Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 116


__ADS_3

Sinar matahari sore menyorot menembus pelindung jendela yang lebar. Beberapa alis mengernyit ketika mendapat sorot tajam nan panas itu. Sebagian dari para peserta pelatihan melindungi mata mereka dengan buku tipis yang baru saja mereka dapatkan dari sang mentor. Pelatihan berakhir di sore hari itu. Beberapa orang langsung beranjak pergi ketika mentor mereka telah meninggalkan ruang kelas terlebih dahulu.


Ridho masih menulis catatan di bukunya. Tubuhnya yang kini tampak lebih ramping merunduk sambil memegang pulpen di tangan kanannya. Pria itu menutup bukunya setelah selesai, tetapi hatinya tiba-tiba terkejut. Ia mendapati sebuah wajah cantik berada di hadapannya saat ini.


"Ngarereuwas wae (Bikin kaget aja)!" ucapan itu terlontar refleks dari lidah pria berambut hitam itu.


Patricia yang berada di hadapannya tersenyum lebar.


"Minggu besok, kita jalan lagi yuk!" ujar pemilik iris mata berwarna cokelat terang itu.


"Fer," Ridho malah menoleh ke arah teman di sebelah kanannya.


Ferdian mengangkat dagunya dengan maksud bertanya.


"Ini Patricia ngajak jalan, mau gak?" tanya Ridho dalam Bahasa Indonesia.


Mata Ferdian melebar, ia melihat wajah Patricia yang tengah menunggu jawaban dari Ridho.


"Kayanya ngajak kamu aja deh, Dho!" ujar Ferdian yakin.


"Ah masa?"


"Tanya aja deh sendiri," kali ini Ferdian meninggalkan sahabatnya itu berdua dengan wanita langsing itu.


Tubuh Ridho menjadi grogi seketika. Ia menatap wanita yang ada di depannya.


"Mau kemana?" tanyanya dalam Bahasa Inggris.


"Danau mungkin," ucap Patricia mengangkat bahunya.


"Ferdian diajak gak?"


"Boleh, kalau dia mau."


"Oke deh!"


"Terima kasih."


Patricia lagi-lagi tersenyum lebar, membuat wajahnya yang kecil semakin terlihat menarik saja. Ia pun melangkahkan kakinya keluar ruangan meninggalkan Ridho yang masih terpana.


"Astaghfirullah," ucapnya seketika sambil menggoyang kepalanya.


Suara ketukan pintu kamar Ferdian terdengar selepas sholat maghrib. Ferdian sedikit mengintip di sebuah lubang kecil yang terdapat di pintunya. Itu Ridho berdiri di depan kamarnya.


"Kenapa?"


Tanpa seizin pemilik kamar, Ridho menerobos masuk ke dalam kamar sahabatnya itu. Ferdian menatapnya heran.


"Fer, Patricia ngajak jalan ke danau, gimana dong?"


"Ya udah pergi sendiri sana."


"Gak mau, Fer! Kamu tau kan, kalau ada dua orang berpasangan yang belum halal, yang ketiganya ada setan."


"Ya itu, aku gak mau jadi setan di antara kalian."


"Astaghfirullah," Ridho menepuk jidat.


"Temenin aku atuhlah! Kayanya dia mau ngajak diskusi lagi ini mah."


"Ah gak yakin, dia itu naksir kamu, Dho!" ujar Ferdian sambil duduk di atas sofanya.


"Sok tau kamu, Fer!"


"Eh tau dong. Dari matanya tuh kebaca kalau dia tertarik sama kamu."


"Aduh, kumaha atuh (gimana dong)?" Ridho terlihat grogi berjalan mondar-mandir di dalam kamar Ferdian.


"Tapi kamu gak usah grogi dulu. Lihat aja kedepannya gimana."


"Tuh kan, kamu juga gak yakin."


Ferdian terkekeh, tetapi instingnya memberitahu kalau Patricia memang tertarik dengan sahabatnya itu.


"Temenin ya Fer?" pinta Ridho, wajahnya memelas.


"Iya deh! Tapi setelah kajian ya perginya?"


"Oh iya betul, kaya kemarin."


"Dah sana, aku mau belajar!" Ferdian mengusir pemilik wajah polos nan riang itu. Pria berkulit agak gelap khas Indonesia itu berjingkat riang sembari berlari keluar kamar.


"Ridho, Ridho, kamu belum pernah jatuh cinta ya?" oceh Ferdian pada dirinya sendiri.

__ADS_1


\=====


Ferdian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya menyeberangi benua nan jauh di sana. Andai saja ia seperti malaikat yang memiliki kecepatan cahaya, sudah pasti tidak akan ada jarak yang bisa memisahkan cintanya pada Ajeng. Senyum manis wanita itu melayang-layang di pikirannya saat ini. Ranum bibirnya selalu menjadi candu yang tak pernah bisa ia ungkapkan. Suara desahan lembutnya kadang membuatnya lupa diri. Entah kapan rindunya itu terobati, yang jelas bibit perasaan itu selalu ia tanam tiap waktu.


Gaun tidur yang tersimpan baik di dalam lemari diambilnya, diciumnya lekat-lekat wangi yang selalu menempel di tubuh wanitanya itu.


Ia memejamkan matanya, terbayang di pikirannya saat-saat perjodohan itu dimulai. Andai wanita itu tahu, bahwa saat itulah waktu miliknya terasa lambat berputar, karena ia menanam bibit cinta di tanah yang keras. Namun tanah itu menjadi gembur seiringnya waktu, benih itu pun tumbuh dan tumbuh, hingga akhirnya berbunga dan kini telah berbuah, Arsene buah cintanya.


Rindu memang berat, apalagi ketika jarak menjadi penghalang. Langit yang dipandang tak pernah sama. Ia memandang matahari, sedangkan wanitanya memandang bulan. Bagaimana bisa berharap yang sama? Hanya ikatan hati dalam sanubari saja yang membuatnya tetap bertahan, mengalun dalam untaian doa, berharap segera tiba dipertemukan dengannya.


Tak lama berselang, Ferdian tertidur dengan gaun tidur istrinya yang tak dilepaskan. Berharap ia bertemu dengannya langsung di dalam mimpi indah yang penuh dengan kehangatan.


\=====


"Kok murung gitu Fer?" tanya Ridho ketika mereka berada di dalam ruangan belajar lantai 40.


"Kangen istri, Dho!" ucapnya lemah.


"Masih 5 bulan lagi, Fer! Ayo semangat. Emang kemaren gak telepon?"


Ferdian menggeleng. "Kasian aku ganggu terus kalau di sini aku telepon malam."


"Coba nanti sore telepon!" seru Ridho memberi saran.


"Kalau di sana pagi, dia sibuk ngurusin keperluan Arsene sebelum berangkat kerja."


Ridho menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus bicara apalagi pada sahabatnya itu.


"Hey kamu Ferdian?" tanya seorang pria bule berambut sedikit ikal. Tubuhnya kecil dan matanya bulat.


"Ada apa?"


"Apa kau seorang model?" tanyanya terdengar agak ragu.


"Itu hanya kerja part-time dulu. Memang ada apa?"


"Apa kau bisa membantuku?"


"Untuk apa?" tanya Ferdian penasaran.


"Aku seorang pengusaha fashion di Perancis. Aku perhatikan wajah dan tubuhmu sangat ideal untuk menjadi seorang model. Aku pikir, kau sangat cocok dengan produk fashion terbaruku nanti. Apalagi saat ini, wajah tampan seperti kau ini sedang menjadi trendsetter dunia," terangnya jujur, penuh dengan pujian yang membuat Ferdian sedikit terbang.


"Tetapi aku tidak bisa dikontrak lama. Karena sebenarnya aku tidak ingin jadi model selamanya, hanya untuk bersenang-senang saja."


"Baiklah, beritahu aku apa yang harus aku lakukan nanti."


Mata cokelat terang kehijauan milik Trey melebar. Lelaki itu kemudian beralih ke mejanya dan mengambil sesuatu dari tasnya. Kemudian kembali lagi ke hadapan Ferdian.


"Ini, bacalah dan perlajari. Jika kau setuju, tanda tangani di bawah ini. Kita akan bekerja minggu depan," ujar Trey sambil menyerahkan selembar kertas kepada Ferdian.


"Baiklah, akan aku pelajari dulu, Trey!"


"Terima kasih banyak, aku akan sangat menunggu persetujuanmu."


Ferdian tersenyum. Trey permisi untuk kembali ke mejanya.


Ferdian memperhatikan isi tulisan di atas selembar kertas itu. Sepertinya Trey memang sudah menargetkan dirinya sejak awal masuk ke sini. Tetapi tidak ada salahnya ia membantu rekan di kelasnya ini. Ferdian meletakkan kertas itu di dalam tasnya. Tak lama kemudian banyak langkah kaki terdengar, beberapa peserta pelatihan masuk ke dalam kelas. Di belakang mereka ada seorang wanita paruh baya yang mengenakan setelan blazer dan rok span merah. Nyonya itu pasti akan mengajar kelas hari ini.


Siang itu Ferdian berjalan mondar-mandir di samping meja makan tempat mereka biasa menikmati makan. Ponsel yang dipegangnya sesekali ia tengok, lalu dimasukannya kembali ke dalam sakunya. Ridho memandang heran pada sahabatnya itu.


"Kenapa sih Fer?"


"Aku chat Ajeng, tapi gak dapat balesan."


"Yaiyalah, dia pasti masih tidur. Di sana masih jam satu malam juga."


"Tapi aku udah ngirim sinyal ke dia."


"Sinyal apa?" Ridho mengernyitkan alis.


"Sinyal cinta," jawab Ferdian polos.


Pecahan tawa keluar dari Ridho secara refleks, setelah ia mendengar ucapan konyol Ferdian. Sementara Ferdian mendeliknya kesal ditertawakan seperti itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.


"Kemaren Ajeng berhasil kok ngirim sinyal cinta sama aku," sahut Ferdian.


"Kapan?"


"Seminggu yang lalu, dia belum bisa tidur katanya. Dan waktu itu entah kenapa aku ingin telepon dia. Aku pikir kita saling terkoneksi, makanya aku mau coba lagi pas lagi kangen gini."


"Coba aja bangunin, jangan chat!" seru Ridho.


"Tapi nanti aku ganggu tidurnya dong?"

__ADS_1


"Daripada kamu galau gini, mau yang mana?"


"Ya udahlah, aku coba telepon aja!"


Ferdian kembali beranjak dari kursinya. Ia menekan nomor kontak milik istrinya lalu mulai meneleponnya. Hatinya cemas, tetapi ia sangat merindukannya. Ia melangkah menjauhi Ridho dan kerumunan orang lainnya.


Tut....


Tut....


Panggilan itu belum diangkat.


Tut....


Tut....


"Halo?" terdengar olehnya suara serak nan lembut.


"Maaf, aku ganggu tidur kamu ya?" tanyanya risau.


"Sayang, kenapa?"


"Aku kangen kamu."


Terdengar suara tawa kecil di seberang telepon.


"Aku juga kangen kamu. Lagi istirahat ya?" tanya Ajeng yang kini suaranya terdengar normal.


"Iya aku lagi istirahat. Maaf ya, tapi aku benar-benar kangen kamu, Sayang!"


"Gak apa-apa kok. Gimana pelatihan kamu, lancar?"


"Alhamdulillah sejauh ini lancar dan aku nikmatin semuanya. Cuma satu kekurangannya," jawab Ferdian.


"Apa itu?"


"Kamu gak ada di samping aku," ucap Ferdian sendu.


"Ooh...that's sweet, honey!"


"Masih 5 bulan lagi di sini. Menurut kamu apa aku bisa bertahan?"


"Kamu pasti bisa, Sayang!"


"Tapi aku galau, aku kangen pelukan kamu, aku kangen semuanya tentang kamu."


Ajeng terkekeh geli.


"Kamu tuh ya, habis ini aku jadi gak bisa tidur nanti."


Ferdian tersenyum.


"Arsene-nya daddy gimana, sehat?"


"Alhamdulillah sehat, sekarang lagi proses sapih."


"Wah mau disapih? Rewel gak dia?"


"Sedikit lah, aku harus lebih sabar ngadepinnya karena dia terus minta mimi."


"Iya kita harus sama-sama sabar."


Hening sesaat.


"Eh Sayang, aku masuk kelas lagi ya. Maaf kalau kamu jadi gak bisa tidur."


"Iya gak apa-apa."


"Ya udah, kiss me dulu dong!"


"Mwuaah!"


"Mwuaah!"


Ferdian tersenyum berseri-seri setelah menutup teleponnya itu. Untuk sesaat, rasa rindunya itu bisa tersampaikan. Ya meski pasti akan muncul kembali dalam waktu dekat.


"Kau punya pacar?" tanya seseorang bersuara laki-laki. Ferdian menoleh terkejut.


\=====


Bersambung dulu ya


Like, comment dan vote yaa

__ADS_1


Makasih ^_^


__ADS_2