Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 45. Pembicaraan


__ADS_3

Reza dan Zaara baru saja tiba di rumah mereka malam itu. Zaara langsung memberikan pesanan kue itu pada ibunya yang baru saja menyelesaikan shalat isya. Mereka bertiga mendudukan diri di sofa ruang keluarga setelah menunaikan shalat isya. Zayyan yang sudah tidur tidak bergabung di sana. Zaara mengambil kue sus dengan filling durian cream.


“Umi tumben banget makan kue malem-malem?” tanya Zaara setelah menelan kue sus itu.


“Gak tau nih, kue di toko Arsene tuh enak-enak. Kebayang terus jadinya,” jawab Karin menyuapkan eclair cokelatnya ke dalam mulut.


“Umi gak lagi hamil kan?” tanya Reza.


“Enggak lah, udah usia 40-an gini, udah capek bawaannya.”


“Itu Ajeng aja masih bisa hamil, mau gak punya adek lagi?” tanya Reza pada Zaara.


“Kalau Allah ngasih ya mau aja. Kaya Finn itu lucu banget, Mi!” ucap Zaara riang, mengingat Baby Finn yang pernah digendongnya.


“Umi pengennya gendong cucu aja, iya kan Bi?” ucap Karin menyenggol tubuh suaminya.


Mata Zaara membesar. Bibirnya mengerucut.


“Iya, Abi sama Umi maunya punya cucu, mumpung masih muda. Masih kuat gendong-gendong bayi, hehe.” Reza terkikik-kikik.


Zaara berdeham saja mendengar ucapan orangtuanya.


“Eh, kamu udah kasih jawaban buat Raffa?” tanya abinya.


Zaara mengangguk-angguk.


“Apa jawabannya? Kok gak bilang-bilang sama Abi dan Umi?!” tanya uminya terlihat antusias.


“Shalat istikharah Zaara gak bikin hati Zaara sreg sama dia, Mi! Entahlah.”


“Apa kamu naksir seseorang?” tanya uminya lagi.


“Mmh …”


“Perasaan memang belum tentu membawa pada jodoh. Kamu masih muda, gak perlu terlalu mikirin itu. Kalau ada yang datang melamar, hargai dia, dan minta jawaban sama Allah,” ucap Karin mengelus rambut putrinya.


Zaara tertunduk.


“Kalau suka sama ikhwan itu boleh gak sih, Bi?” tanya Zaara, kepalanya masih tertunduk, wajahnya terlihat lesu.


“Cinta itu fitrah, Sayang! Tapi harus ditempatkan pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya. Menyukai lawan jenis itu boleh, tapi harus dijaga,” terang Reza.


“Kalau nolak ikhwan karena kita suka sama seseorang, salahkah?”

__ADS_1


Reza dan Karin saling berpandangan, lalu memperhatikan putrinya lagi.


“Enggak juga. Kamu boleh nerima atau nolak siapapun, asal kembalikan sama Allah. Dengan shalat istikharah, menurut Abi, tindakan itu udah betul.”


“Jadi Raffa udah tau kalau kamu gak bisa terima pinangan dia?” Karin berusaha memastikan hal itu.


“Iya Mi.”


“Ya udah, gak apa-apa.” Karin mengelus lembut lagi rambut anaknya. Ia tahu anaknya pasti sedang menyukai seseorang. Seseorang itu bukanlah Raffa.


Reza menghabiskan kue sus yang tersisa, membuat Karin melebarkan matanya kesal. Apalagi Zayyan belum kebagian. Karin menggeleng-geleng saja melihat tingkah suaminya itu.


“Kamu masih mau nikah muda kalau ada yang lamar lagi?” tanya abinya setelah diomeli istrinya tadi. Ia melihat Zaara yang masih terlihat gusar, seperti ada yang dipendamnya.


“Gak tau, Bi!” jawab Zaara pelan.


“Kalau hati udah komitmen kan?”


Zaara mengangguk.


“Coba tanya sama yang ngasih buku itu ke kamu!”


Zaara terperanjat hatinya. Padahal ia sudah menolaknya kemarin, mengapa abinya masih menyuruhnya untuk menanyakan lagi?


“Raffa?! Kamu kira yang kasih buku nikah muda itu Raffa?!” Reza memastikan kalau anaknya itu tengah keliru. Zaara mengangguk tajam.


Reza terkekeh-kekeh.


“Kok Abi malah ketawa?!” protes Zaara.


“Iya itu bukan Raffa yang kasih. Itu Arsene!”


“Arsene?! Tau darimana Abi kalau buku itu pemberian Arsene?”


“Dia sendiri yang ngaku sama Abi. Lucu banget lagi, minta maaf sambil sujud-sujud ke tangan Abi. Masya Allah anak muda!”


“Kok bisa dia kirim itu sama aku?!”


“Dia juga gak jawab pertanyaan Abi, tapi kayaknya kamu jadi target dia di masa depan.”


DEG.


Mata Zaara berkaca-kaca, wajahnya berseri kemerahan. Hatinya berbunga-bunga, rasanya seperti kupu-kupu tengah beterbangan di taman yang baru saja bersemi. Meskipun begitu ia tidak bisa menyembulkan senyum. Ia harus menjaga hatinya lebih lebih dari sebelumnya. Khawatir setan akan merasuki hati dan pikirannya sehingga dirinya bisa lepas kendali, apalagi keduanya akan saling berkomunikasi untuk berkoordinasi. Biarlah Allah menjaga perasaan itu untuknya.

__ADS_1


“Ra!” ucap Reza membuyarkan lamunannya.


“Kalau nanti kalian berkomunikasi di rapat, tolong jaga diri kamu. Ada celah dikit saja, setan bisa merusak semua. Bilang sama Abi kalau ada apa-apa. Kamu tau apa yang paling berat buat Abi dan para ayah yang punya anak perempuan? Itu adalah menjaga kalian, anak perempuan. Dari hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka.’ Anak perempuan itu istimewa. Mau bantu Abi jadi tameng di neraka?” Reza menatap lekat putrinya itu dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Abi justru berharap, Arsene maju untuk melamar kamu. Abi bisa lihat kalian saling menaruh perhatian satu sama lain. Abi gak masalah dengan usia kalian, Abi malah terkagum-kagum sama dia dan kerja kerasnya. Beda sama Raffa, Abi pun gak merasa sreg sama dia. Tapi, biarlah Allah yang menunjukkan jalan kalian nanti. Jaga perasaanmu, ya Nak?!” lanjut pria itu, masih terus menatap wajah putrinya.


Zaara menunduk dan mengangguk, ia tidak bisa membalas tatapan ayahnya itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga diri dan perasaannya, memohon pada Allah untuk melindunginya.


\=====


Arsene telah mendapatkan nomor ponsel Zaara untuk koordinasi rapat kepanitiaan Idul Adha. Setelah sekian lama berteman, akhirnya pria itu bisa mendapatkannya dengan kebetulan. Meskipun begitu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyalahgunakannya. Pria itu hanya ingin mengkonfirmasi sebenarnya, terkait hubungan Zaara dan Raffa. Tetapi sepertinya sudah tidak perlu, karena ia tahu jawabannya sendiri dari surat yang ditemukannya saat itu.


Siang itu Arsene pergi mengunjungi halaman belakang fakultas, dimana ia telah menanam pohon kelengkeng miliknya. Ia memang jarang mengunjunginya, karena ada petugas yang setiap hari menanamnya. Kini pohonnya sudah lebih tinggi, ia berharap suatu hari pohon itu akan berbuah lebat. Dilihatnya juga pohon mangga milik Zaara yang ada di sebelahnya meski terhalang oleh satu pohon rindang, tinggi pohon mereka sama, dengan daun hijau yang rimbun sesuai usia pohonnya.


Tak disangka-sangka Zaara justru datang juga untuk mengunjungi pohon miliknya. Hatinya berdebar tidak karuan melihat gadis itu sendirian melangkahkan kakinya menuju tempatnya berdiri. Gadis itu berjalan sambil menunduk, entah sadar akan keberadaannya atau tidak. Ia tidak ingin pergi dari sana dulu, ia harus berbicara padanya sebentar saja. Itu yang diinginkannya.


“Ra!” panggilnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya, menatapnya dengan terkejut. Teringat pada buku yang diberikan pemuda itu padanya.


“K-kamu di sini juga?” tanyanya terdengar grogi.


“Boleh tanya sebentar?” tanya Arsene.


“Tanya apa?” Zaara memandang ragu padanya, jarak mereka cukup jauh.


“Apa Raffa dan kamu tidak ada hubungan apa-apa?” tanyanya, ia hanya ingin mengetes saja.


Zaara tertunduk, kemudian mengangguk.


“Aku gak ada apa-apa sama dia. Ada perlu apa kamu tanya itu?” tanya Zaara terheran-heran.


“Enggak, aku cuma pengen tau. So I can stick to my plan (Jadi aku bisa tetap dengan rencanaku)!” ucap Arsene tersenyum kecil lalu berangkat dari sana sambil berlari melewati pepohonan mungil yang sudah ditanami oleh mahasiswa lainnya.


DEG.


Jantung Zaara meledak tiba-tiba bagaikan kembang api yang menyala di siang hari. Zaara tertegun.


\======


Bersambung lagi yaa


LIKE, COMMENT & VOTE jangan lupa


makasiiih

__ADS_1


__ADS_2