
"Ada yang mau aku tanyakan sama Abang," seru Zaara memainkan ujung rambutnya.
"Apa itu?" Arsene menatapnya lekat.
"Duh gimana ya ngomongnya?"
"Emang apa sih, kok tegang gitu?"
"Emmh… aku jadi ngerasa bersalah. Aku kan udah selesai pendarahan. Apa Abang gak mau minta hak Abang sebagai suami?" tanya Zaara mengernyitkan keningnya.
Mendengarkan pertanyaan itu, Arsene jadi tertawa. Pria itu mencolek ujung hidung bangir milik istrinya.
"Kok malah ketawa? Aku ngerasa dosa karena kita diem-diem aja selama ini."
"Gak apa-apa. Lucu aja kamu tanya itu. Aku merasa terhormat sebagai laki-laki. Aku juga berterimakasih karena kamu tanya itu."
Zaara menatap cemas suaminya.
"Sekarang aku yang mau tanya, boleh?" tanya Arsene.
"Ih pertanyaan aku aja belum dijawab."
"Ya aku mau tanya, biar aku bisa jawab pertanyaan kamu, Zaara Sayaaang!"
"Oke deh!"
Arsene terdiam sejenak. Menatap raut wajah istrinya yang cemas pria itu tersenyum kecil.
"Apa pertanyaannya?" tanya Zaara tidak sabar.
"Hmm… apa kamu udah siap untuk melakukan itu lagi? Dan apa kamu udah siap untuk kemungkinan isi lagi?"
Zaara tertegun. Meskipun ia sudah mengikhlaskan semuanya dan perasaannya sudah membaik, jika menyangkut hal itu ia kembali ragu-ragu. Benarkah dirinya sudah siap?
Arsene menunggu jawabannya.
"Aku… aku…," tubuh Zaara bergetar dan terlihat kebingungan.
Arsene segera memeluknya.
"Udah lupain aja! Aku akan tunggu sampai kapanpun kamu siap. Kamu hanya perlu menerima diri kamu sendiri dan percayakan semuanya sama Allah."
"Makasih Abang Sayang!"
"Tapi…," ujar Arsene terputus.
"Tapi apa?" Zaara melepaskan dirinya dari pelukan suaminya itu.
"Ya, tapi jangan lama-lama. Kamu gak kasian sama aku?" Arsene membulatkan bibir merah mudanya.
Zaara menahan tawanya, wajah suaminya terlihat menggemaskan.
"Gak tuh!" jawabnya bercanda.
Arsene mengedipkan matanya beberapa kali, memasang wajah seperti kucing yang memelas meminta makan.
Zaara semakin gemas saja dan mencubit pipi suaminya. "Ih bercanda Abang! Doain aja besok atau besok-besoknya lagi aku udah siap!"
Mata Arsene membesar dan berkilauan.
"Bener ya? Nanti aku tagih lho!" Arsene mengeratkan pelukannya.
"Mudah-mudahan, aku gak janji!"
"Sekarang aja gimana?" tawar Arsene mengerlingkan sebelah matanya.
"Abaaang…!"
"Wajah kamu habisnya kaya pengen juga," seru Arsene menahan tawanya.
Jantung Zaara jadi tidak karuan. Bunyi detaknya terasa semakin kencang. Apakah sejelas itu ekspresi wajahnya? Ia memang menginginkannya tetapi rasa cemas dan khawatir melandanya lebih besar. Ia masih takut.
“Wajah kamu merah gitu, Sayang!” goda Arsene cekikikan.
Tangan gadis itu menangkup wajahnya yang terasa panas.
“Ya Allah, gemesnya sama istriku!” Arsene mengecup pipi Zaara setelah ia menarik satu tangan dari pipinya.
“Yuk bobo!” ajaknya.
“Eh?!” Zaara malah melongo.
“Kenapa? Mau sedikit pemanasan?” goda Arsene lagi.
“Enggaaak, nanti aja! Gapapa kan?” tanya Zaara cemas.
Arsene tersenyum kecil.
“Gak apa-apa, Sayang! Aku ngerti kok! Aku malah terus merasa gak pantas untuk dapat itu, setelah apa yang aku lakuin sama kamu. Rasa bersalah itu selalu menghantui. Aku harap Allah akan mengampuni aku.”
Laki-laki yang mengenakan kaos hitam itu tertunduk lesu dengan matanya yang berkaca-kaca. Rasa bersalah akan kehilangan anaknya memang terus membayangi, ia pun memiliki sikap insecure yang sama dengan Zaara. Cemas dan khawatir kalau dirinya akan bisa menyakiti istrinya lagi.
“Abang…,” Zaara memeluk erat tubuh suaminya.
“Maafkan diri Abang sendiri. Aku tau ini sulit, tapi kita udah komitmen untuk mulai lagi dari awal. Aku percaya sama Abang!” ucap Zaara bergetar.
“Makasih banyak, Sayang! Ingatkan aku kalau khilaf!”
__ADS_1
“Insya Allah!”
Arsene menarik tubuh Zaara ke dalam pelukannya ketika ia berbaring. Ia bersyukur memiliki istri yang pengertian, sabar, dan penyayang. Ia berjanji pada dirinya tidak akan menyia-nyiakan lagi.
\=\=\=\=\=\=
Awan putih berarak pelan mengikuti arah angin, merapat menyusuri langit yang kosong. Mereka kompak untuk menghalangi sinar mentari di pagi hari. Membuat udara sedikit gelap dan dingin.
“Aku berangkat dulu ya?” Nanti siang aku pulang dan makan di sini.” Arsene mengambil helm miliknya.
“Iya Abang Sayang! Hati-hati dan semangat!”
“Jangan lupa doain biar hari ini ramai tokonya!”
“Aku akan selalu doakan Abang!”
Arsene mengecup lekat kening istrinya. Sementara Zaara mengecup takzim punggung tangan suaminya. Berharap hari itu dan hari kedepannya mereka akan selalu mendapat keberkahan.
Suara dering ponsel terdengar nyaring di atas nakas samping tempat tidur. Zaara berjalan ke kamar mendengar dering ponsel yang bukan miliknya. Itu milik Arsene yang sudah pasti tertinggal. Menatap nomor tidak dikenal dan tidak disimpan dalam kontak, Zaara mengangkat panggilan itu.
“Assalamu’alaikum…” sapa Zaara. Telinganya berusaha fokus pada pemilik suara.
“Wa’alaikumsalam. Ini nomor Arsene?” sebuah suara perempuan terdengar di sana.
“Eh, iya. Ini dengan siapa?” tanya Zaara penuh tanda tanya.
“Ini Retha, Ra! Maaf ya, aku cuma mau tanya rapat divisi acara sore ini jadi gak? Soalnya aku harus pulang ke rumah orangtua pagi ini. Makanya aku telepon suami kamu aja.”
“Ooh… ini hpnya ketinggalan. Aku gak tau.”
“Ya udah, aku titip pesan aja ya kalau aku ga bisa rapat.”
“Iya Tha!”
“Makasih Ra, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Zaara menutup ponsel suaminya. Ia sudah tahu kalau Aretha, salah satu teman di LDK Keputrian menjadi kepala divisi acara kepanitiaan, yang akan berkoordinasi secara langsung dengan Arsene. Jadi ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Memang ini kepanitiaan yang kedua bagi Arsene untuk berkoordinasi dengan akhwat, setelah dulu dengan dirinya di kepanitiaan Idul Adha.
Sementara itu, Arsene sudah berada di tokonya. Ia sudah memiliki janji dengan Bang Lunar, kepala marketingnya. Merogoh saku jaket dan celananya, pria muda itu kebingungan karena ponselnya tidak ada di sana. Padahal ia akan belajar membuat konten untuk personal branding di akun media sosial miliknya.
“Kenapa Cen?” tanya Alice melihat sepupunya yang kebingungan.
“Hp gak ada! Apa ketinggalan ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Telepon Zaara aja sih!” Alice memberikan ponsel miliknya.
Lekas Arsene menghubungi istrinya itu. Setelah memastikan kalau ternyata ponselnya tertinggal di apartemen, Arsene langsung memutuskan untuk pulang ke apartemennya yang jaraknya memang tidak terlalu jauh.
“Bilangin ke Bang Lunar kalau aku balik dulu bentar!” ujar Arsene.
Sementara Arsene mengambil motornya, Bang Lunar juga tiba di sana.
“Bang, gue balik dulu, handphone ketinggalan!” seru Arsene.
“Ya!”
Lunar, pria berumur 25 tahun itu memasuki toko. Pria yang memiliki tubuh tidak terlalu tinggi itu langsung menghampiri Alice. Wajahnya masih terlihat muda seperti seorang mahasiswa semester akhir.
“Pagi, Al!”
“Pagi!” jawab Alice datar.
“Mana sambutan tokonya nih? Padahal gue mau ambil croissant lho!” goda Lunar.
“Ooh lagi mau jadi pembeli?”
“Ya dong, gue laper belum sempet sarapan. Keingetan croissant sama sandwich, cuss langsung kesini! Gak mau sapa pembeli pertama gitu?”
Alice mendengus kecil.
“Udah ada pembeli pertama kali!”
“Ish, jutek amat mbak kasirnya sih!” protes Lunar mengambil sebuah piring datar.
“Bodo! Gue jutek ama lo aja, Lun!”
“Ya udah deh, gue senyum sendiri aja! Sweet smile for sweet treat!”
Alice terkekeh melihat tingkah konyol pria yang mengenakan kemeja kotak kasualnya.
Pria yang berpakaian casual itu mengambil sebuah piring, lalu menaruh sandwich berisi daging asap dan croissant cokelat di atasnya. Ia kembali pada Alice untuk menghitung belanjaannya.
“Gimana rame gak toko pas weekend?” tanya Lunar.
“Ya, alhamdulillah sih! Setau gue mereka yang udah pernah datang pada balik lagi buat nebus voucher!” terang Alice.
“Baguslah!”
Lunar memang jarang sekali mengunjungi toko, karena ia bisa bekerja dari luar dan fleksibel. Pria itu duduk di salah satu kursi dekat jendela sambil menyantap sarapan kesiangannya.
Tak lama, Arsene datang kembali.
“Sarapan dulu, Sen!” ujar Lunar sambil mengunyah croissant miliknya.
“Iya Bang, santai aja!”
__ADS_1
Arsene duduk di sebelah pria yang usianya berbeda hampir 5 tahun dengannya.
“Lu punya berapa akun medsos Sen?” tanya Lunar.
“Facebook, instagram, twitter!” jawabnya.
“Oke. Mending fokus di instagram dulu aja ya. Untuk facebook, lu bisa bikin page. Biar nanti instagram lu bisa langsung terhubung ke fanpage lu.”
“Okay! Terus gimana?”
“Lu bisa foto kue-kue buatan lu di sini, kasih caption yang kira-kira bisa bawa perasaan orang untuk like atau kasih komentar di postingan lu!” ujar Lunar.
“Kaya inspirational quotes gitu ya?”
“Ya atau apapun yang lu rasakan berkaitan dengan fotonya.”
Arsene berpikir sejenak. Ini seharusnya mudah, karena ia sering memberi kata-kata puitis untuk Zaara. Hanya saja, target audience-nya kali ini adalah yang ia targetkan bisa dikonversi menjadi pelanggan di toko ini.
“Coba sekarang!” ujar Lunar.
“Oke deh!”
Arsene mengambil piring dan menaruh sandwich buatannya hari ini di atas piring itu. Ia membawanya ke atas meja kayu.
“Lu juga harus belajar jadi fotografer dan penata gambar, meski amatiran, lu harus tau angle mana yang paling baik untuk bisa bagus diposting di akun medsos lu!”
Arsene merapikan meja, juga menaruh beberapa buku yang akan menjadi pelengkap fotonya. Ia sedikit menata sandwichnya di piring, kemudian mengambil foto dengan kamera ponselnya yang cukup bagus. Ia memperlihatkan hasilnya pada Lunar.
“Not bad! Lu udah punya taste dalam estetikanya. Tinggal lu sering-sering aja ambil foto sesuai gaya lu!”
“Sip sip!”
“Nah sekarang coba posting! Udah siapin kata-katanya?”
“Oke aku coba!”
Sambil berpikir untuk menulis, ia memperhatikan detail sandwich roti gandum dengan potongan buah alpukat dan daging asap.
Masalah tak harus dibesar-besarkan, pikirkan dengan ringan maka akan semakin ringan bebannya. Tapi kalau sandwich ini, terlihat simpel padahal bikin kenyang.
Dapatkan hanya di Sweet Recipes
Ketiknya, ia memberikan ponselnya pada Lunar. Lunar memberi dua jempol untuk Arsene.
“Lu udah jago tuh buat kata-kata untuk soft selling, tinggal latihan lagi aja. Apalagi kalau ada promo, lu juga wajib cantum itu di sana! Jangan lupa, juga lu mesti kasih tanda pagar setelah tulisan lo yang berkaitan dengan foto!”
“Ah, siap lah! Jadi semangat nih!”
“Kita tunggu, postingan lu dapat insight berapa nih?!”
Arsene menatap layar ponselnya yang masih menayangkan halaman fotonya. Beberapa notifikasi masuk setelah akun lain menyukai foto yang baru saja tadi dipublikasikannya. Arsene menatapnya tidak percaya, jumlah like terus bertambah, meskipun ia sendiri tidak pernah mengenal akun-akun tersebut. Beberapa komentar juga telah masuk. Lunar menyuruhnya untuk membalas komentar-komentar itu agar wawasan postingan itu semakin luas dan bisa dijangkau oleh para pengikut Arsene.
“Aku harus balas komentar mereka nih?” tanya Arsene tidak yakin.
“Mereka akan dapat trust kalau lu kasih respon baik buat mereka. Feedback-nya, mereka bisa datang kesini buat temuin lu, maksudnya jadi pelanggan lu!” ucap Lunar santai sambil menggigit sandwichnya.
“Ah… oke deh!”
“Gak harus semuanya sih, yang penting image lu harus ramah. Admin marketing juga gitu, cuma di sana akunnya masih sepi. Kita harus banyak pasang iklan biar rame,” lanjut Lunar.
Arsene mengangguk-angguk.
“Promo buat bulan depan ada ide gak?” tanya Lunar.
Arsene terdiam sejenak, sebenarnya ia sudah memiliki ide di kepalanya dan sudah mencatatnya di catatan digital. Ia mengintipnya sebentar.
“Karena posisi kita dekat dengan kampus dan beberapa sekolah menengah, kita bakal adain paket buat student! Harganya dibuat khusus untuk mereka. Tapi kita tunggu produk best seller untuk bulan ini dulu, nanti produk itu bisa dibikin promo bulan depan,” terang Arsene.
“Nice! Segmen pasar kita bisa meluas, lu pinter. Gue juga sebenarnya ada ide itu, tapi gue kira bakal terlalu cepet. Tapi terserah kalau lu mau coba bulan depan.”
“Kita uji coba dulu aja satu bulan ini, ntar kita evaluasi. Kalau penjualan meningkat sama promo itu, kita perpanjang!”
“Sip lah! Emang produk apa yang paling hits di sini?”
“Muffin, sandwich, croissant, sama eclairs!”
“Nah, bisa tuh dijadiin 1 paket. Yang penting harganya cocok buat kantong pelajar dan mahasiswa ya?”
“Iya, itu udah aku hitung dan rencananya nanti aku bakal resize lagi untuk produk itu.”
“Sip, mantaplah! Tinggal nanti gue suruh Dave siapin template buat promosinya.”
Arsene tersenyum. Belajar marketing memang menyenangkan, meskipun pada praktiknya cukup sulit dan hasilnya belum tentu sesuai dengan harapan. Hanya saja ia akan terus mencoba, belajar, dan mengembangkan potensi dirinya.
“Lu harus konsisten posting foto ya, Sen! Seenggaknya minimal satu hari sekali, rajin aja bikin instastory kalau ribet buat bikin feed. Rekam kerjaan lu di dapur atau kue-kue yang dipajang di sini. Follower lu pasti suka.”
“Oke!"
Tak terasa matahari sudah naik di puncak. Meski toko tidak ramai hari ini, setidaknya pelanggan datang setiap jam. Memilih berbisnis di usia muda memang tidak mudah dibandingkan bekerja. Butuh konsistensi, daya juang tinggi, dan optimisme di luar batas. Itu semua harus diimbangi dengan keimanan, setidaknya itulah yang Arsene pelajari untuk pengalamannya ini agar ia jangan sampai terlena lagi dalam dunianya.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu
Jangan lupa tekan tombol LIKE, tulis komentar dan vote poin/koin untuk terus dukung Author Aerii
Sedikit dukungan kamu di atas sangat berharga lhoo apalagi gratis
__ADS_1
Makasiiih banyak ^_^