Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 121. Starting


__ADS_3

Arsene berjongkok di atas rerumputan hijau taman makam keluarganya. Sebuah gundukan tanah merah kecil ditandai dengan seonggok batu nisan tanpa nama. Di sanalah, Arsene memakamkan buah hatinya yang belum terbentuk sempurna beberapa minggu lalu. Ia berdiri, direngkuhnya bahu Zaara yang tampak bergetar memandangi gundukan tanah itu. Zaara menaruh setangkai mawar putih, lambang suci dan kedamaian. Gadis itu berharap anaknya akan menjadi penolong orangtuanya di akhirat kelak.


Zaara termenung. Manik matanya terus tertuju pada gundukan tanah itu. Air matanya tidak menetes karena hatinya sudah ikhlas dan tegar. Kini harapannya telah ditaruh di tempat tertinggi. Gadis itu hanya berharap, Allah akan memberikan kesempatan lagi bagi mereka berdua untuk menjadi orangtua yang lebih siap dan amanah. Meski rasa cemas kadang terbesit di dalam dadanya.


Arsene menatap wajah istrinya yang terdiam tanpa ekspresi. Kemudian kini menatapnya dengan senyum kecil.


"Yuk pulang!" ajak Zaara pelan.


"Udah selesai lepas rindunya?" tanya Arsene.


"Hati seorang ibu tidak akan pernah lepas rasa rindu untuk anaknya, Abang Sayang!" ucap Zaara mengelus kecil pipi suaminya. "Meski dia hanya dititip bentar aja di sini!" Zaara menunjuk perutnya.


Arsene tertunduk, rasa bersalahnya kembali muncul ketika Zaara menyinggung buah hatinya. Dirinya merasa belum pantas menjadi orangtua yang baik. Maka ia harus segera memantaskan diri.


Zaara menggandeng lengan suaminya, menariknya hingga pria itu berjalan beriringan. Terdengar helaan nafas.


"Aku mau belajar masak ya?!" ucap Zaara tiba-tiba.


"Eh, dimana?" tanya Arsene.


"Ada kursus masak online. Jadi aku bisa belajar di apartemen sambil praktek."


"Boleh!"


"Aku pengen jadi ibu yang jago masak biar anak dan suaminya gak jajan sembarangan. Dan aku udah punya suami jago masak, jadi aku gak mau kalah sama kamu!" ucap Zaara tersenyum.


"Mau jadi saingan aku? Siapa takut?!"


Zaara tertawa lebar.


\=\=\=\=\=\=


Zaara telah selesai memasak menu pagi itu. Ia belajar banyak menu baru dari pelatihan kelas memasak online khusus untuk menu masakan lokal. Kadang rasa kurang percaya dirinya muncul ketika teringat suaminya adalah koki handal. Oleh karena itu, gadis itu meminta izin suaminya mengikuti kelas memasak online selama mengisi liburan kuliah untuk tahun ajaran barunya. Kali ini kepercayaan dirinya meningkat. Ia berhasil membuat menu masakan khas Padang yang penuh dengan berbagai rempah.


Sudah sebulan berlalu semenjak Zaara keguguran. Kondisi Zaara semakin baik saja, begitu juga dengan hubungannya dengan Arsene. Arsene selalu memberinya motivasi dan optimisme. Mereka juga sering mengadakan evaluasi bersama, baik mengenai komunikasi, keuangan, atau impian keluarga. Arsene memang masih perhitungan terkait keuangannya, hanya saja tidak terlalu ketat agar Zaara tidak tertekan. Demi impiannya membangun sebuah rumah keluarga tanpa riba, keduanya sama-sama berjuang di jalurnya dan sesuai dengan perannya masing-masing.


Gadis yang mengenakan celemek merah itu menaruh hidangannya di atas meja makan, sementara Arsene baru saja selesai membersihkan dirinya.


“Wangi banget! Masak apa Sayang?” tanya Arsene saat baru keluar dari kamar mandi.


“Aku masak ayam gulai sama lalapan singkong dan kol, pakai sambal goreng cabai hijau!” terang Zaara tersenyum lebar.


“Wooow, masakan Padang! Jadi ini menu yang baru uji coba kemarin?” tanya Arsene memandangi menu hidangan istrinya.


“Iya. Dan aku buat sendiri bumbunya, bukan pakai bumbu instan lagi. Kecuali santannya, hehe.”


“Mantap!” Arsene memberikan dua jempolnya.


“Ayo buruan pakai bajunya, aku udah laper nih!” Zaara mengambil dua piring porselen dari rak dan menaruhnya di atas meja.


“Ahaa, siaaaap!”


Arsene bergegas mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Zaara sejak semalam. Rencananya, Arsene akan mengantarkan Zaara ke rumah neneknya untuk membantu merawat tantenya yang sakit dan sekaligus menemaninya seharian penuh.


“Enak banget ini, Sayang!” ucap Arsene dengan mata berbinar ketika berhasil menyuap sayur ayam gulai itu ke dalam mulutnya.


“Alhamdulillah!”


“Untung aku udah minum obat asam lambung dulu. Bisa-bisa nambah ini sih!” ucap Arsene. Laki-laki itu terlihat lahap memakan sarapannya. Tubuhnya tidak sekurus dulu lagi, karena kini ia memiliki koki cantik yang lebih menguasai hidangan lokal sebagai sajiannya.


“Ya Allah, aku lupa kalau Abang punya asam lambung! Gak bakal apa-apa?” tanya Zaara cemas. Ia lupa karena terlalu bersemangat menguji coba hasil materi kelas memasak onlinenya.


“Insya Allah gak apa-apa. Gak terlalu pedes juga kok, cocok banget sama lidah aku.”


“Mudah-mudahan gak apa-apa.”

__ADS_1


Arsene tersenyum dan segera menghabiskan sarapannya. Benar saja, dirinya menambah satu centong nasi hangat lagi setelah itu. Hal itu membuat Zaara berbinar senang karena hasil masakannya disukai oleh suaminya.


Setelah mengunjungi toko untuk mengambilkan beberapa kue terbaik, Arsene dan Zaara melanjutkan perjalanan mereka ke wilayah Bandung Selatan untuk menuju rumah nenek Zaara, Nenek Yasmin, ibunda dari ayahnya, Reza. Zaara sudah tidak memiliki kakek dari pihak keluarga ayahnya itu karena sudah meninggal ketika dirinya masih bayi. Untuk menuju rumah neneknya itu perlu waktu tempuh satu jam lebih dari toko kue milik Arsene.


Komplek perumahan yang sudah cukup tua itu terlihat sunyi, meski sudah banyak komplek-komplek baru yang berdiri di sampingnya. Arsene menghentikan motornya, Zaara turun untuk membukakan pintu pagar.


“Assalamu’alaikum…” ucap Zaara mengetuk pintu rumah berdesain sederhana yang terlihat rapi dan asri. Ukuran bangunannya cukup luas dengan beberapa pohon buah-buahan yang berdiri mengelilinginya.


“Wa’alaikumsalam…” jawab sebuah suara wanita dari dalam rumah.


Arsene yang baru saja memarkirkan motornya, bergabung dengan istrinya.


Pintu kayu jati terbuka. Menampakkan seorang wanita berusia 32 tahunan yang berhijab lebar di sana. Itu adalah Bunga, adik bungsu Reza.


“Tante Una!” Zaara menyalami dan memeluk tantenya itu.


“Apa kabar Zaara shaliha?” tanya Bunga melihat keponakannya itu.


“Alhamdulillah Te!” jawab Zaara tersenyum.


“Maaf ya, kemarin gak sempet jenguk kamu. Tante Jingga pas lagi parah banget.”


“Iya gapapa, Te!”


“Eh Arsene apa kabar?” sapa Bunga pada pemuda yang mengenakan jaket cokelat itu.


“Alhamdulillah Tante!”


“Yuk masuk! Nenek lagi bikin rujak jambu air kesukaan kamu tuh, Ra!”


“Wah masa?”


“Iya, semangat pas tau kamu mau kesini. Untungnya pohon lagi berbuah, jadi bisa ambil sendiri,” ucap Bunga sambil mengantar mereka menuju dapur.


“Lah siapa yang panjat pohon?” tanya Zaara.


“Ooh…”


Memang tidak ada laki-laki di rumah ini. Bunga masih sendiri dan belum menikah meskipun usianya dibilang sudah sangat matang.


Terlihat seorang wanita tua beruban dengan mengenakan daster merahnya sedang mengulek sesuatu.


“Neneeeek!” seru Zaara berlari dan langsung memeluk tubuh neneknya.


“Astaghfirullah, Zaara!” nenek terkejut dan langsung menaruh ulekan batunya untuk membalas pelukan cucunya itu.


“Tangan nenek bau terasi loh!” ucap Nenek Yasmin mengecup kepala Zaara.


“Zaara kangen Nenek!”


“Eh mana suaminya?” tanya Nenek Yasmin.


“Ini Nenek, masa gak kelihatan segitu ganteng berkilauan?” ucap Zaara berseri.


Arsene yang berdiri di belakang Zaara terkekeh saja mendengarnya.


“Aduuuh! Maap, nenek mah geus kolot, geus beor (nenek udah tua dan matanya udah bias)!” ucap nenek tertawa-tawa sambil mengusap kepala Arsene yang tengah mencium punggung tangan keriput nan kurus itu.


Berbeda dengan neneknya Arsene, Nenek Aryani dan Bella, Nenek Yasmin terbilang sangat kurus dan keriput. Tetapi ia masih sangat kuat masih bisa mengulek bumbu rujak dengan ulekan batunya.


“Yuk ah duduk dulu!” ajak nenek berjalan ke ruang tengah setelah mencuci tangannya.


“Tante Jingga mana, Nek?” tanya Zaara.


“Lagi tidur, katanya gak enak badan!” jawab nenek.

__ADS_1


“Ooh….”


“Neng Zaara sehat kan? Jangan sedih terus, insya Allah sama nenek terus didoain biar nenek bisa cepet dapet cicit segera. Itu mah ujian, Allah pasti bakal gantiin di waktu yang tepat!” ucap Nenek Yasmin semangat.


“Iya Nek, Zaara mah udah ikhlas. Gak baik juga sedih terus.”


“Tah eta, malah jadi penyakit nanti teh! Kaya Tante Jingga, ah nenek mah udah serahin aja ke Allah. Gak kuat kalau diceritain mah!” Mata Nenek Yasmin terlihat berkaca-kaca dan suaranya jadi bergetar.


“Udah Bu! Jangan ungkit lagi. Sekarang kita mah fokus biar Teh Jingga sembuh!” ucap Bunga yang sedang menaruh cangkir-cangkir berisi teh manis hangat di atas meja kecil.


Zaara dan Arsene saling memandang.


“Nek, ini ada kue. Ini dari tokonya Arsene, buat Nenek, Tante Jingga sama Tante Una!” ucap Zaara menaruh sebuah kotak persegi panjang dengan isi 12 buah kue berbagai varian.


“Alhamdulillah. Jazakumullah khair. Semoga usaha Arsene makin sukses!” ucap nenek dengan suaranya yang lembut meski bergetar.


“Aamiin. Nenek dan Tante di sini juga semoga sehat terus,” jawab Arsene.


“Aamiin ya Rabbal ‘alamiiin!”


Karena Arsene hanya mengantar Zaara saja, jadi pemuda itu berpamitan kembali karena harus mengurusi tokonya. Arsene akan menjemput istrinya itu nanti sore atau malam. Ditinggalkannya Zaara bersama nenek dan kedua tantenya itu.


Nenek kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tadi. Sementara Zaara dan Bunga tetap berada di ruang tengah setelah nenek menolak bantuan mereka, dengan alasan rasanya akan berbeda jika banyak campur tangan yang ikut membantu. Akhirnya keduanya terpaksa tetap duduk di atas kursi empuk di ruang tengah yang ditemani oleh televisi datar yang menyala.


“Tante Jingga gimana kondisinya sekarang, Te?” tanya Zaara.


“Kondisinya udah makin baik sih setelah diangkat rahimnya. Meskipun bakal drop lagi setelah kemo. Rambutnya sekarang udah habis, Ra, karena kemoterapi!” terang Bunga.


“Oh iya?” tanya Zaara tidak percaya.


Bunga mengangguk, “tunggu aja bentar lagi bangun kayaknya!”


“Emang awal ketahuannya gimana sih Te? Aku jadi takut. Kemarin habis kuret aja sakit, aku gak mau lagi! Jangan sampai deh!”


“Tante juga kurang tau tepatnya gimana. Kata Tante Jingga teh gak kerasa sakit kalau aktivitas normal mah. Baru kerasa sakit itu pas lagi berhubungan badan, dan itu baru setahun kemarin, tapi udah divonis kanker stadium 3. Berarti udah lama.”


“Innalillahi….”


Zaara jadi tertegun. Meskipun kadang rasa insecure-nya muncul jika kembali membahas hal seperti ini, ia tidak akan kembali menyelam duka yang kini sudah terkubur. Ia harus berprasangka baik, Allah akan memberinya kesempatan baru.


“Kamu gak takut hamil lagi kan, Ra?” tanya tantenya yang memiliki tubuh berisi itu.


“Insya Allah, enggak Te! Meskipun sempet ada kekhawatiran itu, tapi aku percaya aja sama Allah.”


“Iya, sekecil apapun peluangnya. Tetaplah husnudzan. Jadikan peristiwa Tante Jingga pelajaran berharga. Meskipun Om Kevin keliatannya sayang banget sama Tante Jingga, tapi ya wallahu’alam kenapa akhirnya dia malah memilih pilihannya itu.”


Zaara terdiam. Teringat pada peristiwa beberapa minggu lalu, ketika dirinya meminta Arsene membiarkan dirinya sendirian untuk mengobati perasaannya yang terluka. Ia bersyukur Allah masih menetapkan hatinya untuk kembali pada suaminya.


“Ini cobaan untuk Tante Jingga. Pasti akan ada hikmah dibalik itu semua.”


“Iya, Ra! Masalah jodoh pun rahasia Allah.”


“Te Una juga yang sabar ya? Masing-masing kita diberi ujian sesuai kadar keimanannya.”


“Betul Ra! Yang penting mah, ikhlasin aja semua ke Allah!”


Sebuah suara terdengar dari pintu kayu yang bertirai salem. Seseorang keluar dari dalam.


Zaara dan Bunga menoleh bersamaan.


\=\=\=\=\=\=


Berambung dulu ya


Jangan lupa like, comment, dan vote

__ADS_1


Makasiiih ^_^


__ADS_2