Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 56. Titipan


__ADS_3

Zaara hendak melenggang masuk menuju kamarnya setelah mengucap salam. Namun Karin keburu membuat langkah gadis itu terhenti, ketika menanyakan perihal jaket denim hitam yang cukup besar yang kini sedang dipakainya.


Zaara benar-benar lupa, ia tidak langsung mengembalikan jaket itu pada Arsene sebelum dirinya masuk. Bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya itu? Ia benar-benar salah tingkah.


“Neng Zaara, itu punya siapa?” tanya Karin lagi.


Tiba-tiba Zayyan masuk diikuti oleh Arsene di belakangnya sambil mengucap salam. Karin yang tidak menutup aurat segera berlari menuju kamarnya untuk mengenakan gamis dan khimarnya.


Melihat kesempatan itu, Zaara berlari keluar. Arsene dan Zayyan memandang ke arahnya dengan terheran-heran. Zaara melepas jaketnya, dan menaruhnya di atas motor Arsene. Ia berjanji akan mengucap terima kasih dan maaf setelah ini.


“Ngapain Teh?” tanya Zayyan melihat Zaara yang sudah kembali.


Arsene sudah duduk di ruang tamu bersama Zayyan di sampingnya.


“Makasih ya Sen, maaf aku taruh jaketnya di motor kamu!” ucapnya penuh sesal dengan membungkukan badannya.


“Yee, si teteh gak sopan!” sahut Zayyan.


“Ssst ... jangan sampai ketauan umi! Please!” ucap Zaara pada kedua pria yang sedang duduk itu sambil menangkupkan kedua tangannya.


Arsene jadi berusaha menahan tawanya melihat tingkah laku Zaara yang terlihat serba salah, terlihat menggemaskan sekali.


“Siap!” jawab Arsene singkat.


Arsene jadi teringat kue yang dibawanya tadi, ia masih menggantungnya di stang motornya.


“Ra, itu ada kue di motor, bisa tolong ambilkan?” pinta Arsene.


“Kue?” tanya Zaara.


Arsene mengangguk. Zaara berjalan lagi keluar dan melihat ada sebuah kantong putih berisikan sebuah kotak dus kecil persegi panjang. Gadis itu mengambilnya lalu kembali masuk ke dalam.


“Itu buat Umi Karin, eh, Tante Karin!” ucap Arsene. “Bawa aja!” lanjut Arsene.


“Ah, makasih! Aku ke belakang dulu ya,” pamit Zaara.


Arsene tersenyum saja.


Tak lama Karin keluar dari kamar, menemukan Zaara yang tengah tersenyum sambil membawa kotak kue, wanita yang kini sudah menutup auratnya mencegat anaknya itu.


“Apa itu?” tanyanya penasaran.


“Kue!” jawab Zaara.


“Dari Arsene?”


Zaara mengangguk-angguk, dan membuat ibunya itu sumringah. Karin memang sangat menyukai kue-kue dari toko Arsene apapun jenisnya.


“Cepet kirim CV kamu. Kasian nungguin lama!” seru Karin.


“Iya, Mi! Habis isya aku kirim nih!”


“Mantap!” Karin memberikan satu jempolnya pada putrinya itu dan langsung berjalan ke ruang tamu sambil membawa bingkisan dengan kantong berwarna ungu.


“Sehat, Sen?” sapa Karin pada anak muda yang tengah berbincang dengan Zayyan.


“Alhamdulillah, Tante!”


“Maaf ya jadi ngerepotin. Ini Tante titip pesanan mommy Ajeng. Eh kalian kok barengan?” tanya Karin yang baru menyadarinya.

__ADS_1


“Tadi ketemu Abang Arsene di masjid, Mi!” ucap Zayyan.


“Ooh…” ucap Karin, ada sesuatu yang menggelitiki hatinya.


Arsene mengambil bingkisan yang sudah berada di atas meja dan menaruhnya di dalam tas ranselnya.


“Saya langsung pulang aja, Tante!” pamit pria muda itu.


“Eh, gak mau minum dulu atuh? Ra… buatin minum!” teriak Karin pada Zaara.


Namun lekas-lekas Arsene menolaknya halus karena memang malam juga sudah larut.


“Makasih banyak Tante, lain kali aja! Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Karin dan Zayyan membalas salamnya.


Karin dan Zayyan mengantar pemuda itu menuju motornya. Sekilas Karin melihat seonggok kain yang tergeletak di atas motor Arsene, kain tebal berwarna hitam yang kemudian Arsene pakai.


Arsene mengangguk setelah mengenakan helmnya dan melajukan motornya menuju rumahnya malam itu.


Karin dan Zayyan kembali masuk ke dalam rumah. Banyak kecurigaan di dalam benak Karin untuk anaknya dan Arsene, ia langsung mengetuk kamar Zaara.


“Ra!” panggil Karin.


Zaara membuka pintu kamarnya.


“Kenapa Mi?”


“Umi tau jaket yang tadi punya siapa,” ucap Karin tersenyum menyeringai penuh intrik.


Mata Zaara membesar.


“Punya Arsene kan?” tebak Karin.


“Kok bisa kamu pakai jaketnya dia? Dan tadi kalian ketemuan di masjid? Ngapain aja di sana?” tanya Karin menginterogasi dan berusaha mengkonfirmasinya.


Diberondong dengan banyak pertanyaan itu sekaligus, membuat Zaara kebingungan.


“Sebentar Umi, duduk dulu, dan denger Zaara dulu! Umi jangan pikir yang aneh-aneh ya?” pintanya.


“Coba jelasin semuanya!”


Zaara terdiam sebentar lalu duduk di atas kursi meja belajarnya dan menghadap ke arah ibunya yang duduk di samping matras tempat tidurnya.


“Jaket itu emang punya Arsene, terpaksa Zaara pinjem karena tadi sempet menggigil pas mau pulang, khawatir hipotermianya kambuh lagi. Tapi di sana ada Zayyan kok, Mi! Kita udah di parkiran motor.”


“Terus?”


“Arsene emang ke masjid dan kita ketemu di sana, tapi sebentar aja dan gak ada apa-apa. Dia cuma tanya aku belum pulang. Setelah Zayyan datang, kita kesini bareng-bareng.” Zaara berusaha menjelaskan semuanya agar tidak terjadi salah paham.


Karin sedikit bernafas lega mendengar penjelasan putrinya.


“Kalian tuh mulai sekarang harus tambah hati-hati, jangan sampai sering bertemu di luar rumah ini. Umi khawatir, apalagi malam-malam gini. Jangan sampai salah kirim lagi pesan yang bikin dia khawatir. Meskipun sebenarnya kalau udah khitbah, dia boleh aja lihat kamu. Umi berharapnya, proses ta’aruf kalian gak usah lama-lama. Dua bulan atau tiga bulan, cukup. Kayanya liburan semester waktu yang cocok untuk kalian nikah!”


“Apa?!” ucap Zaara refleks.


“Ya Allah, semoga anak-anakku selalu Engkau lindungi!” Karin berdoa penuh harap.


“Lebih cepat lebih baik kan? Biar kalian sama-sama terjaga,” lanjut Karin.

__ADS_1


“Iya sih. Tapi….”


“Shalat istikhoroh lagi dan minta Allah memantapkan pilihan kamu selama proses ta’aruf ini. Jangan lupa kirim CV-nya!” seru Karin lalu meninggalkan anaknya yang masih terkejut.


Ujian akhir semester berkisar dua bulan lagi, setelah itu liburan akan dimulai. Meskipun liburan semester tidak lama, tetapi jika ia melangsungkan pernikahan pada saat itu mungkin memang cukup baik. Tetapi ta’arufnya saja belum dimulai karena CV ta’aruf miliknya belum dikirim. Ia sendiri belum membaca CV ta’aruf milik Arsene, karena ia akan membacanya jika ia sudah mengirim miliknya agar adil. Zaara bergegas membuka laptopnya dan memeriksa CV miliknya sebelum dikirim.


\=\=\=\=\=


Sementara itu di dalam kamar tidurnya, Arsene baru saja menyelesaikan shalat isya-nya. Pria itu mengambil mushafnya dan melantunkan beberapa lembar ayat suci Al-Quran dalam heningnya malam. Doa dipanjatkan setelahnya dengan hati yang merendah dan harapan yang membumbung tinggi, berharap agar semuanya berjalan dengan lancar.


Perasaannya tidak karuan setelah bertemu dengan Zaara. Rasa yang dimilikinya, harus ia akui, semakin besar saja. Ia meminta agar Allah mengendalikan perasaannya itu semua. Ia tidak ingin terjebak pada rasa cinta sebelum pernikahan. Maka hal itu juga disampaikannya kepada Tuhannya.


Arsene akan berusaha mengendalikan hatinya, ia berkomitmen untuk tidak menemui Zaara di luar rumah gadis itu. Meskipun mungkin mereka akan tetap bertemu di kampus, hanya saja ia akan berusaha untuk tidak melakukan kontak mata atau bertemu secara langsung. Ia akan menghindarinya sesaat demi menjaga hati.


Tring. Tiba-tiba sebuah bunyi notifikasi muncul dari ponselnya. Ia mengabaikannya dan terus bermunajat. Sampai akhirnya rasa lelah mengalahkan tubuhnya, ia memutuskan untuk langsung tidur malam itu.


Bunyi-bunyi serangga malam bernyanyi bersahutan pada dini hari itu. Setelah hujan semalam, keheningan dan rasa dingin belum meninggalkan Kota Bandung. Arsene terbangun setelah dikejutkan oleh bunyi alarm dari ponselnya. Pria itu menggosok-gosok matanya. Bangun di sepertiga malam kali ini sudah menjadi kebiasaannya, setelah sejak masuk kuliah mencoba membentuk habit itu dengan susah payah.


Arsene pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan melaksanakan tiga jenis shalat, shalat tahajud, shalat hajat, dan shalat istikhoroh. Masih dengan harapan dan doa yang sama seperti sebelumnya.


Namun sebelum meminta sebuah harapan, ia selalu memposisikan dirinya rendah, tidak berdaya, dan tidak ada apa-apanya. Ampunan selalu diungkapkan terlebih dahulu agar doanya itu tidak tersangkut di awan, tetapi langsung diterima dan didengar oleh Allah di langit tertinggi.


Arsene bersimpuh di atas sajadah dengan tangan menengadah ke langit bagai pengemis yang meminta belas kasih. Kini ia memanjatkan harapannya kembali. Hatinya sudah lebih tenang dan damai. Adzan subuh berkumandang, membuat ia pergi keluar dari kamar untuk shalat subuh berjamaah di masjid.


Bersamaan dengan itu, Ferdian juga keluar dari kamar tidurnya.


“Rain gak dibangunin?” tanya Ferdian melihat Arsene sudah rapi dengan kemeja kokonya.


“Misscall gitu?”


“Bangunin aja!”


Arsene mengambil telepon rumahnya, dan menekan nomor milik adiknya itu. Tak lama, Rainer keluar dengan mata sipitnya yang rapat. Ia turun perlahan.


“Cepet Rain!” seru Ferdian, melihat anaknya yang belum mengambil air wudhu itu.


“Hmm….”


Ketiganya melangkahkan kaki ke masjid yang tidak jauh dari rumah mereka.


Beberapa saat mereka kembali. Langit subuh masih gelap, tetapi kicauan burun telah ramai untuk mengais rezeki.


“Kamu udah buka grup WA semalam?” tanya Ferdian di perjalanan menuju rumah.


“Grup apa?” tanya Arsene polos.


“Grup ta’aruf! Zaara udah kirim CV-nya, pasti belum buka ya?” tebak Ferdian.


Arsene tertegun, beberapa detik kemudian ia berlari meninggalkan ayah dan adiknya di belakang. Ia sudah tidak sabar membaca CV ta'aruf milik Zaara.


"Kemana Cen?" teriak Ferdian.


"Olahraga!" jawabnya sambil membalikkan badan dan tersenyum lebar.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung


Rajin vote poin dan koinnya yaa, hihi

__ADS_1


jangan lupa like dan commentnya juga


Makasiiih ^_^


__ADS_2