Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 7


__ADS_3

Arsene memarkirkan motornya di depan tokonya pagi itu. Toko masih tutup, ia membuka rolling door dan memasukinya. Tidak lama kemudian datang pegawainya yang bertugas untuk kebersihan pagi.


“Eh Bang datang lebih pagi?” sapa anak muda lulusan SMP itu. Meski hanya lulusan SMP, anak muda itu bekerja giat dan rajin. Arsene sering memberinya bonus karena selalu datang tepat waktu untuk bekerja.


“Iya, Cep! Mau rapat dulu!”


“Ooh… saya ke dapur dulu Bang!” pamitnya yang akan langsung bekerja.


“Mangga!”


Tidak lama berselang lagi, mobil mpv merah milik Alice datang, disusul dengan dua asisten yang bekerja di hari normal. Asisten chef Arsene sudah bertambah dua lagi, biasanya mereka akan bergantian bekerja di hari biasa dan bekerja bersamaan di hari weekend yang biasanya akan selalu penuh pengunjung.


Seorang wanita berhijab modis turun dari mobil Alice. Arsene memicingkan matanya sambil bertanya-tanya siapa dia. Apakah itu saudara sepupunya? Benar saja itu Alice. Baru kali ini Arsene melihatnya mengenakan hijab segi empat yang menjulur menutupi dadanya. Outfitnya masih terlihat modis dengan atasan blouse terracotta dan celana kulot abu gelap. Arsene benar-benar tidak menyangka sepupunya akan berubah secepat ini, padahal kemarin ia masih mengenakan pakaian seperti biasanya.


“Kak Al?!” tanya Arsene memastikan ketika wanita berusia 25 tahun itu memasuki toko.


“Iya dong, ini gue!” ucapnya tegas seperti biasanya.


“Masya Allah, alhamdulillah!” ucap Arsene antusias.


“Gue masih belajar nih! Doain istiqomah ya? Gue belum bisa pake pakaian kaya Zaara, senggaknya ini juga udah bikin nyaman.”


“Gapapa Kak! Ini juga udah masya Allah luar biasa!” puji Arsene.


Alice tersenyum dan berjalan menuju mejanya, ia menaruh tas kecilnya di lemari di bawah laci. Kembali berjalan menghampiri sepupunya, ia duduk di sana.


“Masih cantik kan, gue?!” tanyanya.


“Makin cantik malah Kak!” seru Arsene.


“Wueees ada Bu Haji!” seru salah satu asisten chef paling ribut, Anton.


“Aamiin!” ucap Alice. “Jangan bully gue ya Ton!” seru Alice lagi.


“Gak atuh, Bu Haji! Kan ini doa, biar Kak Al bisa cepet naik haji!”


“Ya ya, aamiin deh!”


Semua terkagum-kagum dengan penampilan baru Alice. Hari ini adalah hari kesepuluh sejak Arsene memberi nasihat pada sepupunya itu. Alhamdulillah, Allah membukakan hati Alice sangat cepat.


“Si Lunar belum datang?” tanya Alice.


“Belum. Bentar lagi kayanya!” jawab Arsene. “Eh sama Angga gimana, masih lanjut komunikasi?” tanya Arsene membuat Alice terkejut.


Tiba-tiba perempuan itu memamerkan giginya yang rapi, tersenyum tersipu-sipu.


“Eh ditanya malah nyengir kuda!” keluh Arsene.


“Emangnya gue kuda renggong!”


“Sorry, sorry, Kak! Jadi gimana?”


“Lanjut dong! Dia friendly banget dan kocak juga. Sejauh ini sih gue gak ada masalah sama dia!” jawab Alice. “Lu masih sering ketemu Angga di kampus, Cen?”


“Kita udah beda kelas sih Kak! Kan aku masih kejar semester 6, dia udah semester 8. Tapi kita masih suka ketemu di masjid kalau pas dzuhur. Kebetulan dia masih jadi panitia acara LDK juga buat bulan ini.”


“Oooh…” Alice mengangguk-angguk.


“Kenapa? Mau ketemu?” tembak Arsene.

__ADS_1


“Enggak… enggak!” kilah Alice.


“Jadi gimana udah nentuin mau lanjut ke lamaran?”


“Aduuuh! Gue belum berani ke situ, Cen! Kita masih coba akrab aja dulu. Emang sih sejauh ini gue cocok aja sama personality dia. Lagian gue juga masih mau belajar memantaskan diri. Gue mau coba ikut pengajian, cuma gue bingung ikut pengajian dimana? Gue ogah ikut pengajian sama nenek mah, ya kali nenek-nenek semua!”


Arsene tertawa-tawa.


“Sama Zaara aja Kak! Dia juga terbiasa kok ngisi kajian kecil untuk adik-adik mahasiswa sebelum lahiran ini.”


“Eh seriusan?!” tanya Alice tidak percaya.


“Iya, coba tanya aja langsung. Tapi Kak Al yang ke rumah mertua aku ya?!”


“Boleh?!”


“Boleh lah! Nanti coba dijadwalin aja tiap hari apa, biar dia siap-siap.”


“Aaah… mauuuu!” seru Alice semangat.


Arsene tersenyum menggeleng-geleng, melihat perubahan sepupunya itu ia semakin senang.


Beberapa menit kemudian, Lunar datang. Melihat penampilan Alice yang berbeda, pria itu terkejut.


“Ini Alice?!” tanyanya dengan logat sunda.


“Udah tau nanya! Ssst jangan komen! Duduk langsung rapat!” sergah Alice.


“Galak bener Mbak! Kalau pake kerudung tuh sikapnya dilembutin kek,” komentar Lunar.


“Gue masih belajar nih! Masih penyesuaian, jangan protes!”


Arsene memimpin rapat pagi itu untuk timnya. Rencananya Sweet Recipes akan mencoba promo lain karena kebetulan banyak sekali tanggal-tanggal libur di bulan depan. Jadinya mereka akan memanfaatkan tanggal merah untuk mengadakan promo bagi para pengunjung.


Sweet Recipes memang semakin ramai saja, apalagi setelah Lunar mengundang beberapa foodies untuk memberikan ulasan terkait menu-menu yang ada di Sweet Recipes. Akun media sosial milik Sweet Recipes dan Arsene juga selalu banjir komentar. Hal itu membuat para pengguna akun medsos semakin banyak berkunjung ke toko ini, bahkan hingga luar kota. Akun-akun lain juga banyak yang menanyakan kapan Sweet Recipes akan membuka cabang di kota lain, karena mereka ingin mencicipi patisserie dan dessert yang ada di toko ini.


Arsene sendiri masih mengkaji ulang rencananya untuk membuka cabang, baik peluang, strategi, maupun resiko kecil dan besarnya. Ia tidak ingin salah mengambil langkah dalam bisnis pertamanya itu. Oleh karena itu, pembukaan cabangnya masih akan tertunda hingga waktu yang tidak bisa ditentukannya.


Ashar itu Arsene sholat di masjid kampus. Ia juga akan memastikan kegiatan harian masjid berjalan dengan lancar setelah pukul 16 lewat. Karena pada saat itulah kegiatan mahasiswa dilaksanakan. Ada kajian fikih, Bahasa Arab, sejarah, tahsin, bedah kitab dan bedah media, bahkan politik. Ia sendiri selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kajian sore rutin jika tidak ada agenda yang penting. Oleh karena itu, biasanya Arsene akan pulang ke rumah setelah maghrib.


Angga baru saja menyelesaikan sholat asharnya. Melihat Arsene sedang mengikuti kajian fikih sore itu, pria itu duduk di sampingnya.


“Sen, gue mau curhat nih! Habis maghrib bisa ngobrol?” pinta Angga berbisik.


“Kak Al?” tebak Arsene.


“Iya! Bisa?”


“Oke, gue kasih tau Zaara dulu bakal pulang telat.”


“Nuhun!” bisiknya. Ia mengikuti kajian itu.


Sesuai dengan permintaan Angga, Arsene akan mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah sahabatnya itu selepas shalat maghrib.


“Ada masalah apa lu sama Kak Al?” tanya Arsene.


Meskipun sama-sama anak LDK, karena keakraban mereka sejak lama, membuat mereka tidak mengubah gaya percakapan seperti anak LDK lainnya, yang terbiasa menggunakan ana-antum, atau ana-akhi. Begitu pula ketika bersama Adit yang sama-sama aktif di LDK.


“Enggak sih! Gue selalu diskusi sejak pertemuan pertama gue sama Kak Al. Katanya dia mau berhijab. Lu udah tau?”

__ADS_1


“Iya tadi gue ketemu. Dia udah pake hijab.”


“Alhamdulillah…” ucap Angga lega.


“Terus?”


“Iya. Gue gak nyangka dia berubah secepat itu, padahal gue cuma coba kasih nasihat kecil aja. Ya gue sungkan juga karena belum lama kenal. Dan gue selalu istikhoroh sampai sekarang, hati gue makin mantap untuk ngelamar dia. Menurut lu, apa gue kecepetan buat minang dia?” tanya Angga serius.


Mata Arsene melebar antusias. Hanya saja ia jadi teringat perkataan Alice tadi pagi, kalau sepupunya itu belum siap jika harus melanjutkan ke tahap berikutnya.


Arsene menggaruk-garuk kepalanya.


“Gue rasa sih, gak kecepetan. Bagus malah, niat baik itu harus disegerakan. Tapi…” kalimat Arsene terputus, membuat pria tinggi di sampingnya itu menunggu.


“Tapi tadi aku denger Kak Al belum siap kalau dia harus lanjut ke tahap selanjutnya,” terang Arsene membuat Angga yang sejak tadi duduk tegap, kini membungkuk.


“Lu bisa sabar bentar gak?!” tanya Arsene.


Angga terdiam.


“Dia masih mau memantaskan dirinya buat Allah. Dia bilang, dia mau ngaji. Makanya dia butuh waktu untuk itu,” jelas Arsene.


Hati Angga merasa melayang ketika tahu Alice akan ikut pengajian.


“Oke, gue akan sabar. Gue juga akan berusaha memantaskan diri lagi di hadapan Allah, agar Allah ridho sama proses yang gue lakuin sekarang! Gue udah seneng banget waktu dia bilang mau berhijab. Mungkin ini waktu yang tepat bagi kita untuk sama-sama memperbaiki diri.”


“Mantap! Gue doain kalian berjodoh dan semoga Allah lancarkan proses kalian ini!”


“Aamiiin. Makasih banyak ya Sen! Dah balik sono, gue udah lega.”


Arsene tersenyum, “konsultasi cinta, bayar ya?!” canda Arsene.


“Halah... “


“Eh tapi lu udah ada perasaan cinta belum buat Kak Al?”


“Cinta? Kagak tau sih. Kalau tertarik sih iya.”


“Oh ya udahlah! Gue balik dulu!”


“Emang kalau udah cinta kaya gimana?” tanya Angga menghentikan langkahnya yang sudah akan turun dari selasar masjid.


“Kalau kata Kak Alice sih, yang bikin kita senyam senyum sendiri. Hehehe!”


Angga ikut terkekeh.


“Belum kayanya! Gue cuma berharap cinta itu datang di waktu yang tepat, di saat gue dan dia udah halal dan kita sama-sama butuh!” jawab Angga santai.


“Aseeek jawabannya! Ampun Mas Bro! Gue mah udah bucin duluan sama istri gue sebelum nikah!” jawab Arsene terlalu jujur.


Angga tertawa-tawa mendengar jawaban Arsene yang kini sudah meninggalkannya sendirian. Angin malam semakin dingin bertiup.


\=\=\=\=\=\=


Bonus Episode bersambung


Tetap dukung aku ya dengan like, comment, dan vote kalian


Makasiiih

__ADS_1


__ADS_2