
Ajeng sedang memilih-milih gaun yang cocok untuk pesta resepsi Kevin dan Jingga hari ini. Ia benar-benar kebingungan karena pesta resepsi diadakan secara Islami. Memang ia hanya perlu mengenakan gaun yang sopan dan dandan dengan tidak berlebihan. Entah kenapa hatinya jadi ragu, karena ia belum menutup aurat. Namun akhirnya ia menemukan sebuah gaun serba panjang berwarna salem yang dipilihkan Ferdian saat mereka baru menikah. Ia pun mencoba mengenakan gaun yang pernah dipakainya sekali saja. Ternyata masih cukup di badannya yang ideal. Ia khawatir sejak melahirkan badannya itu akan melar. Namun ternyata tidak. Toh dia juga tetap menjaga pola makannya dan tetap berolahraga setiap minggu.
"Kamu kesana, aku kesini ya, Sayang!" ucap Ajeng pada suaminya ketika mereka telah tiba di gedung resepsi pernikahan Kevin dan Jingga.
Ferdian memperhatikan stand banner yang terpampang di setiap pintu masuk. Sangat menarik. Di sana tertulis, tamu perempuan ke arah kiri, sedangkan tamu laki-laki ke arah kanan.
"Nanti kalau udah teleponan aja ya?" ucap Ferdian yang menggendong Arsene.
"Oke. Aku masuk dulu! Titip salam buat Kevin!"
"Siap!"
Ajeng pun melangkah masuk ke dalam gedung itu. Berbagai bunga-bunga cantik dan segar menyambut kedatangannya. Dua orang penerima tamu mengenakan gaun brokat dan khimar besar tersenyum padanya.
"Silakan..." ucap satu akhwat manis dengan polesan wajah yang sangat tipis.
Ajeng pun mengisi daftar tamu di sana. Lalu berjalan di atas karpet merah menuju ke dalam aula yang cukup luas itu. Alunan sholawat menyambutnya, terdengar merdu dan sejuk. Karena pertama kali menghadiri pesta seperti ini, ia akan memperhatikannya secara seksama.
Kursi-kursi berderet rapih memenuhi hampir dua per tiga ruangan aula yang terbagi menjadi dua. Para tamu menikmati sajian makan di sana, tidak ada tamu yang makan sambil berdiri. Sementara di sisi kanan karpet menjuntai kain-kain panjang yang berfungsi menjadi sekat antar tamu laki-laki dan perempuan, sehingga para tamu yang berlawanan jenis tidak akan bisa saling menyapa atau melihat. Ia juga jadi tidak bisa bertemu dengan Kevin dan mengucapkan selamat padanya.
"Ajeng!" teriak sebuah suara nyaring dan sedikit cempreng yang ia kenal.
"Hey Karin!"
Karin mengucap salam dan menanyakan kabarnya. Mereka saling berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.
"Iiih gak nyangka bisa ketemu di sini! Kamu kenal Jingga?" tanya Karin terkejut dan antusias. Di sampingnya, ia menuntun seorang anak kecil berkerudung dan bergaun brokat pink. Itu Zaara yang tampak cantik dan lucu.
"Aku teman Kevin, Rin!"
"Oh iya? Wah dunia memang sempit sekali ya, Jeng!"
"Jadi, Jingga itu adiknya Mas Reza ya?"
"Iya betul. Ih, gak nyangka banget kita ketemu di sini!" ucap Karin riang. "Eh mana Arsene?"
"Sama daddy-nya, di sebelah!"
"Ooh beneran anak daddy bangetlah Arsene itu, Zaara juga nih cari-cari abinya terus."
"Ih Zaara udah besar, cantik banget!" ucap Ajeng menyalami anak itu.
"Alhamdulillah."
"Ya udah aku ucap selamat dulu buat Jingga ya?"
"Iya, Jeng!"
Ajeng kembali melanjutkan menuju panggung pelaminan. Ia melihat seorang akhwat dengan wajah bersinar dan cantik bak bidadari berdiri di sana. Wanita itu menggenakan gaun panjang dengan kain tile yang berhiaskan mute cantik. Kerudung pashminanya menjuntai menutup dada dengan sehelai kain tile lebar lainnya untuk menghias kepalanya. Ia membawa sebuket bunga mawar putih. Di wajahnya hanya menggunakan riasan tipis, semburat merah muda dari bibirnya merekah ketika ia menyambut tamunya itu.
"Selamat ya Jingga," ucap Ajeng meskipun ia tidak mengenal akhwat itu. Ia menyalami tangan wanita itu yang sudah dirias dengan henna bermotif.
"Jazakillah khair, Teh! Teteh ini siapa? dan dari mana?" tanyanya, karena tamu tidak terlalu banyak jadi ia bisa menyapa tamunya satu ini.
"Saya Ajeng, temannya Karin juga Kevin."
"Oh...."
"Selamat ya!"
"Makasih udah datang ya Teh!"
__ADS_1
Ajeng pun mengambil beberapa menu makanan ringan. Ia tidak begitu selera untuk makan berat. Lalu mendudukan diri di sebuah kursi dekat jendela. Karin dan anaknya kembali menghampirinya.
"Aku duduk di sini ya, Jeng!"
Karin memangku Zaara sambil memegangi satu cup es krim.
"Rin mau tanya dong!" seru Ajeng ketika ia berhasil menghabiskan kebabnya.
"Tanya apa Jeng?"
"Gimana Jingga bisa ketemu Kevin?" tanya Ajeng, karena ia penasaran Kevin bisa mendapatkan akhwat shaleha.
"Ooh itu. Setelah ayah Mas Reza meninggal, Jingga kerja di perusahaan Kevin jadi desainer grafis. Di sana mereka ketemu, kurang lebih delapan bulan lalu. Kevin yang pertama tertarik, kata Jingga. Dia gemes sebenarnya, karena Jingga gak pernah respon rasa ketertarikan itu. Akhirnya Kevin datang ke rumah ibu untuk mengajukan lamaran. Tapi Mas Reza gak suka, karena Kevin bukan laki-laki yang dekat dengan agama, menurutnya. Dan Mas Reza juga udah nyiapin calon buat Jingga. Tapi hasil istikhoroh Jingga, justru jatuh sama Kevin, akhirnya mereka ta'aruf deh," cerita Karin sambil menyuapi anaknya itu.
"Ooh gitu ya?"
"Iya, maaf ya aku kelewat undang kamu. Karena Jingga yang urus semua."
"Gak apa-apa Rin."
"Oh iya kamu kenal Kevin dimana?"
"Aku temen kampusnya, kebetulan kita agak dekat gitu lah!" jawab Ajeng sedikit ragu-ragu.
"Agak dekat atau pernah dekat?" goda Karin.
Ajeng tertawa-tawa.
"Aku paham Jeng, kamu itu kan cantik, pinter, mandiri. Pasti seenggaknya pernah deket sama Kevin yang juga sama-sama ganteng dan pinter."
"Ya gitu deh, kita emang sahabatan sejak kuliah, kebetulan saat ini juga perusahaan Kevin ada kerja sama dengan perpustakaan fakultasku, jadinya mau gak mau kita ber-relasi lagi, karena sekarang aku menjabat jadi kepala perpustakaan."
"Oh I see!"
"Main ke rumahku yuk kapan-kapan!" ajak Karin.
"Iya insyaAllah, Rin!"
"Biar anak-anak bisa main bareng."
"Iya ya, mereka cuma beda sebulan."
Tiba-tiba ponsel Ajeng berdering.
"Tunggu bentar ya, suamiku telepon nih!"
Karin mengangguk lalu menyuapi anaknya lagi.
"Kenapa Sayang?"
"Ini Arsene cari mommy!"
"Oke aku keluar sekarang!"
"Rin aku ambil Arsene dulu ya, nanti aku balik lagi!"
"Oke!"
Ajeng pun mengambil Arsene dari Ferdian yang sudah menungguinya di pintu utama.
"Bentar lagi oke?" pinta Ajeng.
__ADS_1
"Oke, nanti telepon aku aja!"
Arsene berlari-lari di atas karpet merah sambil menuntun tangan mommy-nya. Ia ingin sekali mengambil bunga-bunga yang ada di panggung pelaminan. Namun dengan sigap, Ajeng menggendongnya dan mengambilkan semangkuk kecil es krim. Ia kembali duduk di samping Karin yang belum berpindah.
"Assalamu'alaikum Arsene..." ucap Karin, ia menggerakan tangan Zaara untuk melambai padanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ajeng.
"Kenalan dulu dong! Ini Zaara.
"Aku Arsene!" ucap Ajeng dengan suara palsunya.
Kedua anak itu tiba-tiba saling bermain. Mata Arsene terpesona dengan setangkai bunga berwarna merah yang dipegang Zaara sejak tadi. Kemudian ia merebut bunga itu, membuat Zaara berteriak dan menangis. Karin dan Ajeng jadi tertawa.
"Cen, bunga itu buat perempuan!" ucap Ajeng.
"Give it to her, say i'm sorry!" ucap Ajeng lagi pada anaknya, mencoba membujuknya dengan perlahan.
"cowiii..." ucap Arsene namun ia tidak memberikan bunganya pada Zaara.
"Kasihin bunganya sayang!"
Arsene pun akhirnya memberikan bunga yang direbutnya kembali pada Zaara meski wajahnya tidak suka. Zaara kembali terdiam, memandangi bunganya yang sudah terkoyak-koyak kelopaknya. Ia membuang muka dan bersembunyi di balik kerudung uminya. Sementara Arsene mencoba kembali mengambil bunga itu, namun mommy-nya keburu menahannya.
"Kalian lucu deh!" ucap Ajeng melihat tingkah laku anak-anak itu.
Ajeng pun berpamitan pada Karin dan Jingga setelah Arsene menghabiskan es krimnya. Ferdian sudah meneleponnya sejak tadi karena menunggu lama di depan gedung.
"Ada salam dari Kevin, dia bilang makasih karena kita mau datang," ucap Ferdian dari balik kemudinya.
"Sama-sama," jawab Ajeng.
Ajeng memperhatikan wajah suaminya yang datar itu.
"Kamu gak cemburu lagi kan, Sayang?" tanya Ajeng, memangku Arsene yang pulas tertidur.
"Enggaklah!" jawabnya tanpa melirik.
Ajeng jadi terkekeh-kekeh.
"Terus kenapa ekspresinya dingin gitu dari tadi?"
"Enggak kenapa-napa, cuma teringat sesuatu."
"Ingat apa, Sayang?"
"Ingat sesuatu yang bikin aku sedih."
Wajah Ferdian terlihat sendu sekali. Ajeng terdiam seketika. Tidak pas rasanya mengajaknya berbicara saat ini, mungkin ketika di apartemen ia akan bertanya lagi. Ia tidak tahu pasti apa yang membuat Ferdian sedih kali ini.
\=====
Hmmm....
Like, comment, dan vote dulu yuk, biar Ferdian kembali senang ^_^
Makasiiiih
[visual Arsene, anggap aja idungnya mirip daddy nya ya]
__ADS_1
[visual Zaara]