Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 81


__ADS_3

Hujan turun lembut di pagi hari yang dingin. Dedaunan terasa segar terlihat karena bermandikan air yang turun dari langit. Seorang perempuan berdiri menadahkan air hujan di atas telapak tangannya, terasa dingin. Ia berdiri di teras balkoni kamar kosnya. Pikirannya menembus ke masa depan, mencoba mempertimbangkan apa yang terbaik untuknya.


 


 


Ia menghela nafas, lalu menghembuskannya panjang. Mau tidak mau ia harus memberi jawaban segera. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil ponselnya. Dicarinya nama orang yang ingin ia tuju.


 


 


"Halo..."


"Halo?"


"Maaf aku ganggu kamu, tapi aku harus segera bilang ini ke kamu!" ucap Nava pada seorang pria di seberang telepon.


"Gimana, tawaran aku yang ketiga kalinya apa diterima?"


"Maaf Ger, aku gak bisa!"


 


 


Hening.


"Sepertinya kali ini aku harus bener-bener nyerah ya?" jawab pria itu terkekeh getir.


"Maaf ya Ger, kamu berhak dapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku."


"No, it's okay! Semoga kamu juga bisa dapatkan laki-laki terbaik seperti yang kamu harapkan," ujar Gerry lembut.


"We're still friends right (Kita masih berteman, kan)?"


"Tentu aja, jangan pernah ngehindar dari aku ya Va?" ucap pria itu.


Nava tersenyum, "Iya, Ger!"


 


 


"Maaf ya, aku jadi ganggu di waktu kerja kamu."


"Gak apa-apa kok, lebih cepat kamu menjawab itu lebih baik. Makasih ya Va!"


"Sama-sama, Ger! Ya udah kalau gitu, kamu lanjutin aja kerja kamu."


 


 


"Va?"


"Kenapa?"


"Doain aku, biar bisa cepet move on dari kamu," pinta Gerry.


"I will!" jawab Nava.


"Thanks, bye!"


"Bye!"


 


 


Sejenak hati Nava merasa lega. Gerry, pria itu memang hebat, sudah ditolak dua kali pun tetap saja berani. Nava hanya berharap kawan SMA nya itu bisa segera mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dirinya. Nava jadi teringat masa-masa SMA nya dulu. Dulu ia pernah menyukainya saat kelas 3 SMA, tetapi entah kenapa rasa sukanya itu ternyata sebatas kagum saja, apalagi setelah ia menyadari bahwa rasa sukanya bukan untuk dia melainkan untuk Andre.


 


 


Ah, Andre. Kali ini nama itu yang membuat hatinya gelisah.


 


 


Hujan di pagi hari semakin deras mengguyur bumi. Debu-debu yang hinggap di dedaunan kini telah luruh oleh guyuran air hujan, membuatnya semakin menampakan warna aslinya, segar dan hijau. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mengatakannya pohon yang indah.


 


 


\====


 


 


Ferdian terduduk di kursi selasar gedung perkuliahan. Ia tengah menunggu kedatangan Ardi, dosen pembimbingnya. Tampaknya hanya akan ada dia sendiri saja mahasiswa yang mengikuti bimbingan perdana di pagi hari ini. Entah kenapa, hatinya merasa cemas dan khawatir. Apa karena dulu ia sempat bertingkah bodoh di depan pria matang itu? Ferdian buru-buru menghilangkan prasangka buruknya. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya itu datang dan menatapnya datar.


 


 


"Kamu sendirian?" tanya Ardi yang membawa tas laptopnya.

__ADS_1


"Sepertinya, Pak!" jawab Ferdian.


"Ya sudah kita ke perpustakaan saja," ujar Ardi. Ferdian berdiri dan berjalan mengikutinya dari belakang.


 


 


Mereka pun tiba di perpustakaan, dan masuk ke dalam ruangan koleksi khusus. Ardi mempersilakan mahasiswanya itu duduk di depannya. Ferdian mengeluarkan semua berkas kertas hasil penelitiannya sementara ini.


"Kenapa buru-buru? Teman-teman kamu yang lain aja masih santai," ucap Ardi mengambil kertas yang dikeluarkannya.


"Saya ingin cepat lulus, Pak!" jawab Ferdian.


Ardi tersenyum, "Mau fokus jadi ayah ya?" tanyanya.


Ferdian tersenyum kaku.


"Bapak gak marah sama saya kan?" tanya Ferdian tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Ardi mengangkat sebelah alisnya.


"Untuk hal aneh yang terjadi waktu dulu," jawab Ferdian ragu-ragu.


Ardi terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


 


 


"Kalau saya jadi kamu, mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama!" ujar pria berjambang tipis itu.


Ferdian tersenyum lega.


"Terima kasih, Pak! Mohon maaf atas kelakuan saya selama ini," ucap Ferdian.


"Sama-sama. Saya baca hasil tulisan kamu dulu ya?"


"Silakan, Pak!"


 


 


Bimbingan Ardi kepada mahasiswanya itu berlangsung kurang lebih satu jam. Ardi menyuruh Ferdian untuk mengeksplorasi masalah-masalah yang akan diangkatnya dalam skripsinya. Ia juga menyuruh mahasiswanya itu untuk memperluas penggunaan kalimat demi kalimat dalam setiap paragraf yang diketiknya. Ardi akan meminjamkan satu buku teori yang mungkin cocok untuk karya sastra yang diteliti oleh Ferdian. Dengan mudah, Ferdian menangkap apa-apa saja yang diinstruksikan dan diarahkan oleh dosennya itu. Ferdian mengucapkan terima kasih banyak karena Ardi bisa memberi banyak ide untuk penulisan skripsinya itu dan tentu saja karena mau meminjamkan buku padanya. Ajeng benar, Ardi sangat profesional dan ia juga sangat baik padanya, meskipun ia pernah membuat dosennya itu tidak nyaman.


 


 


Ardi meminta Ferdian untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya yang kedua, agar ia mendapatkan arahan yang mungkin berbeda dengannya. Sehingga mahasiswanya itu bisa mendapat sudut pandang lain. Tak terasa bimbingan pagi hari itu pun selesai.


 


 


"Sama-sama! Nanti kabari aja kalau kamu udah konsultasi sama dosen pembimbing ke dua kamu," ujar Ardi.


"Baik, Pak! Saya permisi!"


 


 


Ardi mengangguk dan melihat mahasiswanya itu pergi keluar dari ruangan. Ferdian berjalan keluar dari perpustakaan dengan senyuman lebar. Banyak hal yang ada di dalam pikirannya untuk meneruskan penelitiannya. Ia optimis akan lulus sidang di tahun ini, untung saja ia sudah mengambil banyak mata perkuliahan di semester delapan pada saat semester lalu. Jadi kemungkinannya untuk lulus kuliah di tahun ini semakin besar.


 


 


\=====


 


 


"Halo, gimana bimbingannya, Sayang?" tanya Ajeng dalam telepon. Ia duduk di dalam ruangan kerjanya.


"Alhamdulillah, lancar banget," jawab Ferdian.


"Tuh kan, Ardi profesional kan ya?"


"Iya, haha! Aku jadi merasa gak enak terus nih. Tapi tadi aku udah minta maaf juga sih!" jawab Ferdian tertawa-tawa kecil.


"Kamu sih konyol!"


"Gara-gara bucin ini mah!"


Ajeng tertawa-tawa.


"Mau makan siang bareng?" tanya Ferdian.


"Ayo aja sih. Kamu dimana?"


"Aku mau jemput kamu, di gedung dekanat kan?"


"Iya, ya udah aku ke bawah ya?"


"Hati-hati turun tangganya!"


"Iya, Bye!"

__ADS_1


 


 


Ferdian berjalan santai untuk menjemput istrinya di gedung dekanat. Entah ada apa hari itu, dekanat terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada beberapa mobil box yang terparkir di sana. Beberapa office boy mengangkat dus-dus yang diletakan di lobi gedung para petinggi kampus dan dosen itu. Seorang pria yang mengenakan kemeja navy keluar sambil memegang ponselnya yang menempel di telinganya. Ferdian tersentak melihat keberadaan pria itu. Sedetik kemudian, tatapan mata keduanya bertemu, sama-sama dingin dan tajam. Lekas-lekas, Ferdian mengambil ponselnya dan menelepon istrinya kembali.


 


 


"Kamu dimana?" tanya Ferdian, nadanya terdengar dingin.


"Aku lagi turun tangga, kenapa Sayang?"


"Balik lagi aja ke ruangan kamu! Makan di sana aja, jangan turun dulu!"


"Emang kenapa?" tanya Ajeng terheran-heran.


"Pokoknya jangan turun! Kamu nurut sama aku kan?" ucap Ferdian yang intonasi suaranya mulai meninggi.


"I-iya," jawab Ajeng ragu-ragu.


"Hati-hati Sayang, nanti aku hubungi lagi! I love you!"


"I love you too," jawab Ajeng kaku, seraya kembali ke ruangannya. Hatinya penasaran, ada apa sampai-sampai Ferdian memintanya kembali ke ruangannya. Ia melihat ke luar jendela, apakah hujan turun deras lagi? Tetapi tidak, meskipun langit masih mendung bekas hujan tadi. Ia mengeluarkan kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya.


 


 


Sementara itu Ferdian masih berdiri sambil menatap pria yang mencengkeram tangan istrinya beberapa hari yang lalu. Kevin sendiri sebenarnya sedang sibuk mengurusi buku-buku cetakan perusahaannya. Beberapa dosen telah bekerja sama dengan penerbit miliknya untuk mencetak buku-buku ajar untuk mahasiswanya. Jadi ia terjun langsung ke lapangan untuk mengontrol dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.Pasalnya, hari ini pun para dosen akan mempublikasikannya di depan para dosen, staff, juga mahasiswa.


 


 


Ferdian berjalan menuju lobi, ingin mencari tahu ada acara apa di sana. Beberapa standing banner terdapat di sana. Ternyata ada peluncuran salah satu dosen senior FIB siang itu. Ferdian berdiri di sebelah tangga, khawatir kalau-kalau istrinya itu tiba-tiba turun sambil terus menatap Kevin yang sibuk berbicara dengan salah satu pegawainya. Ia terkekeh melihat pria itu. Mengapa bos besar bisa sampai terjun langsung? Bukankah ia bisa saja menunjuk manajer atau pegawainya sendiri, agar tidak perlu sibuk mengurusi hal sepele seperti ini? Atau ada tujuan tersembunyi di balik kedatangannya ke kampus ini. Ferdian memutuskan naik ke lantai tiga gedung itu, menuju ruang dosen Sastra Inggris.


 


 


"Permisi Bu, ada Miss Ajeng?" tanya Ferdian ke salah satu staff di ruangan dosen Sastra Inggris.


"Cari istrinya Nak?" tanya staff yang sudah berusia senja.


"Hehe, iya!"


 


 


Staff perempuan tua itu pun berjalan menuju meja Ajeng dan memberitahunya kalau suaminya itu menunggunya di depan pintu. Ajeng yang baru menyelesaikan makan siangnya lekas-lekas membereskan kotak makan siangnya. Ia lalu berjalan menuju pintu.


 


 


"Kamu ngapain kesini?" tanya Ajeng saat melihat Ferdian sedang melihat-lihat majalah dinding yang ada di koridor lantai itu.


"Jemput kamu!"


"Kok gak nunggu di bawah? Malah disuruh balik lagi ke ruangan, emang ada apa sih?"


"Udah selesai makannya?" bukannya menjawab pertanyaan Ajeng, Ferdian malah bertanya balik.


"Udah!"


"Kamu masih ada jadwal ngajar kan?"


"Iya, tapi aku belum sholat!"


"Ya udah yuk kita bareng aja ke mesjid," ajak Ferdian.


"Hmm...aneh! Ya udah deh, tunggu aku ambil tas sama mukena aku dulu!"


Ferdian menunggu istrinya lagi. Tak lama kemudian ia keluar sambil menenteng tas kerjanya dan sebuah tas mukena kecil.


 


 


"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Ajeng, memberikan tas kerjanya pada suaminya.


"Belum, nanti aja!" jawab Ferdian, ia menuntun tangan istrinya erat.


"Awas maagh kamu kambuh!"


"Enggaklah, mudah-mudahan," jawab Ferdian datar.


Ajeng menatap suaminya itu terlihat mencurigakan.


 


 


\=====


Bersambung....


Kira-kira apa yang akan terjadi ya?

__ADS_1


Yuk komen dan like dulu ^_^


__ADS_2