
Mentari menyapa pagi itu, terasa hangat dan menenangkan. Arsene mengajak mommy-nya berjalan di sekitar taman di rumah sakit pagi itu, membawa wanita yang mengenakan hijab instan itu terduduk di kursi roda. Taman yang dipenuhi tanaman hijau serta bunga warna-warni sungguh memanjakan mata. Baby Finn masih belum keluar dari ruangan observasinya, ia masih akan ditangani oleh perawat.
Ajeng menghangatkan tubuhnya di bawah sinar matahari pagi. Sementara Arsene, terduduk di salah satu kursi taman di samping pohon cemara kecil. Udara pagi terasa segar terhirup.
“Sekolah kamu gimana, Sayang?” tanya Ajeng menatap wajah anak sulungnya.
“Sekolah aku lancar, Mom! Cuma kemarin aku sempat ikut bongkar kasus.”
Ajeng menatap anaknya heran.
“Kasus apa?”
“Kasus bullying! Zaara, anaknya Tante Karin, kena kasus bullying di sekolah. Dia disekap sama murid lain, aku terpaksa turun langsung karena dia teman sebangku aku.”
“Kalian sebangku?” tanya Ajeng terkejut. Ia memang tidak pernah mendapat cerita itu dari Karin, meski mereka sering bercengkrama satu sama lain.
Arsene mengangguk.
“Jadi cewek yang kamu anggap aneh itu, Zaara?!”
“Iya, Mom!”
Ajeng tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Arsene menceritakan semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini di sekolahnya. Ajeng tidak menyangka kalau anaknya bisa memecahkan kasus itu sendiri di sekolahnya. Ia merasa bangga, karena Arsene sangat berani.
“Terus gimana Zaara dan korban satu lagi?”
“Zaara udah baikan, kayaknya hari ini dia pulang dari rumah sakit. Kalau Arief aku gak tau, Mom!” jawabnya mengernyit ketika sinar matahari menyorot matanya.
Ajeng tersenyum pada anaknya. Tiba-tiba ponsel yang dibawa Ajeng berdering, itu panggilan video whatsappnya. Nama Karin tertera di sana. Ajeng merapikan hijabnya.
“Assalamu’alaikum Karin…” sapa Ajeng tersenyum ramah.
Mendengar nama ibu temannya disebut, Arsene jadi terkejut. Baru saja mereka membicarakan Zaara, tiba-tiba umi gadis itu menelepon. Ia menjauhkan dirinya dari tubuh ibunya, agar tidak terlihat kalau dirinya sedang ada di sana.
“Wa’alaikumsalam. Hai Jeng! Katanya kamu udah lahiran? Selamat ya Ajeng Sayang. Laki-laki atau perempuan?” tanya Karin.
“Makasih Karin. Anakku laki-laki lagi nih. Alhamdulillah makin banyak jagoanku!” ucap Ajeng tersenyum.
“Selamat ya, semoga anak kamu jadi anak yang shaleh. Aamin. Mana dedek bayinya?”
“Ah, dia masih sama perawat. Gimana kabar Zaara? Aku udah denger semuanya dari Arsene.”
“Alhamdulillah udah pulang dan udah baikan. Kemarin sempet mimpi buruk terus-terusan, tapi tadi malam udah enggak. Mudah-mudahan sih dia gak trauma. Aku salut sama anak kamu Jeng! Dia anak yang berani. Aku merasa berhutang sama Arsene,” ucap Karin.
Perkataan Karin membuat Arsene tersipu, ia tersenyum kecil. Ajeng melirik ke arah Arsene, mencuri pandang pada senyuman kecil yang muncul di bibir anaknya itu.
“Semoga Zaara cepat pulih ya!”
“Anak kamu juga rajin ngasih kue lho sama Zaara. Mungkin karena Zaara galak ya, haha. Zaara cerita sama aku soalnya.”
Wajah Arsene bersemu merah mendengar itu semua. Ternyata Zaara sudah menceritakannya pada ibunya. Ia jadi tersipu malu dibuatnya, apalagi karena orangtuanya saling membicarakannya. Lagi-lagi Ajeng melirik anaknya. Ia ingin menahan tawa ketika dilihatnya wajah Arsene yang merah padam. Ia tersadar anaknya itu sudah bukan anak kecil lagi dan berubah menjadi pemuda tampan.
“Oh really?” tanya Ajeng.
“Iya, apa dia gak cerita?” tanya Karin.
“Belum kayanya, masih kecapean, haha!”
“Ah, lucunya. Kapan kamu pindah ke Bandung?”
“Doain aja, mudah-mudah bisa lebih cepat!" jawab Ajeng.
__ADS_1
“Horeee! Sip deh. Mudah-mudah cepet pulih ya, aku pamit dulu kalau gitu. Salam buat semuanya!” pamit Karin lalu mengucap salam.
Ajeng menutup ponselnya, lalu memperhatikan wajah anaknya yang tengah memandangi orang-orang sakit yang sedang berjalan di taman. Ajeng membawa kursi rodanya mendekati anaknya itu.
“Kamu denger percakapan mommy sama Tante Karin?” tanya Ajeng memberhentikan kursi rodanya.
Arsene menahan nafasnya lalu mengangguk kecil. “Aku gak sengaja, Mom!”
Ajeng terkekeh.
“Itu kamu kirim kue buat Zaara atas dasar apa?” tanya Ajeng penasaran.
“Karena aku mau berteman sama dia,” jawabnya polos.
“Are you sure?” Ajeng mencurigainya.
“Yes, Mom!”
“Do you like her?” tembak mommy-nya membuat pemuda itu tidak berkutik.
“What do you mean?!” protesnya, sambil mengalihkan pandangannya.
“I can see it in your eyes (Mommy bisa lihat di mata kamu), ketika mommy tanya tadi. Your eyes have the answer (mata kamu punya jawabannya),” ucap Ajeng tersenyum.
“You can’t deny it, Arsene! Is her your first love? (Kamu gak bisa mengelak, Arsene! Apa dia cinta pertama kamu?) Mommy gak akan larang anak mommy untuk jatuh cinta, tapi kamu harus bisa kendalikan diri kamu ketika menyukai seseorang, terlebih lagi Zaara adalah gadis yang istimewa,” ucap Ajeng lagi.
Memang insting seorang ibu tidak pernah salah. Arsene mengakuinya dalam hati. Bahkan selama dalam perjalanan di pesawat, benaknya terus terbang memikirkan Zaara. Inikah jatuh cinta? Apa ia terlalu cepat menaruh perasaan pada gadis itu?
Arsene belum menjawab pertanyaan ibunya itu. Ia terlalu sibuk memikirkan jawaban pertanyaan hatinya sendiri.
"Arsene?"
"Hmm ... I'm still not sure! Apa tandanya kita sedang jatuh cinta, Mom?" tanya Arsene.
Arsene jadi tersenyum kecil, lebih tepatnya menahan tawa dan perasaannya. Sepertinya memang begitu.
Ajeng jadi tertawa di depan anaknya itu. Sepertinya memang Arsene sedang jatuh cinta.
Arsene beranjak dari tempat duduknya lalu mendorong kursi roda ibunya sambil kembali mengelilingi taman. Pikirannya mengawang dan terus bertanya pada perasaan aneh yang ia rasakan beberapa hari terakhir ini. Apa benar ia telah jatuh hati? Teringat ia pada kotak pemberian Zaara, ia belum membukanya.
“Mom kita ke kamar ya?” pintanya.
Ajeng mengangguk.
Ferdian sudah kembali dari rumahnya setelah ia memenuhi kebutuhan Kirei dan Rainer pagi itu. Anak-anak itu ditinggalkannya di dalam rumah. Sementara Arsene masih menemani ibunya di sana, ia ingin sekali menggendong adik bayinya. Ferdian terlihat membawakan makan pagi untuk Arsene dan memberikannya langsung setelah mereka tiba.
“Kamu sarapan dulu, Cen!” seru Ferdian pada anak sulungnya.
“Thanks, Dad!” ucap Arsene mengambil kotak makan itu dan duduk di sofa ruangan ibunya dirawat. Arsene mengambil tas ranselnya yang masih ia simpan di sana, kemudian mengambil kotak hadiah pemberian Zaara itu.
Ajeng yang sudah berbaring kembali di kasurnya memperhatikan anak mudanya yang selalu menarik perhatiannya. Sementara Ferdian bersiap-siap menyuapi istrinya itu. Ajeng memberikan kode pada suaminya untuk mendekat.
“Kenapa?” bisik Ferdian.
“Anak kamu lagi jatuh cinta kayaknya,” ucap Ajeng pelan sekali.
“Oh ya?!” tanya Ferdian dengan ekspresi terkejut.
Ajeng mengangguk tersenyum. Lalu memberi kode pada suaminya untuk memperhatikan Arsene, meski jangan sampai membuatnya curiga. Jadi Ferdian tetap menyuapi makan pagi untuk istrinya itu.
Arsene tengah membuka bungkus kado pemberian Zaara padanya. Ia terlalu penasaran dengan isinya sehingga mengabaikan kotak makan yang diberikan ayahnya. Sebuah kotak karton hitam polos ia buka, di dalamnya terdapat sebuah sapu tangan berwarna navy dan ada pula gantungan kunci berbahan stainless steel berbentuk cupcake, mixer, dan whisk dengan tulisan “do what you love, love what you do (lakukan apa yang kamu suka, sukailah apa yang kamu kerjakan).
__ADS_1
Dengan mendapat hadiah seperti itu dari seseorang yang mencuri perhatiannya, tentu saja membuat hatinya senang. Apalagi mendapat sebuah gantungan kunci yang sesuai dengan minatnya serta ada tulisan motivasi di sana, semakin membuatnya berseri bahagia.
Dulu, sejak minat masaknya muncul, banyak dari kalangan orangtua teman Arsene mencibirnya. Mengapa laki-laki senang di dapur? Mengapa laki-laki menyukai pekerjaan wanita? Hal ini membuat Ajeng dan Ferdian memindahkan Arsene dari sekolah biasa ke sekolah khusus memasak, tentu saja hal itu untuk menumbuhkan potensi Arsene di dunia memasak dan baking. Ajeng dan Ferdian sendiri tidak masalah dengan pilihan Arsene, mereka justru bangga. Di usia lima tahun Arsene sudah menunjukan minat pada dunia ini. Ia begitu fokus dan menikmati proses belajarnya di sekolah memasaknya hingga usia 11 tahun, meski ia juga tetap mengenyam pendidikan formal seperti anak yang lain.
Arsene tersenyum lebar sambil memperhatikan gantungan kunci itu di hadapan wajahnya. Tanpa sadar kedua orangtuanya tengah memperhatikannya.
“Dari siapa, Cen?” tanya Ferdian membuatnya terkejut, lalu menggenggam benda itu di tangannya.
“Eh, ah ini … dari temen, Dad!” ucapnya gugup.
“Temen atau temen nih!” goda Ferdian, membuat wajah Arsene merona merah.
“Beneran temen, Dad!” sergahnya.
Ferdian dan Ajeng tertawa-tawa melihat ekspresi wajah Arsene yang memerah seperti itu. Karena gemas melihat anaknya itu, Ferdian menghampirinya, menepuk bahunya pelan.
“Apa kamu sedang menyukai seseorang?” tanya ayahnya lagi.
“Mom ...!” Arsene malah memanggil ibunya yang sedang menikmati sarapan. Ajeng mengangkat bahunya.
“Jujur aja. Kita gak bakal bocorin kok!” seru Ferdian lagi.
“Dad!" sergah Arsene.
“Abang Acen Sayang... wajah kamu itu gak bisa bohong. Mommy tau banget kamu. Seumur mommy rawat kamu, belum pernah mommy dapetin ekspresi kamu kayak gini!” sahut Ajeng dari matrasnya.
Arsene menghela nafas, menyerah karena ia tidak bisa mengelak lagi dari serangan orangtuanya itu.
“Okay, honestly, yes! (Oke, sejujurnya, iya)!”
“Yes apa?” tanya Ferdian pura-pura tidak mengerti. Ajeng menahan tawanya ketika mengunyah makanannya.
“Yes, kalau aku sedang menyukai seseorang.”
“Zaara?!” sahut ibunya.
Arsene ingin sekali kabur dari sana karena ia benar-benar sudah terpojok.
“YES!” jawab Arsene, sengaja ia naikan volume suaranya agar kedua orangtuanya puas dengan jawaban darinya.
“Yeah! Akhirnya anakku bentar lagi nikah!” sorak Ferdian.
“Daddy!” sergah Arsene.
“Masih di bawah umur, Dad!” kali ini Ajeng yang menimpali Ferdian.
"Mau nikah muda juga gak apa-apa kok. Daddy juga gitu. Arsene kan udah punya skill, kamu juga dewasa, berani, dan bertanggung jawab," puji Ferdian.
"Hah?" Arsene malah terkejut mendapat respon seperti itu dari ayahnya.
"Tapi seenggaknya, lulus SMA dulu ya, baru pikirkan itu, haha!" ucap Ferdian menepuk-nepuk bahu anaknya.
Arsene menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mengerti mengapa seantusias ini kedua orangtuanya itu ketika ia merasa menyukai seseorang pertama kali. Rasanya, ia harus pulang ke rumahnya sekarang juga daripada terus-menerus dipojokan oleh orangtuanya sendiri mengenai perasaannya.
\=====
Bersambung dulu yak
Like, comment, dan votenya dong
__ADS_1
makasiiih ^_^