
Lampu tidur sudah padam. Kamar terasa sunyi setelah sebelumnya ribut oleh tangisan bayi Ryu yang kelaparan. Zaara merebahkan tubuhnya yang lelah. Sementara Arsene baru saja datang membawakan air minum hangat untuk dirinya sendiri. Pria itu lalu ikut berbaring di samping istrinya.
“Abang, hari Minggu ini bisa datang ke nikahannya Om Kevin?” tanya Zaara malam itu sebelum mata mereka benar-benar terpejam. Ryu sudah terlelap setelah Zaara berhasil membuat perutnya kenyang.
Mendengar pertanyaan itu, Arsene memiringkan badannya. Ia memangku kepala di salah satu tangannya, menghadap sang istri.
“Oh, hari Minggu ini ya?” tanya Arsene. Pria muda itu memang tidak terlalu ingat meski ia sudah membaca undangan.
“Iya.”
“Abi, umi, datang?”
“Abi datang kayanya. Kalau umi belum tau,” jawab Zaara.
“Hmm…” Arsene bergumam sebentar.
“Gimana?” Zaara menunggu jawaban suaminya.
“Ya udah, aku bakal datang. Kamu di sini aja, gak usah ikut!” Arsene memberikan jawaban yang membuat hati Zaara cukup lega.
Hati Zaara tidak merasa enak. Meskipun Kevin adalah om sekaligus atasannya, Zaara sangat menyayangi tantenya, Jingga. Hatinya merasa simpati, apalagi Jingga sempat dirawat di rumah sakit lagi beberapa minggu sebelum ini. Untung saja dirinya masih dalam tahap pemulihan sehabis melahirkan, jadi tidak datang ke pernikahan kedua omnya adalah keputusan terbaiknya saat ini.
“Makasih Abang Sayang!”
“Yuk bobo!”
\=\=\=\=\=\=
Suasana ruangan aula gedung B Fakultas Ilmu Budaya Sabtu itu terpakai oleh rapat evaluasi kerja akhir tahun LDK DKM Asy-Syifa, sekaligus menjadi musyawarah besar untuk pergantian kepengurusan tahun itu. Beberapa pengurus inti dan pembantu dari ikhwan dan akhwat hadir juga di sana. Ada pula para pembina, penasehat, ketua dan sekretaris umum DKM Asy-Syifa, yang merupakan para pemimpin di level yang paling atas, biasanya mereka adalah para dosen dan aktivis bakti yang sudah tidak lagi menjadi mahasiswa di Universitas Bumi Pertiwi.
Rapat evaluasi akhir tahun telah selesai di sesi pertama pertemuan hari itu. Laporan akhir pertanggungjawaban para ketua divisi di LDK sudah diserahkan kepada pengurus administrasi masjid. Kandidat calon ketua LDK yang baru sudah sangat santer terdengar dari mulut ke mulut. Meskipun begitu, para pimpinan DKM sudah memutuskan sehingga isu yang berkembang tidak lagi menjadi isu.
Arsene, Adit, dan Angga, sahabatnya, duduk di meja depan sambil mendengarkan ketua DKM yang sedang menjelaskan struktur LDK yang baru, meskipun sebenarnya masih sama saja dengan struktur organisasi seperti tahun kemarin. Ahmad, yang tahun itu menjabat sebagai Ketua LDK pada semester 5 dan 6 perkuliahannya, akan memberikan serah terima jabatannya itu kepada ketua LDK yang baru.
Ustadz Firmansyah, Dosen PAI dari FIB yang adalah ketua DKM terpilih tahun itu kini menginstruksikan kepada Ahmad Purnama untuk berdiri di depan di hadapan rekan-rekannya. Ahmad bersiap-siap dan tersenyum kepada salah satu sahabatnya yang duduk di depan.
“Mungkin ini amanah yang cukup berat, mengingat calon ketua LDK kita tahun ini baru saja mendapat amanah lain yang luar biasa. Tetapi saya yakin, beliau bisa mengemban amanah menjadi ketua LDK sekaligus. Semoga amanah ini akan menjadi syafaatnya di akhirat kelak yang akan menolongnya ke surga. Aamiin. Mangga, dipersilakan kepada Arsene Rezka untuk ke depan menemani sahabatnya, Ahmad, yang sudah berdiri. Semangati dengan takbir, Allahu Akbar!”
Arsene menarik nafas panjangnya ketika beranjak dari kursi tempat duduknya. Ia merapikan jaket LDK yang sudah terpasang di badannya. Berdiri kemudian berbalik ke arah rekan-rekan yang baru saja menyemangatinya. Ia tersenyum pada sahabat di sampingnya. Ahmad menyenggol lengannya, memberikan kekuatan.
Ya, Arsene sudah dipilih untuk menjadi ketua LDK yang baru. Hasil rapat para petinggi DKM Asy-Syifa langsung memutuskannya tanpa ada kandidat lain yang lebih kuat. Ia adalah calon tunggal, semua sepakat memilihnya. Awalnya Arsene ragu-ragu menerima keputusan ini, mengingat dirinya baru saja berubah status menjadi seorang ayah dari anaknya. Akan tetapi, Reza, mertua sekaligus juga pembina DKM masjid kampusnya, selalu menguatkannya bahwa Arsene bisa mengemban amanah itu selama satu tahun ke depan. Lagipula Arsene masih memiliki empat semester lagi untuk menyelesaikan perkuliahannya.
Seorang rekan memberikan Ahmad bendera kebanggaan DKM Asy-Syifa. Ahmad memegang bendera itu kuat.
“Penyerahan bendera DKM akan diberikan oleh Ahmad kepada Arsene, sebagai bukti simbolik kita memiliki ketua LDK yang baru,” ucap moderator.
__ADS_1
“Silakan kepada Kang Ahmad untuk menyerahkan bendera DKM kepada Bang Arsene. Takbir!”
Ahmad menyerahkan bendera di tangannya itu kepada Arsene. Dengan mengucap bismillahirrahmaanirrahiim, Arsene menerima bendera itu sekaligus menanggung amanah untuk semakin memajukan LDK DKM Asy-Syifa ke depannya.
Semua rekan-rekan mereka bertakbir untuk menyemangati ketua LDK yang baru. Keduanya berjabat tangan dan panitia dokumentasi menangkap gambar itu sebagai kenang-kenangan.
“In tanṣurullāha yanṣurkum!” ucap Ahmad pada Arsene yang dikutip dari Surat Muhammad ayat 7, yang berarti ‘jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu…’
“Aamiin ya Rabb!”
\=\=\=\=\=\=
Alunan musik piano mengalun lembut di ballroom salah satu hotel bintang lima di Bandung. Para tamu yang tampaknya berasal dari kalangan atas, menghadiri pesta pernikahan Kevin Nataprawira dan Ghea Vallerie.
Arsene datang bersama orangtuanya siang itu. Ia mewakili istrinya yang tidak bisa hadir. Sementara mertuanya, Reza, yang adalah mantan ipar Kevin akan menyusul setelahnya.
“Suasana pestanya jauh banget sama pesta Kevin sama Jingga dulu ya, Sayang?!” ujar Ajeng ketika mereka memasuki ballroom yang luas dan elegan itu.
“Hmm… iya. Dulu gak semewah ini ya?” tanya Ferdian
“Iya mungkin karena permintaan Jingga. Lagian konsepnya islami banget waktu itu.”
Arsene hanya mendengar percakapan orangtuanya dari belakang.
Bahkan mempelai wanita mengenakan gaun dengan bukaan dada lebar yang memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangka mulusnya. Rambutnya yang merah terikat dengan hiasan bunga mawar putih. Wajahnya tersenyum berseri, meski senyumannya itu terlihat aneh di mata Arsene.
Arsene memperhatikan istri Kevin dengan lekat dari kejauhan. Wanita itu cantik dan memiliki tubuh ramping, tetapi ada sesuatu yang aneh darinya entah apa. Ada auranya yang terlihat berbeda. Apa hanya perasaannya saja? Arsene menepis pikirannya dan berjalan menuju panggung pelaminan.
“Terima kasih sudah datang, Ajeng, Ferdian!” ucap Kevin tersenyum kecil saat Ajeng dan Ferdian mengucapkan selamat padanya.
Bibir Kevin tersenyum, tetapi pandangan matanya sendu. Arsene bisa sangat jelas melihatnya di sana.
“Siapa mereka?” tanya istri Kevin menggandeng lengan suaminya.
“Ajeng, ini teman satu kelasku di kampus. Ini Ferdian, suaminya!” jawab Kevin pada Ghea.
“Ooh…” Ghea tersenyum lebar di hadapan Ajeng dan Ferdian.
Kali ini Arsene yang memberi ucapan selamat.
“Selamat ya Om, semoga pernikahannya diberkahi Allah. Maaf Zaara gak bisa datang!”
“Terima kasih, Arsene. Maaf Om juga belum sempat menengok bayi kalian. Selamat juga atas kelahiran anak kalian!” ucap Kevin berseri menatap Arsene.
“Dia siapa?” Ghea tidak bisa berhenti bertanya.
__ADS_1
“Ini Arsene, anaknya Ajeng dan Ferdian. Istrinya adalah keponakanku.”
“Ooh, keponakan Mbak Jingga!”
Kevin tersenyum kecil mengangguk.
Arsene pamit dari sana dan langsung menghampiri ayah dan ibunya untuk menikmati sajian yang sudah tersedia.
“Mertua kamu gak datang, Cen?” tanya Ajeng.
“Abi insya Allah datang. Umi masih rawat Tante Jingga.”
“Subhanallah. Kok aku sedih banget ya!” sahut Ajeng.
“Itu urusan mereka. Yang penting, semoga Teh Jingga bisa segera diberi kesembuhan. Kevin juga bisa bahagia dengan pernikahan ini,” ucap Ferdian.
“Aamiin…”
Arsene dan kedua orangtuanya sudah menghabiskan menu yang mereka ambil. Tiba-tiba perhatian Arsene tertuju pada seorang pria tegap yang berjalan dari pintu masuk hingga panggung pelaminan. Itu Reza.
Ayah mertuanya itu terlihat memeluk tubuh Kevin dan menepuk pelan punggungnya. Mereka terlihat emosional dengan rahang yang sama-sama mengeras. Bahkan raut wajah Kevin bisa terlihat dengan jelas menunjukkan raut sedih dan kecewa di saat yang bersamaan. Kevin mengangguk saat Reza berkata sesuatu. Mungkin terucap doa dan harapan dari mantan kakak iparnya itu. Kemudian Reza menangkupkan tangan di hadapan istri Kevin dan berjalan meninggalkan mereka.
“Abi!” panggil Arsene saat Reza melangkah melewati mejanya.
Reza menghentikan langkah dan menoleh.
“Abi gak makan dulu?” tanya Arsene.
“Abi langsung ke rumah nenek lagi, Bang!”
“Oh…”
“Maaf, saya duluan ya?!” pamit Reza pada Ajeng dan Ferdian juga.
Arsene hanya memandangi kepergian ayah mertuanya di sana. Ia sangat mengagumi sosok ayah mertuanya yang berbesar hati itu. Ia hanya berharap silaturahmi antara keluarga besarnya dengan Kevin bisa terus terjaga.
\=\=\=\=\=
Bonus Episode bersambung dulu yaa...
Baca Kisah Kevin dan Jingga
"After The Second Marriage Life"
__ADS_1