
Zaara menaruh helm di gantungan dekat pintu apartemennya. Ia menyalakan kompor dan memanaskan sayur dan lauk hasil masakannya tadi pagi. Sementara Arsene baru datang setelah ia sempat mengobrol sebentar dengan seorang satpam apartemennya.
“Sholat bareng ya?” ucap Arsene, karena ia terlambat mengikuti shalat berjamaah di masjid.
“Iya.”
Piring berisi makan siang telah tersaji di atas meja. Arsene mengambil sendok setelah shalat dzuhur bersama. Sementara Zaara menuangkan air minum. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Makasih, Sayang!” ucap Arsene ketika Zaara memberikannya gelas minum.
Keduanya menikmati makan siang bersama. Arsene memandangi curiga wajah istrinya yang terdiam.
“Kamu mikirin apa, Sayang?” tanya Arsene.
“Ah enggak,” sergah Zaara, tersenyum kecil.
“Bukan mikirin mbak-mbak yang tadi pesen banyak?” tebak Arsene.
Zaara mengangkat alisnya. “Kamu gak kenal cewek yang tadi?” tanya Zaara pada Arsene.
“Hah?!”
Zaara menarik bibirnya. “Wajar sih, kamu kan gak kenal, cuma sempet seret dia!” jawab Zaara membuat Arsene mengernyit.
“Aku seret dia? Siapa?”
“Astria! Cewek yang tadi!”
“Aku gak kenal, emang siapa dia?!” tanya Arsene penasaran.
Zaara menghela nafas. “Dia yang sekap aku waktu di sekolah!”
“Astaghfirullah! Dia bukannya jadi tahanan rumah ya waktu itu?”
“Iya. Aku khawatir aja.”
Arsene terdiam. Sejenak mengingat peristiwa dua tahun silam yang membuatnya benar-benar kalut akan kondisi Zaara yang saat itu masih menjadi teman sebangkunya.
“Tapi dia kenal aku gak ya?” tanya Arsene.
“Kalau tau nama kamu, mungkin bakal ngeh. Karena kamu yang seret dia ke pihak kepolisian.”
“Hmm… udah, husnudzon aja. Mungkin dia udah berubah,” ucap Arsene berusaha menenangkan Zaara.
“Mudah-mudahan!”
Pikiran Zaara belum lepas dari Astria yang pernah membuatnya tersekap semalaman di sekolah. Wanita itu memang sangat terlihat berbeda daripada saat di sekolah dulu. Hal itu yang membuatnya tidak terlalu mengenalinya saat tadi berada di toko. Rambut yang dicat merah, juga bergelombang adalah penampilan baru bagi Astria. Dulu di sekolahnya tidak seperti itu meski memiliki rambut panjang sebahu. Wajahnya juga entah mengapa terlihat berbeda dengan dagu yang lebih lancip dan pipi yang lebih tirus. Astria benar-benar sudah berubah dari segi penampilan. Zaara berharap sikapnya juga sudah berubah, meski ia sangat mencemaskannya.
Arsene dan Zaara kembali lagi ke toko mereka setelah makan dan sejenak beristirahat siang itu. Toko masih dipenuhi oleh para pengunjung yang kebanyakan membawa pesanan mereka keluar. Arsene langsung mengecek menu-menu apa aja yang sudah habis. Ia tidak merestock untuk menu yang benar-benar sudah habis. Jadi hal itu tidak akan membuat stok berlebihan dan pelanggan bisa memilih menu yang masih tersedia. Sementara itu Zaara membantu pelayan mengisi ulang kue yang sudah habis ke etalase.
\=\=\=\=\=\=
“Sayang, aku ke rumah daddy dulu ya mau pinjem mobil!” ucap Arsene pagi itu.
“Aku ikut Abang!” seru Zaara dari balkon yang sedang menjemur pakaian.
“Gak usah, aku ambil mobil aja kok!”
Zaara memberengut kesal.
“Tapi aku ikut pas kirim kue ya?” pinta Zaara.
“Iya, nanti lihat situasi takutnya kepenuhan mobilnya. Aku kan pinjem mobil mommy, ruangnya gak luas. Sementara ini pesanannya banyak.”
“Pokoknya ikut. Titik!”
__ADS_1
“Iya, tunggu sini aja ya? Nanti aku jemput lagi!”
“Kenapa sih harus kamu yang anter?” protes Zaara.
“Ya gimana, harus pakai mobil. Mobil Kak Al lagi rusak, Kang Erwin belum bisa pake mobil! Terpaksa aku yang anter,” terang Arsene.
“Pokoknya aku harus ikut!”
Arsene menghela nafas melihat istrinya yang keras hati ingin ikut menemaninya. Ia menghampirinya dan memeluknya.
“Aku bakal baik-baik aja, Zaara Sayang!”
“Aku gak percaya cewek itu. Aku takut dia bakal balas dendam lagi!” rengek Zaara.
“Ssst. gak boleh gitu! Kita gak boleh suudzon. Inget, prasangka itu datangnya dari setan. Istighfar, Sayang!”
Zaara terpejam, “astaghfirullahaladzim!”
Arsene menangkup kedua pipi istrinya.
“Kamu tinggal di sini aja ya? Percaya, aku bakal baik-baik aja. Kalau sampai malam aku belum pulang atau belum ada di toko, kamu boleh bertindak!” ucap Arsene.
Zaara menggeleng.
“Aku ikut, pleaaasee!” ucap Zaara dengan mata berkilauannya.
“Nanti aku lihat dulu ya? Tunggu kabar dari aku!”
Arsene mengecup singkat bibir istrinya, kemudian mendekapnya lagi. Zaara pasrah saja, ia berharap semoga Allah melindungi suaminya. Hatinya begitu cemas, dendam Astria yang pernah dulu ia dapatkan kini akan mengincar pada suaminya yang pernah menyeretnya ke pihak kepolisian. Meskipun ia sangsi kalau Astria mengetahui bahwa Arsene adalah suaminya.
“Aku berangkat dulu!” ucap Arsene mengecup kening Zaara.
“Hati-hati, Abang Sayang!”
“Assalamu’alaikum.”
Pegawai toko membantu Arsene mengangkat kue-kue pesanan atas nama Astria Renata ke dalam mobil mpv milik Ajeng. Karena pesanan kue dan dessert banyak, dengan cepat memenuhi jok belakang mobil putih itu, sebagian lagi disimpan di atas jok depan. Terpaksa kue itu harus diletakkan di dalam mobil dan bukan di bagasi, karena suhu dari AC akan menjaga topping itu tetap awet. Arsene juga sudah memberikan bonus satu kotak berisi 12 pcs muffin di sana. Pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah club yang terletak di Jalan Riau. Tidak terlalu jauh dari tokonya, sehingga Arsene memutuskan untuk tidak membawa Zaara ke sana sore itu. Lagipula ia hanya mengantar saja, apalagi wanita itu sudah membayar lunas pesanannya. Jadi ia sedikit lega.
Mobil itu terparkir di sebuah gedung berlantai tiga dengan nuansa modern. Lampu-lampu kecil menjuntai dari atas gedung bersama dengan tanaman yang menggantung. Arsene turun dari mobilnya dan menghampiri petugas keamanan.
“Apa betul nanti ada pesta Nona Astria Renata?” tanya Arsene.
“Ya betul, A! Ada perlu apa?”
“Saya mau antar pesanan kuenya, harus ditaruh dimana ya?”
“Oh sebentar, saya tanyakan dulu!”
Petugas keamanan itu berlari lewat pintu samping menuju belakang gedung. Arsene bersandar di tubuh mobil ibunya itu sambil melihat ponselnya. Sebentar ia menghubungi istrinya.
“Abang lagi antar kue ya, Sayang?”
“Ya Allah, kenapa gak ajak-ajak?!” tanya Zaara.
“Kursi jok penuh sama kotak kue, lagian bentar kok! Ini mau diangkat bentar lagi! Habis ini pulang!”
Terdengar helaan berat di seberang telepon, “cepet pulang ya, Abang Sayang! Pokoknya langsung pulang ke sini, jangan ke toko dulu!”
Arsene terkekeh mendengar istrinya yang sedang cerewet itu, “iya, Sayang!”
“Hati-hati!”
“Hmm… assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
__ADS_1
Tak lama Arsene menutup ponsel, petugas keamanan itu datang sambil membawa beberapa orang yang tampaknya karyawan gedung itu. Arsene membukakan pintu mobilnya dan mengeluarkan kotak-kotak kue itu, sehingga orang-orang di sana bisa membawanya ke pintu samping. Ada satu kotak lagi tersisa, terpaksa Arsene ikut membawanya ke belakang gedung mengikuti orang-orang itu.
“Maaf ini satu lagi tertinggal!” ucap Arsene pada orang-orang yang ada di sana.
“Tolong bawa masuk aja, A!” ucap seorang pria paruh baya.
“Oh…”
Arsene membawa kotak kue itu masuk ke dalam, melewati ruangan gudang yang penuh dengan tumpukan dus berisi minuman keras. Seketika hatinya tidak merasa karuan. Ia telah menginjak tempat maksiat, ia beristighfar. Kemudian ia lekas menaruh kotak itu di sebuah meja bersama kotak-kotak kue lainnya.
“Hai, Arsene!” ucap seorang perempuan dari belakang.
Arsene menoleh. Membalikkan tubuhnya ketika ia telah menaruh kotak kue terakhir yang tertinggal. Sebuah suara memanggil namanya.
“Kamu inget aku?” tanya wanita berambut maroon itu. Wajahnya terlihat cantik, mulus, dan merona. Make-upnya tipis meski bibirnya terlihat seperti warna rambutnya. Tubuhnya terbungkus oleh bahan mengkilap yang menutupi bagian dada hingga pahanya saja. Kakinya yang mulus tampak ramping apalagi dengan sepatu high heels yang memiliki tali menyilang di betisnya.
“Astria?” tanya Arsene memicingkan matanya.
Gadis itu tampak lebih dewasa penampilannya dari usia yang seharusnya. Padahal mereka seumuran.
“Masih inget rupanya, kenapa kemarin waktu di toko kamu gak inget?” tanya Astria memainkan ujung rambut bergelombangnya.
“Saya gak pernah kenal kamu, kecuali saat itu…”
“Saat kamu laporin aku ke polisi, gara-gara kami sekap pacarmu itu?” Astria melanjutkan kalimat Arsene yang terpotong dengan nada sinis.
Arsene terdiam. Ia ingin mendengarkan dulu apa yang akan gadis itu sampaikan. Astria berjalan menghampiri meja yang dipenuhi kotak kue.
“Kamu cuma jadi tukang kue kaya gini?!” tanya Astria angkuh dan sinis sambil membuka kotak-kotak kue pesanannya.
“Itu impian saya sejak dulu!”
Astria terkekeh.
“Kalau kamu jadi pacar aku, kamu bisa lebih dari ini. Bahkan kamu bisa kuasai semua pasar kuliner di Indonesia!” ucap Astria berjalan menghampiri Arsene.
Arsene mendengus, memalingkan matanya ke arah lain.
“Saya gak butuh!”
“Well, sayang sekali! Padahal kamu ganteng, kaya, pintar, kenapa pilih Zaara jadi pacar kamu?”
“Zaara bukan pacar saya!”
“Masa?!” tanya Astria tidak yakin, ia mendekap tangannya di depan dadanya sendiri.
“Zaara istri saya!”
“WHAT?!”
Astria terkejut tetapi kemudian tertawa dengan mengerikan, lalu bertepuk tangan.
“Bagus banget! Sepertinya kita harus main dulu sebentar!” Astria mengerlingkan matanya.
Tiba-tiba pintu yang tadi dimasuki Arsene tertutup. Seseorang menutupnya dari luar dan menguncinya. Arsene tidak bisa membukanya.
“Kamu jangan kemana-mana dulu ya? Kita main aja sebentar kok!”
\=\=\=\=\=\=
Waduh
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa like, vote, dan comment
__ADS_1
Makasiiih ^_^