
Salah satu mall besar di Kota Bandung yang menjual perlengkapan elektronik terlihat cukup sepi malam itu. Memang hari ini bukan weekend, jadi pasti pengunjung tidak akan ramai berada di dalamnya.
Ferdian memilih sebuah ponsel keluaran merek terkenal dengan spesifikasi tercanggih. Ia mengeluarkan kartu debitnya dan membayar ponsel itu secara tunai.
"Kamu ada barang yang perlu dibeli gak?" tanya Ferdian kepada Ajeng.
"Apa ya?" pikir Ajeng.
"Butuh hp baru?"
Ajeng menggeleng.
"Emangnya kamu, sekalinya marah langsung lempar hp sampai rusak! Enak banget ya?" sindir Ajeng.
"Hehe! Gak gitu lagi deh, janji!" ucap Ferdian menyengir mengingat tingkah bodohnya itu.
Ajeng tertawa mendeliknya.
"Makan yuk! Aku ajak kamu ke cafe aku, belum pernah kan?" tawar Ferdian. Ia memang sama sekali belum pernah mengajak istrinya ke cafenya yang berada di dekat kampus lain. Belum sempat, alasannya.
"Boleh," jawab Ajeng.
"Tapi aku yang nyetir mobil ya?" paksa Ferdian.
"Iya deh!"
Ferdian mengambil kunci mobilnya dari tangan Ajeng. Kemudian, keduanya menuju kawasan Dipati Ukur yang cukup ramai karena banyak mahasiswa yang berlalu-lalang untuk mencari atau menikmati makan malam. Pria itu memarkirkan mobilnya di sebuah cafe yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Interior yang didominasi dengan furniture kayu, taman, dan kaca ini membuat suasana cafe terasa nyaman. Apalagi saat malam, lampu-lampu hias kecil yang redup membuatnya semakin hangat dan romantis. Ajeng baru tahu, ternyata cafe milik Ferdian ini cukup menawan juga.
Ferdian mengajak Ajeng untuk duduk di sebuah sofa yang nyaman di pojok taman yang dihiasi lampu-lampu temaram. Live music biasanya diadakan ketika weekend saja. Jadi malam ini hanya ada alunan lagu-lagu saja yang terputar melalui pemutar musik.
"Hey bos! Kok baru kesini lagi, sih?" sapa seorang pria muda berkaus hitam dengan garis merah di bagian lengan, seragam para karyawan cafe.
"Biasa, pengantin baru, sibuk!" jawab Ferdian, menjabat tangan pria itu.
"Gaya lah, yang pengantin baru mah! Udah isi belum bos?"
"Ini mau ngisi perut," jawab Ferdian menepuk perutnya, membuat pria itu menggeleng-geleng tertawa.
Ajeng tersenyum saja kepada pria itu. Begitu pula dengan karyawan cafe yang lain, menjabat tangan dan menanyakan kabar Ferdian yang sudah lama tidak muncul.
Ferdian memang tidak terlalu banyak terjun ke lapangan dalam bisnisnya itu. Ia lebih banyak mengontrol via komunikasi online saja, biasanya ia mengunjungi cafe miliknya itu dalam 3 atau 5 bulan sekali. Pengawasan penuh dilakukan oleh kakak-kakak Ferdian yang lain yang bertindak sebagai CEO pusat dari perusahaan ayahnya. Cafe milik Ferdian hanyalah salah satu bagian dari anak perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang kuliner. Ayah Ferdian sengaja merangkul anaknya yang masih kuliah ini untuk menjadi pebisnis, dengan harapan suatu hari nanti ia siap memimpin perusahaan milik ayahnya yang memiliki banyak anak perusahaan.
"Kenapa dulu kamu gak masuk jurusan bisnis aja, Fer?" tanya Ajeng menyeruput segelas mojito leci.
"Gak tahu juga, sih! Aku lebih minat masuk ke sastra daripada bisnis," jawab Ferdian mengaduk chocolatte-nya.
"Pusing ya?" tebak Ajeng.
"Ya gitulah, ngurusin bisnis emang pusing! Kalau gak karena dapat bantuan dari Kak Resha dan Kak Damian, mungkin aku juga bakal keteteran," terang Ferdian.
"Terus rencana sehabis lulus kuliah mau apa?" tanya Ajeng lagi.
"Fokus ke bisnis pastinya! Entah mungkin aku lanjut kuliah lagi masuk jurusan bisnis," jawab Ferdian menyuap fussili carbonara-nya.
"Lucu kamu, bukannya dari awal masuk jurusan bisnis kalau emang mau fokus ke bisnis kamu," ucap Ajeng.
Ferdian tertawa saja.
"Terus kendala selama berbisnis ini apa aja?"
"Ya, lihat grafik penjualan yang naik turun. Pas awal berdiri, grafik penjualan terus naik, omset bagus, cashflow juga lancar. Sekarang, kadang suka gigit jari," terang Ferdian bersandar di sofanya.
"Kenapa emangnya?" tanya wanita yang memang tidak mengerti dunia bisnis sama sekali.
"Tingkat konsumsi dan belanja masyarakat terus turun. Itu karena harga kebutuhan semua sektor sedang tinggi, jadi untuk memuaskan kebutuhan tambahan mereka, semacam pergi makan ke tempat-tempat kaya gini itu, agak sulit. Karena mereka pasti lebih fokus memenuhi kebutuhan pokoknya dulu, kalau ada sisa baru deh bisa jalan. Tapi kalau gak ada, ya bye-bye," jelas Ferdian.
"Iya sih, kalau bisnis kuliner cafe gini mungkin harus terus mengandalkan promosi yang menarik minat konsumen ya?"
"Betul! Makanya tiap minggu, aku selalu minta tim marketing untuk membuat promosi apa saja agar konsumen bisa datang! Setelah ada promosi, mereka baru datang,"
"Terus gimana setelah promosi itu? Maksudnya keuntungan dari bisnis kamu meningkat?"
"Keuntungan meningkat, tapi karena ada promosi jadinya memang harus bisa mengatur keuangan dengan baik, bisa-bisa kalau salah perhitungan, ya jadinya rugi!"
__ADS_1
"Hmm..rumit juga ya?"
"Iya, kebayang aja untuk orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang punya usaha. Udah biaya produksi melambung, tingkat konsumsi masyarakat menurun, dan yang mereka dapatkan hanya keuntungan yang kecil. Makanya banyak usaha yang gulung tikar sebelum mereka untung,"
"Miris banget ya nasib UKM kaya gitu, duh jadi inget Papa juga deh, waktu aku kecil dulu kan jatuh bangun bisnisnya luar biasa. Untung aja ayah kamu masih mau bantu. Mungkin gak akan kaya gini kondisinya seandainya gak ada ayah kamu!"
"Bisnis itu emang didorong dari seberapa besar tekad kita untuk maju dan sukses, dengan cara apapun pasti bisa. Meski kelihatannya saat itu tidak mungkin dan Papa punya tekad dan semangat itu demi keluarganya!"
"Iya kamu betul Fer! Dan aku bersyukur Papa bisa mempertemukan kita," ucap Ajeng tersenyum.
Ferdian menggenggam tangan Ajeng, mereka kembali menikmati hidangan makan malam yang tersaji di atas meja makan mereka.
\=====
Tak terasa waktu terus berlalu dan dunia terus berputar. Mahasiswa-mahasiswa akan menghadapi ujian akhir semester (UAS) di pertengahan tahun ini. Para dosen sibuk membuat dan menyusun soal-soal ujian. Berpacu dengan waktu yang terbatas, mereka semua mengerahkan segala kemampuan agar UAS berjalan dengan lancar dan baik.
Malam itu, Ajeng berusaha meramu soal-soal grammar untuk kelas yang diajarnya. Ia sendiri mengajar untuk mahasiswa semester satu dan semester lima di tahun ini. Jadi, untuk membuat soal ujian pun akan memakan waktu yang tidak sebentar. Ajeng akan membuat soal ujian dalam bentuk online, sehingga ia akan memudah memeriksanya ketika mahasiswa-mahasiswanya selesai mengerjakan ujian. Ah, benar-benar akan menjadi hari yang sibuk selama setidaknya sebulan ini bagi dirinya.
"Kamu mau tidur jam berapa?" tanya Ferdian menaruh segelas hot chocolate di atas meja kerja Ajeng.
"Belum tau, Sayang!" jawab Ajeng, tatapannya tidak bergerak dari layar laptopnya.
Ferdian menghembuskan nafasnya.
"Kamu kalau mau tidur duluan aja," ucap Ajeng mendengar hembusan nafas kasar suaminya.
"Tapi aku mau dikelonin dulu!" protes Ferdian cemberut.
Wanita yang sedari tadi fokus dengan laptopnya, kini membalikan kursinya. Ia tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu, benar-benar manja seperti anak kecil. Ajeng berdiri di hadapan pria itu dan memeluknya.
"Tidur duluan ya, Sayang! Besok pagi kan kamu ada ujian, atau mau tunggu aku tidur?" tanya Ajeng menengadahkan wajahnya menghadap suaminya yang lebih tinggi sekitar 20 cm dari tubuhnya.
Raut wajah Ferdian tetap cemberut.
"Aku tunggu kamu aja deh sambil belajar!" jawabnya kemudian.
"Oke deh!" Ajeng mengecup pipi suaminya itu dan kembali ke meja kerjanya.
Ferdian mendeliknya kesal, kemudian ia duduk di sofa sambil membaca beberapa modul untuk ujian mata kuliah sastra periode Rennaisance.
\=====
Lorong-lorong gedung di setiap kelas terasa sepi. Mahasiswa-mahasiswa sepertinya benar-benar fokus dalam menghadapi ujian akhir semester ini. Ajeng berjalan mengawasi jalannya ujian di kelas Ferdian. Mereka semua tampak tegang melihat dosen cantik itu berjalan mondar-mandiri sambil mengawasi gerak-gerik mahasiswa yang mengerjakan ujian lewat laptop milik mereka masing-masing. Ajeng hanya khawatir jika ada mahasiswanya yang melakukan kecurangan seperti meminta jawaban melalui chat, email, atau yang sejenisnya. Sehingga ia akan memasang mata terhadap semua layar laptop milik mahasiswanya, tidak terkecuali Ferdian.
Ferdian tersenyum setiap kali istrinya itu mengawasinya.
"Fokus ya!" tegas Ajeng memperingatkan suaminya, membuat Ferdian terkekeh sambil menunduk.
Mahasiswa-mahasiswa lainnya tentu tak bisa menyorakinya, mereka hanya berusaha menahannya. Mereka khawatir akan dikeluarkan dari kelas jika melakukan hal itu. Maklum saja, Ajeng merupakan dosen yang tegas dan tidak pilih kasih ketika mengajar. Ia benar-benar profesional.
"Sumpah, gue tegang banget pas ujian tadi!" ujar Syaiful ketika ujian sudah berakhir dan dosennya itu sudah keluar ruangan.
"Sama! Istri Lo emang nyeremin banget kalau lagi ujian, Men!" ujar Ghani menepuk bahu Ferdian.
"Gue aja disemprotnya, padahal cuma ngasih senyum doang!" ucap Ferdian merapikan isi tasnya.
"Kocak lah! Tadi gue sakit perut nahan ketawa takut kedengeran pas Lo disemprot Miss Ajeng!" seru Danu tertawa-tawa.
"Yuk ah, lanjut ke atas, siap-siap lagi ngerjain ujiannya Ardi!" ajak Malik.
Kelima pria heboh itu pun pergi dari kelas dan pindah menuju ruangan di lantai 4, untuk kembali mengerjakan ujian lainnya.
Malam itu, masih malam-malam sibuk lainnya. Ajeng tengah memeriksa hasil ujian mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja hal itu membuat Ferdian, lagi-lagi cemburu dengan aktivitas Ajeng yang seharusnya dialokasikan untuk dirinya. Apalagi tadi siang, ia sempat kena peringatan gara-gara tingkah usilnya itu.
Ferdian merubuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia menyalakan televisi dan memindahkan stasiun televisi secara acak dan cepat. Tidak ada acara seru di sana. Ia kembali mematikan televisi. Kemudian beralih ke dalam kamar. Ia berusaha memejamkan mata, tetapi dirinya tidak bisa tidur. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendesaknya untuk segera dikeluarkan.
Ferdian berjalan keluar dari kamarnya, dan melangkahkan kakinya menuju Ajeng yang sedang fokus. Tangan pria itu membelai lembut rambut istrinya dan menggenggam rambut panjangnya. Tak ada respon dari sang empunya rambut. Kini ia beralih mendaratkan sebuah sentuhan ke ceruk leher wanitanya itu, membuat wanita itu bergidik.
"Fer, bisa tolong gak ganggu dulu, sebentar aja?!" pinta Ajeng menatap tajam suaminya.
"Kamu mau sampai kapan ngerjain kerjaan kamu?" tanya Ferdian, nadanya ketus.
"Aku mau selesaikan hasil ujian kelas kamu," jawabnya.
__ADS_1
"Sampai kapan?" tanya Ferdian lagi nadanya meninggi.
"Aku gak tahu, pokoknya aku mau selesaikan!" jawab Ajeng kembali menatap layar laptopnya.
"Oh gitu! Jadi sekarang lebih penting kerjaan kamu ya dibanding aku?" ketus Ferdian.
"Bukan gitu, Fer! Kenapa sih kamu sensitif banget?" tanya Ajeng yang kembali membalikan tubuhnya pada suaminya.
"Ya udah kalau emang aku gak penting, aku tidur aja!" ucap Ferdian kesal, ia kembali ke kamar dan membanting pintu kamarnya.
Ajeng menghela nafasnya melihat tingkah laku suaminya. Namun, bukannya menghampiri suaminya itu, Ajeng justru kembali mengerjakan pekerjaannya.
Di dalam kamar, Ferdian menahan amarahnya. Ia berusaha meredamnya dengan membenamkan wajahnya di bawah bantal. Nafsu amarah yang menguasainya membuatnya semakin marah. Apa memang Ajeng menganggapnya tidak jauh lebih penting daripada hasil ujian mahasiswanya? Nafas pria itu terdengar menderu kasar, membuatnya terbangun dan keluar kembali dari kamar.
"Aku mau pergi!" ucap Ferdian ketus, ia menyambar jaketnya dan melangkah dengan terburu-buru keluar dari apartemennya.
Ajeng terkejut melihat suaminya. Hatinya merasa tegang.
"Kamu mau kemana, Sayang?" sergah Ajeng.
"Kemana aja!" jawabnya singkat, kemudian dengan kasar ia menutup pintu utama.
DEG.
Ajeng merasa serba salah telah memperlakukan suaminya seperti tadi. Jelas, Ferdian pasti merasa tersinggung ketika dirinya justru lebih fokus pada kerjaannya. Ajeng menyesal karena sudah seharusnya hal ini tidak terjadi.
Dengan segera Ajeng mencari cardigannya dan memakainya. Waktu sudah menunjukan pukul 22.19, sudah terlalu larut bagi seorang perempuan untuk keluar. Hanya saja ia berniat untuk menyusul Ferdian yang pasti belum berada jauh dari apartemennya. Ajeng menaiki lift apartemen menuju lantai bawah.
"Pak, tadi lihat suami saya, Ferdian?' tanya Ajeng kepada pihak keamanan yang bertugas.
"Enggak, Bu!"
Ajeng kebingungan, ia berlari keluar apartemen. Lalu berjalan menuju halaman parkir, namun ia tidak menemukan sosok suaminya itu dimana-mana.
'Kemana Ferdian pergi?' tanyanya dalam hati. Ia khawatir jika pria itu kecelakaan lagi seperti waktu itu.
Ajeng menangis seorang diri di halaman gedung apartemen, menyesali tindakan bodohnya yang mengabaikan suaminya. Ia kembali berjalan masuk ke dalam gedung apartemennya. Dengan langkah gontai, ia memasuki lift dan kembali ke kamarnya. Ia hanya bisa menangisi dirinya yang bodoh dan berpikiran yang tidak-tidak mengenai suaminya.
BUG.
Tiba-tiba saja seseorang menubruknya keras ketika baru saja langkah kakinya menapakan di lantai dimana huniannya berada.
"Kamu darimana?" teriak Ajeng sambil menangis, ketika sadar bahwa yang menubruknya tadi adalah suaminya sendiri.
Ferdian tampak terlihat panik juga tegang.
"Kamu darimana? Kenapa gak ada di dalam kamar?" Ferdian malah bertanya balik memegang tubuh istrinya itu di koridor apartemen lantai 15.
"Aku kejar kamu keluar, tapi kamu gak ada dimana-mana!" ucap Ajeng lirih, air matanya belum berhenti. Hatinya bertanya kenapa Ferdian masih ada di lantai 15, bukannya tadi ia sudah keluar?
Ferdian memeluk tubuh istrinya erat-erat dan membawanya kembali ke dalam huniannya.
"Barusan aku dari rooftop, cari udara segar aja!" jawab Ferdian mendudukan dirinya dan Ajeng di sofa.
"Pas aku balik lagi, aku cari kamu tapi gak ada! Aku panik dan hendak cari keluar!" lanjutnya lagi.
Ajeng menangis lirih, menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Sementara Ferdian mengeratkan pelukannya.
"Maafin aku, aku gak bermaksud buat kamu marah! Aku hanya ingin kerjaanku cepat selesai!" ucap Ajeng, suaranya bergetar.
"Maafin aku juga, aku gak ngertiin kamu. Meski sebenarnya aku sedang membutuhkanmu!"
Ferdian mengusap lembut pipi Ajeng dan menghapuskan air mata yang berderai di sana. Kemudian mencium keningnya lembut.
"Kita istirahat ya?" pinta Ferdian.
Ajeng mengangguk dan menuruti permintaan Ferdian.
Meski malam sudah larut, namun ternyata hasrat dalam diri Ferdian begitu besar kepada istrinya. Sehingga pria itu tak bisa lagi menahan apa yang ada di dalam tubuhnya. Dengan sentuhan-sentuhan lembut yang memabukan, ia berhasil meraih puncak kenikmatan dunia dalam gelapnya malam yang dingin.
\=====
Jangan lupa VOTE & LIKE
__ADS_1
Kasih masukannya juga yaa
Makasiiiiih ^^