Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 88


__ADS_3

Ferdian....!" Ajeng berteriak.


Ferdian menghela nafas, ada apa lagi ini?


"Ferdian.....!" teriak Ajeng lagi, wanita itu mengerang terdengar kesakitan. Ferdian lekas-lekas menghampiri istrinya yang berada di dalam kamar.


Ferdian terkejut melihat istrinya yang sedang memegangi perutnya, tangan lainnya mencengkeram pegangan pintu.


"Kenapa Sayang?" tanya Ferdian panik.


"Sakiiiiiit, perut aku sakiiiiit!!" teriak Ajeng, matanya mengernyit.


Ferdian kebingungan. "Kamu mau lahiran?!!" tanyanya.


"Gak tau, sakit bangeeeet!" kata Ajeng ringkih.


Ferdian segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia membopong istrinya keluar.


"Fer bawain tas aku!" ucap Ajeng mengingat tas yang disiapkan untuk persalinannya. Ferdian segera berlari ke kamar sebelah dan mengambil tas istrinya itu. Ia kembali membawa istrinya menuju lift. Jaketnya sudah dicengkram erat oleh Ajeng.


"Relaks Sayang!" ucap Ferdian .


Ajeng mencoba bernafas dengan relaks untuk mengurangi rasa mulasnya. Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Sambil menyetir, Ferdian mencoba menghubungi Dokter Sita.


"Halo, Dokter! Ini istri saya sepertinya mau melahirkan!" ujar Ferdian, lidahnya bergetar karena gugup.


"Sekarang dimana?" tanya Dokter Sita.


"Dalam perjalanan menuju klinik, Dok"


"Dari jam berapa mulasnya?"


"Baru, Dok! Katanya sakit banget!"


"Ya sudah, kamu ke klinik dulu aja, suruh Ajeng jalan-jalan. Nanti biar perawat di sana saya suruh pantau."


"Baik, Dok! Terima kasih!"


Ferdian memacu mobilnya menuju klinik Dokter Sita yang berada cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Ajeng masih mengerang kesakitan karena rasa mulasnya. Ferdian tidak tega mendengar istrinya yang kesakitan seperti itu. Namun ia harus tetap fokus untuk menyetir. Kepadatan melanda jalan raya pagi itu. Maklum hari itu masihlah hari yang dipenuhi oleh kesibukan banyak manusia. Ferdian memperhatikan istrinya dari spion, Ajeng masih berusaha melakukan relaksasi pernafasan sambil memegangi perutnya.


"Tunggu ya, Sayang! Bentar lagi kita sampai!" ucap Ferdian.


Untung saja jalanan padat sudah dilewati, kini Ferdian menerjang jalan yang mulai lenggang. Lalu memberhentikan mobilnya di halaman parkir klinik Dokter Sita yang terlihat sepi. Ferdian segera membawa Ajeng ke dalam dan menemui perawat.


"Diperiksa dulu ya ibunya," ujar seorang perawat perempuan. Lalu Ajeng dibawa ke dalam ruangan untuk diperiksa tekanan dan detak jantungnya.


Tekanan dan detak jantungnya normal. Kemudian perawat memerintahkan Ajeng untuk berbaring dan membuka celananya, untuk mengecek apakah sudah ada pembukaan atau belum. Ferdian menahan cengkraman tangan Ajeng di lengannya.


"Sudah pembukaan 3 ya," ujar perawat itu.


"Jadi saya harus gimana?" tanya Ferdian kebingungan.


"Ajak istrinya jalan-jalan aja, A! Sambil nunggu dokter datang, biar pembukaan lebih cepat," jawab perawat itu.


"Baik," jawab Ferdian.


"Istrinya udah sarapan, A?"


"Belum!"


"Lebih baik sarapan dulu, biar istrinya cukup energi untuk melahirkan nanti."


"Oh iya, baik!"


Ferdian bergegas membawa Ajeng ke kantin. Kontraksi di perut Ajeng berkurang, membuatnya bisa sedikit merasa tenang.


"Kamu sarapan dulu ya, Sayang?"


"Iya!" jawab Ajeng lemas.

__ADS_1


"Mau makan apa? Aku ambilin!" tanya Ferdian pada istrinya yang melihat meja prasmanan kantin sudah dipenuhi berbagai macam menu masakan yang menggugah selera Ajeng.


Ajeng menunjuk beberapa menu lauk yang membuatnya tergoda. Dengan sigap Ferdian mengambilkan piring dan mengisinya dengan menu yang diminta oleh istrinya.


"Mau disuapin?" tanya Ferdian.


"Makasih Sayang, aku masih bisa sendiri! Kamu juga sarapan ya?" ujar Ajeng. Ferdian tersenyum. Ia juga mengambil sarapannya untuk dirinya sendiri.


Ferdian memperhatikan terus istrinya yang menikmati sarapannya dengan lahap. Untung saja Ajeng masih bisa menikmati sarapannya itu. Sesekali ia meringis kesakitan ketika rasa mules menyapanya kembali. Ajeng memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanannya.


"Udah selesai?" tanya Ferdian ketika melihat isi piring milik Ajeng sudah kosong.


"Udah, alhamdulillah!" jawab Ajeng.


"Kita tunggu dulu di sini ya, nanti kita jalan-jalan keliling taman," ujar Ferdian mengusap-usap tangan istrinya.


Ajjeng tersenyum.


\=====


Sudah hampir empat jam, Ajeng berjalan kaki di taman klinik. Kadang Ferdian menuntunnya, kadang juga ia berjalan sendiri. Sesekali mulasnya itu datang menghampiri. Semakin lama, semakin sering terasa mulas. Namun ia berusaha menikmati proses menjadi seorang ibu yang akan melahirkan. Jadi ia tidak terlalu menghiraukan rasa sakit itu. Ia akan dan harus kuat melewati ini.


Sementara itu Ferdian tampak sibuk dengan ponselnya. Ia meminta izin kepada para dosennya karena tidak bisa mengikuti perkuliahan karena istrinya akan melahirkan. Ia juga menghubungi keluarga Ajeng dan keluarganya. Namun pria itu meminta agar keluarganya tidak perlu datang ke klinik, nanti saja kalau Ajeng benar-benar melahirkan ia akan menghubungi mereka lagi.


Ajeng meringis kesakitan ketika rasa mulas yang lebih besar mendatanginya. Bahkan hampir saja ia terjatuh kalau ia tidak berpegang pada sebuah tiang besi. Ferdian berlari menghampirinya. Rasa panas, linu, nyeri bercampur jadi satu. Ajeng mencengkeram erat tubuh Ferdian. Ferdian membawa istrinya pada perawat, lalu ia dibawa kembali ke ruangan pemeriksaan.


"Wah udah pembukaan 7! Saya akan hubungi Dokter Sita sekarang!" ujar perawat tadi.


Perawat lainnya menyuruh Ajeng untuk memakai baju rumah sakit, dan menuju ruang bersalin.


"Fer, aku kedinginan!" ucap Ajeng, bibirnya bergetar, tubuhnya menggigil. Rasa mulas masih melanda tubuhnya, bahkan semakin hebat.


Ferdian melepas jaketnya dan melilitkannya di tubuh Ajeng. Namun ternyata hal itu tidak cukup membuat rasa dingin yang menyapa tubuhnya berkurang.


"Peluk aku, Fer!" pinta Ajeng, yang badannya berguling-guling di atas kasur pasien.


"Jangan lupa doa dan dzikir ya, Sayang! Kita minta kelancaran sama Allah," ucap Ferdian lembut, ia mengecup kening istrinya.


Ajeng mengangguk.


Meskipun Ferdian terlihat cemas, namun ia harus bisa lebih pandai untuk menenangkan istrinya. Inilah pengalaman berharga pertama kali baginya mendampingi istrinya yang akan bersalin. Ia merasa cinta untuk istrinya itu bertambah besar.


Tiba-tiba Ajeng menggeliat, tangannya mencengkeram selimut. Ia merasa terdorong untuk mengejan. Namun lekas-lekas ia mengambil nafas, dan menghembuskannya kembali. Di bagian tubuh bawahnya mengeluarkan sesuatu, cairan yang banyak sekali tumpah di sana. Seketika ia berteriak panik.


"Fer, ini apa? Ada air keluar!" teriaknya.


Ferdian memanggilkan perawat. Perawat pun berdatangan, air ketuban sudah pecah. Ajeng sudah masuk ke pembukaan 9, Dokter Sita akan segera tiba. Perawat meminta untuk tetap tenang, dan jangan mengejan sebelum dokter datang.


Ajeng terus melakukan relaksasi pernafasan agar ia tidak berusaha mengejan, meskipun sinyal di tubuhnya meminta. Tak lama kemudian, Dokter Sita datang dan langsung memeriksa keadaan Ajeng.


"Udah lengkap pembukaannya. Kamu siap ya Ajeng Sayang?!" ujar Dokter Sita yang sudah lengkap mengenakan pakaian kerjanya hari itu.


Ajeng mengangguk. Ajeng menggenggam erat tangan suaminya. Ia membuka kaki dan mengangkat pinggulnya.


"Kamu ikutin instruksi saya ya, Jeng?"


"Iya!"


"Yuk, mengejan sekarang!" perintah Sita.


Ajeng menarik nafas panjang, lalu mengejan dengan sekuat tenaganya meski perlahan. Ferdian yang mendampinginya langsung tidak ingin menyia-nyiakan momen berharga ini. Ia melihat langsung bagaimana bayinya keluar dari lubang ****** istrinya itu. Secara perlahan tapi pasti, kepala bayinya itu mulai keluar.


"Lagi, Jeng!" seru Dokter Sita lagi.


Ajeng mengejan lagi secara perlahan dan tenang.


"Bagus Jeng, terusin, pelan-pelan!" ujar Dokter Sita.


Ferdian sudah bisa melihat wajah bayinya yang baru keluar. Lalu dengan cekatan, Dokter Sita membuat bayi itu keluar dan mengambilnya. Seketika tangisan bayi pecah dan memenuhi ruangan bersalin siang itu. Darah mengucur deras dari tubuh Ajeng.

__ADS_1


"Allahu Akbar!" ucap Ajeng lirih.


Ferdian tersenyum, matanya berkaca-kaca melihat keajaiban itu. Perawat meminta ia mendatanginya untuk memperhatikan bayinya yang terlihat normal dan sempurna tanpa cacat. Sementara itu Dokter Sita meminta Ajeng untuk mengejan sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta.


"Kamu hebat Jeng! Karena ada sedikit sobek, jadinya aku jahit disini!" ujar Sita.


"Banyak gak Ta?" tanya Ajeng, suaranya terdengar lemas.


"Dikit kok! Kamu pinter Jeng!" puji Sita.


Ajeng tersenyum lega, "Alhamdulillah!"


\=====


Ferdian pergi untuk melihat bayinya yang sedang diberi imunisasi dan vitamin oleh dokter spesialis anak. Lalu perawat mengembalikan bayi laki-laki itu pada ibunya yang masih berada di ruang bersalin untuk inisiasi menyusui dini.


"Bu, selamat ya, ini bayinya silakan disusui dulu," ujar perawat lembut memberikan bayi itu pada Ajeng.


"Terima kasih banyak, Suster!"


Ajeng memperhatikan wajah bayinya sekilas. Lalu ia meletakannya di atas dadanya dengan posisi tengkurap, agar bayi itu bisa mencari dimana sumber makanannya juga merasakan kehangatan tubuh ibunya. Ferdian datang menghampiri.


"Masya Allah, anak ayah udah lahir!" ujarnya berbinar.


"Udah diadzanin belum?" tanya Ajeng sambil memegangi tubuh bayinya yang mungil sekali.


"Udah barusan di luar! Di depan papa kamu."


"Alhamdulillah. Orangtua kita udah pada datang?"


"Iya, mereka mau nengok kamu, tapi masih belum diperbolehin, sebelum pindah ke ruang inap, untung aja udah lihat bayi kita!" jawab Ferdian.


Ajeng tersenyum, lalu memperhatikan bayinya lagi yang sudah berhasil menemukan sumber makanan pertamanya. Bayi itu tampak kuat dan rakus.


"Kayanya kamu mirip Ayah ya?" ujar Ferdian memperhatikan bayinya.


"Kenapa emangnya?"


"Cepet amat nemunya!" celetuk Ferdian. Ajeng tertawa-tawa.


"Kamu punya saingan baru ya?"


"Iya nih!"


"Jangan cemburuan sama anak sendiri ya?" ucap Ajeng.


"Gimana nanti aja deh!" ujar Ferdian mengecup bibir istrinya.


"Selamat puasa ya, Sayang!"


Mata Ferdian terbelalak. Ah, ia baru tersadar, mulai hari ini istrinya akan mengalami nifas selama kurang lebih 40 hari. "Mmh...oke deh!" jawabnya terbata-bata. Untung saja hari ini ia sudah mengambil jatah terakhirnya.


"Makasih Sayangku! Kamu wanita hebat yang pernah aku temui setelah bundaku. Makasih karena sudah melahirkan bayi mungil kita ke dunia!" ucap Ferdian, matanya berkilauan. Ia mengecup kening istrinya lekat.


"Makasih juga, karena kamu selalu berada di sisi aku dan mendukung dan membuat aku kuat!" ucap Ajeng lembut.


"Oh ya, jadi siapa nama anak kita?" tanya Ferdian, sambil memegang lembut tangan mungil bayinya.


"Arsene Rezka Winata," jawab Ajeng tersenyum.


\=====


Duh, author terharu jadi ikut berbahagia


Selamat ya Ajeng dan Ferdian ^_^


Like, comment, vote dan tipsnya jangan lupa


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2