
Darah merah yang kental dan segar berbaur dengan kerikil dan bebatuan di atas aspal. Bayangan itu muncul begitu saja.
“Arsene!” pekik Ajeng terbangun dari mimpinya. Dahinya berpeluh keringat, dadanya naik turun karena nafas yang keluar tidak beriringan.
“Kamu mimpi, Sayang?” tanya Ferdian yang ikut terbangun di sampingnya, memegang bahu istrinya itu.
Ajeng menutup wajahnya. Mimpi atas kejadian yang menimpa anaknya datang menghantui malam ini. Ferdian menarik tubuh istrinya, dan memeluknya erat. Istrinya itu pasti masih terus terpukul, sehingga peristiwa itu terus tersimpan dalam memori hitamnya.
“Kita tidur lagi ya?” ajak Ferdian.
Ajeng mengangguk kecil dan kembali merebahkan tubuhnya di dalam pelukan hangat sang suami. Mendengar detak jantung Ferdian membuatnya sedikit tenang. Meskipun benaknya selalu dihampiri peristiwa yang mengerikan itu. Matanya yang masih berat pun menutup kembali, sambil berharap mimpi buruk itu tidak pernah datang lagi. Cukup alam sadarnya saja yang mengingat.
Pagi itu Ferdian bangun lebih awal, sama seperti kebiasaannya di Amerika. Ia sudah segar dan wangi, membuat istrinya itu terbangun.
“Kamu mau kemana?” tanyanya dengan suara parau.
“Aku udah mandi dan sholat. Kamu bangun ya! Aku mau ambil mobil dulu sebentar, nanti balik lagi kesini. Kita sarapan bareng," terang Ferdian mengusap pipi istrinya.
“Jam berapa sekarang?”
“Sekarang udah jam 4.45,” jawab Ferdian sambil melihat layar ponselnya.
“Masih pagi banget, kamu yakin mau keluar?”
“Ya udah aku tungguin sampai kamu selesai sholat subuh.”
“Oke!”
“Apa mau aku mandiin?” tanya pria itu usil.
Ajeng terkekeh-kekeh geli. “Gak usah! Aku udah besar!” jawabnya beranjak dari kasurnya, dan berjalan ke dalam kamar mandi.
Ferdian memandangnya sambil tertawa kecil. Bahagia rasanya, bisa melihat senyuman di bibir istrinya itu. Semoga hari kemarin menjadi tangisannya yang terakhir, karena selanjutnya hanya ada tawa dan senyuman yang terbit di setiap hari. Meskipun pasti kesabaran tengah menanti untuk merawat Arsene.
\=====
Ridho masih tetap berada di Amerika, ketika sahabat sejak kecilnya, Ferdian, memutuskan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali. Hal ini membuat dirinya sedikit kebingungan. Bukan masalah pelatihan, melainkan kelanjutan hubungan ta’arufnya dengan Namira. Ia butuh dukungan dan nasihat dari sahabatnya itu. Hanya saja, ia mengerti, Ferdian pasti sedang berada dalam kesedihan setelah kecelakaan Arsene.
Ridho sudah membeli cinderamata berupa kalung emas beserta liontin untuk menyunting Namira. Bahkan kedua orang tuanya serta orang tua Namira pun sudah mengetahui niat baiknya ini. Hari ini ia akan pergi sendiri menuju rumah Ustadz Ahmed, menemui Namira dan menyuntingnya. Hatinya berdegup kencang dengan perasaan was-was dan otak yang berputar. Tabungan miliknya cukup untuk membeli mahar dan membuat acara walimah sederhana. Sementara sisanya, ia akan alokasikan untuk membangun rumah tangganya nanti.
Suasana Evergreen Avenue pagi itu begitu sunyi saat Ridho turun dari taksi. Angin meniup dedaunan kering yang semakin membuat jalanan berantakan. Beberapa mobil kecil melintas, membuat daun-daun itu berterbangan ke udara meski sesaat. Ridho membetulkan posisi jas hitam yang dipakainya. Ia menghirup udara segar dan menghembuskannya perlahan, berusaha menetralkan degup jantungnya.
Decitan pagar besi hitam memekakan telinga, ketika tangannya itu membukanya. Ridho berjalan hingga depan pintu rumah ustadznya itu, lalu menekan tombol bel.
“Assalamu’alaikum…” sapanya ketika pintu itu terbuka. Sebuah senyuman lebar menyapanya.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk Dho!” ajak Ustadz Ahmed.
Ridho tersenyum lalu mengikuti ustadznya masuk ke dalam rumah. Ia mendudukan tubuhnya di atas sofa, sambil sesekali mengusapkan telapak tangannya di atas celana katunnya. Keringat dingin keluar dari tangannya.
“Tunggu ya, Namira belum datang, mungkin sebentar lagi. Saya akan tanya istri dulu,” terang ustadz.
“Iya gak apa-apa, Tadz!”
Ustadz Ahmed pergi ke bagian belakang rumahnya untuk menghampiri istrinya. Sementara Ridho tetap duduk di sana, sambil memperhatikan rumah itu. Hidangan kue kering sudah tersaji di meja, ada juga kurma di sana. Ada beberapa bingkai foto yang menggantung di tembok, yang menampilkan foto keluarga Ustadz Ahmed.
Ustadznya itu pernah bercerita kalau anak-anaknya sekarang sedang kuliah di Mesir. Sehingga hanya ada ia dan istrinya saja di sini. Sementara dua anaknya sedang mengecap pendidikan sarjana di Kairo, Mesir.
Sebuah taksi berwarna kuning bermodel sedan berhenti di pelataran rumah Ustadz Ahmed. Ridho menatap ke luar melalui jendela di sampingnya. Itu Namira turun dari mobil taksi, tetapi dia tidak sendiri. Seorang wanita berambut panjang keluar dari sana.
__ADS_1
DEG.
Betapa terkejutnya hati Ridho ketika menemukan Namira membawa Patricia bersamanya. Benaknya bertanya-tanya, bagaimana keduanya bisa kenal dan menjadi teman? Mengapa Namira membawanya kemari, ke acara ini? Ridho menjadi salah tingkah dibuatnya.
“Assalamu’alaikum…” salam Namira yang tampak cantik mengenakan gamis berwarna ungu muda dengan hijabnya yang berwarna silver mengkilap. Matanya membesar ketika melihat pria yang kini bersemayam di hatinya sudah duduk di dalam ruangan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ridho.
Patricia yang berjalan di belakang Namira ikut menghentikan langkah.
“Kenapa kau belum masuk?” tanya Patricia yang tidak melihat ke ruangan di dalam.
“Tuan rumah belum mengizinkan masuk, jadi kita harus menunggu di sini,” jawab Namira.
“Ooh begitu ya?”
“Ya!”
Tidak lama kemudian Ustadz Ahmed keluar dan mempersilakan keduanya masuk. Kali ini giliran jantung Patricia yang meledak, ketika melihat Ridho ada di depan matanya. Namira memberitahunya jika hari ini adalah acara pertunangannya, setidaknya mirip seperti itu.
Pada awal pertemuannya dengan Namira, hari ini adalah hari keduaPatricia mengunjungi Ustadzah Aisyah untuk mengenalkan tentang Islam setiap minggunya. Oleh karena itu, Namira mengajaknya, agar setelah acara ini selesai, ia bisa berdiskusi lagi seperti biasa. Entah mengapa hatinya seperti tergores ujung pisau yang tajam dan sedikit berdarah di sana. Apakah benar Ridho akan bertunangan dengan Namira? Namun ia akan berusaha menutup luka itu. Ia ingin mengetahui semuanya yang terjadi hari ini.
“Kau sehat, Patricia?” tanya Ustadz Ahmed ketika wanita bule itu masuk ke dalam rumahnya dengan ragu-ragu.
“Ya, aku sehat, Ustadz!” jawabnya.
“Silakan duduk!”
Ridho tertunduk ketika dua wanita itu duduk di hadapannya. Hati dan pikirannya berkecamuk, ia tidak bisa fokus.
“Hey!” sapa Patricia pada pria di hadapannya.
“Hai!”
“Kalian saling mengenal?” tanya Ustadz Ahmed yang duduk di samping Ridho.
“Kami teman satu kelas,” jawab Patricia.
“Ah begitu? Kebetulan sekali ya?”
“Iya, Ustadz!”
Ridho tidak bisa berkata apa-apa, kecuali tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan disini, Pat?” tanya Ridho pada akhirnya, ia terlalu penasaran.
“Aku hanya menemani Namira!” ujarnya berusaha untuk santai.
“Oh kalian berkenalan dimana?” tanya Ridho lagi.
Patricia menoleh pada Namira, lalu membisikinya agar tidak memberitahu apapun kepada Ridho.
“Kami bertemu di kafe,” jawab Namira santai.
“Ooh…” jawab Ridho, ia tidak ingin mengetahui apapun lebih banyak lagi.
Tampaknya percakapan di sana harus menggunakan Bahasa Inggris, karena ada Patricia.
Ustadzah Aisyah datang sambil membawakan minuman untuk mereka.
__ADS_1
“Ada apa ini, kenapa ramai sekali?” tanyanya sambil menaruh cangkir-cangkir di depan mereka semua.
“Tidak ada apa-apa, Ustadzah! Hanya saja Patricia ternyata teman sekelas Kak Ridho,” jawab Namira yang tenang.
“Ooh begitu. Silakan diminum ya?"
“Bagaimana kabar Ferdian dan anaknya?” tanya Ustadz Ahmed pada Ridho.
“Kaki Arsene patah, Tadz! Ferdian tidak akan kembali kesini katanya,” terang Ridho membuat dua wanita di hadapannya terkejut.
“Innalillahi… semoga Allah memberikan ketabahan dan kekuatan pada Ferdian dan istrinya, serta kesembuhan untuk anaknya. Aamiin,” ucap Ustadz Ahmed.
“Subhanallah…”
“Pantas saja sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya di kelas. Ah, aku sungguh ikut merasa bersedih, semoga saja Ferdian bisa kuat,” ucap Patricia.
“Semoga saja….” ucap Namira.
“Baiklah, kita mulai saja acara ini ya?” tanya Ustadz Ahmed kepada para tamunya.
“Namira, orang tuamu sudah menghubungi saya tadi. Jadi tidak usah cemas, semuanya saya yang akan menangani,” terang Ustadz Ahmed.
“Insya Allah, Tadz! Terima kasih banyak!”
Hati Ridho berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan kata-kata yang akan diucapkannya hari ini. Patricia yang berada di hadapannya tidak lagi menjadi benalu di dalam pikirannya. Hatinya sudah mantap dengan pilihannya, apalagi istikhoroh yang ia lakukan jelas-jelas menunjukinya pada Namira.
“Bismillah, di pagi hari yang cerah ini, semoga Allah merahmati kita semua dengan kasih sayang-Nya yang tiada tara. Oleh karena itu, niat baik dalam rangka ketaatan kepada Allah haruslah disambut baik. Tidak perlu berbasa-basi lagi, saya persilakan Ridho untuk mengutarakan niat baiknya.”
Ridho menghela nafas, ia mengambil sebuah kotak hitam dari dalam saku jasnya. Lalu memperbaiki posisi duduknya, dan membuang nafasnya perlahan. Bismillah.
“Dik Namira Safeea, maukah adik menerima khitbah dari saya untuk menjadi calon istri, dan selanjutnya menjadi istri?” tanya Ridho tegas tidak berbasa-basi, ia menggunakan Bahasa Indonesia dalam lamarannya itu.
Patricia tertegun dan terdiam. Ia mengerti maksud bahasa yang diungkapkan oleh Ridho, meski ia tidak tahu bahasa Indonesia. Pisau yang tadi telah menggoresnya, kini perlahan-lahan mulai menusuknya ke dalam jantung, membuat nafasnya tercekat. Ia mengepal kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah blouse gelap miliknya. Rasanya ia ingin berteriak, menangis, dan membawa kabur pria itu. Tetapi hatinya menyuruhnya bertahan dan sabar melihat hal itu semua. Ia tidak boleh lagi dikuasai oleh nafsunya. Ia teringat kajian pertamanya bersama Ustadzah Aisyah, bahwa manusia telah diberikan akal, hati, dan juga hawa nafsu. Jika hawa nafsu berkuasa maka bersiaplah untuk menjadi sesat. Jadi ia mencoba untuk meredam nafsunya, meski perasaannya sungguh sangat sakit. Lagipula keberadaannya disini adalah untuk menuntut ilmu agama yang akan ia hadiri setelah acara ini. Ia hanya memandangi Namira yang juga terlihat tegang.
“Insya Allah saya menerima lamaran Kak Ridho,” ujar perempuan berhijab satin itu.
“Alhamdulillah,” ucap mereka bersamaan.
Sebuah kotak beludru hitam yang sudah dipersiapkan, disodorkan oleh Ridho ke hadapan calon istrinya. Ia membukanya. Terlihat rantai kalung emas berkilau dengan liontin berupa satu permata. Sederhana tetapi cantik.
Mata Namira berkilauan. Cinderamata itu sungguh terlalu berlebihan untuk dijadikan hadiah dalam khitbah ini, tetapi hal itu menunjukkan bahwa Ridho memang serius untuk menjadikannya sebagai istri.
Sementara Patricia tampak mengerjapkan matanya, menahan air mata yang akan keluar dari sana. Hatinya begitu resah dan gugup. Ia meminum teh yang sudah disediakan di hadapannya, sambil menenangkan dirinya.
“Ini sekedar cinderamata untuk menandakan bahwa Dik Namira sedang saya sunting. Mohon diterima!” ujar Ridho.
“Terima kasih banyak. Semoga Allah lancarkan ikhtiar ini.”
"Aamiiin...."
Hati Patricia membeku dan tak berkutik. Seolah zaman es merasuki dirinya. Ia tak bergeming dengan nafas tercekat dalam dadanya.
\=====
Bersambung dulu yaa
Tim Patricia jangan berkecil hati yaa
Like, comment, dan vote dulu dong ^_^
__ADS_1