arsene.
“Kok bisa? Padahal emang Zaara galak banget deh perasaan,” ucap Abdul.
“Iya tahu. Zaara tuh sering banget negur siswa-siswa yang pacaran di dalam kelas. Makanya dia gak punya temen deket di sini,” terang Fahri.
“Betul itu. Sampai-sampai ada siswa cowok yang dikeluarin pas beberapa bulan lalu. Padahal itu kakak kelas lho!” timpal Abdul.
Arsene menyimak pernyataan dua kawannya itu, ia tidak akan menanggapinya dulu.
“Gila banget kan? Dia ampe bentak-bentak orang yang pacaran sampai siswa itu dikeluarin. Orang-orang bilang, Zaara fitnah mereka. Tapi gak tau deh!” sahut Fahri lagi.
“Sering lho Zaara kaya gitu, makanya banyak banget yang gak suka sama dia,” jelas Abdul.
Arsene tertegun. Ia melihat Zaara tidak seperti apa yang kedua kawannya katakan. Memang ia baru berteman dengannya kurang lebih selama sebulan lebih. Ia belum melihat Zaara melakukan hal itu di depan matanya.
__ADS_1
“Kalian emang pernah lihat Zaara bentak-bentakin orang yang pacaran?” tanya Arsene yang kini bersuara.
“E-eh, kalau bentak-bentak belum pernah lihat sih. Tapi kalau misahin orang yang pacaran di kelas kayanya pernah,” jawab Fahri ragu-ragu.
“Emang kaya gimana?” tanya Arsene lagi.
Fahri memutar kedua bola matanya, lalu menyenggol Abdul untuk membantunya menjawab pertanyaan Arsene.
“Gue pernah liat sekali sih. Waktu itu kelas kita masih kelas sebelas pas jam pelajaran Bu Ratih, tapi karena beliau gak masuk, jadinya anak-anak ribut. Dita dan Fandi kan emang pacaran, akhirnya mereka duduk berduaan. Gue kebetulan duduk di belakang mereka, jadi tau persis apa yang terjadi. Si Fandi emang duduk dempetan banget sama Dita, bahkan wajah mereka itu deket banget. Zaara dateng, tapi gak bentak-bentak sih, dia cuma minta Fandy buat minta tugas ke ruang guru. Emang maksa, tapi gak ada bentak sih, Akhirnya si Fandy pergi dan Zaara duduk sama Dita,” cerita Abdul.
“Lo pernah lihat Zaara kaya gitu?” tanya Arsene pada Fahri.
Fahri menggeleng, “kata orang,” jawabnya pelan,
Arsene menghela nafas.
“Tapi emang dia yang bikin si kakak kelas itu dikeluarkan dari sekolah,” bela Fahri.
“Berarti bukan gara-gara Zaara, tapi ada kelakuan kakak kelas itu yang bikin dia dikeluarkan dari sekolah!” ucap Arsene menyimpulkan.
“Gak mungkin kan, seorang siswi tiba-tiba bisa mengeluarkan siswa lainnya. Zaara mungkin yang mengadukannya yang akhirnya dia jadi kambing hitam,” ucap Arsene lagi.
Abdul dan Fahri terdiam saling memandangi satu sama lain. Mereka berdua memang tidak tahu menahu, hanya saja gosip itu yang berkembang, bahwa Zaara telah mengeluarkan seorang siswa kakak kelasnya beberapa bulan lalu, sebelum mereka naik kelas.
“Tiap orang emang punya prinsip yang berbeda-beda, termasuk Zaara. Gue bukan mau bela dia. Tapi selama ini gue duduk sebangku sama dia, dia baik kok! Dia cuma jaga prinsip hidupnya, kalau dia gak bisa deket sama yang namanya lelaki. Berteman secukupnya dan seperlunya aja mungkin. Gue hargain itu. Masih banyak juga orang yang mungkin punya prinsip beda-beda, tapi itu tergantung kita menghargai mereka seperti apa. Kita gak bisa maksa dia untuk ikut prinsip kita juga kan, toh kita gak bisa ikut dia juga. Jadi cukuplah hargai dia sebagai teman kita dengan sikap yang dia tunjukan kepada kita secara langsung,” ucap Arsene.
“Kalian pernah dimarahi Zaara?” tanya Arsene pada kedua kawannya.
Kedua pria muda itu menggeleng.
“Siapa cowok yang pernah dimarahi sama dia?”
“Dulu kayanya ada deh, tapi kapok dan gak pernah pdkt sama dia lagi,” jawab Abdul.
“Nah, karena dia punya prinsip itu. Bisa jadi dengan cara itu, prinsip hidupnya bisa dipegangnya terus.”
Lagi-lagi Abdul dan Fahri terdiam, terlebih dengan apa yang dikatakan oleh Arsene. Mereka memang sering sekali mendengar isu buruk mengenai Zaara, yang selalu duduk sendiri setelah sahabatnya pindah keluar kota ketika semester dua di kelas sebelas. Akhwat galak, sok suci, dan sok alim adalah label yang dilekatkan pada Zaara sejak kelas sebelas. Seiring munculnya isu buruk itu, Zaara mulai dijauhi oleh teman-temannya, termasuk teman perempuannya. Padahal ketika ia masih di kelas sepuluh dan semester satu kelas sebelas, banyak teman yang dekat dengannya.
Arsene sendiri merasakan bahwa awalnya Zaara adalah gadis jutek yang aneh. Tetapi setelah ibunya menyinggung terkait prinsip hidup, ia jadi mengerti. Karena dirinya pun memiliki prinsip yang mungkin tidak jauh berbeda dengan Zaara, tetapi tidak pernah disadarinya. Arsene selalu merasa tidak bisa berteman dekat dengan cewek manapun, bahkan sejak dulu di Singapura. Padahal ia tetap berusaha ramah kepada siapa saja, tetapi tetap saja ketika berteman dengan seorang cewek, dirinya tidak bisa masuk lebih jauh. Aneh memang. Makanya, ia dengan Zaara pun cukup menjaga jarak, meskipun ia tetap sering bercanda kecil dengannya agar tidak terlalu kaku dalam berteman.
Akhwat yang dibicarakan oleh ketiga siswa itu kini tengah melangkah masuk. Senyum lebar tersimpul di bibirnya, terlihat sangat cantik. Mungkin ia baru saja bersama sahabat-sahabat rohisnya. Satu-satunya tempat yang dianggapnya bisa bertemu dengan sahabat terbaik di sekolah ini. Arsene menatapnya dengan senyum kecil.
“Di dunia ini selalu ada tempat yang bisa kita anggap aman, meskipun sebenarnya sudah menjadi tempat yang tidak bagus bagi kita. Sama halnya pun dengan pertemanan,” ucapnya tersenyum lalu pergi menuju mejanya, karena bel istirahat telah berakhir siang itu.
\=====
Hmm...
Lanjut lagi nanti yaa
LIKE, COMMENT, & VOTE, TIPSNYA JUGA YAA ^_^
terimakasih banyaaaaaak
__ADS_1