
“Zaara, ini aku Fiona!” ucap Fiona dalam Bahasa Inggris. Terpaksa Fiona mengambil ponsel Arsene dan menghubungi Zaara untuk memberitahukan kondisi Arsene yang sedang tidak baik-baik saja.
“Ke-kenapa, ponsel Arsene ada di kamu?!” tanya Zaara gemetaran, pikirannya dipenuhi berbagai kecurigaan.
“Maaf, tapi suamimu sedang berada di rumah sakit. Tadi setelah ujian, dia tiba-tiba saja ambruk di dapur. Joe yang memberitahuku. Aku pikir akan lebih baik jika kamu tahu, makanya aku mencari nomormu di ponsel Arsene,” terang Fiona agar Zaara tidak salah paham.
“Gimana keadaan Arsene sekarang?!” tanya Zaara cemas.
“Dia sudah masuk ruang perawatan dan sedang tertidur. Kata dokter daya tahan tubuhnya melemah, dia butuh banyak cairan. Asam lambungnya tinggi. Dia juga mengalami migrain. Sepertinya dia sedikit tertekan.” Fiona berjalan mondar mandir di depan ruang dimana Arsene dirawat.
“Astaghfirullah, ya Allah aku harus gimana!” ucap Zaara dalam Bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh Fiona.
“Kami akan membantu merawatnya!” ucap Fiona.
Zaara terdengar mendesah. Tidak tahu harus berbuat apa. Menyerahkan perawatan Arsene pada gadis yang berada di seberang teleponnya tentu saja membuatnya kekhawatirannya bertambah berat.
“Di sini ada Joe dan John. Aku juga sudah memberitahu teman seasramanya, Felix. Katanya dia akan menemani Arsene malam ini sampai sembuh. Aku hanya akan memantau mereka saja, Zaara!” terang Fiona, yang mungkin khawatir akan keberadaan dirinya di sisi Arsene.
“Terima kasih banyak, Fiona! Aku akan sangat berhutang banyak pada kalian semua!”
“Baiklah, akan kuhubungi lagi nanti. Akan kusimpan nomor kamu di ponselku.”
“Terima kasih banyak, Fiona!”
“Bye!”
Fiona memutus sambungan itu dan menatap ponsel milik Arsene. Wallpapernya terlihat menarik di mata gadis pemilik manik cokelat terang itu. Arsene dan Zaara sedang tersenyum lebar sambil memejamkan matanya, pipi mereka saling menempel. Mereka berdua terlihat lucu dan serasi satu sama lain. Fiona tersenyum kecil dan mengembalikan ponsel Arsene ke dalam tas selempang yang selalu dibawa oleh pria muda itu.
“Kamu sudah menghubungi istrinya?” tanya Joe yang duduk di samping matras Arsene.
“Sudah. Kalian harus jaga anak ini sampai sembuh ya?! Aku tidak mau Zaara mencurigaiku.” Fiona menunjuk dua kawannya yang beradik kakak itu.
“Haha. Bukannya ini kesempatanmu untuk mendapat perhatian Arsene?!” goda John. Pria berambut ikal itu memang selalu menggodanya dengan Arsene, membuat perasaan yang awalnya kecil menjadi besar.
“Hentikan itu, John! Aku tidak mau jadi orang ketiga di antara mereka. Mereka pasangan serasi, kuakui itu, meskipun aku sangat mengagumi anak ini!” Fiona melipat tangannya di depan dadanya sambil memandang Arsene yang tertidur pulas dengan selang infus menancap di lengan.
“Yes Chef!” ucap John semangat.
“Teman Arsene akan datang beberapa jam lagi. Mudah-mudahan anak ini tidak apa-apa. Aku akan kembali ke akademi.” Fiona pergi dari kamar itu.
“Chef Caldwell sudah mengurusi semuanya kan?” tanya Joe pada kakaknya John.
“Ya, kita hanya perlu menunggu anak ini. Ayolah Arsene kau harus semangat, ujian sudah di depan mata agar kau bisa pulang dan menemui istrimu yang cantik itu!” ucap John menatap Arsene.
Joe menyenggol tubuh saudaranya.
“Kenapa?” tanya John Wilson.
“Nanti dia dengar!” ucap Joe.
“Dengar apa?” tanya John tidak mengerti.
“Kau bilang istrinya cantik.”
“Memang cantik bukan? Baru pertama kali aku melihat gadis Muslimah yang cantik seperti istri Arsene. Aku jadi ingin punya pacar seperti dia.”
“Ssst… kau dalam masalah, John!” Joe menyenggol kakaknya lagi. Tatapannya menuju Arsene.
Arsene bangun dan mendengarnya percakapan dua kawannya itu.
__ADS_1
\=====
Di seberang negeri yang lain, Zaara tidak sanggup menahan rasa cemasnya. Ia terus berdiam diri, pandangannya kosong, meski pikirannya terus tertuju pada suaminya. Jus mangga yang baru dipesannya bahkan belum disentuhnya sama sekali. Ini membuat cemas dua sahabatnya yang lain.
“Ra, lu baik-baik aja kan?” tanya Terry memecah lamunan.
Zaara menoleh sebentar.
“Aku bingung Ry!”
“Bingung karena gak bisa rawat suami lu?”
“Iya, dan aku cemas karena Fiona ada di sana.”
“Emang siapa sih Fiona itu?” tanya Hana.
“Dia temen sekelas Arsene di akademi. Dia suka sama Arsene!”
Hana dan Terry saling berpandangan, terkejut.
“Pantesan, lu jadi cemas dua kali lipat!” Terry mengaduk jus alpukat miliknya.
“Kalau menurut aku ya, kamu gak usah su’udzan. Kamu percaya Arsene kan. Ra?!” ujar Hana menguatkan sahabatnya itu.
Zaara mengangguk.
“Fiona telepon kamu, untuk menghargai kamu sebagai istri Arsene. Kalau dia emang punya niat licik, dia pasti gak akan hubungi kamu.” Hana menambahkan lagi.
Zaara menatap Hana, memang betul pendapatnya itu. Zaara sudah memegang komitmennya pada Arsene untuk mempercayainya, begitu pula dengan Arsene yang sama mempercayainya meskipun jarak memisahkan. Ia tidak boleh mengikuti prasangka buruknya karena itu adalah bisikan setan yang menghasut pikirannya. Yang harus ia lakukan adalah mendoakan kesembuhan bagi suaminya, dan menghubunginya lagi nanti.
“Makasih, Na! Udah diingetin, kamu betul. Aku gak boleh su’udzan. Fiona itu baik dan aku harus percaya sama Arsene!”
“Nah gitu dong, jangan murung aja, Ra! Kita doain moga Arsene cepet sembuh. Kapan sih dia selesai akademi?” tanya Terry.
“Ohh berarti dua bulanan lagi ya?”
“Iya!”
\=====
Arsene terduduk di atas matrasnya sambil menatap santapan dari rumah sakit. Tubuhnya terasa sudah lebih baik malam ini. Tadi siang, tiba-tiba saja ia pingsan setelah kepalanya berdenyut hebat. Padahal ia baru saja mengerjakan ujiannya. Beberapa chef yang mengujinya, mengatakan kalau basic souffle buatannya bagus, rasanya enak, dan lembut sesuai dengan yang diharapkan. Ia tidak menyangka mendapat respon bagus, padahal tubuhnya sedang tidak baik, dan setelah itu entah mengapa rasa nyeri di kepalanya malah bertambah. Walhasil, ia pingsan ketika akan berjalan keluar kelas.
Arsene menyuap sup kentang panas yang diberikan perawat tadi. Dua kawannya Joe dan John sudah pulang setelah menemaninya sejak tadi. Sementara dirinya kini sendiri di dalam kamar perawatan. Kabarnya, Felix akan kemari setelah ini. Ia hanya berharap dirinya akan segera pulih betul dan tidak mau membuat repot teman-temannya.
Ponsel di atas nakasnya bergetar. Arsene menoleh, Zaara menghubunginya.
“Halo…” ucapnya lemas.
“Abang gak apa-apa?” tanya Zaara, suaranya terdengar bergetar.
“Enggak apa-apa, Sayang! Aku cuma lemes aja hari ini.”
“Bisa video call?”
“Boleh!”
Zaara mengubah mode panggilan ke video. Rambut Arsene terlihat berantakan dengan wajah yang terlihat sedikit pucat meski senyuman tetap melengkung di bibirnya. Sementara Zaara terlihat meneteskan air mata.
“Kenapa nangis, Zaara Sayaaang?!”
__ADS_1
“Maaf aku gak bisa rawat kamu di sana.” Zaara sesenggukan.
Arsene melebarkan senyumnya.
“Jangan nangis, nanti ilang cantiknya!”
“Gak bisa berhenti.” Zaara berusaha menyeka air matanya yang terus bercucuran.
“Aku udah baikan kok! Besok juga pulang! Tuh lihat!” ucap Arsene sambil menegakkan tubuhnya dan memperlihatkan ototnya.
“Nanti aku kasih kejutan buat kamu!” ujar Arsene lagi agar istrinya tidak mengkhawatirkannya berlebihan.
“Kejutan apa?”
“Kalau dikasih tau bukan kejutan dong namanya!”
Zaara cemberut.
“Zaara Sayang!” panggil Arsene.
“Mmh….”
“Kamu ngerasain sesuatu yang aneh gak?” tanya Arsene.
“Aneh apa?!” tanya Zaara tidak mengerti.
“Mual-mual gitu, atau gak enak badan?!”
“Enggak, aku sehat kok! Emang kenapa?” Zaara tidak mengerti apa maksud pertanyaan suaminya.
“Haid lancar?!”
“Haid?! Tumben nanya itu. Haid aku lancar kok!”
“Tiga bulan kemarin sempat haid?” tanya Arsene memastikan.
“Iya!”
Arsene bernafas lega. Ia memang sempat memikirkan terkait kehamilan istrinya di tengah menurunnya omset bisnisnya. Ia merasa belum siap jika Zaara hamil saat ini. Allah benar-benar tahu yang terbaik.
“Alhamdulillah…”
“Kenapa sih?”
“Enggak, hehe!” Arsene menyengir.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. Felix menongol dari sana. Arsene menyuruhnya masuk dan mempersilakannya duduk.
“Ada Felix, besok aku hubungi lagi ya. Tidur nyenyak, jangan cemasin aku. Doain aja!”
“Iya Abang. Abang juga cepet sembuh, dan sehat selalu!”
“Aamiin. Bye Sayang, I miss you!”
“Miss you more!”
======
Bersambung dulu....
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE
makasiiiih ^_^