
"APA?!" ujar Ajeng histeris. Hatinya remuk mendengar berita itu, bagaimana bisa Ferdian mengalami kecelakaan, padahal baru satu hari ini ia menjadi seorang ayah. Sontak wanita itu ambruk, energinya hilang begitu saja dari tubuhnya. Namun ia masih bisa menggenggam ponselnya itu.
"Di-dimana suami saya?" tanya Ajeng suaranya bergetar, sementara air matanya bercucuran.
"Dia sudah berada di rumah sakit sekarang, namun sekarang harus masuk ruang operasi karena kondisinya sangat sangat parah. Dia butuh penanganan segera saat ini. Untuk itu kami meminta Anda untuk mengirimkan biaya operasinya sekarang juga!"
"Dimana suami saya sekarang Pak? Saya kesana sekarang juga!" tanya Ajeng histeris.
Tiba-tiba pintu kamar inapnya terbuka, kepala Ferdian menyembul dari sana. Sontak Ajeng terkejut.
"Kenapa ribut?" tanya Ferdian polos. Ia melihat wajah istrinya merah padam, tangannya bergetar hebat dan menatapnya dengan pandangan kaget.
"Siapa yang telepon?" tanya Ferdian panik. Ia segera mengambil ponsel dari tangan istrinya yang lemas, karena Ajeng membatu seperti patung.
"Halo dengan siapa ini?" tanya Ferdian penuh curiga.
"Selamat malam Pak!" suara berat pria itu terdengar kaku dan gugup.
"Dengan siapa ini?!" tanya Ferdian ketus.
"Ka..kami da..ri kepolisian,"
"Ada apa ini?!"
"Ma...maaf se..sepertinya ka,,,kami sa..lah sambung!"
TUT.
"Astaga! Gak jelas banget!" omel Ferdian, ia menaruh ponsel Ajeng di atas nakas dan langsung memeluk tubuh istrinya yang terlihat tergoncang itu.
"Apapun itu yang kamu denger, sepertinya penipuan!" ucap Ferdian berusaha membuat istrinya tenang.
Ajeng menangis deras di dalam pelukan suaminya. Ia memeluk erat tubuh Ferdian.
"Aku disini, Sayang!" ucap Ferdian mengelus-elus rambut istrinya. "Aku gak akan kemana-mana lagi!"
Ajeng sesenggukan lalu menatap wajah dan memegang pipi suaminya.
"Mereka bilang, kamu kecelakaan!" ucap Ajeng menangis lagi.
"Aku di sini, Sayang! Lihat aku gak apa-apa kan? Aku sehat gini!"
Ajeng kembali memeluk suaminya seolah ia tak ingin pernah melepasnya kemana pun.
"Jahat banget sih orang yang suka nipu gitu. Ya Allah, istriku ini pasti shock banget!"
Ferdian merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu ia mendekap istrinya sambil berbaring. Ia tahu pasti Ajeng sangat tergoncang apalagi fisiknya masih sangat lelah, belum kondisi psikologis seorang ibu yang baru melahirkan masih sangat sensitif. Benar-benar kurang ajar orang-orang seperti itu. Semoga mereka masih bisa diberi hidayah agar tidak mengulang perbuatan kotornya.
Ajeng terisak, ia berusaha memejamkan matanya. Tak lama wanita itu pun tertidur di dalam pelukan suaminya, tempat ternyaman miliknya. Ia terlalu lelah hari ini apalagi sejak tadi siang ia belum ada tidur. Ferdian tidak berhenti mengelus lembut rambut istrinya yang sudah semakin panjang itu. Ferdian pun ikut tertidur di sana.
Dua jam kemudian suara tangisan bayi pecah di sana, terdengar nyaring dan kuat sekali. Ajeng terbangun, ia melihat Ferdian tengah tertidur lelap yang kemudian juga ikut terbangun. Ajeng merasa lega, Ferdian ada di sampingnya. Lekas-lekas ia mengambil Arsene dari ranjangnya dan menggendongnya.
Ajeng menaruhnya di atas kasurnya, lalu membuka kain yang melilit bayinya itu. Ferdian terbangun dan membuka matanya pelan-pelan.
"Sayang bisa tolong ambilkan air hangat, tolong taruh di baskom ya?" pinta Ajeng. Ferdian mengiyakan perintah istrinya.
Sementara Ajeng mengambil kapas, juga kain dan pakaian bayinya. Ia beruntung pernah melihat dan mengurus Alice, anak kakaknya, waktu bayi dulu. Jadi ia sudah bisa mengurus masalah seperti ini.
Ferdian memberikan baskom berisi air hangat itu kepada istrinya, lalu memperhatikan istrinya yang dengan apik dan telaten mengurus bayinya itu.
"Cup, cup sayang, sebentar lagi ya. Kamu lapar ya?" ucap Ajeng pada baby Arsene masih sambil membersihkan tubuh bayi mungilnya.
Ferdian tersenyum melihat kelihaian Ajeng. Setelah selesai, Ajeng menggendong bayinya, meski masih kaku, ia bisa mengeyong-eyongnya. Sementara Ferdian membereskan semua.
"Arsene lapar ya? Yuk kita mimi dulu!" ucap Ajeng, ia kembali menaiki matrasnya dan mulai menyusui anaknya.
Baby Arsene tampaknya belum menemukan posisi yang pas. Ia masih terus menangis sambil berusaha mendapatkan makanannya. Ajeng terus berusaha membuat bayinya itu nyaman seperti tadi siang ketika seorang perawat membantunya membetulkan posisi yang benar untuk menyusui.
"Belum pas ya?" tanya Ferdian melihat bayinya itu masih kurang nyaman.
"Iya nih," jawab Ajeng mulai panik.
"Butuh panggil suster?"
"Gak usah, kamu bantu aku aja!"
"Gimana?" tanya Ferdian kebingungan.
"Ambil bantal kecil itu, coba ditaruh di bawah lengan aku!" pinta Ajeng menunjuk satu bantal kecil yang dibawanya dari mobil Ferdian.
__ADS_1
Ferdian pun mengambil bantal itu dan menaruhnya di bawah lengan Ajeng. Ia juga membantu agar istrinya menemukan posisi yang nyaman ketika menyusui anaknya. Baby Arsene pun terdiam dan tampak lahap menyusu pada ibunya.
Ajeng dan Ferdian menatap pada bayi mungilnya. Mereka tidak menyangka kini mulai direpotkan oleh makhluk kecil yang lucu itu hasil buah cinta mereka. Ferdian menaruh jari kelingkingnya agar digenggam erat oleh tangan baby Arsene. Ia tampak antusias sekali ketika dipegangi oleh anaknya itu. Ajeng tersenyum melihat Ferdian yang antusias.
"Kecil banget ih tangannya!" ujar Ferdian.
"Tadi berapa kilo beratnya?" tanya Ajeng.
"2,9 kilo!"
"Jadi kita mau dipanggil apa nih, ayah bunda?"
"Mommy Daddy gimana?" Ferdian memberi masukan, agar berbeda dari orang tua mereka.
"Haha, karena orang tuanya dari Sastra Inggris semua ya?"
"Iya biar beda aja sedikit, hihi!"
"Sip, deal ya? We're mommy and daddy of Baby Arsene!"
\=====
Pagi itu, Ferdian tampak sibuk membereskan barang-barang istrinya yang terlihat berantakan. Ia sadar selama mengurusi bayinya itu, Ajeng tak sempat menyimpan barangnya ke tempat yang benar. Untuk tidur saja ia kesulitan, apalagi tadi malam baby Arsene beberapa kali terbangun. Kini Ajeng tengah tertidur pulas setelah mandi dan menghabiskan sarapan serta menyusui kembali baby Arsene yang sudah dimandikan oleh para perawat.
Ponsel milik Ferdian berbunyi.
"Halo?"
"Fer, udah pulang belum?" tanya Ridho.
"Belum masih di klinik. Besok kayanya baru pulang. Kenapa emang?"
"Iya kita mau jenguk, tapi kayanya nanti aja pas Miss Ajeng udah balik aja!"
"Oke!"
"Selamat ya Bro!"
"Makasih, Dho!"
"Yuk ah, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
"Assalamu'alaikum..." sapa sebuah suara perempuan. Ferdian menatap layar ponselnya, ternyata itu kakaknya, Resha.
"Wa'alaikumsalam..."
"Gimana Ajeng sekarang Fer?" tanya kakak nomor duanya itu.
"Lagi tidur dia. Kasian masih kecapean banget. Soalnya Arsene bangun terus malem tadi," terang Ferdian.
"Ooh iya pastinya ya. Berat ya jadi orang tua pertama kali?"
"Iya, aku juga jadi gak enak kalau tidur pulas."
"Kapan kamu pulang?"
"Besok kayanya, tunggu kabar dari dokternya Ajeng sama Arsene aja. Tapi mereka sih sehat semuanya, alhamdulillah."
"Alhamdulillah, baguslah! Nanti kakak tengok setelah kamu pulang ya, ini juga masih bujukin Bang Leon biar bisa ke Bandung weekend ini."
"Iya, gak apa-apa Kak!"
"Ya udahlah, istirahat aja dulu kalian. Sehat terus ya!"
"Makasih, Kak!"
Ferdian membuat mode hening pada ponselnya, khawatir membangunkan istrinya. Ia kembali melanjutkan membereskan. Lalu karena ia pun sama lelahnya, ia pun tertidur di atas sofa.
\=====
"Selamat siang, maaf ganggu ya?" ujar seorang perawat yang masuk ke dalam kamar mereka. Ia tidak sendiri, ada seorang dokter spesialis anak bersamanya.
Ajeng sudah bangun dan terasa lebih segar. Dokter memeriksa baby Arsene yang sedang tertidur.
"Alhamdulillah, kondisi anak ibu semuanya bagus ya, sehat dan stabil. Hari ini juga udah boleh pulang," terang dokter laki-laki yang sudah paruh usia itu.
"Alhamdulillah..." ucap Ajeng. "Dok kalau bayi tidur lama gini bagusnya dibangunkan atau tidak ya untuk disusui?"
__ADS_1
"Memang idealnya bayi baru lahir itu disusui setidaknya 2 atau 3 jam sekali. Namun, bayi punya sinyal lapar sendiri yang akan terbangun ketika lapar. Jadi Ibu boleh membangunkannya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan ibu untuk membangunkan bayi baru lahir yang sedang tertidur pulas, apabila sudah genap 4 jam belum menyusu," terang dokter.
"Oh begitu, baik Dok!"
"Baik saya permisi dulu, semoga sehat selalu!" pamit Dokter.
Ferdian terbangun ketika dokter spesialis anak keluar dari kamar rawat istrinya. Ia menanyakan pada istrinya perihal kapan mereka boleh pulang.
"Hari ini udah boleh pulang, kata dokter!"
"Oh ya? Kamu juga udah diperiksa?"
"Udah tadi sebelum dokter anak datang!"
"Jadi mau pulang sekarang?" tanya Ferdian.
"Iya, aku gak suka lama-lama di sini."
"Ya udah, aku urus administrasi dulu ya! Kamu siap-siap aja dulu!"
\=====
Ferdian, Ajeng, dan Baby Arsene akhirnya pulang ke apartemen mereka. Ferdian mendorong istrinya yang berada di kursi roda sambil menggendong anaknya. Pak Satpam dan petugas cleaning service membantu mereka membawakan barang-barang ke kamarnya.
"Alhamdulillah, kita sampai!" ucap Ajeng riang ketika Ferdian membawanya masuk ke dalam kamar apartemennya.
"Kamu mau istirahat di kamar?" tanya Ferdian.
"Iya di sana aja dulu!"
Ferdian mendorongnya ke dalam kamar, agar Ajeng bisa beristirahat di sana. Rumahnya tampak bersih dan nyaman. Sepertinya Ferdian meminta petugas cleaning service untuk membersihkan kamarnya dan seluruh ruangan apartemennya.
"Makasih Sayang!" ucap Ajeng, ia pun pindah untuk berbaring di kasur nyamannya.
"Ini rumah kamu ya, Arsene-nya mommy! Semoga kamu betah di sini," ucap Ajeng pada bayi yang digendongnya, lalu menaruhnya di atas alas tempat tidur khusus bayi.
Ferdian menutup pintu apartemennya setelah barang-barangnya ditaruh oleh Pak Satpam dan petugas kebersihan. Ia pun menghampiri istrinya yang sedang berganti pakaian.
"Masih sakit?" tanya Ferdian melihat istrinya sedang berada di lemari.
"Sekarang udah mendingan sih, dan harus dibiasakan gerak biar gak kaku," jawab Ajeng.
Ferdian menatap lekat pada bayinya yang sedang tertidur.
"Ini hidung Daddy, bibirnya Mommy, alis dan matanya Daddy, fix mirip Daddy!" ucap Ferdian tersenyum gemas.
"Kita mau makan apa sekarang?" tanya Ajeng, sepertinya ia belum bisa memasak hari ini karena merasa tubuhnya belum fit benar.
"Kamu mau makan apa?"
"Apa aja sih, yang penting banyak makan sayur berkuah, biar ASI aku banyak!"
"Ya udah aku yang masak aja ya. Sayuran udah ada stok di kulkas ini kok!"
"Kok bisa, kapan belanja?"
"Kemaren sore aku titip ke tukang sayur yang suka lewat depan tolong anter ke sini, makanya tadi Pak Satpam bawain sayur."
"Ih hebatnya suami aku!" ujar Ajeng membelai pipi suaminya.
Wajah Ferdian merona dipuji istrinya.
"Ya udah kamu istirahat aja lagi, aku masak dulu! Nanti aku bangunin kalau udah selesai,"
"Makasih Sayang, aku beruntung banget punya suami kaya kamu! Udah ganteng, pinter, setia, baik dan tulusnya gak tahaaan!" ucap Ajeng memeluk suamiya.
"Duh aku jadi punya sayap nih, bakalan bisa terbang kayanya!"
Ferdian terkekeh, wajahnya makin merah.
\=====
Duh suami idaman, siapa mau?
Berdoa aja yang rajin, hihi
Like, comment, vote dan tipsnya yaa
__ADS_1
makasiiih ^_^