Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 34


__ADS_3

Ajeng kembali ke rumah sakit setelah membeli beberapa makanan dan buah-buahan kesukaan Ferdian. Karena menurut dokter, agar pemulihannya berlangsung cepat, maka Ferdian harus banyak mengkonsumsi buah-buahan segar dan makanan berprotein.


Dengan langkah ringan, Ajeng pergi menuju lantai 3 ruang VIP dimana Ferdian dirawat. Pintu ruangan rawat inap Ferdian terbuka, hatinya berdebar, siapa yang menjenguk suaminya sore itu? tanyanya dalam hati. Ia pun mengintip dari samping pintu.


DEG. Betapa terkejutnya Ajeng, mendapati teman-teman sekelas Ferdian sedang menjenguk suaminya itu. Memang ia datang saat jam besuk mulai. Jadi wajar pasti akan ada yang menengok suaminya itu. Ajeng merapatkan tubuhnya di tembok luar dengan hati tak karuan dan pikiran yang kalut. Haruskah ia muncul? Atau sembunyi?


Saat itu juga, ia memutuskan untuk pergi dari sana dengan niat kembali lagi nanti setelah jam besuk berakhir. Ia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, khawatir mahasiswa yang ada di dalam akan keluar ruangan.


BUG. Tiba-tiba, tidak sengaja tubuhnya menubruk seseorang, membuat kedua mata Ajeng terbelalak dan jantung melompat.


"Miss Ajeng?!!" tanya Gina, salah satu mahasiswa perempuan teman sekelas Ferdian.


"Eh...Gi...Gina?" ucap Ajeng terbata-bata. Jantungnya sungguh berdebar tak karuan dan sekarang, apa yang harus ia katakan di depan mahasiswanya itu. Harus memakai alasan apalagi untuk berbohong? Sementara dia sudah pasti akan datang menjenguk Ferdian, yang ruangannya hanya ada satu di ujung dimana ia baru saja berjalan dari sana.


"Miss Ajeng habis jenguk Ferdian?" tanya gadis berambut pendek itu.


"Um..um...iya!" jawab Ajeng terpaksa. Duh, bodohnya, padahal di sana ada teman-temannya yang lain. Pasti Gina akan memastikan kehadiran Miss Ajeng sebelum ia datang kepada teman-temannya.


Gina memandangi dosennya itu dengan penuh keheranan, karena dosennya itu jelas-jelas sedang menjinjing sebuah kantong berisi buah-buahan. Kalau memang sudah menjenguk, pasti kantong itu tidak akan dibawanya lagi, bukan?!


"Miss Ajeng baru mau jenguk?!" Gina mengoreksi pertanyaannya, siapa tahu dosennya itu memang tidak menangkap pertanyannya dengan jelas.


"Mmh...iya, maksud saya mau jenguk, tapi mau ke toilet dulu, tiba-tiba mules!" jawab Ajeng gugup dan konyol, hanya itu yang bisa menolongnya saat ini.


"Oohh... ya udah, kalau gitu saya duluan ya Miss!" ucap Gina tersenyum penuh keheranan dan berjalan menuju ke ruangan tempat Ferdian dirawat.


"Baik!" jawab Ajeng menyengir dan langsung berlari menuju tangga.


Ajeng kembali melangkahkan kakinya menuju lantai bawah. Pura-pura mencari toilet, padahal untuk mengamankan dirinya. Hatinya berdebar dengan sangat kencang. Ia menepuk keningnya beberapa kali karena tindakan bodohnya tadi. Ia berusaha menenangkan diri sejenak.


Sementara itu, Gina telah memasuki kamar inap Ferdian. Di sana telah banyak berkumpul teman-teman lainnya, ada Sally, Lisa, Ratih, Jessi, Putri, dan juga kelima kawan dekat Ferdian.


"Hai, sorry gue telat!" sapa Gina kepada kawan-kawannya.


"Gimana Fer, sehat Lo?!" tanya Gina sambil mentos kawannya itu.


"Alhamdulillah, udah baikan lah, Gin! Tinggal istirahat aja beberapa hari lagi kata dokter!" jawab Ferdian.


"Syukur deh! Jadi gue ketinggalan cerita ya gimana Lo bisa kena begal gitu?" tanya Gina yang penasaran dengan kejadian yang dialami Ferdian.


"Iya, nanti tanya Malik atau Ghani aja deh, mereka yang nolongin gue pertama kali," ucap Ferdian sambil melirik ke arah Malik dan Ghani yang sedang asyik mengobrol.


"Oke deh! Gue nanti tagih Lo, ya Lik!" seru Gina membuat pemilik nama menoleh heran karena tidak mendengar percakapan Gina dan Ferdian.


"Tagih apaan Gin?" tanya Malik melongo.


"Tagih utang!" celetuk Sally.


"Hah?! Kapan gue punya utang sama lo, Gin?" seru Malik sewot.


"Dih, udah ntar gue tanya di luar!" ucap Gina tidak mau ribut.


"Gue jadi liburan deh seminggu ini, pasti tugas numpuk ya?" tanya Ferdian pada teman-temannya.


"Gak kok, cuma Pak Ardi aja yang kasih tugas translate!" ucap Lisa.


"Iya, Pak Ardi tuh kerajinan banget ngasih tugas, baru minggu kemarin kasih tugas, sekarang udah ada lagi. Padahal lumayan susah banget!" protes Sally


"Kalau lumayan ya lumayan aja, kalau banget ya banget aja, sih Sal! Gak usah boros gitu!" komen Gina.


"Tinggal pake gugel translet aja sih Sal, haha!" celetuk Danu.


"Itu mah kerjaan lo, aja Dan!" sewot Sally sambil mendorong lengan Danu.


"Oh iya, tadi gue lihat Miss Ajeng lho di sini!" ucap Gina, yang membuat Ferdian dan kelima kawannya yang heboh menoleh terkejut.


"Oh ya?! Dimana?" tanya Ferdian bersikap seolah-olah tidak percaya.


"Tadi, di depan ruangan, katanya mau jenguk Lo, Fer! Cuma tiba-tiba mules jadinya mau ke toilet dulu," terang Gina datar.


"Wow!" Syaiful bertepuk tangan, membuat Ferdian memelototinya.


"Eh, Lo ada hubungan apa sih sama Miss Ajeng? Kemaren Miss Ajeng juga kan yang anter surat Lo?" tanya Gina polos, membuat para gadis yang lain antusias mendengarkan.


Ferdian bergumam, berusaha mencari jawaban yang tepat dan tidak bikin penasaran lagi kawan-kawannya itu.


"Apa ya?!" jawab Ferdian bingung.


"Halah! Malah tanya balik!" dengus Lisa.


"Iya Fer, kasih tau kita dong! Kok makin kesini gue liat lo makin akrab aja sama Miss Ajeng, gue kan jadi jealous!" seru Sally cemberut, tentu saja itu ekspresi yang dibuat-buat olehnya.


"Hmmm....." Ferdian bergumam.


"Pacaran yaaa?!" celetuk Lisa memicingkan matanya, dan mencolek lengan Ferdian, membuat wajah Ferdian terlihat merah.


"Apa sih kalian ribut-ribut di sini?! Balik woy, kasian si Ferdi mau istirahat malah digoda-godain!" sergah Ghani yang berusaha mengalihkan perhatian para gadis.


"Woo....kan mau bikin gosip baru, biar seru!" ucap Sally terdengar konyol.


"Gosip tuh bikin dosa tau ga?! Tobat Sal, tobat!" kali ini Syaiful yang menimpali.


"Cih, kalau beritanya bener kan bukan gosip, tapi fakta!" timpal gadis berambut panjang itu.


"Sama aja tau, judulnya sama-sama ngomongin orang!" Syaiful membalas lagi, membuat Sally berdecak kesal.

__ADS_1


"Heh balik sonoh! Tuh si Ferdi jadi pusing ngeliat kelakuan lo-lo yang aneh,!" Ghani protes lagi.


"Nyebelin banget sih gue diusir! Huh! Ya udah yuk kita balik aja, cewek-cewek!" seru Sally.


"Thanks ya, lumayan ada hiburan lawak gratis!" ujar Ferdian tertawa.


"Ya kali, gue dan sobat-sobat gue ini tukang lawak!" protes Sally.


"Yang betul tuh tukang ghibah!" ujar Syaiful yang seolah belum puas mengata-ngatai Sally cs. Gadis itu memonyongkan bibirnya.


"Cepet sembuh ya Fer! Gue udah kangen banget sama kehadiran Lo di kelas, jadinya bosen banget deh cuma ada wajah yang bikin sumpek kaya mereka ini!" ucap Sally menunjuk wajah kawan-kawan Ferdian yang sedang duduk.


"Ngajak ribut Lo?!" seru Danu nyolot, yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Aww, serem! Yuk girls kita pulang aja!" seru Lisa menutup wajahnya.


"Sono balik! Balik!" usir Ghani yang sudah kesal karena geng cewek ribut.


"Bye, darling! Yuk Gin, bareng kita kan pulangnya?" tanya Sally.


"Jangan mau Gin! Nanti ketularan penyakitnya!" celetuk Syaiful.


"Ya udah gue juga balik deh, Fer! Cepet sembuh ya!" ucap Gina.


"Makasih ya girls!" ujar Ferdian melambaikan tangannya.


Cowok-cowok heboh hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka setelah teman cewek-cewek mereka pergi.


"Sumpah itu si Sally biang gosip, gimana Fer?" tanya Danu cemas.


"Ya udahlah, biarin aja, toh Ajeng juga udah mau membuka diri. Cuma ya mungkin dia ngehindar karena masih belum siap aja kali, kalau harus tiba-tiba kaya sekarang!" terang Ferdian tenang.


"Baguslah kalau gitu, emang udah seharusnya hubungan kalian itu diketahui sama yang lain," ucap Malik.


"Ya udah, kita juga balik sekarang ya, Fer! Lo butuh istirahat, dan kasian juga Miss Ajeng pasti lagi nungguin," seru Ghani.


"Iya, kasian dosen gue yang cantik dan baik hati, pasti sedang mengasingkan diri," ucap Syaiful sedih.


"Makasih banyak ya, Men! Nanti kita main-main lagi lah setelah gue sembuh!" ujar Ferdian.


"Oh iya, hape lo belum ada ya?" tanya Danu.


"Belum sempet beli lagi, kalau ada apa-apa lewat Ajeng dulu aja, tapi awas jangan modus!" ucap Ferdian memperingatkan sambil menoleh Syaiful, karena hanya dia yang kagum berat dengan istrinya itu.


Syaiful cengar-cengir saja melihat ekspresi Ferdian.


"Dho, kamu mah disini dulu ya?!" pinta Ferdian.


"Siap Bos!" jawab Ridho singkat.


"Bye, Fer!" pamit semuanya.


\=\=\=\=\=


"Halo Miss, ini Ridho! Kata Ferdian...." Ferdian merebut ponsel milik Ridho, membuat pria gempal itu bengong dan kesal.


"Sayang! Cepetan kesini ya?"


"Temen-temen kamu, udah pulang?" tanya Ajeng.


"Udah, Sayang! Aku kangen kamu, cepetan kesini ya!" ujar Ferdian berseri-seri, membuat wajah Ridho seperti menahan kesal.


"Oke, aku kesana sekarang!"


"Dasar manja!" celetuk Ridho menatap sahabatnya itu.


"Kenapa? Iri ya?"


Ridho hanya mencebikkan bibirnya.


Tak lama kemudian Ajeng datang, wajahnya terlihat lemas dan letih. Ia langsung meraih tangan Ferdian untuk dikecupnya.


"Kamu kok keliatan capek gitu?" tanya Ferdian.


"Iya, aku habis sembunyi di toilet!" jawab Ajeng menaruh kepalanya di atas matras.


"Ya ampun, sampai segitunya!"


"Habisnya aku kaget banget, apalagi pas tadi kepergok Gina lagi di depan!"


"Mereka sempet ribut sih, tapi Ghani bikin mereka bubar!" terang Ferdian.


Ajeng menghela nafas. Ternyata lelah juga harus menyembunyikan pernikahan mereka.


"Istirahat dulu aja, Sayang!" ucap Ferdian mengelus rambut istrinya.


"Dho, bisa tolong beliin makanan buat Ajeng?" pinta Ferdian.


"Gak usah Dho! Aku gak lapar kok, lagian aku udah beli makanan!" sergah Ajeng melirik kantong belanjaannya.


"Oh ya udah kalau gitu! Kamu pulang aja Dho, udah ada Ajeng di sini!" ujar Ferdian.


"Oke deh, saya juga mau ngerjain tugas Pak Ardi!"


Mendengar nama Ardi, hati Ajeng kembali tersentak mengingat kejadian sore tadi. Haruskah ia menceritakannya kepada Ferdian? Ah mungkin nanti saja setelah ia benar-benar pulih, pikir Ajeng.

__ADS_1


"Makasih banyak ya Dho!" ucap Ajeng.


"Sama-sama Miss, saya pulang dulu ya! Assalamu'alaikum...!"


"Wa'alaikumsalam!"


\=\=\=\=\=\=


"How was your day?" tanya Ferdian setelah Ajeng selesai membersihkan tubuhnya.


Ajeng mengangkat bahunya dan menghela nafas.


"Kata dokter tadi, aku udah bisa pulang lusa. Jahitannya udah bagus dan punggung yang kemarin aku keluhkan sakit juga udah baikan," terang Ferdian.


"Alhamdulillah," ucap Ajeng tersenyum. Ia menyisir rambutnya yang masih basah.


Ferdian memberi kode agar istrinya itu duduk di sampingnya, di atas matras.


"Hari ini kayanya kamu keliatan tertekan, apa karena kejadian tadi?" tanya Ferdian memastikan lagi.


"Ya gitu lah, rasanya capek ya kalau harus sembunyi terus," ujar Ajeng menaruh kepalanya di dada Ferdian, di sisi tubuh yang tidak terluka.


"Jadi kamu beneran mau bongkar hubungan kita?"


"Sepertinya iya, aku lelah, Fer!"


Ferdian membelai kepala Ajeng, menyesap aroma wangi dari rambut wanitanya itu. Ia tersenyum, akhirnya Ajeng mau membuka diri.


"Fer!"


"Kenapa?!"


"Tadi sore, Ardi lamar aku!" ucap Ajeng, sontak membuat pria di sampingnya itu terperanjat tubuhnya. Matanya terbelalak. Ia menatap lekat pada istrinya.


"Terus, kamu jawab apa?"


"Ya aku jawab aja kalau aku udah nikah!" jawab Ajeng meluluhkan hati Ferdian yang tadi sempat menegang.


"Oh iya?!"


Ajeng mengangguk.


"Rasanya lega banget setelah aku bilang di depan dia," ucap Ajeng tersenyum.


"Terus reaksi dia gimana?" tanya Ferdian penasaran.


"Ya pasti kamu tau sendiri rasanya gimana mengharapkan seseorang tapi ternyata orang itu tidak bisa menyimpan harapannya," ujar Ajeng ada perasaan iba di sana.


"Sakit tapi gak berdarah," jawab Ferdian memegang dadanya.


Ajeng mengangguk.


"You did the right things, and I'm proud of you! (Kamu udah berbuat benar, dan aku bangga sama kamu!)" jawab Ferdian mengelus pipi Ajeng.


Ajeng tersenyum.


"Dia tanya siapa suami kamu?"


"Iya dong! Dan dia terkejut dua kali setelah tahu kalau kamu yang jadi suami aku,"


Ferdian tersenyum lebar, merasakan kemenangan telak yang tidak terkalahkan.


"I am the invincible (aku yang tidak terkalahkan), wkwk!"


"Hush! Emangnya aku apaan, kejuaraan, lomba?!" dengus Ajeng.


"Hehe....aku bangga banget punya istri kaya kamu, Sayang! Inginnya aku pamer di depan semua orang, that you're mine (kalau kamu adalah milikku)!" ujar Ferdian merengkuh tubuh istrinya dari samping, membuat Ajeng tersipu-sipu.


Ferdian menarik dagu Ajeng, ia menatap kedua bola mata dengan warna cokelat itu dan menyentuh bibirnya dengan miliknya.


Malam terasa hangat dengan sentuhan cinta meski keduanya belum bisa sepenuhnya menyatu, namun begitulah cinta yang terasa indah jika keduanya saling memahami.


\=\=\=\=\=\=


Hari Sabtu yang cerah, akhirnya Ferdian diperbolehkan pulang oleh dokternya. Kondisi tubuhnya sudah pulih sekitar 90%. Luka yang dijahit sebanyak kurang lebih 10 jahitan iitu juga sudah semakin membaik. Hanya saja ia dilarang untuk banyak melakukan yang melibatkan bagian perut sampai lututnya, khawatir lukanya akan kembali menganga. Tentu saja hal itu membuatnya kecewa, sebagai seorang lelaki normal yang memendam hasrat pada istri yang dirindukannya.


Ajeng memegang tubuhnya untuk menuju kamar apartemennya. Ferdian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia hanya memperhatikan istrinya yang sedang mengganti baju.


"Kamu kok cemberut gitu sih?" tanya Ajeng setelah mengganti bajunya ke sebuah mini dress yang terlihat cantik memperlihatkan lekuk tubuhnya..


"Kamu gak usah pake baju yang cantik-cantik gitu," jawab Ferdian terdengar mendengus.


"Kenapa emangnya?" tanya Ajeng yang ingin tahu jawaban jujur suaminya itu.


"Tau ah!" Ferdian menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.


Ajeng mencolek pinggang Ferdian di bagian kirinya, namun pria itu tidak bergeming. Ia sepertinya benar-benar merasa kecewa dengan dirinya. Ajeng hanya tertawa-tawa saja melihat tingkah laku suaminya yang menggemaskan itu.


Sabar ya Fer!


\=\=\=\=\=\=


VOTE, LIKE, & COMMENT


makasih kakak readers keceeee <3 <3 <3

__ADS_1




__ADS_2