
Arsene memandangi kampus barunya yang sempat terlintas di kepalanya beberapa kali. Jurusan ini memang bukan impian utamanya. Impiannya ada di seberang benua, bersekolah di akademi memasak terbaik di dunia. Akan tetapi, ia harus menunda impiannya itu, harusnya bulan ini ia sudah mendaftarkan dirinya di Le Cordon Bleu cabang Sydney. Hanya saja, musim kemarau di negeri kangguru tersebut telah menyebabkan bencana kebakaran dahsyat yang merata, bahkan hampir sepertiga daratan Australia. Banyak institusi yang menunda kalender akademik mereka, termasuk akademi memasak terbaik di dunia itu. Sebenarnya masih banyak akademi di cabang negara lainnya, entah kenapa Arsene memilih untuk menundanya terlebih dahulu.
Untung saja, Arsene sudah mengantisipasi. Ia mengikuti tes ujian masuk universitas negeri dengan Sastra Inggris sebagai pilihan utamanya. Ia akan mencoba lagi tes di Le Cordon Bleu setelah tahun pertamanya kuliah di sini selesai. Meskipun impiannya harus tertunda, ia berharap banyak ilmu yang akan didapatkan di jurusan ini.
Arsene menghela nafasnya, memandang ke depan berusaha menerawang masa depannya di sini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam satu tahun ke depan. Hanya saja ada banyak hal yang akan ia lakukan, hal itu sudah dicatatnya baik-baik di dalam kepalanya sendiri. Yang jelas dan satu yang pasti, ia harus berubah menjadi lebih baik di kampus ini sebelum kepergiannya nanti ke Sydney.
Mahasiswa-mahasiswa baru tampak ramai memenuhi tenda-tenda putih yang berisi bermacam-macam kegiatan organisasi yang ada di kampus ini. Semuanya terlihat menarik jika diperhatikan satu-satu, hanya saja kembalikan pada minat masing-masing. Arsene berjalan bersama kawan-kawan barunya, sambil menyusuri dan memperhatikan kegiatan ekstra kampus yang membuka pendaftaran anggota baru. Tidak terlihat ada kegiatan memasak di sana, padahal ia sudah berkeliling mengelilingi stadion kampus.
Pria muda itu terduduk di salah satu kursi kosong. Ia membiarkan kawan-kawannya untuk berjalan lebih dahulu, sambil ia memperhatikan tenda-tenda itu. Tiba-tiba seorang mahasiswa berkemeja koko dan bercelana hitam yang tampak mata kakinya, menghampirinya. Ia tersenyum ramah sambil membawa brosur.
“Assalamu’alaikum?” sapanya ramah.
“Wa’alaikumsalam.”
“Maaf apa boleh saya menjelaskan brosur kegiatan organisasi kami?” izin pria muda itu dengan sopan.
“Silakan,” jawab Arsene ramah.
“Perkenalkan, saya Dadan dari Fakultas Perikanan semester 3 sekarang. Kebetulan saya juga aktif di organisasi LDK. Akhi tau singkatan LDK?”
Arsene tampak memperhatikan gaya berbicaranya yang santun sekali. Apalagi ia menggunakan kata akhi, panggilan yang asing baginya.
“Lembaga Dakwah Kampus?” jawabnya.
“Iya betul sekali. Saya dari LDK DKM Asy-Syifa, lembaga dakwah kampus yang dinaungi langsung oleh pihak rektorat. Kami kebetulan sedang membuka rekrutmen untuk anggota baru LDK khusus ikhwan. Adapun acara dan kegiatan yang sering kami selenggarakan adalah tahsin, tahfidz, tadarus Quran, Bahasa Arab, bakti sosial, diskusi antar lembaga, opini jalanan & publikasi, mentoring keislaman, tadabur alam, serta kaderisasi berbasis aqidah, juga masih banyak acara tentatif lainnya. Untuk struktur LDK sendiri, terdiri dari beberapa departemen. Ada departemen pembinaan, departemen propaganda, departemen administrasi, departemen antar lembaga, dan pelayanan jamaah.” Pria muda itu memberikan brosurnya pada Arsene yang masih berusaha mencerna organisasi ini.
Arsene memang tidak pernah aktif di lembaga kerohanian. Di sekolahnya dulu di Singapura, ia bersekolah di lingkungan pendidikan yang sekuler, jadi ia hanya belajar agama lebih serius di rumahnya dengan ustadz yang memang secara khusus dihadirkan oleh ayahnya. Di SMA-nya di Bandung, ia merasa waktunya cukup singkat, jadi ia memutuskan untuk tidak aktif di ekstrakulikuler manapun.
“Gimana cara daftarnya?” tanya Arsene, sepertinya ia cukup tertarik. Apalagi banyak sekali kegiatan yang diadakan oleh pihak LDK. Ia sudah berkomitmen untuk menjadi lebih baik, termasuk dalam masalah agamanya.
“Ayo ke stand kita!” ajak Dadan.
Alunan lagu-lagu nasyid yang bersemangat terdengar bercampur dengan alunan melodi dari speaker stand organisasi yang lain. Dadan membawa Arsene masuk ke dalam tenda LDK DKM Asy- Syifa yang langsung disambut hangat oleh aktivis LDK lainnya. Arsene memperhatikan sekilas foto-foto yang terpajang di sana. Sepertinya cukup menyenangkan juga, apalagi tadi disebutkan Dadan ada acara tadabur alam yang mungkin bisa membawanya berkelana sambil mengagungkan ciptaan Allah.
“Siapa namanya?” tanya aktivis lain yang berkacamata.
__ADS_1
“Arsene, Kang!” ucapnya sopan.
“Kenalkan saya, Ilman, mahasiswa dari Sastra Inggris semester 5. Kamu mau gabung di kita?” tanyanya kemudian.
“Iya, Kang!”
“Silakan isi formulir ini dulu ya?” ujar Ilman ramah, sambil menyodorkan laptop miliknya yang sudah tertera halaman berisi kolom-kolom yang harus diisi oleh anggota baru.
Arsene mengangguk. Jari-jarinya mulai menari indah, melompat dari satu tombol ke tombol lain untuk mengisi data diri serta instruksi yang tertera di sana. Tidak butuh waktu lama, pria muda itu telah selesai mengisi formulirnya.
“Alhamdulillah, syukron ya Akhi!”
“Sama-sama.”
“Untuk kedepannya, nanti akan kita hubungi via whatsapp. Ahlan wa sahlan di kampus perjuangan! Ini ada sedikit kenang-kenangan dari kita untuk kamu, semoga bermanfaat!” ucap Ilman sambil memberikan sebuah buku mini yang berjudul dzikir pagi dan petang, serta sebuah gantungan kunci dengan desain logo LDK DKM Asy-Syifa.
“Jazakallah khair, saya permisi dulu kalau begitu,” pamit Arsene membungkuk sopan, lalu keluar dari tenda tersebut diantar oleh Dadan.
Arsene memperhatikan brosur itu sekali lagi. Ia berharap menemukan cahayanya di sana. Usianya telah beranjak dewasa, ia tidak boleh banyak menyia-nyiakan waktu. Sepertinya ia akan pulang saja setelah ini.
\=\=\=\=\=
“Kok udah pulang? Dikirain pulang sore,” ucap Ajeng melihat kedatangan anak sulungnya.
“Aku pusing Mom! Lihat banyak banget organisasi yang ada di sana.” Arsene mendudukan tubuhnya di samping ibunya sambil membuka sepatunya.
“Kok pusing? Kamu ikut organisasi apa aja jadinya?” tanya Ajeng penasaran.
Arsene mengambil sesuatu dalam tas ranselnya, kemudian menyerahkan brosur LDK DKM Asy-Syifa pada Ajeng.
“Kamu ikutan ini?!” tanya Ajeng cukup terkejut.
“Iya, aku ikut itu aja dulu. Organisasi lainnya, aku belum tertarik! Mungkin ini aja cukup untuk satu tahun ke depan,” terangnya.
“Ya terserah kamu. Tapi Mommy seneng kalau kamu aktif di lembaga dakwah kampus. Seenggaknya kamu berbeda sama Mommy atau Daddy saat dulu kuliah.”
__ADS_1
Arsene tersenyum lebar.
“Kamu gak punya maksud terselubung kan?” tanya Ajeng menahan tawanya.
“Apa maksud Mommy?” tanyanya mengernyit.
“Udah lupain aja!”
“Ish! Tujuanku gabung ke sana biar aku bisa jadi lebih baik. Aku pengen jadi anak yang sholeh biar bisa nolong mommy dan daddy di akhirat nanti,” jawabnya tegas.
“Alhamdulillah ya Allah, anakku ini sholeh sekali ….” puji Ajeng berseri.
“Aku ke kamar dulu ya, Mom!”
Ajeng mengangguk.
Arsene menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa letih sekali setelah jalan berkeliling di bawah terik matahari panas. Arsene mengambil dan membuka catatan pribadinya, dimana ia telah mencatat dan menyusun semua life goals dan visi misi hidupnya ke depan.
Pria itu memang seorang yang visioner, dengan mudah dirinya memikirkan target apa yang harus ia kerjakan dan target apa yang harus ia raih dalam satu tahun kedepan ini. Target yang sudah dituliskannya tidak sekedar ia tulis, melainkan ia tanamkan dalam jiwa terdalamnya, sehingga mendorongnya semakin kuat.
Minggu depan adalah jadwal peluncuran toko patisserie-nya, meskipun minggu depan juga perkuliahan akan dimulai. Opa Gunawan telah memberikannya hadiah sebuah bangunan ruko kecil yang terletak di pusat kota dimana para turis lokal sering berkunjung dan membeli oleh-oleh, beruntungnya bangunan itu berada tidak jauh dari kampusnya. Jadi Arsene masih bisa mengejar untuk melakukan pekerjaan barunya nanti. Pria itu juga sudah menyusun jadwal antara kuliah dan pekerjaannya, sehingga tidak akan saling beririsan. Itu juga yang menjadi alasan utama kenapa ia memilih Sastra Inggris sebagai pengganti waktunya, jumlah satuan kredit semesternya terbilang tidak padat, begitu juga dengan jadwalnya di semester satu ini yang luang, sehingga memungkinkan ia masih bisa mengerjakan pekerjaan barunya.
Arsene tidak seperti Ferdian, yang lebih memilih menjadi komisaris atau penasihat untuk bisnisnya. Arsene akan terjun langsung mengurusi tokonya sendiri. Bahkan ia sendiri yang akan membuat kue-kue yang nantinya dipajang di etalase tokonya, sebelum ia mendapatkan chef pengganti. Oleh karena itu, ia harus serius dan fokus demi cita-cita dan masa depannya.
Ada satu hal yang mengganjalnya. Dilihatnya buku yang tergeletak di atas kasurnya. Ia sudah membaca buku itu berulang kali. Buku itu juga yang mengantarkannya untuk mengambil keputusan bergabung dengan LDK. Beruntung sekali ia tadi, karena ada aktivis yang menjemputnya secara langsung. Mungkin memang Allah sudah memanggil hatinya.
Satu hal yang selama ini masih mengusik relung hatinya meski ia pun sudah menuliskannya di buku catatan pribadinya itu, menjadi salah satu target yang akan ia capai dalam satu tahun ke depan. Haruskah ia mewujudkan hal itu?
Arsene menghela nafas.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu...
LIKE, COMMENT, & VOTE yaa
__ADS_1
Terima kasiiih