
"Fer, ini tadi ada telepon nih! Dia minta tolong gitu, suara cewek, pas aku angkat dan tanya siapa, malah terputus!" ujar Ajeng memberikan ponsel selepas Ferdian sholat dzuhur siang itu.
"Minta tolong?" tanya Ferdian terheran-heran.
"Iya! 'Kak Ferdian tolong aku sekarang, kakak dimana?' katanya gitu," ucap Ajeng meragakan suara di telepon tadi.
Ferdian memicingkan mata dan memperhatikan nomor di layar ponselnya yang tidak ia kenal.
"Hmm...orang iseng kali ah! Paling fans aku yang gak ada kerjaan!" ucap pria itu santai sambil melengos lagi ke kamarnya.
Ajeng menggeleng-geleng saja melihat sikap cuek suaminya itu.
"Ayo!" seru Ferdian menarik lengan Ajeng masuk ke dalam kamar.
"Apa?" tanya Ajeng polos.
Ferdian hanya mengerlingkan satu matanya dan menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya, lalu keduanya menutup pintu kamar.
\=\=\=\=\=
Malam itu, Andre sudah berada di apartemen yang disewanya. Ia baru saja berbenah membereskan kamar dan pakaiannya. Barang-barangnya belum beres sepenuhnya. Masih ada dua dus berisi kumpulan buku-buku miliknya yang belum dirapihkan. Ia berniat akan merapikannya esok hari.
Andre membuka laptop miliknya dan menyambungkannya ke internet. Ia membuka email lama miliknya. Entah kenapa setiap melihat Ajeng, ia menjadi semakin teringat pada teman lamanya. Memang Ajeng memiliki wajah yang sangat mirip dengan teman SMA nya itu. Ia sudah lama sekali tidak menjalin komunikasi dengan teman perempuannya itu. Padahal dulu mereka selalu rutin berkirim email untuk saling menceritakan kisah mereka satu sama lain. Tetapi semenjak Andre mengambil kerja part time sebagai pengajar tambahan, ia menjadi jarang membalas email dari temannya itu. Sampai akhirnya, ketika ia membalas sebuah email, suratnya itu tidak pernah terkirim.
Pria berambut cokelat tua itu memperhatikan isi email dan balasan dari temannya itu. Mereka adalah sahabat yang sering sekali berselisih, ribut, dan jarang sekali akur. Andre lebih sering mengusili temannya dan membuatnya menjadi kesal dan marah. Tetapi hal itu juga yang akhirnya membuat mereka saling menaruh perasaan satu sama lain. Namun sayang, karena jarak yang jauh dan komunikasi yang sulit, membuat hubungan mereka yang tanpa status itu berakhir.
Andre tersenyum sendiri membaca surat-surat yang dikirimnya untuk temannya itu. Hari ini atau bahkan sejak lama, ia selalu merindukannya. Apakah temannya itu masih tinggal di Bandung atau sudah pindah? Ia tidak pernah tau kabarnya. Bahkan ia sampai lupa nama panjangnya, bodohnya.
Pria itu membaringkan tubuhnya di kasur, pikirannya melayang ke 7 tahun yang lalu. Matanya terpejam, dan lama-kelamaan ia tertidur karena kelelahan.
\=\=\=\=\=
Semester baru perkuliahan telah dimulai. Udara segar tercium dengan semangat baru. Mahasiswa-mahasiswa kembali memenuhi gedung-gedung perkuliahan. Ajeng dan Ferdian mendatangi kampus dengan semangat baru yang lebih bergairah. Wajah berseri-seri terpasang pada keduanya.
Mereka berjalan di sepanjang koridor gedung B dimana para mahasiswa berlalu-lalang sambil terheran-heran memandangi mereka. Namun masih ada yang tetap setia untuk menyapa dosen mereka yang cantik itu.
“Good Morning, Miss Ajeng!” sapa beberapa mahasiswa, ketika Ajeng dan Ferdian berpas-pasan dengan mereka.
“Good Morning!” sapa Ajeng ramah, sementara pria di
sampingnya itu hanya ikut tersenyum saja.
Gosip kedekatan antara Ajeng dan Ferdian masih terus berhembus bagi kalangan yang tidak mengenal mereka dengan dekat. Tetapi tentusaja gossip itu akan hilang seiring dengan banyaknya orang yang mengetahui secara persis terkait hubungan antara keduanya itu.
“Aku masuk kelas dulu ya, Sayang?” pamit Ferdian, yang lebih dulu menemukan kelasnya di lantai dua. Sementara Ajeng akan mengajar di lantai 3.
“Iya, Sayang! Semangat ya?!” ucap Ajeng sumringah.
“Of course!” ujar Ferdian mengacak-acak rambut istrinya.
“Ih kamu!” dengus Ajeng sambil merapikan rambutnya.
Ferdian cekikan saja. Ia mengerlingkan sebelah matanya sebelum istrinya menaiki tangga.
Ferdian memasuki kelasnya dengan wajah berseri-seri. Seketika kawan-kawannya yang lain menyorakinya.
“Duh pengantin baru masuk kuliah, pasti semangat ya?!” seru Danu,
“Terus aja sebut pengantin baru, padahal udah lewat 8 bulan juga,” jawab Ferdian.
“Biarinlah, kan biar panas terus, haha!” ucap Danu.
Ferdian terkekeh saja.
“Eh yang ngajar sekarang dosen baru ya?” tanya Ghani tiba-tiba.
“Iya tuh!” tiba-tiba saja ditimpali oleh Sally yang duduk di samping kursi Ferdian.
“Siapa namanya sih? Lupa gue!” tanya Syaiful.
“Mr. Andre!” jawab Sally.
“Tau bener nih, Sal!”
Sally hanya mengipas-kipasi wajahnya saja dengan tersenyum bangga.
“Dia mah kalau orangnya ganteng pasti hafal betul, beda sama orang yang sumpek, mana hafal? Nama lo aja gak pernah hafal kan?” seru Syaiful menatap Danu.
“Ngapa loh, liat-liat gue, emang wajah gue sumpek?” protes Danu.
“Emang lo, udah pernah lihat wajahnya, Sal?” tanya Danu lagi.
“Belom sih, tapi dari namanya aja ganteng, pasti wajahnya juga ganteng!” jawab Sally tanpa beban.
“Cih, asyem dah!”
“Ye…pagi-pagi ribut! Bubar sana!” timpal Ghani.
Danu mendengus kesal pada Syaiful dan Sally. Ferdian yang memperhatikan kawan-kawannya itu diam saja.
Tak lama kemudian seorang pria muda masuk ke dalam kelas, setelah memastikan kalau kelas inilah yang akan ia ajar hari ini. Dengan setelan kemeja navy dan celana berwarna beige, ia tampak terlihat casual dan tampan. Semua mahasiswa di dalam kelas memandanginya takjub dan terpana.
“Akhirnya, nambah cogan di kampus ini! Mudah-mudahan single!” celetuk Sally.
Ferdian mendeliknya dengan tatapan heran. Bukankah dia pernah melihatnya di pestanya kemarin? Apa dia tidak ingat? Tanya Ferdian dalam hati.
“Hello, good morning class!” sapa Andre.
“Good Morning, Sir!” sapa mahasiswa.
“Mungkin kalian baru lihat saya di sini ya? Perkenalkan, saya Andre Geraldy! Saya dosen baru di sini. Kebetulan saya baru selesai studi S3 di London tetapi saya lebih suka untuk mengajar di sini,” perkenalan Andre.
__ADS_1
“Kenapa, Mister? Mau cari jodoh ya?” teriak Sally menginterupsi.
Mahasiswa menyorakinya ramai-ramai.
“Apa sih lo? Gak mutu banget!” dengus Ferdian.
“Biarin, we!”
Andre tertawa-tawa saja, “You’re funny, excuse me, what’s your name (Kamu lucu, maaf, siapa nama kamu)?” tanya Andre pada Sally.
“Sally Lunarita, Mister!”
“Good! You get minus 3 point from me, for interrupting me (Bagus! Kamu dapat nilai minus 3 karena sudah memotong pembicaraan saya)!” ucap Andre datar.
“What?!” Sally terbelalak dan mendengus kesal. Belum apa-apa dosen baru itu merusak kesan di matanya.
Ferdian menahan tawanya. Bagus sekali tindakan dari sepupunya itu.
“Okay, lanjut ya! Di sini saya akan mengajar kelas Development English atau Perkembangan Bahasa Inggris dari masa ke masa, jadi silakan untuk fokus dan mencerna apa yang akan saya bahas mulai hari ini. Karena kedepannya, setiap pertemuan selalu akan ada kuis untuk memastikan sejauh mana ilmu yang kalian tangkap dari penjelasan saya! Got it?”
“Yes, Sir!” ucap mahasiswa kompak.
“Good! Kita mulai saja ya?”
Perkuliahan yang dipimpin oleh Andre telah selesai. Mahasiswa-mahasiswa cukup mudah untuk memahami apa yang disampaikan oleh dosen baru mereka itu. Termasuk juga Ferdian, yang mengakui kalau sepupunya itu bisa
dengan lihai menjelaskan bagaimana awal Bahasa Inggirs bermula. Gaya mengajar Andre yang santai namun tegas juga sangat berkesan. Meski Andre adalah sepupunya, ia harap bisa tetap menjadi mahasiswa yang baik di matanya. Ferdian mengajak Andre untuk makan siang di kantin juga bersama Ajeng. Andre mungkin akan merasa kesulitan di hari pertamanya di kampus. Apalagi dosen muda memang tidak terlalu banyak. Mereka berjanji untuk bertemu di meja dekat kolam di kantin.
“Hai, gimana kesan mengajar kamu sejauh ini, Dre?” tanya Ajeng yang lebih dahulu tiba dibanding Ferdian.
“Lumayan lah, mahasiswa disini agak lebih ‘berani’ dibanding di Inggris?” jawab Andre.
“Berani gimana maksudnya?”
“Baru juga perkenalan, dan sudah ada yang menginterupsi. It’s really weird for me (ini terlalu aneh bagiku)!”
“Oh, really?” tanya Ajeng tidak percaya.
“Ya, itu waktu di kelas Ferdian!” jelas Andre.
“Siapa nama mahasiswa yang interupsi kamu?”
“Sally ya, kalau gak salah?”
“Oh Sally! Ya memang anak itu agak berani, apalagi untuk orang-orang yang menarik hatinya,” terang Ajeng.
“Ya, tadi juga dia tanya, ‘Mau cari jodoh ya Mister?’ Oh come on! Bahkan hal itu sangat privasi untuk disinggung!”
Ajeng terkekeh geli mendengar cerita Andre.
“Kamu harus membiasakan diri, mungkin kamu akan jadi populer di fakultas ini. Dulu aku pun sering begitu, di setiap jalan aku dengar mereka membicarakan aku. Bahkan setelah menikahi Ferdian, semakin banyak suara-suara aneh di luar sana,” ucap Ajeng mengingat pengalamannya selama ini.
“Kayanya obrolan asyik ya?” tanya Ferdian yang baru datang menyapa kedua orang yang sudah duduk nyaman.
“Kelas kamu aneh, Fer!” ujar Andre.
“Oh iya mau pesan makanan apa nih? Biar aku yang pesankan,” tawar Ajeng.
“Aku mau mie instan boleh ya, Sayang?” pinta Ferdian memelas.
“No! Minggu ini kamu udah makan! Ganti yang lain!” ujar Ajeng tegas.
Ferdian cemberut mendengar jawaban istrinya itu. Memang ia sangat menyukai mie instan apalagi ditambah dengan telur dan cabai rawit. Rasanya sedap sekali.
Andre tertawa-tawa saja melihat kelakuan sepupunya itu. Ternyata Ajeng cukup galak juga untuk sepupunya.
“Aku pesan nasi ayam saus teriyaki aja deh,” ujar Andre.
“Minumannya?”
“Air putih aja,”
“Ferdian cepet pilih yang lain,” pinta Ajeng, ia khawatir kalau Ferdian memakan mie akan membuat asam lambungnya tinggi.
“Ya udah, samain aja kaya Bang Andre!” jawabnya lesu.
“Minumnya?”
“Jus alpukat aja deh!”
“Okay!” ucap Ajeng lalu berjalan menuju meja kasir untuk menulis dan membayar pesanan.
“Istri kamu galak juga ya?” tanya Andre.
“Gak juga sih, dia galak itu kalau ada hal-hal yang gak disukainya aja!” terang Ferdian.
“Baguslah! Oh iya, istri kamu ngajar mahasiswa S2 gak?”
“Setahu aku sih belum, emang kenapa?” tanya Ferdian memandang abang sepupunya itu.
“Aku ditawari ngajar mahasiswa S2 soalnya,” cerita Andre.
“Wow, hebat dong, baru masuk udah langsung ngajar S2!” ucap Ferdian antusias.
“Iya, lumayan lah!”
Tak lama Ajeng kembali sambil membawa struk belanja yang dimasukannya ke dalam dompetnya. Kebiasaan wanita selalu menyimpan dan menumpuk struk belanja untuk dicatat dalam pengeluaran.
“Jeng, kamu gak ngajar mahasiswa S2?” tanya Andre.
“Belum sanggup, hehe!” jawab Ajeng polos. “Emang kenapa? Kamu pasti ditawari ya?” tanya Ajeng lagi.
__ADS_1
“Iya, nih!” jawab Andre.
“Dulu aku juga ditawari tapi aku tolak, karena aku merasa belum mampu aja!”
“Ooh gitu!”
“Terus kamu terima tawarannya?”
“Belum, aku lagi pelajari silabusnya dulu. Setelah itu aku akan jawab tawaran mereka!”
“Wah bagus dong!”
Ferdian hanya memandangi kedua dosennya itu berbincang-bincang. Rasanya dunianya memang masih terlalu jauh. Ia merasa lebih hangat ketika berada bersama dengan kawan-kawannya karena bisa membicarakan apa
saja yang ia sukai atau tidak ia sukai dengan candaan konyol tentunya. Entah kenapa Ferdian merasa ada tembok di antara kedua dosennya itu, yang padahal masih keluarganya.
Banyak mata tertuju kepada meja yang diisi oleh tiga makhluk rupawan itu. Suara-suara aneh mengenai ketiganya pun mulai terdengar. Apalagi yang belum mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan ketiganya saling
berkaitan. Tentu mereka dengan santainya membuat berita-berita yang tidak sesuai fakta.
“Itu dosen baru ya? Ganteng ya?” tanya seorang mahasiswi tinggi yang sedang duduk di sebuah koridor yang menghadap ke kantin.
“Iya, lebih ganteng dari Pak Ardi!” jawab mahasiswi yang lebih kecil.
“Kok bisa mereka bertiga di satu meja yang sama gitu sih?” tanya seorang mahasiswi berkacamata.
“Duh meja para selebritis kampus itu mah, aku juga mau ikut nimbrung dong!” ujar mahasiswi yang mengenakan rok selutut.
“Kayanya mereka bertiga temenan deh. Entahlah, Ferdian kan pacaran sama Miss Ajeng, nah dosen baru itu pasti temennya Miss Ajeng! Tadi aja mereka akrab banget ngobrolnya,” ujar mahasiswa berambut panjang.
“Wah bisa-bisa si Ferdi ditikung nih! Apalagi dia masih mahasiswa bau kencur gitu!” celetuk mahasiswi berkaca mata.
“Bisa juga nih! Wah gawat dong!”
“Bersyukurlah kalau Ferdi jomblo lagi, haha!”
“Haha iya sih, kenapa lagian si Ferdi pilih cewek yang lebih tua usianya, kan gak asyik pacarannya?!”
“Mungkin seleranya yang noona-noona (kakak-kakak perempuan)! Hihi!”
“Haha, iya padahal Miss Ajeng juga lebih cocok sama dosen baru itu ya?”
“Betul bangeeet!”
“Yuk ah buruan ke kelas, nanti ditegur Miss Novi lho!”
Mereka pun berlari-lari kecil menuju ruangan tempat mereka akan belajar, meninggalkan kabar yang terbawa oleh angin kepada telinga-telinga lainnya tanpa rasa bersalah.
\=\=\=\=\=
Malam itu Ajeng tampak sibuk menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya. Ia menyiapkan semangkuk sup bakso ditambah sayuran untuk suaminya. Sedangkan untuknya hanya segelas smoothies strawberry pisang.
Ferdian menghampirinya ketika wanita itu masih sibuk mengaduk kuah bakso di dalam panci. Ferdian memeluknya dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Ajeng.
“Kenapa Sayang?” tanya Ajeng melirik sedikit ke wajah suaminya.
“Besok-besok boleh gak kalau aku makan siang bareng temen-temen?” tanya Ferdian.
“Makan sama aku bikin bosenin ya?”
“Ih kok gitu tanyanya?” ucap Ferdian membuat wanita itu membalikan tubuhnya. Ferdian memegang wajahnya dan menatapnya.
“Aku cuma ingin seneng-seneng sama temen-temen aku aja, kok! Soalnya setelah kita publikasikan hubungan kita, kayanya aku jadi agak jauh gitu sama temen-temen aku, boleh gak?”
Ajeng menghela nafas, “Iya boleh!” jawabnya sambil membalikan tubuhnya kembali menghadap kompor.
“Kamu marah? Gak suka?” tanya Ferdian memandangi istrinya yang terlihat datar-datar saja.
“Enggak!”
“Terus kok gitu responnya?”
“Aku lagi capek aja!”
“Bener nih, gak marah? Kalau gak boleh juga gak apa-apa kok,” ujar Ferdian yang cemas melihat istrinya yang agak terlihat jutek.
“Gak apa-apa kok, Sayang! Nanti aku bekal aja dari rumah! Kamu boleh makan bareng sama temen-temen kamu!” ucap Ajeng sembari mematikan kompor.
“Makasih sayang!” ucap Ferdian sambil mencium kilat pipi istrinya.
Ajeng tersenyum kecil saja. Ia tahu suaminya itu memang masih ingin terus berkumpul bersama teman-temannya. Wajar, ia masih mahasiswa yang pasti sangat membutuhkan energi dari kawan-kawannya itu.
"Oh ya, besok aku pulang malam ya Sayang!" ucap Ferdian ketika sudah mendudukan dirinya di kursi makan.
"Ada apa?"
"Aku ada kerja kelompok untuk bikin proyek puisi untuk teater gitu lah, gak apa-apa?"
"Oke! Jangan pulang terlalu malam ya?" jawab Ajeng singkat saja.
"Siap Bu Dosen!"
Ferdian menatap Ajeng keheranan. Hari ini memang istrinya itu terlihat lebih lelah dari biasanya, mungkin karena efek baru masuk kerja lagi setelah hampir seminggu lebih ikut juga berlibur. Apalagi jadwal hari Seninnya cukup padat, tidak seperti semester sebelumnya. Belum lagi Ajeng juga memegang bimbingan skripsi untuk beberapa mahasiswa semester akhir juga mengadakan penelitian di sebuah lembaga bahasa untuk jurnal ilmiahnya.
Semester ini bisa dipastikan akan padat bagi Ajeng. Ferdian cukup cemas akan hal itu.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa like & vote
Makasih sudah membaca ^^
__ADS_1