
Toko Sweet Recipes selalu ramai di akhir pekan. Pelanggan masuk dan keluar bergantian setelah memilih dan membeli patisserie yang diinginkan. Meja-meja di dalam juga penuh bagi orang yang memilih bersantai dan bercengkrama dengan kerabat sambil menikmati kue-kue manis yang lembut. Alice dibantu Fea berusaha melayani para pelanggan yang ramai itu dari balik etalase.
“Ar, buruan muffin habis!” teriak Alice dari balik pintu dapur.
“Oven open!” teriak Ardan, wangi vanilla dan kismis tercium dari sana. Muffin dikeluarkannya.
Rio mengambil loyang berisi muffin-muffin itu dan segera mendinginkannya sebentar. Tak lama, muffin-muffin itu disajikannya di dalam etalase yang langsung diburu oleh para pelanggan yang sudah mengincarnya. Menikmatinya saat kue hangat, memang terasa lebih nikmat. Seorang chef sudah bertambah satu, tetapi tetap saja mereka kewalahan atas permintaan yang berdatangan. Padahal tadi pagi pun Arsene sempat berkoordinasi melalui video call agar mereka lebih banyak menambah jumlah menu kue yang permintaannya banyak. Jika bersisa, kue-kue itu masih bisa dijual untuk besok karena tanggal kedaluwarsa untuk kue itu bisa bertahan selama 3-5 hari.
Alice menghampiri Ardan yang sudah selesai bekerja setelah toko tutup malam itu. Ia ingin segera memberikan jawaban terkait pertanyaan pria pemilik rambut panjang dan menyelesaikan semuanya segera mungkin. Fea menunggu untuk diantarnya pulang. Gadis itu memainkan ponselnya sambil tertawa-tawa senang.
“Kak Alice mau kemana?” tanya Fea melihat Alice berjalan ke depan toko diikuti Ardan.
“Tunggu, bentar aja kok!” jawab Alice.
“Oke deh!”
Ardan mengikuti wanita tinggi itu ke depan toko dengan rasa gugup melandanya. Ia tidak berharap lebih pada jawaban Alice, jadi hatinya sudah siap.
“Gue mau tanya dulu!” ujar Alice melipat tangannya di depan dadanya saat mereka tiba di halaman parkir.
Langit gelap menaungi keduanya, ditemani suara riuh dari kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.
“Apa yang membuat lo suka gue?” tanya Alice menatap Ardan yang tertunduk.
“Hm… gue suka karena lu tegas dan punya sesuatu yang gak gue punya,” ujar Ardan pelan.
Alice menghela nafas. Ia sudah menduganya.
“Makasih, Ar! Gue hargai perasaan lo. Tapi maaf, untuk saat ini sepertinya gue belum bisa menerima lo!” ungkap Alice langsung pada intinya, membuat Ardan menarik otot rahangnya.
“Oke, Al! Gue juga hargai jawaban lu!”
“Sip, gak usah jadi beban. Kerja seperti biasa aja, deal?!”
Ardan tersenyum kecil, lalu kembali ke dalam. Wajahnya memendam rasa kecewa.
“Yuk pulang, Fe!” ajak Alice.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Seorang gadis berhijab terlihat berjalan di atas trotoar di samping Blaxland Road, Sydney. Sambil menggandeng tas selempangnya, langkahnya begitu ringan menikmati suasana yang berbeda di negeri orang. Langit di atas begitu biru ditemani dengan kilauan matahari yang berada hampir di puncaknya. Dedaunan pohon menari mengikuti irama angin.
Zaara berjalan menuju sebuah restoran yang tidak jauh berada dari asrama dimana Arsene tinggal selama enam bulan ini. Hari Sabtu, suaminya itu bekerja di restoran milik akademinya. Zaara sudah meminta agar pria itu mengizinkannya untuk mengunjungi restoran itu untuk makan siang. Arsene menyetujuinya, meskipun ia ragu untuk bisa bertemu dengannya di sana karena sudah pasti ia akan berada di dapur seharian untuk menyiapkan menu pencuci mulut bagi para pelanggan.
Bangunan restoran yang berdiri di pinggir jalan itu bergaya klasik dengan batu bata merah mendominasi. Restoran berkonsep fine dining itu sengaja didirikan oleh pihak akademi untuk menguji siswa-siswa mereka berhadapan langsung dengan para konsumen, sehingga apa yang sudah dipelajari bisa teruji. Meski konsep restorannya adalah fine dining, dimana konsumen akan dilayani dengan kemewahan dan penyajian makanan berkelas, tetapi karena yang menyajikan adalah para chef pemula, maka harganya pun cukup terjangkau bagi kelas menengah ke bawah. Jika ingin merasakan makanan mewah dengan harga terjangkau, biasanya banyak dari masyarakat mengunjungi restoran ini di akhir pekan.
Zaara yang mengenakan gamis berwarna beige terlihat masuk ke dalam restoran dimana suaminya bekerja. Ia tidak memberitahukan Arsene jam kedatangannya, karena pasti pria itu akan sibuk di dapur untuk menyiapkan menu-menu dessert para pelanggan. Kedatangannya di sambut oleh seorang pelayan pria yang mengenakan rompi hitam dan kemeja putih, yang langsung menanyakan apakah dirinya sudah melakukan reservasi atau belum. Untung saja, Zaara sudah melakukan reservasi sebelumnya.
Pelayan itu mengantarkannya pada sebuah meja kecil dengan dua kursi, dan memberikannya buku menu. Restoran ini disuasanakan semirip mungkin dengan restoran kelas atas, sehingga para pelanggan akan bisa merasakan atmosfer keeleganan dan kemewahan. Apalagi menu yang tersaji hari itu juga memang terbiasa menjadi menu andalan di restoran mewah.
Zaara langsung memesan menu appetizer, main course, dan dessert sekaligus sesuai dengan rekomendasi di hari itu.
“Permisi, bolehkah saya tahu dimana toilet berada?” tanyanya dengan sopan pada seorang pelayan yang melayaninya.
“Biarkan kuantar, Nona Muda!” ucap pria yang dari penampilan, usianya tidak jauh berbeda dari dirinya.
Pria itu mengantarkan pada sebuah ruangan yang terletak di dekat sebuah tangga, berbatasan dengan ruangan lainnya yang tertulis hanya untuk pegawai dan koki yang bisa masuk ke dalamnya. Sambil berharap bisa menemukan suaminya di sana, ia masuk ke dalam toilet khusus wanita. Tak lama ia keluar, seorang gadis berpakaian anggun tidak sengaja menabraknya.
“Ah tidak apa-apa!” ucap Zaara tersenyum.
Zaara kembali ke mejanya masih terus memendarkan ke arah pintu ruangan staff. Baru setengah hari saja tidak bertemu dengan suaminya, hatinya sudah merindukannya.
Seorang pelayan baru menyajikannya menu yang sudah dipesannya, menu pembukanya adalah Creamy Scallops with Fettuccine. Kemudian menu utamanya adalah Pan Seared Salmon with Garlic Lemon Butter Sauce and Arugula Salad. Sedangkan untuk menu pencuci mulutnya adalah Almond Panna Cotta with Blueberry Sauce. Menu itu datang satu per satu.
Melihat hidangan mewah di depannya, Zaara menatap takjub. Apa dirinya bisa menghabiskan menu-menu mewah ini? Ia tak yakin, tapi ia harus mencoba. Ini adalah pengalaman pertamanya. Zaara mulai menyantap menu yang terlihat cantik dari segi penataannya. Untuk rasa sebenarnya lidahnya kurang cocok, karena terbiasa mengkonsumsi masakan lokal khas Indonesia. Tetapi ia teringat ketika suaminya saat minggu kemarin menyiapkan menu steak daging sapi untuk dirinya, itu benar-benar lezat bagi lidahnya.
Menu penutup ini entah mengapa Zaara sangat yakin panna cotta dengan saus blueberry ini adalah buatan suaminya. Ia hafal betul dengan dessert buatan suaminya itu, entah apa yang membuat citarasanya menjadi khas. Tetapi lidahnya sudah mengenalinya.
Zaara sudah selesai di sana. Ia tak berhasil bertemu dengan suaminya siang itu. Hatinya sedikit kecewa. Gadis itu berjalan mengitari halaman yang mengelilingi bangunan restoran, sejenak menghirup udara segar di siang hari di bawah pepohonan elm dan cemara yang rimbun. Entah kapan ia akan mengunjungi kota ini lagi, ia hanya ingin menikmatinya saat ini seorang diri. Embusan angin lembut menerbangkan ujung hijabnya. Terdengar sayup-sayup tawa dari arah belakang dan percakapan dalam Bahasa Inggris yang bisa ia tangkap dan mengerti.
“Hey, kenapa kau hari ini hanya membuat panna cotta?” tanya sebuah suara, seorang gadis.
“Panna cotta-ku berbeda, aku sengaja membuatnya dengan susu almond. Itu yang membuatnya spesial.” Suara itu, Zaara mengenalnya dengan sangat jelas.
“Ya ya, aku tahu! Aku mencicipinya tadi, dan itu luar biasa dengan saus blueberry buatanmu!” suara gadis tadi terdengar memujinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Zaara merasa penasaran. Zaara sengaja berpindah tempat untuk bisa menangkap percakapan itu lebih jelas. Ia tahu perbuatannya salah karena telah menguping percakapan orang lain. Hanya saja hatinya terus mendorong.
“Aku memiliki kesan sendiri untuk buah blueberry,” ujar si pembuat panna cotta.
“Ah pasti itu buah kesukaanmu sejak kecil ya?” tebak gadis itu.
“Bukan, seorang yang istimewa menyukai buah itu!”
“Hey kalian berdua! Apakah kalian berpacaran?! Aku lihat kalian sering bersama!” tanya sebuah suara lelaki yang sepertinya baru saja bergabung dengan dua suara lainnya.
“Ah… jangan berbicara seperti itu! Aku sangat tersanjung!” ujar suara gadis terdengar sambil tertawa.
“Ayolah kalian sangat cocok bersama seperti itu. Dapur kalian pasti akan terus hidup!” ujar si laki-laki yang baru saja datang.
“Sudah, hentikan! Kita harus bekerja kembali!” ujar suara si pembuat panna cotta.
“Hey, jangan mengalihkan pembicaraan! Fiona menyukaimu, benar kan?! Jangan coba-coba menyangkal!”
Lama kelamaan, suara mereka terdengar samar dan hilang begitu saja seperti tertelan bumi, meski sempat terdengar suara tawa dari mereka sebelumnya.
DEG. Jantung Zaara semakin tidak karuan, ia mengintip dari balik tembok. Apakah benar suara tadi benar-benar milik suaminya? Namun Zaara tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tampaknya mereka sudah kembali masuk ke dalam gedung.
Zaara mengeluarkan ponselnya, dan mengetikkan sesuatu di aplikasi pesan instannya.
[Aku mau jalan keluar]
Dikirimnya pesan itu pada nomor suaminya. Ia menunggu sejenak, tetapi belum ada balasan. Sudah beberapa menit berlalu, tetapi tetap saja tidak ada balasan. Zaara menghela nafas lalu pergi dari sana. Entah kemana.
\=\=\=\=\=\=
Kemana atuh Neng Zaara?
Bersambung...
LIKE, COMMENT, dan VOTE nya jangan lupa
Makasiiih ^_^
__ADS_1