
Arsene menuntun tangan istrinya yang rasanya sudah lama sekali ia tidak menggengamnya. Hatinya bagaikan musim semi yang kini bermekaran bunga-bunga di taman. Meskipun ia sendiri belum tahu apa yang akan dibicarakan oleh istrinya, tetapi dengan Zaara yang menyambut uluran tangannya itu membuat ia optimis kalau Zaara akan kembali ke dalam rangkulannya. Mereka berjalan keluar dari toko dan berhenti di halaman parkir. Angin lembut dan sejuk menyapa, menemani keduanya di bawah pohon rimbun yang menaungi.
“Kita mau kemana?” tanya Arsene.
“Aku ikut Abang aja.” Zaara menatap suaminya.
“Cari tempat yang deket aja ya? Kita ke mall deket kampus aja.” Arsene memasang helmnya dan menaiki motornya. Zaara mengangguk setuju.
Zaara menaiki motor suaminya lagi. Ia mencoba merangkul lagi pinggang pria tampan di depannya itu. Arsene tersenyum. Hati keduanya berdebar bagai seorang kekasih yang baru saja merajut kisahnya.
Keduanya memilih sebuah restoran dengan menu hidangan khas Jepang yang tampak tidak ramai oleh pengunjung di sebuah mall dekat dengan kampus mereka. Mereka sudah memesan menu ramen pedas untuk makan siang hari itu. Sambil menunggu pesanan datang, mereka memulai pembicaraan.
Zaara tampak tertunduk ragu di hadapan suaminya yang terus memandangnya.
“Aku mau minta maaf sama Abang. Aku terlalu menyalahkan Abang dan terlalu kecewa dengan sikap Abang kemarin-kemarin.” Zaara membuka percakapan dan memberanikan hatinya. Matanya terpejam setelah mengucapkan itu, Hatinya berdegup kencang.
Arsene menatap gadis yang tidak mampu memandangnya itu.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Udah sering aku mengabaikan kamu, dan aku anggap kalau kita baik-baik aja. Komunikasi kita yang jarang juga ternyata jadi masalah besar. Aku udah evaluasi semuanya, dan kesalahan itu berasal dari aku. Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan yang melenakan. Aku juga egois. Dengan kembalinya aku ke bisnis ini, aku harap aku bisa membagi waktu dan prioritas. Banyak yang tolong aku saat ini, jadi aku pikir, aku akan bisa tetap jadikan kamu prioritas.”
Mata Zaara berkaca-kaca mendengar ungkapan tulus suaminya.
“Apa kamu mau maafin aku?” tanya Arsene dengan mata sendu dan penuh harapnya.
Zaara mengangguk. Arsene menggenggam kedua tangannya, dan mengecupnya penuh haru.
Andai saja mereka tidak di tempat umum, mungkin Arsene sudah memeluk tubuh istrinya lekat dalam dekapannya. Ia sungguh merindukan gadis di depannya itu.
“Makasih Sayang!”
“Aku juga mau ucapin makasih, karena Abang udah sabar nunggu dan ngerti aku!”
Tiba-tiba seseorang menginterupsi keduanya.
“Maaf, ini pesanannya…” ujar seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
“Ah iya, makasih!” ucap Arsene.
“Kita makan dulu ya?” pinta Arsene.
“Iya!”
Selepas makan siang, mereka kembali lagi ke toko. Meskipun Arsene sudah percaya kinerja timnya, ia selalu ingin memastikan bahwa semuanya berjalan lancar, apalagi hari ini masih hari pertamanya. Arsene mengecek ke dapurnya, sementara Zaara mengambil beberapa kue yang manis dan legit yang membuatnya tergoda. Arsene memberitahu beberapa kue buatannya, sehingga Zaara mengambil lebih dulu kue buatan suaminya itu.
“Gimana udah balikan?” tanya Alice ingin tahu, ketika sepupunya itu hendak masuk ke dapur.
“Alhamdulillah!”
“Alhamdulillah, tebakan gue bener kan?!”
“Iya, makasih doanya, Kak Al! Mudah-mudahan Kak Al juga bisa cepet dapet jodohnya!”
“Aamiin! Baik-baik terus ya!”
Arsene tersenyum lebar dan kembali ke dapur.
Toko masih akan tutup dalam tiga jam lagi. Zaara sudah kembali pulang ke rumah orangtuanya setelah adiknya menjemput sore itu. Arsene berjanji akan mampir malam nanti setelah pekerjaannya selesai.
Pelanggan terus berdatangan hingga hari gelap. Pemasaran di hari pertama ini bisa dibilang berhasil. Bahkan voucher yang dibagikan sudah penuh, meski belum semuanya ditebus hari ini. Sebanyak 50% voucher telah ditebus, mungkin sisanya besok. Arsene cukup puas melihat tokonya hari ini. Hanya saja ini masih awal, perjalanannya masih panjang. Ia berharap tokonya bisa seperti ini setiap hari.
__ADS_1
Arsene membawa motornya melaju menuju kediaman mertuanya. Apakah Zaara akan memintanya menginap atau kembali ke apartemen? Ia belum tahu. Arsene mengucap salam setibanya di depan pintu rumah mertuanya.
“Wa’alaikumsalam…” Zaara menyambutnya langsung, meraih tangan dan mengecupnya takzim.
Arsene mengangkat tangannya, membawakan sebuah kotak berisi berbagai macam kue.
“Buat umi, abi, sama Zayyan. Pada kemana kok sepi?” tanya Arsene ketika memasuki rumah minimalis itu.
“Zayyan ada, tapi Umi dan Abi nginep di rumah nenek.” Zaara mengambil kotak itu dari tangan suaminya.
“Oh… ada apa emangnya?”
“Tante Jingga baru pulang dari rumah sakit. Tapi…” Zaara mendudukkan dirinya di atas sofa. Arsene mengikutinya.
“Tapi kenapa?”
“Tante Jingga udah pisah ranjang sama Om Kevin, jadinya sekarang tinggal di rumah nenek” Zaara tertunduk.
“Oh...”
Arsene tidak bisa berkata apa-apa karena ia tidak terlalu mengenal sosok keduanya. Ia hanya tau kalau Om Kevin adalah teman kuliah ibunya dulu, sedangkan keluarganya adalah saingan bisnis keluarga kakeknya.
“Kamu capek ya? Udah makan? Aku udah masak. Mau makan?” tawar Zaara.
“Boleh. Kamu masak apa, Sayang?”
“Aku masak sup tomat sosis aja. Gak apa-apa?”
“Iya, dikit aja ya nasinya.”
“Siap!” Zaara berjalan ke dapur.
“Maaf ya cuma ada ini!” Zaara menaruh piring berisi masakannya dan segelas air minum hangat.
“Makasih, Sayang!”
Setelah berbincang lama di meja makan mengenai kuliah mereka, keduanya beralih ke kamar Zaara untuk beristirahat. Arsene sudah membersihkan tubuhnya dan menggantinya dengan baju yang ia bawa dari apartemen sebelum ia tiba di sini. Zaara tengah mengganti bajunya ketika Arsene bersandar di atas dipan kasur. Melihat tubuh ramping istrinya dari belakang membuat hasratnya yang tertahan selama tiga minggu ini tiba-tiba muncul.
Hanya saja ia ingin menahan diri, khawatir Zaara masih merasakan trauma atas kehilangan janin yang dikandungnya. Nafas Arsene terdengar menderu, ia terpaksa menutup mulut dan hidungnya agar nafasnya itu tidak terdengar.
Zaara mengganti bajunya dengan sebuah home dress selutut berbahan rayon dengan kancing memanjang dari bagian leher hingga lututnya. Warnanya yang lembut, membuat wajahnya semakin cerah. Ia membiarkan rambutnya tergerai dan menyisirnya. Dengan pakaian apapun, Zaara selalu terlihat cantik di mata Arsene. Pria itu tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi.
Zaara bergabung dengan suaminya di atas kasur di sisi sebelah tembok. Arsene masih menutup hidung dan mulutnya, membuat Zaara terheran-heran.
“Kenapa? Ada yang bau?” tanya Zaara, Arsene melepas tangannya dan pura-pura terbatuk untuk menetralkan nafasnya.
“Ah enggak!”
Arsene menyeringai kaku.
Mereka berdua terdiam. Kaku dan canggung. Bagai pengantin baru, suasana hening itu menyelimuti lagi. Arsene berdeham untuk mengurangi rasa canggungnya.
“Apa kamu rindu aku?” tanya Arsene ragu.
Zaara mengangguk menatap suaminya dari sampinga.
“Apa kamu takut sama aku?”
Zaara mengernyit heran, ia tidak mengerti. “Maksud Abang?”
__ADS_1
Arsene melirikan matanya ke samping, ragu-ragu.
“Aku cuma khawatir kamu takut sama aku dan trauma dengan kejadian kemarin.”
Zaara tersenyum kecil, ia mengerti maksud suaminya.
“Aku udah ikhlas. Allah pasti merencanakan sesuatu yang lain. Mungkin Allah ingin kita berubah dengan cara-Nya. Aku gak bisa terus diam dalam keadaan sedih, sama aja aku nyalahin takdirNya. Jadi…” Zaara duduk di hadapan suaminya dan menatapnya tajam dengan genangan air mata yang siap-siap tumpah.
“Jadi aku ingin kita mulai dari awal lagi. Merelakan yang sudah terjadi, dan memperbaiki yang rusak. Aku kangen banget sama Abang!” ucap gadis itu sambil memeluk erat tubuh suaminya.
Arsene membalas pelukan itu lebih erat yang membuat air matanya turun tidak terasa. Rasa rindu yang membuncah kini tengah menguar.
“Aku juga selalu rindu kamu!” ucapnya bergetar. "Makasih karena kamu udah kasih aku kesempatan..." lanjutnya.
Arsene menangis deras di pundak istrinya. Ia tidak bisa menahan lagi apa yang dipendam selama ini, kesedihan mendalam, rasa rindu dan cinta, kehilangan, serta ruang hampa selama tiga minggu ke belakang.
"Aku minta maaf karena membuat semuanya jadi rumit. Semoga Allah mengampuni dosaku sebagai istri Abang," ucap Zaara lirih.
Arsene masih terus menangis meluapkan perasaannya.
Zaara mengusap kepala suaminya, ia juga sama seperti Arsene. Hatinya terasa sesak karena dosa-dosa selama menghindari suaminya selama tiga minggu ini. Ia meraih tangan suaminya, tubuhnya menunduk dan menempelkan keningnya di sana.
"Maafin aku yang durhaka ini, Abang! Maafin aku yang masih egois! Aku sayang Abang!"
Bahu Arsene bergetar melihat istrinya bersungkem di depannya. Arsene menggenggam erat tangan istrinya menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Aku juga salah, Sayang! Maafin aku juga!" Arsene mengusap tangisan Zaara dan mengecupnya lekat di keningnya. Keduanya berpelukan mentransfer rasa maaf dan kekuatan untuk memaafkan. Terasa hangat dan menenangkan jiwa yang sempat kusut.
Arsene mengelus pipi istrinya lalu turun ke bibirnya. Zaara memejamkan matanya ketika sentuhan lembut yang membuatnya candu terasa sangat lembut membuat jantungnya terpacu.
Riak-riak cinta muncul dan berubah menjadi gelombang, semakin membesar dan dalam. Bergulung menghempas karang penuh rindu. Atmosfer hangat mengelilingi, melingkar dalam tarian cinta yang halus. Malam menjadi saksi atas dua insan yang kembali bersatu dalam kasih penuh arti. Rangkulan hangat menutup momen, melecutkan kekuatan baru untuk hadapi hari esok yang masih panjang.
Tahukah kamu bahwa kerinduan
membuatku menyadari cinta yang mendalam
Seperti sekarang, hanya seperti sekarang
Lihatlah aku, ingatlah cintaku yang abadi
Kita masih memiliki kenangan untuk dikenang
Aku masih takut bahwa kita akan berpisah lagi
Jangan sampai dirimu terluka
Oleh hari-hari sulit yang kita hadapi bersama
Tidak ada lagi cinta yang menyedihkan
Sampai saat itu, hanya sampai saat itu
Jangan lupakan aku,
Aku berjanji akan mencintaimu
[Tranlate dari lirik Please Remember - Cha Eun Woo]
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1