Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 110. Butuh


__ADS_3

Hari itu adalah akhir pekan. Arsene harus berangkat pagi-pagi ke tempat kerjanya, karena sudah dapat dipastikan, para tamu akan datang ke restoran. Akhir pekan menjadi waktu yang sangat baik bagi orang-orang untuk mengunjungi restoran casual dining itu. Dengan konsep All You Can Eat (AYCE), biasanya para tamu sudah datang sejak pagi demi mendapat hidangan yang lebih segar dan nikmat.


Arsene memasukkan baju koki andalannya ke dalam tas ransel miliknya. Setelah sarapan, lekas-lekas ia mengambil helm miliknya. Zaara sudah berdiri untuk mengantar kepergian suaminya.


“Tunggu aku pulang ya? Nanti kita belanja malam!” ucap Arsene mengenakan jaket tebalnya.


“Iya!” jawab Zaara.


Di akhir pekan Arsene akan pulang sore hari. Gajinya untuk akhir pekan memang akan lebih banyak dari hari biasanya, karena pemuda itu bekerja selama 8 jam. Jadi ia selalu bersemangat untuk bekerja di weekend.


Arsene memeluk tubuh istrinya sebelum kerja, mereka harus saling berbagi semangat agar bisa saling mengerti.


“Aku sayang kamu!” Arsene mengecup kening istrinya.


“Aku juga sayang Abang!”


Arsene tersenyum dan beralih ke perut.


“Ayah kerja dulu ya, Nak! Kamu baik-baik di dalam perut Bunda! Kita ketemu nanti malam!"


Zaara tersenyum saja mendengar ucapan Arsene, pria itu mengecup lekat perutnya.


“Aku pergi dulu ya?!” ucap Arsene.


Zaara meraih tangan suaminya dan mengecupnya di punggung tangan.


“Hati-hati Abang Sayang!”


Arsene berjalan keluar dari pintu apartemen kamarnya sambil membawa helm di tangannya.Zaara kembali mengunci pintu yang sudah tertutup.


“Sabar Zaara! Sabar!” ucapnya pada diri sendiri.


Gadis itu memang sedang merasa kesepian. Kehadiran Arsene yang jarang, sering membuatnya sedih tiba-tiba. Ia benar-benar haus akan perhatian suaminya, berharap seharian ini dirinya bisa bermanja dan bercumbu bersama di dalam kamarnya. Hanya saja waktu memisahkan mereka. Malam hari tidak pernah membuatnya cukup untuk merasakan kasih sayang suaminya. Zaara memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan rumah dan juga bersiap-siap untuk mempersiapkan ujian tengah semesternya.


\=\=\=\=\=


Langit sudah gelap, angin malam berhembus kencang yang masuk melalui celah-celah ventilasi dan jendela. Zaara segera menutup jendela apartemennya yang masih terbuka. Musim kemarau sudah datang, tertanda dari anginnya yang membuat kulit terasa kering dan dinginnya udara yang menusuk kulit.


Sudah pukul 18.30. Arsene belum juga datang, padahal biasanya ia akan datang di pukul 16 lewat. Tidak ada kabar juga kalau ia akan pulang terlambat. Zaara merungut kesal di depan televisi, tetapi ia memutuskan untuk menyiapkan makan malam.


Sebuah ketukan terdengar di pintu, ketika Zaara baru saja merebus sayur bayamnya ke dalam panci.


“Assalamu’alaikum…” terdengar suara Arsene dari sana.


“Wa’alaikumsalam,” Zaara membukakan pintu.


“Maaf aku telat!” ucapnya pelan, terlihat kelelahan meskipun ada senyuman kecil di sana.

__ADS_1


“Kenapa gak ngasih tau?” tanya Zaara mengecup punggung tangan suaminya.


“Aku gak sempet.”


Arsene melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Zaara memberinya segelas air putih hangat.


“Aku udah makan, gak usah siapin buat aku!” ucap Arsene terdengar letih sekali.


Zaara menghela nafas saja.


“Ya udah!” Zaara kembali memasak. Padahal ia sudah memasukkan banyak daun bayam ke dalam pancinya. Kini ia harus menghabiskannya seorang diri, karena sayur bayam tidak bisa didiamkan lebih lama.


Agenda mereka untuk belanja bahan makanan dan kebutuhan rumah sudah pasti gagal. Jika nada suara Arsene terdengar lemah dan rendah intonasinya, sudah pasti pria itu akan berakhir di atas ranjang untuk tertidur setelah isya.


“Aku tidur duluan ya, capek banget!”


“Hmm…”


Zaara hanya menatapnya dari meja makan. Arsene merebahkan tubuhnya setelah shalat isya, pria itu menutup matanya dengan tangan melipat di atas keningnya.


Kecewa. Hanya itu yang bisa dirasakan Zaara. Ini bukan yang pertama kalinya. Sering Arsene pulang lewat dari jam kerja yang diketahui oleh istrinya itu. Mereka juga sudah jarang berdiskusi karena Arsene selalu kelelahan setelah bekerja.


Zaara mematikan lampu tidur kamarnya, dan membiarkan cahaya dari ruang utama masuk melalui celah ventilasi. Ia tertidur di samping suaminya. Melihat wajah suaminya yang tertidur pulas dari kegelapan, Zaara tertegun. Ia menyentuh ujung hidung pria itu dengan satu jarinya lalu beralih turun ke bibirnya yang selalu membuatnya terlena.


“Apa kamu gak kangen aku?” bisik Zaara.


Zaara mengecup bibir Arsene yang wajahnya sedang menghadap ke arahnya dan mengulumnya sebentar. Ia memang merindukan sentuhan suaminya yang kini jarang menyentuhnya. Arsene memang sering melampiaskan hasratnya, hanya saja untuk dirinya sendiri. Tidak untuk mereka berdua.


Entah mengapa hasrat di dalam tubuh Zaara makin membesar saja. Bahkan nafasnya terdengar tidak beraturan setelah ia mencium suaminya. Ia mulai mengecup leher pria itu, membuat tubuh Arsene bergerak.


“Sayang, aku ngantuk!” ucap Arsene parau dan membalikan tubuhnya ke arah lain.


Otomatis membuat Zaara menghentikan aktivitasnya. Hatinya berdenyut terasa sakit. Gadis itu menutup hidung dan mulutnya yang bernafas menderu. Lalu berbalik memunggungi suaminya. Ia merutuki dirinya sendiri dan mencoba tidur.


Zaara mencoba tidur tetapi tidak bisa. Ada yang mengganjal di hatinya. Gadis itu keluar dari kamarnya sambil membawa guling dan selimut tipisnya. Kemudian menyalakan televisi yang memutarkan film action. Zaara tertidur di sana tak lama kemudian dengan kondisi televisi yang masih menyala.


\=\=\=\=\=\=


Arsene terbangun di pukul 3.30 dini hari karena merasa tidurnya sudah cukup baik. Kini tubuhnya terasa segar kembali. Arsene berniat memeluk tubuh istrinya, tetapi hanya ada bantal kosong di sana. Arsene meraba kasurnya, tidak ada siapa-siapa di sebelahnya. Ia terkejut dan terperanjat bangun, dan menyalakan lampu. Memang benar tidak ada Zaara di sana.


Terdengar suara dari luar. Kecil tetapi ramai.


Arsene keluar kamar dan perasaannya terasa lega sekaligus penasaran. Mengapa Zaara bisa tertidur di kursi sofa? Arsene mematikan televisi dan mengangkut tubuh istrinya ke atas kasurnya.


“Aku kangen kamu!” racau Zaara setelah Arsene meletakkannya di atas kasur. Gadis itu sepertinya mengigau dalam tidurnya. Arsene mencoba memancingnya yang kadang gadis itu respon. Zaara memang unik.


“Kangen siapa?” tanya Arsene.

__ADS_1


“Kangen Abang!”


“Iya?”


“Sedih.”


“Kenapa sedih?” tanya Arsene lagi.


“Abang udah gak sayang aku!” wajah Zaara terlihat murung meski sedang tertidur.


Mendengar pernyataan tidak sadar Zaara, jantung Arsene terentak. Apakah gadis itu benar-benar mengatakan apa yang dirasakannya? Arsene jadi merasa sedih dan menyesal. Ia sadar waktu mereka semakin terkikis, apalagi Arsene sering pulang terlambat.


Arsene mengecup kening istrinya lekat-lekat.


“Maafin aku ya?”


“Gak mau!” Zaara membalasnya membuat mata Arsene membesar dan kembali memperhatikan wajah istrinya.


“Kamu masih tidur, Sayang?” Arsene menepuk-nepuk pipi Zaara, tetapi gadis itu bergeming dan tidak bergerak.


"Apa mau kamu?" tanya Arsene lagi mencoba memancing.


“Aku mau kamu!” ucapnya kemudian seraya tersenyum.


Arsene benar-benar bingung, apakah istrinya itu sadar atau tidak? Ia tidak bisa membedakannya dalam kondisi itu. Tiba-tiba sesuatu terasa di bagian bawah tubuhnya, tepat di benda pribadi milik pria itu.


“Zaara!” Arsene membelalakan matanya.


Gadis itu terbangun dan tertawa-tawa.


“Aku mau minta jatahku yang tertunda!” ucap Zaara memberanikan diri.


“Sekarang?!” tanya Arsene memastikan.


Gadis itu mengangguk.


Arsene menggeleng saja. Ia tidak tahu ternyata istrinya itu berani juga mengutarakan keinginan yang satu ini. Arsene jadi semakin merasa gemas padanya dan lekas menindih tubuh gadis itu, mengecupnya lekat-lekat dan mulai memimpin permainan yang di tengah udara yang dingin.


\=\=\=\=\=\=


Ehemm...


Bersambung dulu yaa


Jangan lupa like, vote, dan komennya


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2