
Rumah mewah bergaya klasik minimalis berdesain rumah Eropa, bercat putih dipadukan dengan keeleganan batu marmer di beberapa sisi tembok dan dua pilar yang tegak di bagian depan rumah, serta jendela bergaya Perancis itu kini sudah berdiri megah di sebuah kawasan perbukitan di wilayah Bandung Utara. Pepohonan pinus, cemara, serta palem menghiasi taman di bagian halaman depan, membuat rumah elegan itu terlihat asri.
Interior rumah itu sudah terisi penuh di setiap ruangan yang ada di dalamnya sehingga siap untuk dihuni. Intensitas cahaya matahari yang masuk sangat baik, membuat ruangan besar yang ada di pusat rumah ini menjadi terang. Warna salem, mocca, serta putih mendominasi furnitur yang mengisi di dalamnya. Taman luas beserta kolam renang kecil terdapat di bagian belakang.
Rumah berlantai dua berkonsep Eropa ini adalah milik Keluarga Ferdian. Ferdian menyerahkan semua konsep dan desain pada keinginan istrinya yang sangat menyukai desain-desain klasik vintage ala Eropa. Pria itu menggunakan jasa arsitek serta desainer interior terkemuka teman baik mertuanya. Inilah rumah mereka sekarang yang siap mereka huni.
Ferdian membawa semua keluarganya dari Singapura kembali ke kota tercintanya di Bandung. Anak-anak mereka berlarian dan menyusuri setiap ruangan yang terdapat di dalam rumah baru mereka itu. Kirei, gadis kecil bertubuh montok itu berlarian dari satu ruangan ke ruangan lain.
“Kirei, hati-hati!” seru Ferdian melihat anak gadis satu-satunya ketika menaiki tangga mewah berukiran daun di railing-nya. Gadis kecil itu membawa tas ransel berwarna merah mudanya sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
“Yes, Daddy!” teriaknya.
Semua kamar tidur anak terletak di lantai dua dengan total lima kamar tidur, sedangkan kamar tidur utama terletak di lantai satu. Sebenarnya rumah itu tidak terlalu luas, hanya karena desain mewahnya saja membuat rumah itu seperti mansion yang ada di Eropa.
“Ini kamar gue,” ucap Rainer memilih sebuah kamar yang menghadap ke taman belakang, sehingga dari kamarnya ia bisa melihat kolam renang.
“Ya udah Abang di sini,” ucap Arsene memilih kamar di seberangnya. Jendela luas yang ada di kamarnya menghadap pada pemandangan kota Bandung.
Sementara Kirei berada di kamar pojok sebelah Rainer. Gadis itu begitu kegirangan mendapati kamar khusus miliknya yang sudah didekorasi dengan barang serba warna pink. Ia senang memiliki kamarnya sendiri, karena di Singapura ia masih tidur dengan kedua orangtuanya. Kini dirinya tidak lagi takut, karena ada dua abangnya yang memiliki kamar yang dekat dengan dia.
\=\=\=\=\=
Waktu cepat sekali bergulir, Arsene sudah melewati ujian akhirnya tinggal menunggu pengumuman kelulusannya. Begitu juga dengan Rainer yang kini sudah naik ke kelas sebelas di jurusan sosial. Kirei sudah didaftarkan pada sebuah SMP Islam Terpadu unggulan yang ada di kota itu. Baby Finn sudah berusia 6 bulan yang kini badannya lebih montok, ia mirip seperti Arsene kecil.
Ajeng tampak sibuk dengan beberapa asisten rumah tangganya pagi itu. Ia berencana mengadakan syukuran atas kepindahan keluarganya kembali ke Bandung serta untuk rumah barunya itu. Arsene juga berada di sana yang sedang membuat adonan cupcake dan cookies coklat untuk para tamu keluarganya. Sebentar lagi para tamu mungkin berdatangan, mereka harus bersiap-siap menyambutnya.
Acara hari ini dikhususkan untuk teman-teman Ajeng dan Ferdian, karena undangan untuk keluarga besar Winata dan Diningrat sudah diadakan beberapa minggu yang lalu. Sepertinya tamu akan cukup banyak yang datang, mengingat Ferdian mengundang beberapa teman kuliahnya dahulu, kecuali Ridho, karena pria itu tinggal di Inggris sejak menikahi Patricia. Jadi agak sulit membuat ia datang kemari kecuali saat lebaran tiba.
Meja panjang yang sudah didekorasi kain putih dan salem sudah berada di taman belakang yang cukup luas itu. Di atasnya sudah diletakkan hidangan-hidangan yang menggugah selera. Ada beberapa kursi taman lipat yang ditaruh di sana. Balon dan bola-bola kecil ikut meramaikan dekorasi yang ada di kolam renang. Finn tampak antusias melihat warna-warni bola yang ada di sana, hingga Ferdian yang menggendongnya harus cukup kuat, karena tenaga bayi itu cukup kuat juga.
Arsene menata cupcake buatannya di atas meja prasmanan. Krim berhias sprinkle dan meises, menjadi pelengkap cupcake berasa vanilla, strawberry, dan cokelat. Ia menatanya dalam sebuah piring saji bersusun 3 tingkat, membuatnya menjadi sangat cantik. Ia tersenyum melihat kue buatannya itu. Kirei yang datang tiba-tiba mengambil satu, membuat abangnya itu mendelik.
“Punya kamu masih ada di dapur!” ucap Arsene mencoba menghalangi tangan adiknya ketika akan mengambil sebuah cupcake berhias sprinkle bintang.
“Tapi aku pengen yang ini!” ucapnya.
“Punya kamu ada buah strawberry-nya, minta sama Bi Nina! Yang ini punya tamu!” seru Arsene lagi.
Kirei memang sangat menyukai buah strawberry, jadi Arsene sengaja membuatkan beberapa untuknya dan tidak disajikan di meja prasmanan. Gadis montok itu berjalan ke dapur dan meminta Bi Nina untuk mengambilkan cupcake miliknya.
Ferdian melangkahkan kakinya keluar ketika ia melihat ada dua mobil serta dua motor yang terparkir di depan halaman rumahnya. Sambil menggendong Finn, ia mencari tahu siapa tamunya yang datang di awal.
“Woooy! Ini ada Kang Ipul sama Neng Sally, apa kabar my Men?” sambut Ferdian pada tamunya yang pertama itu, yang ternyata adalah Syaiful dan Sally, yang kini sudah menjadi suami istri. Mereka membawa serta anak mereka yang seumuran dengan Kirei.
“Siapa namanya?” tanya Ferdian pada anak perempuan berkuncir dua itu.
“Quinsha!”
“Halo Kakak Quinsha, namaku Finn!” ucap Ferdian melambaikan tangan Finn pada gadis ramping itu.
“Sehat Men?” tanya Syaiful pada sohibnya itu.
“Ya liat aja, gue udah jadi bapak-bapak tulen!” ucap Ferdian terkekeh-kekeh.
“Bentar lagi nimang cucu ya?” goda Sally.
“Hahaha!” Ferdian tertawa-tawa saja, mengingat ia sudah memiliki anak remaja yang akan masuk kuliah tahun ini.
“Arsene, Rainer, Kirei, sini salam Om Syaiful sama Tante Sally dulu!” seru Ferdian pada anak-anaknya.
“Ya ampun ini anak apa patung porselen, cakep-cakep amat dah!” celetuk Sally ketika tangannya disalami oleh anak-anak Ferdian.
Ferdian tertawa-tawa saja mendengar hal itu.
“Anak kita juga cakep, Beb!” ucap Syaiful pada istrinya.
“Iya sih, bisa dong dijodohin satu sama anak lu, Fer!” timpal Sally.
“Emang anak kalian berapa sih?” tanya Ferdian pada Syaiful dan Sally.
“Dua, anak gadis semua!” jawab Sally.
__ADS_1
“Lah satu lagi mana?”
“Nyusul katanya, masih ada kumpulan di sekolahnya.”
“Ooh … yuk masuk!”
Syaiful dan Sally, beserta anaknya masuk ke dalam dan disambut juga oleh Ajeng, dosen mereka dulu.
Ferdian masih berada di depan rumah, karena kawan-kawan kuliahnya berdatangan. Begitu pula dengan anak-anaknya yang iku menyambut tamu ayahnya. Malik, Ghani, dan istri mereka, serta Danu yang masih melajang, masuk ke dalam kediaman Ferdian..
“Halo Men, masyaAllah, anak udah empat aja!” sahut Danu di belakang Ipul.
“Haha, iya kerajinan bikin anak!” celetuk Ferdian memeluk sohibnya itu.
“Haha .... Alhamdulillah. Bagi dong buat umpan!” ucap Danu tertawa-tawa.
“Kapan lu kawin, Nu?”
“Doain aja lah, tiba-tiba undangan dateng aja.”
“Siap, siap!” ujar Ferdian menepuk-nepuk bahu sohibnya itu.
Ferdian memeluk sohibnya yang lain, Malik dan Ghani.
“Ridho gak datang ya?” tanya Malik.
“Menantu konglomerat mah susah dikumpulin euy!” ucap Ferdian.
“Haha, udah jadi agen kelas berat si Ridho!” timpal Ghani yang berada di samping Malik.
“Sumpah beneran, dia udah beda banget! Udah kayak agen CIA, haha!” sahut Ferdian mengingat kedatangan ia di pesta pernikahan Ridho dan Patricia dulu. Ferdian masih mendengar cerita Ridho dan hidup barunya yang berat sejak itu. Akan tetapi sekarang sudah lebih baik.
Para tamu yang berdatangan sudah duduk di kursi taman belakang. Sementara Ferdian menemani mereka masih dengan menggendong Finn yang memang sudah anteng, Ajeng dan Arsene menyambut kedatangan tamu lainnya. Keluarga Karin dan Sita yang datang kali ini. Arsene berdegup kencang ketika melihat Zaara turun dari mobil abinya, ternyata temannya itu ikut juga dalam acara orangtuanya hari ini.
Zaara tampak cantik mengenakan gamis berbahan ceruti-nya. Ia tampak berbeda karena mengenakan model hijab semi pashmina yang menjulur panjang hingga perutnya. Ajeng menyenggol anaknya yang tertangkap karena terkesima.
“Kamu udah siapin kue kesukaannya kan?” tanya Ajeng membuyarkan pandangan Arsene.
“Eh, apa Mom?” tanya Arsene tidak menangkap pertanyaan ibunya.
Arsene tersenyum kaku mendengar pertanyaan ibunya. Arsene hanya menyeringai.
“Dasar anak kasmaran!” delik ibunya.
Arsene terkekeh-kekeh saja. Ia memang sudah menyiapkan cupcake dan cookies blueberry, berjaga-jaga saja jika Zaara datang. Kalaupun Zaara tidak datang, kue itu bisa dititipkan pada orangtuanya.
Karin dan Reza melangkah menuju pintu masuk, diikuti oleh putra-putri mereka, Zaara dan Zayyan di belakangnya. Ajeng memeluk sahabatnya itu penuh rindu, karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ia juga menangkupkan tangannya pada Reza dan Zayyan. Zaara mengecup punggung tangan sahabat uminya itu.
“MasyaAllah, ini Zaara?!” tanya Ajeng tidak percaya. Gadis itu terlihat sangat cantik dan anggun.
“Iya Tante!” ucap Zaara mengangguk seraya tersenyum.
“Oooh pantesan, cantik banget ih!”
Zaara tersipu malu dibuatnya. Ia hanya tersenyum ketika menolehkan pandangannya pada Arsene, lalu kembali menunduk.
Keluarga Sita pun datang setelah Keluarga Karin. Ia membawa dua anaknya saja, Raffa dan Anggun, serta suaminya Mas Teddy. Ia menyambutnya di pintu masuk. Arsene tersenyum ramah pada Raffa yang menatapnya dingin. Padahal awal pertemuan mereka tidak seperti ini kesannya. Raffa menjabat tangan Arsene. Wajah tegas calon dokter gigi itu terasa aneh.
“Masuk Bang!” ajak Arsene ramah.
Raffa tersenyum kecil.
Ajeng mengantar para sahabatnya ke taman belakang, dimana tamu lainnya sudah berkumpul di sana. Finn mirip sekali dengan Arsene, yang mudah beradaptasi dengan banyak orang, tidak seperti Rainer kecil yang akan ketakutan jika melihat orang baru. Arsene menggendong adik kecilnya itu selagi ayah dan ibunya tampak asyik berbincang-bincang dengan kawan-kawannya. Ia membawa Finn pada sebuah ayunan dan duduk di sana.
“Finn udah besar mau jadi apa?” tanya Arsene menghadapkan bayi gemuk itu ke badannya sendiri. Finn tampak asyik berayun-ayun dengan abangnya. Kirei dan Quinsha menghampiri, ingin sekali ikut duduk berayun di sana. Kedua anak itu cepat sekali akrabnya, mereka membawa kue cupcake dan melahapnya di sana.
“Abang turun ih, nanti ayunannya jebol lho!” protes Kirei mengusir abangnya itu.
Ayunan yang bisa terisi dengan empat orang dewasa itu memang kuat. Jadi Arsene tidak khawatir.
“Ayunannya kuat, Rei! Kasian nih Finn-nya lagi seneng!” ucap Arsene.
__ADS_1
“Ya udah!”
Kirei dan Quinsha menaiki ayunan itu bersama Arsene. Arsene memperhatikan Zaara yang tampak sendirian meskipun ia duduk bersama orang tuanya. Adiknya Zayyan sedang bermain basket bersama Rainer di lapangan kecil yang berada di sisi taman lainnya. Raffa terlihat grogi yang duduk di dekat Zaara, pria itu seperti sedang berusaha untuk mengajaknya mengobrol.
“Rei, ajakin Kak Zaara kesini!” seru Arsene.
“Hah? Yang mana?” tanya Kirei menoleh kesana kemari.
“Itu yang pake kerudung pink, bajunya pink! Kasian gak ada temen.”
“Oke deh!”
Arsene tersenyum kecil. Zaara memang sudah banyak berubah terutama setelah kejadian penyekapan itu. Teman-teman di kelasnya sudah menjadi akrab dengannya. Ia juga tidak galak lagi pada teman-teman lelaki di kelasnya, meskipun tetap membatasi diri. Hanya saja, teman-teman sekelas mereka banyak bercerita pada Arsene, kalau mereka nyaman berteman dengan Zaara, terlebih lagi, Zaara sering membantu mereka belajar Bahasa Indonesia, agama Islam, dan biologi.
Kirei berlari ke arah Zaara karena perintah abangnya. Ia terlihat menarik tangan gadis berhijab itu.
“Kak main ayunan yuk!” seru Kirei yang sok kenal dan sok akrab. Kirei memang seperti itu.
“Eh?” tanya Zaara lalu melirik ke arah ayunan, yang ternyata ada Arsene dan baby Finn di sana.
Zaara merasa ragu, tetapi melihat ada anak-anak yang sudah tidak bisa dibilang anak kecil lagi, ia jadi beranjak dari tempat duduknya. Kirei menuntun tangan gadis yang tidak dikenalnya itu.
“Hei!” sapa Zaara pada Arsene, pertemanan mereka sudah bisa dibilang akrab saat ini. Kirei sudah menaiki ayunan bersama kawan barunya.
“Mau naik?” tawar Arsene.
“Emang kuat?” tanya Zaara ragu-ragu.
“Kuat, ini didesain buat orang dewasa kok!” jawab Arsene.
Zaara menaiki ayunan, di samping Quinsha berhadapan dengan Kirei di depannya. Melihat Finn yang tertawa lepas, Zaara jadi gemas ingin menggendongnya.
“Adik kamu usia berapa bulan?” tanya Zaara.
“Sekarang mau 7 bulan,” jawab Arsene, menghadapkan baby Finn kedepan, membelakangi dirinya, agar wajah adiknya bisa dilihat yang lain.
“Lucu banget, udah bisa apa sekarang?”
“Masih belajar duduk sekarang, dia berat agak susah jadinya,” ucap Arsene.
“Iiiih lucunya, pengen coba gendong dong!” pinta Zaara.
“Berat lho!”
“Biarin ih, gemes banget!”
Arsene membuat ayunannya mengayun pelan sehingga ia bisa turun dari sana lalu menghampiri Zaara dan menyerahkan Baby Finn padanya. Zaara memegang bawah lengan Finn, tangannya tidak sengaja tersentuh dengan Arsene yang memberikan bayi itu padanya. Akhirnya ia bisa memangku bayi gembul itu di pangkuan.
“Berat banget!” seru Zaara setelah berusaha menggendongnya.
“Tuh kan dibilang juga!”
“Lucunya!” Zaara tersenyum lebar berseri-seri menghadapkan wajah Finn padanya. Finn pun tertawa senang ketika Zaara memasang ekspresi konyol pada bayi itu.
Ayunan bergoyang pelan ketika Arsene mendorongnya dari belakang kursi yang ditempati Kirei. Wajah pria itu terlihat memerah sambil tertunduk setelah memperhatikan Zaara yang terus saja menggoda Finn dengan beragam ekspresi wajahnya, tetap saja cantik dan menggemaskan bagi Arsene. Sampai-sampai ia tidak tersadar ayunan itu semakin kencang dan justru mendorong balik tubuhnya hingga terjatuh di atas tanah. BRUK.
“Aduh!” ucapnya refleks, ketika duduk terjatuh di atas tanah.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Zaara melongok dari kursi ayunannya.
“Gak kok!” ucapnya menyengir malu lalu kembali berdiri sambil mengusap bokongnya yang terasa sakit.
Kirei dan Quinsha menertawainya keras, membuat sosoknya kini jadi pusat perhatian para tamu. Arsene makin tersipu malu dibuatnya.
Wajah Arsene semakin merah saja.
\=\=\=\=\=
Duh Arsene >.<
Bersambung dulu yaa
__ADS_1
Like dan commentnya dong
Vote juga jangan lupa, makasiiih