Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 11. Jalan-jalan


__ADS_3

Fea berjalan menuju kamar barunya yang sudah dirapikan oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga oma dan opanya. Ia membawa koper miliknya dan menyimpannya di dalam. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang berukuran queen. Sambil memandangi sekeliling ruangannya. Matanya berputar sambil berpikir.


“Kamarnya butuh banyak dekor, besok aku minta antar Abang Acen aja deh buat belanja, hihi!” ucapnya pada diri sendiri.


Sementara itu Arsene dan Rainer masih berada di lantai satu, menyelesaikan film yang sejak tadi tertunda sambil mengemil banyak makanan ringan yang dibawa sepupunya dari Jakarta.


“Yakin mau nginep sini, Bang?” tanya Rainer setelah film action selesai diputar.


“Ya gimana, udah bilang sama opa juga,” jawab Arsene mematikan televisi.


“Tuh anak pasti ribut pengen jalan-jalan besok,” tebak Rainer.


“Mungkin!”


Tak lama, gadis yang dibicarakan itu turun dari lantai dua. Pakaiannya sudah berganti dengan sebuah piyama berwarna serba pink, rambut sebahunya ia ikat menjadi dua, tampak semakin kelihatan bocahnya. Ia turun dengan langkah riang sambil membawa boneka burung hantunya. Kedua remaja pria itu menoleh ke arahnya.


“Kok tv-nya dimatiin sih? Kan Fe juga mau ikut nonton!” ucapnya cemberut.


“Ya udah selesai filmnya,” jawab Arsene.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di antara kedua sepupunya sambil memeluk bonekanya. Wajahnya memasang ekspresi cemberut. Kedua sepupunya hanya memandanginya heran.


”Mending ngobrol,” ucap Arsene tiba-tiba, sambil mengambil snack lainnya. Fea menoleh ke arah Arsene.


“Ngobrol apa, Bang?” tanya Rainer.


“Jadi kenapa kamu pindah kesini, Elena Fea?” tanya Arsene.


“Fe cuma denger cerita papi, katanya kalian pindah ke Bandung, tapi uncle Ferdi sama onty Ajeng gak ikut. Fe kan jadi pengen coba hidup mandiri kayak kalian,” terangnya ceria lagi.


“Emang gak bakal kangen mami papi sama Alvin?” tanya Arsene lagi.


“Kalau kangen mami papi sih tinggal pulang aja, tapi Fe males ketemu Alvin. Kita berantem aja kalau ketemu.”


“Sama adik sendiri kok males, yang akur dong kaya kita!” sahut Rainer.


“Iya kok kalian bisa akur terus sih? Apa karena sama-sama cowok?”


“Gak juga. Itu mah kamu aja sering jahilin Alvin kan ya?” tebak Arsene.


Fe menyengir memperlihatkan giginya yang rapi.


“Fe gak suka dicuekin sama dia, makanya aku ganggu aja. Haha!” ucapnya bangga sekali.


Fe merebut snack yang dipegang abang sepupunya, dan meraup isinya.


“Kalian tinggal di sini?” tanya Fea yang mulutnya masih penuh dengan snack kentang itu.


“Enggak. Kita tinggal sama Kakek Jaya.”


Mata Fea membesar.


“Kok gak tinggal di sini aja sih? Kan biar rame!” protes Fea.


“Ada kamu pasti makin ribut, cocoklah buat tinggal di sini biar gak sepi lagi,” ujar Arsene.

__ADS_1


“Tapi gak asik ihhh! Aku gak ada temen!”


“Ada oma, opa, Bi Sumi, Bi Lastri, Pak Kus, sama Pak Ujang. Rame kan?” goda Arsene.


Fea melempar boneka burung hantunya pada Arsene. Sedangkan ia dan adiknya tertawa-tawa saja mencandai saudara sepupunya itu.


“Besok anter aku belanja yuk!” rengek Fea.


“Tuh kan tebakan gue juga apa!” sahut Rainer.


“Fe gak ngajak lo ya, Rain! Fe ngajak Abang Acen!” ucap Fea sambil mencebikkan bibir merah mudanya.


“Izin dulu sama opa, boleh gak?”


“Iya nanti Fe bujuk opa dulu.”


“Emang ada uangnya?” tanya Arsene lagi.


“Ada dong, Fe kan udah punya kartu debit yang diisi terus sama papi,” jawabnya bangga.


Arsene menggeleng-geleng. Mereka bertiga pun menghabiskan sisa snack yang masih tersisa di sana.


“Adik kalian kapan lahir, Bang?” tanya Fea sambil menepuk tangannya yang penuh dengan remah-remah snack.


“Entah. Gue bukan bidan!” Rainer yang menyahut.


Fea menoleh pada Rain.


“Gue gak nanya lo, Rain! Main nyaut aja.”


“Iya gue tau. Yang gue tanya itu abang lo!” protes Fea.


Fea memang selalu terpancing jika berselisih dengan Rain. Bahkan gadis itu tidak sadar telah mengubah gaya percakapannya menjadi elo-gue.


“Mungkin dua bulan lagi,” jawab Arsene menengahi perselisihan yang mulai terjadi.


“Waaah, senangnyaaa! Pasti gemes banget punya dedek bayi yaa?!” ucap gadis itu riang. “Cewek atau cowok?” tanyanya lagi.


“Cowok.”


“Wah! Mudah-mudahan nanti mirip Abang Acen aja! Biar gak judes kaya Rainer Liam ini!”


Rainer memelototi gadis itu. Sedangkan Fea membalasnya dengan juluran lidahnya.


Arsene menghela nafas saja melihat pemandangan kedua adiknya itu.


\=====


Keesokan harinya.


Di salah satu pusat perbelanjaan besar di Kota Bandung, tiga remaja rupawan sedang berjalan santai sambil melihat barang-barang yang terpampang di etalase. Mereka menyusuri toko-toko yang ada sambil melihat-lihat. Tidak terlalu banyak orang di sana, karena hari masih pagi. Mereka tiba disana tepat setelah mall itu buka di jam operasionalnya. Jadi mereka bisa lebih santai dan menikmati atmosfer mall itu.


Gadis yang mengenakan t-shirt lengan pendek berwarna kuning dengan rambut yang diikat poni kuda melangkah dengan riang sambil melihat-lihat barang di etalase toko. Berbeda dengan dua remaja pria yang berada di belakangnya tampak santai dan cool.


Arsene dan Rainer terpaksa mengantar Fea belanja ke salah satu mall, yang katanya untuk membeli barang-barang untuk kamarnya nanti. Tetapi sudah dua jam lebih mengelilingi mall luas ini, gadis itu belum membeli apa-apa dan malah sibuk mengunjungi dari satu toko ke toko lain yang tidak ada hubungannya dengan dekorasi atau keperluan kamarnya. Kaki mereka sudah pegal, apalagi dengan hati mereka yang juga ikut lelah.

__ADS_1


“Kabur yuk Bang!” ucap Rainer, ketika terlihat olehnya Fea sedang memasuki toko pakaian dalam wanita.


“Hush! Kasian ntar kesasar dia,” ucap Arsene.


“Kan ada Pak Ujang yang bisa dia hubungin. Kita bisa naik taksi online!”


Mata Arsene berbinar, ternyata Rainer bisa juga memunculkan ide bagus. Keduanya lalu mengendap-endap sebelum akhirnya mereka berlari meninggalkan sepupunya yang sedang asyik memilih pakaian dalamnya.


“Kacau kamu, Rain!” ucap Arsene menahan tawanya setelah berhasil menjauh dari toko yang dimasuki oleh Fea.


“Sumpah males banget ngadepin si Fe! Mana dia masuk ke toko underwear lagi!” protes Rain.


“Kita beli minum dulu yuk, haus!” ajak Arsene.


“Yuk!”


Kedua remaja itu memutuskan membeli minuman Thai Tea di salah satu stand yang ada di teras mall itu. Lalu melenggang berjalan keluar sambil tertawa-tawa, tidak ada rasa bersalah sama sekali ketika meninggalkan sepupunya itu. Namun, Arsene sudah menghubungi Pak Ujang, supir pribadi opanya agar menghubungi Fea ketika akan pulang. Pak Ujang sendiri tidak pulang dan sedang menunggu di parkiran mall. Sedangkan mereka memesan taksi online lalu pulang ke kediaman opanya lagi.


Sementara itu, gadis berbaju kuning itu tampak kebingungan ketika ia tidak melihat dua sepupunya di belakang dirinya. Gadis itu berlari keluar toko untuk memastikan kalau keduanya berada di sana, tetapi tidak ada. Ia mulai panik, dan berlari di sepanjang lorong mall sehingga menjadi pusat perhatian para pengunjung.


“Abang Acen! Rain!” teriaknya panik di dalam mall.


Kepalanya menoleh kanan dan kiri, hampir saja tangisannya pecah di sana. Tetapi ponselnya keburu berbunyi.


“Non Fe dimana? Udah mau pulang?” tanya Pak Ujang.


“Abang Acen sama Rain ilang, Pak!” ucapnya panik.


“Tenang Non! Tuan Arsene sama Tuan Rain udah pulang duluan,” ucap Pak Ujang jujur.


Mata Fea melebar, wajahnya merah padam, kesal sekali. Tega-teganya saudaranya itu meninggalkan dia seorang diri di tempat sebesar ini. Apalagi ia tidak kenal dengan Kota Bandung. Ia mengepalkan tangannya, lalu menghentakan kakinya di atas lantai.


“Non, mau pulang kapan?” tanya Pak Ujang lagi karena teleponnya belum ditutup.


“Sekarang aja, Pak! Jemput aku di lobi!”


“Siap, Non!”


Fea berjalan sambil meredam kekesalannya pada dua sepupunya. Ia berjalan sambil menghentakan kakinya. Tangannya menyilang di depan dadanya. Wajahnya cemberut, bibirnya membulat. Ia berjanji akan membalas perbuatan Arsene dan Rainer nanti.


Lihat saja! ujarnya dalam hati.


\=====


Bersambung dulu yaa...


Jangan lupa tinggalkan komentarmu setelah ini


Tombol LIKE juga diklik


Udah gitu pergi ke beranda novel ini dan klik VOTE, kirim poin yang kamu punya untuk dukung terus Author


Kamu juga boleh kirim koin, klik tombol bintang aja kalau punya


Hihi

__ADS_1


Makasiiih ^_^


__ADS_2