Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 60


__ADS_3

TOK.TOK.TOK


"Ajeng, Ferdian, kalian udah tidur?" panggil mama lagi.


Ferdian melepaskan tubuhnya dari istrinya. Ia kalut begitu juga dengan Ajeng. Beruntung hujan deras di luar masih meredam kepanikan mereka.


"Kenapa Ma?" teriak Ajeng.


"Mobil papa mogok di jalan tol, mungkin Ferdian bisa bantu jemput Papa?!" pinta Mama, suaranya terdengar cemas.


"Oh iya Ma, sebentar!" jawab Ferdian.


"Gak ada kamar mandi di sini?" tanya Ferdian tanpa suara, membuat istrinya, yang sedang mengenakan baju tidurnya lagi, tidak mengerti.


Ferdian memberikan isyarat dengan gerak tubuhnya.


"Kamar mandi di luar!" desis Ajeng.


Ferdian menepuk jidatnya. Ia segera mengambil tisu, dan mengenakan pakaian lengkapnya. Sungguh malam yang tidak terduga. Kepala pria itu terasa panas, lebih-lebih lagi karena eksekusinya belum tuntas.


"Kita lanjut lagi nanti ya, Sayang!" seru Ferdian pada istrinya, kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri Mama. Ajeng mengangguk saja.


Ia berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan mertuanya itu, meskipun nafasnya itu masih memburu.


"Kenapa Ma?" tanya Ferdian. Ia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.


"Kata Papa mobilnya mogok di tol Padalarang, apa kamu bisa jemput Papa?" pinta Mama. Mama melihat menantunya itu sedikit berantakan, dahi dan pipinya berkilauan dengan lubang hidung yang kembang kempis.


"Bisa, Ma! Nanti Ferdian coba hubungi Papa!"


"Makasih ya Ferdian, maaf udah ganggu waktu kamu!" ucap Mama menyesal.


"Gak apa-apa, Ma! Ferdian ke kamar mandi dulu ya sebentar?!"


Mama mengangguk saja melihat menantunya.


\=====


Malam sudah menunjukan pukul 22.10. Ferdian melajukan mobilnya di ruas jalan tol menuju sebuah bengkel yang tidak jauh dari gerbang tol Padalarang. Ia sudah menghubungi papa mertuanya untuk menunggu sampai ia tiba.


"Pa, mobilnya kenapa?" tanya Ferdian setibanya di bengkel bertemu dengan mertuanya.


"Katanya mesinnya bermasalah, baru besok bisa dibetulkan!" jawab Papa.


"Ya udah, Papa pulang dan istirahat aja dulu!"


"Iya, biar besok supir Papa yang ambil!"


"Papa gak pergi sama supir?"


"Kalau weekend kan libur, jadi tadi pergi sendiri aja! Gak taunya mobil sedang bermasalah!"


"Ooh...yuk Pa, kita pulang!" ajak Ferdian.


Keduanya pun melaju menuju rumah. Sepanjang perjalanan diisi oleh percakapan mereka mengenai kehamilan Ajeng, kuliah dan juga bisnis milik Ferdian, juga nasihat-nasihat Papa untuk diri Ferdian, persiapan menjadi seorang ayah. Tak terasa keduanya pun tiba. Mama menyambut kedatangan keduanya dengan perasaan lega. Ferdian langsung bergegas masuk ke dalam kamar istrinya lagi untuk menuntaskan eksekusi. Namun, ia menemukan istrinya itu telah tertidur pulas.


"Sayang!" panggil Ferdian sambil menyentuh pipi istrinya.


Ajeng bergerak sedikit, kemudian tertidur lagi.


Lelaki yang masih dalam keadaan junub itu hanya bisa menghela nafas. Tak lama ia pun ikut tertidur.


Namun karena naluri kelaki-lakiannya masih menggerayangi, sebelum adzan subuh berkumandang ia berhasil menuntaskan eksekusi yang tertunda selama kurang lebih lima jam itu.


\=====


Keluarga Diningrat telah berkumpul di ruang makan, minus Nadya dan keluarga tentunya, yang tinggal di Jakarta. Mama menyiapkan hidangan untuk sarapan suaminya, begitu juga dengan Ajeng yang menyiapkan menu yang sudah tersaji di atas meja, untuk Ferdian.


"Bisnis kamu gimana, Fer?" tanya Papa.


"Bisnisku masih lancar-lancar saja, Pa! Meskipun ada penurunan dikit di omset, tetapi biasanya masih bisa naik lagi di pekan berikutnya," terang Ferdian.


"Hmm...baguslah! Bisnis di dunia kuliner memang seperti itu ya?"


"Iya Pa, kita harus pintar cari strategi untuk mempertahankan pelanggan dan menambah pelanggan baru," ucap Ferdian.


"Betul itu!"


"Oh ya, apa kamu tertarik dengan bisnis properti?" tanya Papa lagi.


"Aku belum pernah coba, Pa! Kak Damian yang lebih jago urus properti," jawab Ferdian.


"Siapa tau suatu hari nanti kamu mau coba, kamu bisa belajar sama Papa, biar nanti kamu yang terusin bisnis Papa!" ujar Papa, membuat Ferdian tegang.


"Makasih Pa, mungkin nanti aku pertimbangkan setelah lulus kuliah!" respon Ferdian.


"Iya, santai saja. Sekarang kamu masih harus fokus sama kuliah dan anak kamu!"

__ADS_1


Ferdian mengangguk saja.


 


"Sebenarnya istri kamu itu jago marketing di perusahaan Papa lho!" terang Papa melirik pada Ajeng.


Ferdian mengerjapkan matanya tidak percaya, lalu memandangi istrinya.


Ajeng mengangkat bahunya saja.


"Betul itu, Pa?"


"Betul! Tanya aja sendiri! Dulu dia pernah magang di perusahaan Papa setelah lulus kuliah S1, kurang lebih enam bulan lah, setelah itu lanjut S2, karena dia memang sangat tertarik untuk menjadi dosen!"


Ajeng menyengir saja.


"Dia pernah berhasil mengajak seorang investor baru ke perusahaan Papa, dan sampai sekarang investor itu masih setia untuk bekerja sama di perusahaan Papa! Prestasi yang cukup bagus, mengingat dia bukan kuliah di jurusan bisnis!"


Ferdian memandangi Ajeng lagi.


"Barangkali kamu butuh bantuan, kamu bisa ajak Ajeng juga untuk bisnis kamu! Ya kan, Jeng?"


"Haha..! Papa ada-ada aja, itu kan dulu! Sekarang mungkin udah beda lagi kondisinya. Lagian Ferdian kan fokusnya di dunia kuliner, bukan properti kaya Papa!"


"Inti marketing itu sama aja, cuma caranya aja beda!"


"Iya sih!"


"Udah habisin makannya dulu, baru lanjut ngobrolnya!" sergah Mama yang tampak kesal karena sejak tadi pembicaraan mengarah pada dunia bisnis.


Mereka semua menyengir berbarengan dan menikmati sarapan bersama.


\=====


Siang itu Ajeng tampak berbaring santai di sofa ruang tengah rumah Mama dan Papanya. Sementara Ferdian tengah tertidur siang pulas di kamar Ajeng.


Ajeng sedang membuka ponselnya. Ia tampak sedang berbincang melalui aplikasi Whatsapp dengan Karin, temannya yang berencana akan menyewa rumahnya nanti.


[Jeng, suami kamu masih muda ya?] tanya Karin.


[Iya, dia mahasiswaku!] jawab Ajeng.


[Wow, keren! Udah lulus?]


[Belum, rencana tahun ini]


[Ooh!]


[Tanya apa?]


[Kamu bisa berubah gitu gimana caranya? Maksudku, dulu kamu kan tomboy & cuek abis, kok bisa jadi berhijab syari gitu?] tanya Ajeng penasaran.


[Ceritanya panjang, Jeng! Yang pasti hijrahku juga yang akhirnya mempertemukan aku sama suami aku] terang Karin.


[Emang kapan kamu mulai hijrah?]


[Sejak lulus kuliah! Aku ketemu sama adik Mas Reza waktu itu, Jingga namanya. Aku belajar agama bareng Jingga, eh bonusnya malah jadi ta'arufan deh sama Masnya, hihi] cerita Karin.


[Kamu ta'aruf, Rin?] ketik Ajeng tidak percaya.


[Iya!]


[Duh jadi penasaran, pengen ngobrol nih, tapi gak mau lewat telepon] ujar Ajeng.


[Nanti kita ketemuan aja! InsyaAllah kemarin kata Mas Reza kita bakal jadi sewa rumah kamu!]


[Wah beneran?]


[Iya, mudah-mudahan keputusannya gak berubah ya! Alhamdulillah Mas Reza udah dapat kerja yang lebih baik sekarang di perusahaan Papa kamu]


[Wah, sip deh nanti kita cerita-cerita ya?]


[Iya InsyaAllah!]


[Aku end chat dulu ya, suami aku bangun nih!] terang Ajeng.


[Iya Ajeng Sayang, nanti aku info lagi ya :)]


[Sipp]


 


Ferdian mengucek matanya yang baru bangun tidur siang. Ia memandangi istrinya heran, karena sejak tadi terlihat berseri-seri.


"Kamu chattingan sama siapa?" tanya Ferdian merebahkan tubuhnya di sofa, kepalanya bersandar di atas paha sang istri.


"Sama Karin, temenku yang mau sewa rumahku itu lho!" jawab Ajeng, sambil membelai rambut suaminya.

__ADS_1


"Ooh! Jadi gimana, jadi sewa rumahnya?"


"Katanya InsyaAllah, suaminya setuju! Ternyata suaminya itu kerja di perusahaan Papa lho!"


"Oh iya?"


"Iya! Aku jadi pengen ketemuan sama dia, pengen tau cerita hijrah dia kaya gimana," terang Ajeng sambil menengadahkan wajahnya ke atas.


"Kenapa kamu tertarik?" tanya Ferdian beranjak bangun.


"Rasanya aku butuh sesuatu, karena bentar lagi jadi ibu, aku jadi merasa butuh bekal ilmu agama untuk bisa bimbing anak-anak kita nanti," terang Ajeng mengelus-elus perutnya.


Ferdian tersenyum memandangi istrinya. Ia pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Sebentar lagi keduanya akan menjadi orang tua, pasti butuh ilmu yang banyak. Bukan hanya tentang parenting anak dalam kehidupan, tetapi juga bekal agama agar anak-anak mereka selamat di dunia & akhirat. Apalagi di zaman sekarang, kejahatan dan kemaksiatan ada di mana-mana, pastinya membuat para orangtua cemas akan masa depan anak-anaknya nanti. Oleh karena itu, bekal akidah dan keimanan yang kuat setidaknya bisa menjadi pegangan bagi anak-anak agar tidak terjerumus dalam dunia yang salah.


\=====


Malam itu, Ajeng dan Ferdian telah kembali ke kediaman mereka. Rencananya dua hari lagi mereka akan berlibur sebentar menikmati masa-masa pacaran mereka yang sebentar lagi akan usai, karena kehadiran 'orang ketiga' alias bayi mereka.


"Jadi kita mau berlibur kemana, Sayang?" tanya Ferdian sambil mengenakan kaos tidurnya setelah mandi.


"Jangan yang jauh-jauh ah," jawab Ajeng.


"Masih di Bandung aja?"


"Iya, ke Lembang aja deh kayanya!"


"Hmm, boleh! Kita mau nginep di hotel atau sewa Villa?"


"Hotel aja deh, cuma 3 hari 2 malam ini, ya kan?"


"Aku ikut kamu aja nyamannya gimana," ujar Ferdian duduk di samping istrinya.


"Ya udah, aku mau booking dulu penginapannya ya?"


"Iya!"


Ajeng memilih-milih penginapan yang akan menjadi tempat menginapnya di Lembang melalui aplikasi online. Ia juga berusaha mungkin mencari penginapan yang nyaman dengan tempat strategis. Karena di Lembang banyak sekali tempat wisata, jadi ia ingin agar penginapannya tidak jauh dari lokasi-lokasi wisata di sana.


Sementara Ferdian hanya memandangi wajah istrinya yang tampak serius sedang memilih penginapan. Meskipun wanitanya itu kini lebih berisi, namun kecantikannya tidak pudar sama sekali, dan malah semakin terpancar kecantikan alami seorang ibu yang sedang mengandung. Ia tersenyum bahagia. Di satu sisi ia bersyukur memiliki istri yang sangat cantik, cerdas, dan dewasa. Di sisi lain ia juga bersyukur karena sebentar lagi buah hatinya itu akan lahir, dan trauma di masa lalunya ternyata tidak terlalu mempengaruhinya, meski sempat ia dibuat cemas karenanya.


"Fer!" panggil Ajeng.


Ferdian tidak bergeming dan tetap menatap wajah istrinya sambil tersenyum.


"Fer kamu ngelamun ya?" ucap Ajeng mencolek pipi suaminya.


"Eh, enggak kok!"


"Bohong! Masa dipanggil diam aja, padahal kamu lagi liatin aku!"


Ferdian menyengir.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Senyam-senyum gitu?"


Ferdian terkekeh geli.


"Pasti mikirin yang mesum-mesum ya buat nanti pas kita nginep di hotel?" tebak Ajeng.


"Ih, enggak yee!" sergah Ferdian.


"Terus apa dong?"


"Ada deh!" ucap Ferdian langsung berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


"Jangan tidur dulu!" gerutu Ajeng.


 


"Kenapa?" tanya Ferdian heran.


"Mmh...itu, mmhh..." Ajeng tampak kebingungan untuk menyampaikan sesuatu.


Ferdian mendekati wajah istrinya. Sedangkan Ajeng tampak tertunduk tersipu-sipu, sulit untuk menyatakan keinginannya.


"Sayang?" tanya Ferdian lagi.


Ajeng mendekati wajah suaminya dan mengecup lembut bibirnya. Ferdian yang terkejut, kini terkekeh-kekeh geli.


"Bilang aja pengen minta jatah gitu!" ucap Ferdian tertawa-tawa.


 


Ajeng menimpuk Ferdian dengan guling. Wajahnya yang malu tampak merona. Langsung saja Ferdian mengapit tubuh istrinya itu dari atas dan melakukan permainan di malam hari yang ditemani lagi oleh sang hujan.


\=====


Makasih banyak selama ini untuk yang masih setia baca

__ADS_1


Silakan tinggalkan masukannya ya untuk author


Like dan Vote juga <3


__ADS_2