Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 84. Rindu


__ADS_3

Ferdian telah menyewa mobil lewat jasa traveling yang sudah menjadi langganan pribadinya. Sebuah mobil van hitam yang bisa memuat 8 orang sudah tiba setelah mereka menunggu selama kurang lebih 30 menit di Bandara Sydney.


Kali ini tujuan mereka adalah kawasan Bondi Beach, sebuah kawasan modern yang terletak tidak jauh dari pesisir pantai yang sering menjadi destinasi favorit bagi keluarga saat musim panas tiba.


Ferdian juga telah menyewa sebuah villa berkonsep modern dengan teras menghadap ke pemandangan laut biru yang indah sebelum kepergiannya kemari. Ia ingin liburan keluarganya bisa mendapat privasi yang cukup, sehingga menurutnya akan lebih baik menyewa villa daripada memesan kamar di hotel.


Arsene meminta kepada supir yang baru disewa ayahnya itu untuk mengantarkannya ke asrama. Pria muda itu berlari ke kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian harian juga casual untuk menginap bersama dengan keluarganya di villa.


Sekolah memasaknya memang sedang libur beberapa minggu ke depan. Hanya saja dirinya tetap bekerja, bahkan di dua tempat sekaligus. Satu tempat di sebuah restoran milik akademi, dimana ia menjadi chef pastry di sana untuk membuat kue yang eksklusif dengan platting cantik khas restoran ternama. Satu lagi yaitu tempat lainnya di sebuah resto Asian Cuisine yang selalu ramai dikunjungi oleh para pelanggan.


Hanya saja pekerjaan paruh waktunya itu tidak diambilnya setiap hari saat liburan. Ia hanya mengambil 3 hari dalam seminggu untuk semakin mengembangkan teknik dan skill memasak serta kemampuannya membuat kue. Ia juga memang sedang menantang dirinya untuk bekerja lebih keras agar uang tabungan masa depannya bertambah, tentu saja ini investasi bagi keluarga dan usahanya nanti.


Dengan kedatangan keluarganya di kota berjuluk Emerald ini, Arsene terpaksa mengambil cuti beberapa hari saja agar liburan bersama keluarganya bisa optimal.


Mobil van hitam itu diparkir di sebuah garasi bangunan berbentuk kotak. Sudah terlihat dari eksteriornya bahwa ini adalah bangunan modern dengan kaca lebar menghiasinya.


Mereka semua menaiki tangga untuk bisa masuk ke dalam villa tersebut. Seorang wanita bule menerangkan terkait ruangan-ruangan yang ada di sana. Semua tampak antusias ketika mendapati interior villa yang nyaman, apalagi pemandangan hebat bisa mereka dapatkan dari sana. Laut biru berkilauan menyambut kedatangan mereka di ruang santai dengan jendela besar yang memang langsung menghadap ke laut. Teras balkoni luas dengan beberapa kursi santai di sana, sudah pasti akan menjadi favorit liburan musim panas di awal tahun ini.


Tirai-tirai putih menari seketika pintu menuju balkoni itu terbuka luas, membuat angin tak terhalang lagi untuk menyenandungkan nyanyian sore ke seluruh penjuru ruangan.


Matahari sore yang berwarna jingga menyiratkan keindahan alam yang tidak bertepi, betapa luar biasanya salah satu ciptaan Tuhan itu. Meski kota Sydney padat dengan banyak bangunan tinggi atau kecil, tetap saja lautan di seberang sana terlihat tak terbatas seolah tidak ada ujung di samudra lepas.


Keluarga Ferdian terpana dengan semua pemandangan yang terhampar di depan mata mereka. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di benua kecil ini. Angin senja membelai wajah mereka yang masih berdiri di atas balkoni luas sambil melihat matahari yang sebentar lagi ditelan sang bumi untuk diantarkan ke belahan bumi lainnya agar bersinar.


Ajeng dan Ferdian memberikan kamar istimewa untuk dua insan pemuda yang baru saja kembali menautkan kasih. Sebuah master bedroom berhak dipakai oleh Arsene dan Zaara sebagai kado bulan madu yang singkat ini. Mereka berdua jadi tersipu malu, karena keduanya sama-sama belum menikmati manisnya madu dalam ikatan halal. Arsene membawa koper istrinya ke dalam kamar yang cukup luas dengan kasur berukuran king yang terlihat nyaman untuk ditiduri.

__ADS_1


Aura tegang dan canggung seketika merasuki jiwa, tepat setelah Arsene menutup dan mengunci pintu kamarnya. Zaara duduk di tepi ranjang yang berbalut selimut krem yang lembut. Gadis itu memperhatikan isi kamarnya yang nyaman dan wangi bebungaan.


Zaara yang masih mengenakan hijabnya kemudian beranjak dan memperhatikan isi kamar mandi. Terdapat sebuah bathtub di dalamnya. Desiran hawa menyambut, bergetar dalam tubuhnya.


“Capek?” tanya Arsene mendudukan tubuhnya di atas kasur.


“Hmm… lumayan, ini penerbangan pertama aku jadi masih agak jetlag gitu. Hehe!” jawab Zaara setelah membersihkan tangan dan kakinya.


“Come here!” Arsene menepuk kasur di samping tubuhnya, menyuruh agar Zaara mendekatinya.


Zaara mendudukan dirinya di sebelah suaminya itu. Dengan sigap, Arsene membawa istrinya berbaring untuk didekapnya erat. Pria itu mengunci tubuh istrinya dengan lengan dan kakinya yang meringkuk.


“Tahu gak?” tanya Arsene ketika lengannya mendekap tubuh istrinya.


“Kalau rasa rindu itu bisa berbentuk, mungkin volume rindu aku itu udah kaya lautan di sana. Terlalu luas dan terlalu dalam sampai gak ada satu manusia pun tau jumlahnya.”


Zaara tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia menenggelamkan wajahnya di atas dada bidang suaminya. Wangi tubuh itu membuatnya teringat saat pertama kali mereka berciuman mesra di kamar Arsene dulu. Hatinya merasakan hal yang sama, ia begitu merindukan pelukan hangat ini meski saat itu mereka hanya merasakannya dalam tiga hari saja.


“Aku kangen kamu!” ucap Zaara lirih, suaranya tertahan di atas kaos yang dikenakan Arsene. Pria itu mengecup lekat kening Zaara.


“Siap-siap sholat maghrib, kita mandi dulu yuk!” ucap Arsene, sontak membuat Zaara menatapnya tajam.


“Mandi sendiri-sendiri maksudnya, mandi barengnya besok aja!” ucap Arsene tertawa-tawa.


Gadis di hadapannya itu menahan tawa dan senyumnya. Getaran di tubuhnya terasa geli menggelitiki tubuhnya.

__ADS_1


"Atau mau mandi barengan sekarang pun aku sih oke-oke aja, hihi!" Arsene menggodanya lagi. Zaara mencolek ujung hidung suaminya.


“Kamu… gak lagi haid kan?!” tanya Arsene ragu-ragu.


Zaara jadi tertawa mendengar pertanyaan lucu Arsene.


“Enggak, aku baru selesai kemarin kok!”


"Alhamdulillah...." Arsene refleks mengucap itu dari mulutnya sambil tersenyum berseri-seri.


“Awas mesum!” colek Zaara pada hidung mancung Arsene lagi.


“Sama istri boleh lah!” Arsene mengerlingkan sebelah matanya.


Zaara menutup wajahnya yang memerah tiba-tiba. Namun ia kalah cepat dengan 'gigitan' kecil pria itu di pipi kenyalnya yang sudah merah merona.


\=\=\=\=\=\=


Ehemm


Bersambung....


Jangan lupa like, vote, komennya yaa kakak readers ketceh


Makasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2