
"Di antara kalian ada yang sudah siap menikah?" tanya Ustadz Ahmed.
Ferdian dan Ridho otomatis menghentikan langkah dan menoleh.
"Kenapa Tadz?" tanya Ridho, khawatir ia salah dengar.
"Kalian berdua ada yang berencana menikah dalam waktu dekat?" tanya ustadz yang memiliki janggut tebal itu.
Kedua pria itu tertegun dengan pertanyaan. Ferdian menyenggol tubuh Ridho.
Ustadz Ahmed duduk di atas karpet, membuat dua pria yang akan pergi menuju danau itu tidak enak untuk meninggalkannya. Mereka mengikutinya untuk duduk di dekatnya.
"Begini, ada seorang muslimah di sini memiliki niat untuk menikah, tetapi belum ketemu jodoh yang pas. Dia mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi akhirnya," terang Ustadz Ahmed.
"Barangkali di antara kalian ada yang memiliki niat menikah dalam waktu dekat, nanti akan saya kenalkan."
Ridho tertegun. Sementara Ferdian melirik ke arahnya. Ridho sendiri sebenarnya belum terbersit niatnya untuk menikah dalam waktu dekat, jadi disodorkan pertanyaan seperti itu saat ini tentu saja membuat otaknya mencari jawaban. Ferdian kembali menyenggolnya.
"Mau coba gak tuh?" bisiknya pada Ridho.
Ridho menatapnya. "Aku harus mikir panjang dulu."
"Jadi ini kaya ta'aruf gitu ya Tadz?" tanya Ferdian.
"Iya betul. Nanti kalian akan bertukar biodata yang berisi segala hal tentang diri kalian. Mulai dari identitas pribadi, hal yang disuka-dibenci, visi misi pernikahan, dan rencana masa depan. Kurang lebih seperti itu. Apa kamu sudah siap menikah Ferdian?"
Ferdian melebarkan mata sipitnnya, lalu menyengir.
"Sebenarnya, saya su...."
"Assalamu'alaikum..." tiba-tiba sebuah suara merdu menyapa, ketiga laki-laki itu menoleh ke arah sumber suara sambil menjawab salam.
Itu wanita yang tadi berpapasan dengan Ridho dan Ferdian di lantai atas. Ia menunduk dan menghampiri Ustadz Ahmed.
"Maaf mengganggu, Tadz!" ucapnya lembut, sambil menundukan pandangan.
"Ya, ada apa, Mir?"
Ridho menatap muslimah itu kemudian ia ikut menundukan pandangan. Sementara Ferdian memperhatikan muslimah dan ustadz yang berbincang di depannya.
"Saya mau titip ini untuk Ustadzah Aisyah. Saya sudah memberitahu beliau kalau siang ini akan saya titip sama Ustadz."
Muslimah itu memberikan sebuah map.
"Oh, baiklah. Akan saya sampaikan."
"Jazakallah, Tadz. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ternyata muslimah itu berbincang dengan Bahasa Indonesia, berarti dia pun warga negara Indonesia. Entah mengapa, Ridho merasa senang mengetahui hal itu. Ia tersenyum kecil dalam diam.
"Oh ya sampai mana tadi?" tanya Ustadz.
"Tadz maaf mau bertanya," sahut Ridho, ketika Ferdian hendak berbicara.
"Silakan."
"Apakah jika kita memulai ta'aruf masih bisa dibatalkan secara sepihak? Maksudnya kita tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan?"
"Bisa saja. Terlepas apakah alasannya syar'i atau tidak, kalian masih boleh membatalkan ta'aruf. Hanya saja, ketika kita memulai suatu hubungan seperti ta'aruf ini, usahakan niat kita lurus dan mengharap yang terbaik dari Allah, jangan mengandalkan pada nafsu. Karena, pernikahan yang akan dibangun nanti pasti kita mengharap keberkahan dari Allah, bukan?"
"Oleh karena itu, ada yang namanya sholat istikhoroh. Di sana kita meminta petunjuk agar hati kita dimantapkan untuk pilihan terbaik sesuai dengan kehendak Allah," lanjutnya lagi.
"Apakah perasaan cinta itu harus hadir, Tadz?" tanya Ridho lagi.
"Cinta itu adalah hadiah dari Allah. Ketika kita sudah meluruskan niat menikah karena Allah, cinta itu akan hadir dengan sendirinya seiring waktu. Bisa jadi, cinta muncul setelah pernikahan, itu akan membuat pernikahan semakin nikmat."
"Masya Allah," ucap Ridho takjub.
"Jadi gimana?"
Ferdian dan Ridho saling berpandangan.
"Saya akan pikirkan dulu, Tadz! Jujur aja, niat untuk menikah memang belum ada, jadi khawatir salah melangkah, akan saya pikirkan matang-matang."
"Baiklah, tidak apa-apa."
Ridho menatap layar ponselnya, lima belas menit sudah berlalu. Ia teringat janjinya dengan Patricia sore itu.
"Tadz, maaf kami harus pergi karena ada teman menunggu," ucap Ridho sopan.
"Oh iya, silakan. Maaf ya kita jadi ngobrol dulu."
"Gak apa-apa, Tadz!"
"Silakan kamu pikirkan baik-baik. Saya kasih waktu seminggu ya, biar akhwatnya tidak menunggu terlalu lama."
"Baik, Tadz. Nanti akan saya kabari lagi."
Kedua pria itu beranjak dari duduknya, diikuti Ustadz Ahmed, lalu menyalaminya.
Sore itu di pesisir Danau Michigan, Patricia berteduh di bawah pohon yang rindang di sekitar Queen's Landing. Danau Michigan adalah danau terbesar ke -5 di dunia. Dengan luas wilayah permukaan sebesar 22.300 mil persegi, menjadikannya tampak terlihat seperti laut, apalagi dengan warna langit terpantul jelas di permukaannya yang tenang. Kapal-kapal kecil yang biasanya membawa penumpang atau untuk mencari ikan mengapung terombang-ambing angin yang bertiup. Riak-riak air sesekali terlihat di sana. Gedung-gedung tinggi yang berada di pesisir danau juga bercermin di sana, terpantul sangat indah di atas permukaan danau. Lukisan alam yang sungguh sempurna.
Bunyi riuh dedaunan bergesekan terdengar mengalun lembut. Angin menyapa rambut Patricia yang tergerai. Wanita itu menghadapkan pandangannya pada danau sejauh mata memandang. Bulu matanya yang lentik melambai ketika ia mengerjapkan matanya karena debu yang tidak sengaja masuk ke dalam matanya. Ia mengucek-kucek matanya yang berair.
"Maaf kami terlambat!" itu Ridho yang baru saja datang setelah hampir satu jam Patricia menunggu di sana.
"Kau kenapa?" tanya Ferdian, melihat mata Patricia terlihat merah dan berair.
__ADS_1
"Ah, tadi kemasukan debu," ucapnya sambil mengelap matanya dengan tisu yang baru diambilnya dari tas.
"Masih sakit?" tanya Ridho.
"Sudah baikan kok!"
Ferdian mengarahkan pandangan pada danau. Hatinya terasa sangat takjub dengan pemandangan di depannya. Ia merasa kalau hatinya seluas langit dan selebar danau, meski tetap saja rindu yang tertanam tidak bisa membuatnya bahagia penuh saat ini. Andai saja angin bisa mengirimkan pesannya, ia pasti sudah menitipnya ratusan kali pada istrinya.
Ridho duduk di samping Patricia, ada jarak sekitar satu meter di antara mereka.
"Pemandangan di sini bagus ya," ucap Ridho menatap ke depannya.
"Kau tidak menyesal kan, aku ajak kemari?" tanya Patricia.
"Tidak, tentu saja. Aku berterima kasih," ucap Ridho sambil melirik wanita di sampingnya.
Entah mengapa melihat Patricia dengan rambut cokelat terangnya yang tertiup angin, wajahnya yang putih itu terlihat berkilauan di matanya. Cantik sekali, puji Ridho dalam hati. Lekas-lekas ia mengalihkan pandangannya, sambil beristighfar.
Ferdian yang berdiri, menatap pada dua orang di sampingnya. Ia terkekeh. Sepertinya Ridho akan merasa jatuh cinta sebentar lagi, tetapi entah wanita mana yang berhasil mencuri hatinya. Apakah muslimah tadi, atau Patricia? batinnya berbicara.
"Apa rencanamu setelah pulang dari sini?" tanya Patricia pada Ridho.
Ridho terdiam sejenak sambil berpikir. Ada dua ide yang muncul di dalam benaknya. Pertama kerja kembali di perusahaan Winata, yang kedua adalah menikah.
"Hmm, bekerja kembali dan memaksimalkan potensi di tempat bekerja."
Pria berambut pendek itu hanya mengeluarkan satu jawaban saja.
"Kau sendiri?" tanyanya pada Patricia.
"Aku juga. Aku akan mengembangkan bisnis fashionku dan menjadi sukses. Itu impianku sejak kecil."
"Rencana bagus," puji Ridho.
"Nikah, Dho! Nikah!" celetuk Ferdian dari sampingnya.
"Apa katanya?" tanya Patricia yang tidak mengerti, karena Ferdian mengucapkan Bahasa Indonesia.
Ridho terkekeh.
"Menikah katanya."
Patricia ikut terkekeh geli. Sepertinya topik itu selalu menjadi perhatian wanita itu belakangan terakhir.
"Kau yakin akan berencana menikah dalam waktu dekat?" tanya Patricia.
"Aku sedang memikirkannya. Tetapi kalau boleh jujur, aku memang ingin menikah lebih cepat di usiaku sekarang."
"Begitu ya?"
"Ya aku akan berusaha. Oh ya, berapa usiamu, Pat?"
"Ah, kau masih muda sekali dan sudah menjadi pengusaha. Hebat!"
"Terima kasih!"
"Hey, aku jalan-jalan ke sana dulu ya?" ujar Ferdian, menyadari ia menjadi nyamuk atau lalat di antara keduanya.
"Mau kemana Fer?" sergah Ridho.
"Ke depan doang, pengen main air!" ucap Ferdi beralasan.
"Kaya anak kecil aja," protes Ridho mendelik.
Riuh dedaunan kembali terdengar berdesir di kala angin meniupnya kencang. Wajah Patricia tertutupi sebagian oleh anak rambutnya. Ia membetulkannya lagi.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Patricia.
"Apa itu?"
"Bagaimana menurutmu, jika ada seorang wanita yang tidak seagama denganmu mencintaimu?"
Ridho tertegun dengan pertanyaan Patricia. Namun pikirannya polos, dan tidak melayang kemana-mana, jadi ia fokus mencari jawaban dari pertanyaan itu.
"Kalau menurutku, aku akan tetap memilih yang seagama lebih dahulu untuk menikah dengannya. Kecuali jika wanita itu berubah."
"Jadi wanita itu harus berubah dulu agamanya?"
"Prinsipku seperti itu."
"Bagaimana kalau kau mencintainya dengan sungguh-sungguh?" tanya Patricia lagi.
"Aku tetap tidak akan memilihnya. Karena aku ingin Tuhanku meridhoi pernikahanku."
Entah kenapa tubuh Patricia terasa bergetar mendengar jawaban dari Ridho. Matanya berkaca-kaca. Ridho bisa menangkap dengan jelas di wajahnya.
"Kau kenapa?" tanya Ridho cemas.
"Ah, sepertinya debu masuk lagi ke mataku," ucapnya pura-pura, ia mengusap kembali matanya dengan tisunya. Lalu membetulkan posisi duduknya, sambil menghela nafas.
"Aku ingin bertanya satu lagi, boleh?" pintanya setelah ia merasa bahwa dirinya baik-baik saja.
"Silakan."
"Apa seseorang boleh masuk ke dalam agamamu karena mencintai seorang manusia?" tanyanya.
Lagi-lagi Ridho tertegun dengan pertanyaan wanita yang mengenakan cardigan hitam di sampingnya itu.
Ia merenung sejenak. Lalu mengambil udara, bersiap-siap untuk menjawab.
__ADS_1
"Seseorang boleh saja masuk Islam dengan alasan apapun. Akan tetapi hal itu tidak akan membuatnya bertahan lama di dalam agama barunya. Bisa saja ketika kecewa karena harapannya tidak sesuai, ia kembali ke agama lamanya. Dan hal itu sangat tidak dianjurkan, karena agama bukanlah permainan. Alasan terkuat untuk bisa bertahan seharusnya karena ia telah mencintai Rabb-Nya, yaitu Allah SWT. Juga mencintai Rasul-Nya, yaitu Muhammad. Ia yakin bahwa Allah adalah Tuhannya, dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Ia menerima Islam dengan ikhlas di dalam hatinya. Itulah yang akan membuatnya jatuh cinta selamanya pada Islam."
Patricia bisa sangat memahami perkataan Ridho dengan jelas dalam sanubarinya. Ia mencernanya dengan baik di dalam otaknya.
"Jatuh cinta pada manusia, sifatnya sementara. Manusia bisa datang dan pergi kapan pun. Tetapi mencintai Allah, Allah adalah Tuhan yang kekal dan abadi, maka cinta kepada-Nya juga akan abadi," lanjut Ridho.
Patricia menunduk. Hatinya berkecamuk. Ada sesuatu yang mendesak di dalam hatinya, tetapi ia tidak tahu apa itu. Pembicaraannya dengan Ridho selalu membuatnya berpikir lebih dalam dan dalam. Ia membutuhkan waktu untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di dalam benaknya.
"Aku pulang duluan ya?" ucap Patricia tiba-tiba, membuat Ridho terkejut.
"Lho kenapa pulang? Apa kata-kataku ada yang menyinggungmu?"
"Tidak, aku hanya ingin pulang saja. Sepertinya tubuhku agak sakit."
"Benarkah? Lebih baik kita pulang saja bersama," ucap Ridho terlihat cemas.
Patricia mengangguk lemas.
Kemudian Ridho memanggil Ferdian yang berada di bibir danau sedang melihat dasar danau bagian dangkal. Ia mengajaknya pulang.
"Kok bentar aja?" tanya Ferdian yang melangkah mendekati dua rekannya.
"Patricia gak enak badan katanya, mau pulang."
"Ooh...ya udah kita pulang aja."
Ferdian memanggilkan sebuah taksi lalu ia menaikinya dan duduk di kursi depan. Sementara, Ridho dan Patricia duduk di kursi belakang. Ada gurat kesedihan yang bisa dilihat dari wajah Patricia di mata Ferdian. Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.
Sementara Ridho sesekali melirik ke arah wanita di sampingnya yang tidak terlihat ceria seperti biasanya. Ia jadi merasa bersalah, mungkin karena jawabannya tadi menyinggung perasaannya. Hanya saja ia tidak tahu, jawaban mana yang membuat wanita itu menjadi lemas seketika.
Ketiganya turun di pelataran halaman Winston Tower yang cukup luas.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Ridho setibanya mereka di depan gedung tempat tinggal mereka.
"Iya," jawab Patricia singkat.
Ketiganya menuju lift. Patricia keluar dari lift ketika layar digital menunjukkan angka 36. Wanita itu turun lebih dahulu dan berpamitan kepada dua rekan prianya.
"Kenapa sih?" tanya Ferdian ketika Patricia sudah keluar dari lift.
"Gak tau."
"Ya elah, kok gak tau?"
Keduanya melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju kamar mereka.
"Aku mau curhat boleh, Fer?" tanya Ridho sebelum mereka tiba di kamar masing-masing.
"Masuk aja!"
Ferdian membuka pintu kamarnya, dan mempersilakan Ridho masuk. Ridho memang jarang sekali bercerita tentang perasaannya. Sejauh ini hanya dirinya saja yang banyak bercerita, sedangkan Ridho hanya menjadi pendengar dan pemberi masukan yang baik. Mungkin kali ini ia harus membalas kebaikan teman kecilnya itu.
Ridho duduk bersandar di atas sofa di kamar Ferdian. Sementara Ferdian duduk di atas kasurnya.
"Emang kenapa tadi?" tanya Ferdian yang tidak sabar.
Ridho menghela nafas, lalu mulai menceritakan apa yang tadi baru saja dibincangkan antara dirinya dan Patricia. Ia ingin Ferdian membuat sebuah asumsi, kira-kira apa yang membuat Patricia menjadi tidak semangat.
"Ya Allah, Dho! Kamu polos banget sih. Ya pasti dia tersinggung dong, maksud aku pertanyaan yang pertama ya!"
"Emang kenapa? Kan dia cuma tanya, misalnya?"
"Dia itu beneran suka sama kamu. Tapi dia minder karena dia gak seagama sama kamu. Makanya jadi lemes."
"Masa sih?"
"Eh dikasih tau gak percaya. Terus perasaan kamu ke Patricia gimana?"
Ridho terdiam.
"Aku sih biasa aja. Emang aku kagum karena dia cantik, tapi kalau untuk jatuh cinta kayanya gak mungkin."
"Ya aku ngerti, itu karena prinsip kamu jadinya cewek kaya dia udah ga bisa masuk di hati kamu."
"Jadi aku mesti gimana sama Patricia, Fer?"
"Kamu bersikap biasa aja. Mungkin dia bakal menghindar dari kamu, tapi gak tau sampai kapan."
"Ya udah lah, cewek emang paling susah dimengerti ya?" ujar Ridho menggaruk-garuk pelipisnya.
"Ya begitulah."
"Oh ya terus tawaran Ustadz Ahmed gimana, masih mau coba?" tanya Ferdian.
"Itu aku mau pikirin dulu, Fer! Aku ingin coba sebenarnya. Cuma aku mau istikhoroh dulu."
"Ya baguslah. Aku dukung kamu."
"Makasih ya Fer, kayanya mulai sekarang aku bakal banyak tanya sama kamu yang berpengalaman."
"Santai aja."
\=====
Bersambung lagi ya, nanti kita kupas tuntas kisah Ridho ^_^
Like, comment dan votenya dulu dong
Makasiiiiih
__ADS_1