Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 95. Populer


__ADS_3

“Arsene!” panggil sebuah suara, seorang laki-laki.


Otomatis, Arsene dan Zaara menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


“Hey, kamu sedang apa di sini?!” tanya seorang laki-laki lain, mereka membawa keranjang rotan dan gulungan tikar di tangan lain


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Arsene beranjak dari duduknya, diikuti Zaara yang melangkah mundur dan berdiri di belakang suaminya.


Dua pria itu adalah teman Arsene di akademi. Joe dan John Wilson, sepasang adik kakak yang berbeda satu tahun saja. Rambutnya pirang dan ikal. Kulitnya putih dan wajahnya penuh dengan flek.


“Apa kamu tidak ingat, kami akan sedikit merayakan tengah semester hari ini. Kami akan makan-makan di sini!”


“Benarkah?!” tanya Arsene tidak yakin. Pria muda itu jarang menimbrung di grup whatsapp akademi seangkatannya.


“Lihatlah!” Joe, yang memiliki tubuh lebih kurus daripada adiknya, menunjuk ke arah kanannya. Tampak beberapa orang seumuran mereka berjalan ke arah mereka sambil berbincang dan tertawa-tawa. Mereka juga membawa keranjang makan. Ada sebagian lagi yang membawa wadah minuman dingin.


“Jadi kalian akan piknik di sini?” tanya Arsene.


“Ya betul! Karena kamu sudah di sini, jangan kemana-mana, oke?!” tembak John.


Arsene mengangkat kedua alisnya. Ia tidak menyangka sama sekali, teman-teman seangkatannya akan mengadakan piknik di taman yang tadinya akan ia habiskan berdua saja bersama Zaara. Pria itu memandang pada istrinya.


“Kamu gak apa-apa ikut acara ini?” tanyanya pelan.


Zaara menunduk ragu, “aku ikut aja!”


“Oke!”


Beberapa pemuda berdatangan. Dilihat dari penampilannya, mereka datang dari berbagai etnis dan negara. Ada yang berkulit putih terang, cokelat kekuningan, bahkan hitam. Kebanyakan mereka adalah perempuan. Hanya ada sekitar 7 orang pria termasuk Arsene. Sementara 12 orang sisanya adalah perempuan. Zaara hanya memperhatikan mereka yang sibuk dengan bawaannya masing-masing.


“Hey, kamu di sini juga?!” tanya seorang gadis bule berambut panjang.


“Ya, kebetulan aku sedang di sini!” jawab Arsene tersenyum kecil. Pria muda itu sedang menggelar tikar yang dibawakan oleh Joe tadi.


“Aku kira kamu tidak akan ikut!” ucap gadis itu dalam bahasa Inggrisnya.


Melihat tatapan sejuk gadis itu pada Arsene, Zaara bisa memastikan kalau gadis itu menyukai suaminya. Tidak hanya gadis itu saja yang berani menatap suaminya, gadis-gadis lain pun terlihat salah tingkah ketika memberikan sesuatu pada suaminya. Mereka sering melirik Arsene meski lewat ujung matanya. Zaara memperhatikan gerak-gerik itu semua. Ia sudah menyangka suaminya pasti sangat populer. Tetapi lihatlah Arsene, pria tampan itu tidak pernah menggubris dan fokus saja dengan apa yang ia kerjakan.


“Kita akan mengadakan barbeque party di pagi hari!” teriak gadis berambut lurus tadi dengan riang. Itu Fiona.


Zaara tidak bergabung, gadis itu memilih pergi dari sana ketika suaminya sudah fokus membantu teman-temannya mempersiapkan hidangan. Zaara memilih duduk di sebuah batang pohon di tepian sungai. Entah kenapa, ia merasa terasing. Selalu seperti ini, sama seperti ketika sekolah dahulu. Ia tidak pandai memulai untuk menjalin pertemanan baru. Ia tidak mudah tersenyum pada orang asing. Itulah alasan mengapa temannya sedikit.


Menikah dengan Arsene seperti keberuntungan baginya. Pria itu begitu istimewa di matanya. Menolongnya beberapa kali yang akhirnya membuat hatinya jatuh. Jika saja Arsene bukan anak sahabat orangtuanya, Zaara mungkin tidak akan pernah dekat dengannya sekalipun dulu mereka berada di bangku yang sama. Zaara menatap permukaan air sungai yang jernih, mengalun pelan menuju lautan luas.


Arsene sedang berbincang asyik dengan kawan-kawannya, sambil mempersiapkan panggangan yang tersedia di taman itu. Sementara yang lain menyiapkan menu-menu simpel yang bisa disiapkan langsung tanpa kompor, seperti sandwich, salad, dan cocktail. Fiona bertugas memberi bumbu pada potongan daging yang sudah ditusuk pada sebuah tusukan kayu, bersama sayuran dan bawang-bawangan.


“Panggangan sudah siap?” tanya Fiona pada Arsene.


“Sudah!” ujarnya semangat.


“Permisi!” Fiona membawa wadah yang penuh dengan tusukan daging-daging itu.


“Biarku bantu!” ujar Arsene inisiatif mengambil wadah itu dari tangan Fiona.


Fiona tersenyum lebar, “terima kasih!”


Gadis itu menaruh tusukan daging di atas pemanggangan yang sudah siap. Lalu membolak-balik daging itu agar matang sempurna. Sementara Joe membantunya agar api tetap panas.

__ADS_1


Membuat sate barbeque tidak perlu waktu lama. Hidangan itu telah siap untuk disantap. Siswa-siswa lain sudah menyiapkan hidangan lain dalam wadah-wadah kecil. Mereka juga sudah membuka wadah minuman dingin yang diisi dengan berbagai minuman ringan, seperti soda, cola, dan jus segar.


Fiona membawa sate barbeque itu ke atas tikar. Sementara mereka semua sudah terduduk di atas tikar sambil memegang minuman dingin di tangan mereka. John memberikan sebuah kaleng jus jeruk dingin pada Arsene.


“Mari bersorak untuk kelas baru besok!” ujar John yang memimpin acara ini.


Mereka semua mengangkat minuman kalengnya, lalu bersorak “YES CHEF!”


Kemudian meminumnya bersamaan.


“Mari bersorak untuk favorite couple di kelas kita, Arsene dan Fiona!” teriak John lagi.


Fiona menatap Arsene terkejut dengan rona wajah merah. Hanya saja Arsene tiba-tiba tertegun, lalu menoleh ke belakang mencari sosok istrinya yang ia tinggalkan seorang diri.


Pria muda itu seketika berlari.


“Arsene mau kemana kamu?!” teriak Fiona.


Arsene bergeming dan terus berlari mencari Zaara. Benaknya merutuki dirinya sendiri yang bodoh karena telah melupakan Zaara di sana. Bagaimana bisa, di saat seperti itu justru ia malah asyik menyiapkan pesta piknik bersama kawannya dan mengabaikan Zaara? Padahal hati gadis itu sedang sensitif karena kejadian kemarin. Ia tidak habis pikir dirinya begitu bodoh.


“Zaara!” teriaknya panik dan cemas.


Ia khawatir istrinya itu akan pergi lagi. Ia juga teringat Zaara tidak memegang uang selembar pun atau kartu pembayaran untuk transportasi umum.


“Zaara!” teriaknya lagi. Pria tinggi itu menghentikan langkahnya, dan menyapu pandangannya ke seluruh penjuru taman. Sementara itu, kawan-kawannya hanya menatapnya heran. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Arsene dan mengapa teman mereka itu berteriak-teriak sendiri.


“Ada apa dengan Arsene?” tanya Fiona sedikit kecewa dengan kepergian pria itu.


“Aku tidak yakin. Sepertinya dia mencari teman yang bersama dengannya di sini.” John menjawab itu.


“Dia membawa seorang teman?!” tanya Fiona menyelidik.


Fiona terdiam, mungkin Arsene membawa pacarnya tadi, ucapnya dalam hati. Gadis itu terlihat murung. Ia meneguk minuman sodanya.


“Ayo kita lanjutkan pikniknya!” ucap John berinisiatif, meski kawan-kawannya itu masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Arsene.


Arsene tertunduk lemas karena tidak menemukan sosok istrinya dimanapun. Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Tiba-tiba sebuah sentuhan terasa di bahu kirinya. Pria itu menoleh frustrasi.


“Zaara!” Arsene langsung mendekap tubuh istrinya itu erat-erat.


Zaara tertegun, wajahnya tersipu. Arsene benar-benar tidak bisa melihat situasi. Keduanya menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang mulai berdatangan ke taman ini. Termasuk kawan-kawan sekelas Arsene di akademi.


“Abang… bisa lepasin dulu?!” pinta Zaara pelan.


“Gak mau! Aku minta maaf!”


“Banyak orang yang lihat kita!” ucap Zaara grogi.


“Aku gak peduli!”


“Abang!” Zaara mendorong pelan tubuh suaminya dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Arsene masih menundukkan wajahnya penuh sesal. Gadis itu menengok wajah suaminya dari bawah.


“Kamu cari aku?” tanya Zaara tersenyum.


Arsene mengangguk.

__ADS_1


“Aku tadi cari toilet, ternyata ada di ujung taman ini. Maaf aku gak bilang dulu karena udah gak tahan!”


Mendengar jawaban itu, perasaan Arsene lega. Ia menaruh keningnya di atas bahu istrinya itu. Zaara jadi terkekeh melihat tingkah aneh suaminya.


“Udah ih, malu tuh jadi pusat perhatian!”


Arsene kembali mendekap tubuh istrinya seolah ia tidak mau kehilangan lagi seperti kemarin. Pria itu menghela nafas, lalu menatap wajah istrinya yang tersenyum.


“Aku cemas karena aku lupa kalau ada kamu di sini!”


“Ooh jadi Abang gak inget ada aku di sini?! Terlalu asyik masak sama dia ya?” Zaara ingin mengetes suaminya.


“Maaf! Tapi aku gak ada maksud gitu!”


Arsene menarik lengan istrinya dan melangkah menuju teman-temannya yang sedang menyantap menu brunch-nya. Melihat kedatangan Arsene bersama seorang gadis Muslimah yang tadi sempat menjadi pusat perhatian, kawan-kawannya itu jadi penasaran. Fiona menatap keduanya dengan jantung berdebaran.


“Maaf, karena tiba-tiba saja aku pergi!” ucap Arsene di hadapan kawan-kawannya. Ia masih terus menggenggam tangan istrinya.


Zaara tertunduk sambil sesekali melirik teman-teman suaminya.


“Aku ingin memperkenalkan kalian semua pada gadis yang bersamaku ini!” Arsene tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah muncul selama di kelas atau di restoran ketika mereka bekerja bersama.


Pria tampan nan populer itu menarik pinggang istrinya sehingga tubuh mereka saling menempel.


“Kenalkan ini Zaara, dia adalah istriku!”


Sontak pengumuman itu membuat mata kawan-kawannya terbelalak terkejut dan tidak percaya.


“Istri?!” tanya Fiona yang mulutnya terbuka.


“Ya, dia istriku! Kami menikah enam bulan yang lalu.” Arsene menatap istrinya yang merona merah.


“OMG! Sungguh sulit dipercaya!” ucap Joe bertepuk tangan.


“Tapi begitulah adanya,” jawab Arsene.


“Ayooo kita rayakan kebahagian teman kita yang paling tampan ini dan juga istrinya yang cantik!” seru John bersorak dan mengangkat minuman kalengnya lagi.


Arsene tersenyum, ia mengambilkan sebuah minuman kaleng dingin untuk istrinya juga. Lalu bersama-sama menikmati brunch dan pesta barbeque kecil untuk merayakan kelas yang dimulai besok.


“Hai aku Fiona Anderson!” Fiona mengulurkan tangannya pada Zaara.


“Aku Zaara!” gadis berhijab abu itu menyambutnya seraya tersenyum.


“Kau beruntung sekali,” ucap Fiona.


Zaara tersenyum, “terima kasih, Fiona!”


Keduanya berbincang akrab yang entah apa topiknya, tetapi sepertinya merupakan topik menarik bagi kedua gadis yang baru berkenalan itu.


Matahari sudah semakin naik, terasa panas tetapi angin mampu bertiup sejuk. Apalagi berada di bawah naungan rimbunnya dedaunan, semakin teduh saja.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung...


Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE

__ADS_1


Dukung terus Author Aerii


Terima kasih ^_^


__ADS_2