Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 26


__ADS_3

Lagu-lagu milik Raisa mengalun lembut selama perjalanan di dalam bus yang ditumpangi Ajeng menuju Pangandaran. Harusnya, ia bisa menikmati alunan lagu itu sambil memikirikan Ferdian, tetapi kawan di sampingnya membuat ia tidak bisa berhenti bicara.


"Jeng, kamu pernah pacaran gak?" tanya wanita berhijab yang duduk di sampingnya, Itu Novi.


"Belom," jawabnya jujur, sebelum bertemu dan menikahi Ferdian memang ia tak pernah pacaran.


"Seriusan?! Miss Ajeng, idola mahasiswa di kampus, belum pernah pacaran?!" tanya Novi memastikan, tidak percaya sama sekali.


Ajeng mengangguk tersenyum. "Istilah pacaran gak pernah ada di kamus hidup aku, sih!" terangnya.


"Mantap! Calon istri idaman ini mah!" puji Novi takjub.


"Emang kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Kamu mau pacaran?" tanya Ajeng penasaran.


"Hehe, enggak juga sih. Masih mikir-mikir dulu, kayanya udah ketuaan juga!"


"Haha, masih bisa pacaran kali, tapi ya kalau udah nikah aja!" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Ajeng.


"Duh, iya juga sih! Usia aku udah 27 tahun, udah mesti serius cari calon ya,"


"Iya, udah mateng banget tuh, langsung nikah, langsung punya anak,"


"Hmm...kaya yang gampang aja nyari calonnya," sikut Novi.


"Itu masih ada yang jomblo di ruangan kita kan?" ucap Ajeng melirik-lirik ke arah belakang, menunjuk Ardi.


"Ah, dia mah udah jelas-jelas naksirnya sama kamu, Jeng! Emang kamu gak ngeh selama ini?"


"Enggak! Aku cuma anggap dia temen kerja aja," ujar Ajeng.


"Sayang lho, cowok maskulin dan keren kaya dia enggak digubris. Kalau kalian nikah nanti, kalian bisa pulang pergi bareng, ngasuh anak bareng atau gantian, makan tiap hari bareng, ah, so sweet deh!" ucap Novi dengan mata berkedip-kedip.


Ajeng tertawa kecil saja menanggapi pernyataan temannya itu.


"Kalau tiba-tiba Ardi ungkapin perasaannya sama kamu gimana, Jeng?" tanya Novi, volume suaranya mengecil khawatir nama yang disebutnya akan mendengar hal itu.


Pertanyaan itu membuat matanya terbelalak.


"Buat kamu aja deh!"


"Ih, serius! Gimana coba?"


"Ngaco kamu mah ah! Dah sana, aku mau tidur!"


"Yee, si Ajeng, ditanya malah menghindar," dengus Novi.


Ajeng mengalihkan pandangannya ke arah jalanan, melihat pepohonan yang berjejeran tak beraturan di samping jalan yang berkelok-kelok. Bagai perjalanan hidup, pohon-pohon yang dilewatinya begitu cepat ditinggalkan oleh kendaraan yang ia naiki. Ia juga masih tak menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini. Dijodohkan papanya dengan mahasiswanya, ia tak menyangka akan bisa jatuh cinta dengan Ferdian begitu cepat. Meski bisa dibilang ia benar-benar mencintainya setelah menikah dengannya. Kalau saja dulu, papanya tak pernah menjodohkan ia dengan Ferdian, mungkin bisa saja ia akan memilih Ardi, jika memang pria itu menaruh perhatian serius padanya.


Ajeng memejamkan matanya. Perjalanan masih akan memakan waktu kurang lebih 3 jam lagi untuk sampai ke tempat tujuan mereka.


\=\=\=


Siang itu Ferdian berjalan lemas menuju kelas. Ia terus memikirkan Ajeng di kepalanya. Suasana hatinya hampa dan kosong tanpa bidadari di sampingnya.


"Woy! Kok lemes amat, Fer?!" Syaiful mengejutkannya dari belakang.


Ferdian refleks mengangkat tangannya.


"Eh, elo, Pul! Bikin kaget aja!"


"Kenapa lo, lemes banget deh? Putus cinta? Di php-in? Cinta bertepuk sebelah jidat?"


"Dasar, agak miring gini ni orang!" ucap Ferdian kesal, ia mempercepat langkahnya menuju kelas.


"Hey, jangan marah dong! Canda dikit aja ngambek," dengus Syaiful.


Ferdian menaruh tasnya di atas meja. Ia melipat kedua tangannya di atas ranselnya, dan menaruh kepalanya disana.


"Fer, besok jangan lupa, Lo kasih sambutan buat anak-anak baru ya?!" ujar Malik yang mendatanginya.

__ADS_1


"Iya!" jawabnya lemas.


"Kenapa sih Lo?!"


"Enggak kenapa-napa," jawabnya datar.


"Ayo semangat dong, banyak anak baru cakep-cakep nih, siapa tau bisa gebet satu!"


"Ogah, makasih!"


"Wah ini mah lagi patah hati, ya Fer?"


"Tau ah!"


"Iya tuh si Ferdian lagi patah hati," ucap Syaiful yang baru masuk kelas.


"Sotoy lo ah!" ucap Malik.


"Ditolak cinta Miss Ajeng, maybe!" celetuk Syaiful, membuat Ferdian mengangkat wajahnya dan menatap Syaiful dengan tatapan dingin.


"Serem Men! Jangan-jangan betul tuh," lanjut Syaiful lagi.


"Hush, hush, lo kesana dulu, Pul!" ucap Malik mengusir Syaiful yang semakin membuat mood Ferdian buruk.


"Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue ya, Fer!" ucap Malik, yang berlalu meninggalkannya sendirian.


"Hmmm" jawab Ferdian.


Pria itu hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan membuat pikirannya positif. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek pesan instan di aplikasi whatsapp miliknya. Tidak ada apa-apa di sana. Ia memutuskan untuk mengirim pesan pada istrinya.


[Kamu udah sampai, sayang?]


Ternyata pesannya masih tertunda, karena pemilik akun itu masih offline.


Ferdian menghela nafasnya. Ia tidak boleh begini, ia harus seperti Ferdian yang biasa, yang ceria dan optimis.


Ya! Ia menyemangati dirinya sendiri.


\=\=\=


"Lagi apa Jeng?!" tanya sebuah suara berat seorang pria.


Ajeng menoleh ke belakang.


"Lagi mau telepon kakakku," jawabnya berbohong.


"Ooh..." respon Ardi.


Keduanya berada di teras lantai atas sebuah hotel bintang 4, ditemani taburan bintang-bintang yang berkilauan di atas langit. Bunyi deburan ombak terdengar sayup-sayup menyapa. Hati Ajeng menyesalkan kedatangan Ardi yang tiba-tiba padahal dia sedang ingin menghubungi suaminya, sesuai janjinya kemarin.


"Menurut kamu tadi gimana diklatnya?" tanya Ardi.


"Umm...bagus sih, penjelasan dari pematerinya, dan kayanya aku juga harus buat masterplan buat diri aku sendiri biar makin tertarget," jawab Ajeng.


"Sepakat, aku pikir juga gitu! Ini kan pertemuan awal jadi kayanya emang harus dimulai dari diri kita dulu,"


"Iya, mungkin materi besok akan lebih jelas lagi,"


"Iya, apalagi besok Profesor Hadi yang bakal ngisi materi, pasti lebih bagus materinya!" ujar Ardi.


Tiba-tiba ponsel Ajeng berdering. Ya itu panggilan video dari Ferdian.


"Aku angkat dulu ya, Ar?!" pamit Ajeng.dengan ekspresi cemas.


"Oke, aku balik ke kamar dulu, bye!"


Ajeng tersenyum dan langsung berlari ke sudut teras. Ia tampak merapikan rambutnya.


"Hai!" sapa Ajeng melambai di depan layar ponselnya.

__ADS_1


"Aku kangen kamuuuuuu!!" ujar Ferdian. Ajeng terkejut dan mengecilkan volumenya.


Ajeng memperhatikan sekitarnya, tampaknya aman.


"Aku juga kangen kamu!" jawab Ajeng.


"Apa? Gak kedengeran?!" teriak Ferdian.


"Aku juga kangen kamu!" kali ini suara Ajeng lebih keras. Hatinya was-was.


Ferdian tampak tersenyum lebar di layar ponsel, membuat Ajeng tertawa-tawa karena menurutnya Ferdian terlihat aneh, rambutnya berantakan, dan matanya sayu.


"Kamu kenapa berantakan gitu?" tanya Ajeng, menyandar di tembok. Ia duduk menghampar di atas teras lantai.


"I'm crazy without you, baby!" ucapnya sambil memberantakan rambutnya.


Ajeng jadi salah tingkah dibuatnya.


"Baik-baik disana, Sayang!"


"I will! Kayanya aku udah jadi bucin kamu!" celetuk Ferdian.


"Apa itu bucin?" tanya Ajeng.


"Budak cinta!"


Ajeng tertawa-tawa mendengar celetukan aneh suaminya.


"Kamu belum tidur?" tanya Ajeng.


"Aku nungguin kamu, Sayang!"


"Makan gak nunggu aku kan?" tanya Ajeng memastikan kalau pria itu masih bersikap normal.


"Aku udah makan kok, cuma sepi banget disini!"


"Kamu tidur di asrama aja, ajak temen-temen kamu biar gak terlalu sepi," kata Ajeng memberi ide.


"Ah iya bener! Ide bagus! Eh tapi malamnya, aku gak bisa telpon kamu dong?"


"Curi-curi waktu aja, kaya aku disini!"


"Ah iya, sipp deh! Lagian besok aku pulang malam,"


"Awas ya jangan kegenitan dan jangan buat baper mahasiswa baru,"


"Siap Nyonya Ferdian!"


Ajeng terkekeh geli.


"Aku mau tidur ya, Sayang! Besok aku harus bangun pagi," ucap Ajeng.


"Yaaah, padahal masih kangen! Hiks hiks!" ucapnya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat, Ajeng menggeleng-geleng saja.


"Besok kita video call lagi ya?" ujar Ajeng untuk menenangkan hati suaminya itu.


"Iya deh, kamu istirahat aja!"


"Kamu juga. Bye Sayang, I miss you!"


"I miss you too, muaaach!" Ferdian menempelkan bibirnya di kamera, membuat bibirnya itu terlihat besar di layar ponsel Ajeng. Wanita itu tidak dapat lagi menahan tawanya.


Dasar Ferdian konyol, selalu saja membuat wanita itu tertawa lepas. Ah, ia benar-benar merindukannya meski baru sehari ini saja tidak bertemu. Ajeng tersenyum-senyum sambil berjalan menuju kamarnya.


"Kayanya ada yang sedang jatuh cinta nih?!" ucap sebuah suara.


\=\=\=\=\=


Keep like dan vote ya

__ADS_1


Makasih ^^


__ADS_2