Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 141. Tak Suka


__ADS_3

Rainer menarik koper hitam miliknya setelah ia turun dari mobil ayahnya. Pria muda tinggi itu berdiri di salah satu sudut di terminal dua Bandara Soekarno Hatta untuk menunggu orangtuanya. Ia terlihat santai meski wajah juteknya tetap terpampang.


Ferdian, Ajeng, Finn, dan Kirei menghampirinya untuk melepas kepergiannya hari itu. Arsene tidak bisa mengantar hari itu karena perkuliahan sudah dimulai. Jadinya kedua kakak beradik itu berpisah di rumah mereka saja.


“Fokus kuliahnya ya, Rain! Kalau ada apa-apa tinggal hubungi Daddy. Kamu punya tanggung jawab untuk diri kamu sendiri. Pilih asrama yang bikin kamu nyaman dan aman. Jangan banyak bertingkah apalagi bergaul dengan orang yang salah.” Pesan Ferdian membuat anaknya itu mengangguk.


Rencananya untuk sementara Rainer akan tinggal di rumahnya dulu. Setelah perkuliahan masuk barulah ia akan tinggal di sebuah asrama yang dekat dengan kampus barunya, di Lasalle College of the Arts, sebuah institusi pendidikan swasta yang fokus untuk bidang seni saja. Meski belum mendaftar, Rainer sudah mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa di kampus itu selama 3 tahun.


Ajeng memeluk anaknya seraya berpesan, “jangan pernah tinggalin sholat ya, Nak! Meski sesibuk apapun. Mommy gak mau kamu lupa sama Allah.”


“Yes, Mom!”


“Abang Rain!” Kirei memeluk abang keduanya itu dengan mata berkaca-kaca. Meski mereka sering sekali berdebat atau ribut kecil, keduanya tetap saling menyayangi. Rainer balas memeluk adik perempuannya.


“Kamu jaga Finn ya Rei! Masih ada Abang Acen juga di sana. Maaf kalau Abang sering usil atau galak sama kamu. Abang sayang kamu!” ucap Rain.


“Maafin Kirei juga. Abang, baik-baik di sana. Cepet lulus, biar kita bisa kumpul lagi!”


Rainer menepuk punggung adiknya pelan. Ajeng dan Ferdian memandang kedua anaknya.


Rainer menghampiri adik balitanya.


“Hai Finn. Abang Rain pergi dulu ya! Kamu cepet gede dan sehat terus!” Rainer sudah menggendong adik bungsunya. Meminta adiknya itu untuk mengecup pipinya. Finn dengan bibir bulat yang merah mengecupnya di dua pipi. Rainer tersenyum.


Kali ini Ferdian memeluk erat anaknya. Melepas kepergian Rain memang agak berat. Ferdian lebih merasa khawatir pada anak keduanya ini, dibanding dengan Arsene. Namun ia akan percaya. Lagipula ia masih akan sering berkunjung ke Singapura karena ada beberapa bisnisnya yang terus berjalan.


Ajeng mengecup dan memeluk anaknya kembali sebelum kepergiannya. Membisikkan doa terbaik di dalam hatinya, agar Allah senantiasa memberikan perlindungan.


“Hati-hati Abang Rain! Mommy akan sering telpon kamu!”


Rainer tersenyum melihat keluarganya. Pria muda itu menarik kopernya menuju tempat check in sambil melambaikan tangan.


Melihat kepergian anaknya, mata Ajeng menggenang. Sebagai seorang ibu tentunya sangat berat melepas anaknya pergi meski untuk menuntut ilmu. Hanya saja, doa yang teruntai darinya akan menjadi obat rindunya selama masa-masa itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Sebuah cermin full body memantulkan benda yang ada di depannya. Perempuan itu tampak gusar dengan penampilannya. Ia mengangkat baju kaos yang dikenakannya, memperlihatkan perutnya yang kini terlihat lebih besar karena lemak. Ia mendengus.


“Makan mulu jadi gini deh!” keluhnya seorang diri.


Kali ini ia mendekatkan wajahnya ke depan cermin. Kepalanya menoleh ke samping kanan dan kiri meski matanya tetap tertuju pada cermin. Ia menarik pipinya sendiri ke atas dan ke pinggir.


“Makin gembul. Apa kalau aku gendut beneran, Abang masih sayang sama aku?” ucapnya lagi.


Entah kenapa nafsu makan Zaara semakin besar saja dari hari ke hari. Ia merasa dirinya seperti itu ketika sudah lebih baik dalam mengeksekusi bahan masakan. Jujur saja, ia sering memuji dirinya sendiri karena menu masakannya yang lezat, yang ia yakin bisa bersaing dengan hasil masakan suaminya. Meskipun Arsene tidak terlalu menguasai menu lokal, dan lebih menguasai menu western, asian, dan tentu saja pastry, yang tidak dikuasai oleh Zaara.


Kali ini Zaara mengambil sesuatu dari bawah kasurnya. Sebuah timbangan digital yang baru dibelinya beberapa waktu lalu. Ia menaikinya. Layar digital menunjukkan hasilnya yang membuatnya terkejut.


“Ya ampun, naik lagi 3 kg!” ia berteriak frustrasi.

__ADS_1


“Kenapa Sayang?!” panggil Arsene yang sedang berada di teras balkon sedang membantu menjemur pakaian.


“Enggaaaak!” kilah Zaara mengembalikan lagi timbangan digital itu ke bawah kasurnya.


Arsene datang menghampirinya.


“Udah selesai?” tanya Zaara.


“Udah. Cuma dikit ini kok!”


Arsene mendekati tubuh istrinya yang masih berada di cermin, merangkulnya dari belakang sambil bertanya, “kamu ngapain ngaca-ngaca terus?”


“Abang kepo deh! Urusan perempuan ini mah!”


Pria itu menempelkan pipinya di pipi istrinya.


“Perasaan makin empuk!” ucap Arsene menekan pipinya pada pipi Zaara.


“Bilang aja GENDUT, gitu!” ketus Zaara.


“Kenapa ya cewek itu selalu sensitif kalau dibilang gendut atau gemuk. Padahal kan makin lucu kalau makin gendut!” goda Arsene.


Zaara mencebik di depan cermin. “Gak semua cewek pede dengan bentuk tubuhnya. Apalagi kalau udah nikah, rasanya pengen selalu tampil ideal di depan suami.”


“Tapi aku gak masalah sih kalau kamu jadi gendut sekalipun. Aku bakal tetep cinta,” ucap Arsene mengecup pipi Zaara.


“Masaaa?” Zaara menoleh pada suaminya.


“Mandi sana! Kamu gak ke toko?” tanya Zaara.


Arsene menggeleng, “aku mau evaluasi penjualan akhir bulan. Mungkin baru sore ke toko!”


“Ya udah, aku juga mau kerja edit naskah!”


“Aku mandi dulu deh!” ucap Arsene.


Arsene mengambil handuknya dan pergi menuju kamar mandi. Sementara itu Zaara pergi ke dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa buah pastry yang dibawakan Arsene kemarin. Ia menaruhnya di atas piring kecil. Laptop miliknya dibuka dan ia mulai bekerja sambil menikmati pastry manis itu.


Kepala Arsene menggeleng-geleng melihat istrinya di depan laptop sambil melahap cupcake dari tokonya. Kadang ia sendiri bingung dengan tingkah perempuan. Mereka mengeluhkan bentuk badannya yang membesar atau berat badannya yang terus bertambah. Tetapi mereka juga tetap saja terus mengunyah, menikmati cemilan ringan atau berat tanpa henti.


Wangi parfum maskulin tercium tatkala Arsene menyemprotkan ke badannya. Membuat wangi itu menguar keluar kamar. Zaara menciumnya.


“Bauuu!” teriak Zaara mengibaskan tangan di depan hidungnya.


“Lho, biasanya suka?!” Arsene terkejut.


“Gak sukaaa!” ucap Zaara lagi menutup hidungnya dengan kerah bajunya. Zaara tetap berusaha fokus pada kerjaan waktu luangnya.


Arsene mengernyit melihat istrinya. Kemudian ia bergabung di meja makan sambil membuka laptopnya di samping Zaara. Tiba-tiba saja, Zaara menghindar dan duduk di sofa sambil membawa laptopnya. Arsene memandang aneh.

__ADS_1


“Kenapa kamu malah pindah?” tanya Arsene.


“Pegel, aku mau cari kursi yang empuk!” jawab Zaara datar.


Arsene hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


\=\=\=\=\=\=


Malam sudah datang. Arsene tidak jadi pergi ke tokonya sore itu karena ternyata evaluasi dan rekap hasil penjualan bulan ini cukup banyak menyita waktu. Transaksi penjualan bisa dibilang mencapai hasil yang luar biasa. Bulan ini pertama kalinya, omset Sweet Recipes meningkat drastis. Apalagi setelah kedatangan selebgram, Natasya yang membantunya menaikkan citra tokonya. Sejauh ini penjualan harian non weekend juga stabil dengan strategi yang sudah diterapkan.


Bulan besok Arsene akan menerapkan promo untuk pelajar dan mahasiswa, yang ia harapkan akan semakin membuat penjualan meningkat karena target pasar meluas. Besok ia akan meminta asisten chefnya untuk membuat paket pelajar dan mahasiswa dengan menu tertentu.


Mata pria itu terasa lelah dan berat setelah shalat isya dari masjid. Ia harus segera beristirahat agar tekanan darahnya tidak turun sehingga besok ia akan bisa optimal memberikan arahan pada tim dan karyawannya.


“Abang mau langsung tidur?” tanya Zaara melihat mata sayu suaminya.


“Iya, aku ngantuk!”


Arsene merebahkan tubuhnya di atas kasur. Zaara ikut bergabung bersamanya. Lampu kamar sudah dimatikan, gelap dan sunyi. Hanya sayup-sayup suara kendaraan di jalan raya saja yang masih terdengar. Arsene merangkul tubuh istrinya.


“Mmh…” Zaara mengeluh, memindahkan tangan suaminya dari pinggang ke atas kasur.


“Kenapa gak mau dipeluk?” tanya Arsene heran.


“Gerah!” jawab Zaara padahal ia menutup tubuhnya dengan selimut.


Arsene malah mengeratkan pelukannya.


“Abang… aku gak mau deket kamu! Aku gak suka bau kamu!” Zaara menjauhkan dirinya ke sisi tembok.


“Kenapa sih kamu aneh banget hari ini?” sergah Arsene.


“Gak tau. Udah sana ah!” Zaara membalikkan tubuhnya ke arah lain.


Arsene merasa kesal, ia juga membalikkan tubuhnya sehingga berlawanan arah dengan istrinya.


Tiba-tiba Zaara beranjak dari kasurnya. Perempuan itu pergi keluar dari kamar. Melihat hal itu Arsene bertanya, “mau kemana?”


“Aku lapar!” jawab Zaara.


\=\=\=\=\=\=


Kenapa Neng Zaara?


Bersambung dulu yaa


Kasih dukungan kalian buat Author Aerii dengan like, vote, dan comment ya


Gratis kok ^_^

__ADS_1


Makasiiiih


__ADS_2