
Ferdian menutup ponselnya setelah istrinya bercerita banyak hal tentang apa yang terjadi selama ini. Ia menyadari wanitanya itu sangat membutuhkan dirinya di sana. Andai waktu bisa dipercepat, ia ingin sekali melompat ke masa depan agar bisa segera bertemu dengan kekasih hatinya itu.
Adzan subuh sudah berkumandang, dan ia segera menunaikannya. Menguntai doa terdalam untuk keluarganya yang dititipkan pada Yang Maha Kuasa.
\=\=\=\=\=
Seminggu telah berlalu sejak Ridho memutuskan untuk melanjutkan ta’arufnya dengan Namira. Ia beruntung, Namira juga menerimanya setelah mempelajari CV milik Ridho. Wanita muslimah itu cukup tertarik dengan kepribadian Ridho yang tenang dan tekun.
Hari ini keduanya memutuskan untuk bertemu secara langsung dalam rangka nazhar, yaitu dalam rangka memenuhi tuntutan hajat menuju pernikahan. Tentu saja dengan pertemuan yang sesuai dengan syariat, yaitu dengan adanya perantara. Karena Namira tidak bersama mahramnya di Amerika, maka ia menjadikan Ustadzah Aisyah dan Ustadz Ahmed menjadi perantara ketika ia bertemu dengan Ridho. Pertemuan itu diadakan di kediaman Ustadz Ahmed, di sebuah komplek perumahan sederhana di kawasan Wicker Park.
Jarak dari Winston Tower menuju Wicker Park adalah kurang lebih 3 mil dengan jarak tempuh sekitar 10 menit. Ferdian akan mendampingi sahabatnya itu menemui Namira. Keduanya menaiki taksi dari Washington Boulevard menuju Evergreen Avenue, rumah kediaman Ustadz Ahmed selama lima tahun belakangan ini.
Taksi bermodel sedan itu menyusuri jalanan yang tampak sepi. Dedaunan kering yang berserakan di atas aspal remuk terlindas ban kendaraan yang mereka pakai. Taksi itu berhenti dan menurunkan keduanya di sebuah rumah bergaya American Classic semi Victorian dengan nuansa batu bata merah mendominasi di setiap sisi temboknya. Sebuah pagar besi berwarna hitam menyambut keduanya. Taman kecil di depan tampak rapi dengan rumput hijau meski terlihat beberapa helai daun maple kering berserak di sana. Ferdian menekan bel pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Ustadz Ahmed yang mengenakan kemeja kokonya menyambut kedatangan mereka berdua.
“Assalamu’alaikum, Tadz!” sapa kedua pria itu.
“Wa’alaikumsalam. Silakan masuk,” serunya ramah.
Ustadz menyuruh kedua pria muda itu duduk di sofa ruang tamunya. Rumah milik Ustadz Ahmed bukanlah rumah besar yang mewah, melainkan hanya rumah sederhana. Meskipun dari luar rumah itu terlihat gelap dan suram, tetapi suasana di dalam rumah begitu hangat. Wallpaper bermotif bunga kecil berwarna krem menghangatkan suasana itu. Langit atap rumah itu tidak terlalu tinggi. Ada sebuah lorong kecil yang mengantarkan ke ruangan lainnya. Sempit memang, tetapi begitulah mungkin kehidupan sederhana di Amerika.
“Saya akan memanggil Namira. Dia sudah ada di sini sejak tadi dan sedang membantu istri saya menyiapkan makan siang,” terang ustadz yang baru saja duduk kemudian berdiri lagi.
“Baik, Tadz,” jawab Ridho mengangguk.
Ferdian menyenggol Ridho yang duduk di sebelahnya. Pria yang memiliki pipi cukup berisi itu mengangkat dagunya.
“Deg-degan gak?” tanya Ferdian.
“Iya atuh!” jawabnya.
Ferdian tersenyum memperlihatkan giginya. Ia juga jadi teringat suasana ketika perjodohannya dulu.
Beberapa menit kemudian Ustadz Ahmed kembali lagi, bersama istrinya Ustadzah Aisyah. Ini pertama kalinya Ridho dan Ferdian bertemu dengannya. Wanita itu memiliki kulit putih khas Asia Barat dengan hidung mancungnya. Istri Ustadz Ahmed terlihat cantik meski tubuhnya cukup berisi di balik hijab dan gamis yang dikenakannya. Umurnya berkisar antara 40-45 tahunan. Ia menangkupkan tangannya seraya tersenyum tipis di hadapan dua pria muda itu.
“Ini istri saya, Aisyah, asli dari Aljazair,” ujar Ustadz Ahmed memperkenalkan.
Kedua pria itu hanya terkesima, ternyata istri ustadznya adalah orang Afrika Utara yang berdarah jazirah Arab.
Lalu tak lama dari sana, seorang muslimah cantik datang sambil membawakan nampan berisi beberapa cangkir teh panas. Itu Namira, yang mengenakan abaya kaftan berwarna terang dengan hijab melilit lehernya. Pandangannya tertunduk selagi menaruh cangkir-cangkir itu di atas meja. Tangannya yang terluka sudah pulih kembali.
Namira menangkupkan kedua tangannya menyapa kedua pria asing di depannya. Ia tersenyum tipis, sesekali melirik ke wajah dua pria itu.
“Ini Namira Safeea, mahasiswi asal Palembang yang berkuliah di UIC,” ujar ustadz.
Ridho melihat wajah perempuan itu dengan matanya yang tajam. Kulitnya putih, wajahnya mulus berkilau, matanya sipit, bibirnya merah merekah. Ia sangat cantik. Apalagi dengan balutan busana muslim berwarna cerah seperti yang Namira kenakan saat ini. Hatinya tak bisa berbohong, apalagi dengan ritme jantungnya yang berderap kencang.
Ustadz mempersilakan semuanya untuk duduk. Namira duduk di sebelah Ustadzah Aisyah, berhadapan langsung dengan Ridho yang duduk di depannya. Wajahnya tertunduk sambil menggenggam tangannya.
“Orang tua Namira, memandatkan amanahnya kepada saya untuk acara hari ini. Jika Ridho serius untuk melanjutkan ta’aruf ini ke tahap selanjutnya yaitu khitbah, maka Ridho bisa menyampaikannya langsung kepada saya,” terang ustadz.
“Tetapi sebelumnya, selama 7 hari kalian berdua memulai taaruf apakah ada yang akan ditanyakan dahulu terkait perkenalan selama ini? Soalnya selama ini saya dan istri menjadi jembatan komunikasi kalian, siapa tahu ada yang menjadi uneg-uneg selama ini.”
Hening sesaat, karena keduanya terdiam. Mungkin pikiran dan hati mereka saja yang berkecamuk saat ini.
Ferdian berdeham memecah kesunyian.
“Atau Nak Ferdian mau memberi wejangan? Sebagai sahabat yang sudah berpengalaman?” tawar ustadz membuat alis Ferdian terangkat.
__ADS_1
“Hehe, gak ada, Tadz! Saya juga masih terus belajar jadi suami yang baik,” ucapnya tersipu, karena ia merasa tidak pantas memberikan nasihat apalagi di hadapan ustadznya itu.
Kali ini giliran Namira yang berdeham.
“Maaf saya mau tanya sama Kak Ridho,” ujar wanita berhijab pink muda itu.
“Silakan, siap-siap, Dho!” ucap Ustadz Ahmed. Ridho menjadi tegang.
“Apa Kakak pernah berpacaran sebelumnya?” tanyanya dengan suaranya yang merdu dan dewasa.
“Jujur, selama ini saya tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun, Dek!” jawab Ridho tegas, meski hatinya ada yang janggal di sana.
“Alhamdulillah,” ucap ustadz dan Namira, meskipun wanita itu mengucap di dalam hati.
“Kalau Dek Namira sendiri bagaimana?” Ridho bertanya balik.
“Alhamdulillah, saya juga tidak pernah sekalipun berpacaran,” jawabnya menunduk.
“Masya Allah, tabarakallah.”
Hati keduanya sama-sama lega.
“Saya mau tanya lagi, Tadz!” sahut Ridho.
“Silakan, silakan!”
“Apa Dek Namira bersedia mengikuti saya kemana pun jika sudah menikah nanti? Misalnya jika saya ditempatkan kerja dimanapun, apakah bersedia mendampingi saya?” tanya Ridho tanpa berbasa-basi.
Namira terdiam sejenak, meski ia pun sudah menyiapkan jawaban itu sejak jauh-jauh hari.
“Insya Allah saya bersedia mendampingi suami saya kapanpun dan dimanapun berada. Saya paham tugas istri adalah menjadi pakaian bagi suaminya, jadi Insya Allah saya akan ikut.”
“Oh ya Tadz, saya mau tahu, apakah proses ta’aruf dan khitbah nanti ditentukan waktunya?” tanya Ridho.
“Untuk ta’aruf sendiri sebenarnya tidak ada batasan, sementara untuk khitbah beberapa ulama menyarankan semakin cepat semakin baik. Karena niat baik seharusnya dipercepat, dikhawatirkan terjadinya fitnah atau maksiat. Apalagi ini dalam rangka beribadah kepada Allah.”
“Oh baik Tadz.”
“Kak Ridho sendiri di sini untuk berapa lama ya?” tanya Namira.
“Sekitar 4 bulan lagi, pelatihan saya akan selesai. Lalu bagaimana dengan kuliah Dek Namira?”
“Saya sedang menyusun skripsi, mudah-mudahan dua bulan lagi maju sidang,” jawabnya.
“Setelah itu, langsung kembali ke Palembang?” tanya Ridho lagi.
“Keluarga saya sekarang sudah tinggal di Jakarta, tidak lagi di Palembang. Kecuali untuk keluarga kakek dan nenek dari garis ayah.”
“Ooh begitu.”
“Apakah untuk khitbah nanti ada cinderamata simbolik, Tadz?” tanya Ridho lagi.
“Setahu saya, tidak ada syarat apapun secara simbolik dalam khitbah misalnya cincin, itu hanyalah bagian dari tradisi. Yang paling diutamakan adalah adanya pernyataan terbuka dari pihak laki-laki untuk meminang perempuan itu. Jika saja ingin tetap ada cinderamata yang diberikan, maka sifatnya seperti hadiah saja. Bukan seperti mas kawin,” terang Ustadz Ahmed.
“Apakah ada yang diinginkan oleh Dek Namira untuk khitbah?” tanya Ridho tegas, yang secara tidak langsung memiliki niat untuk mempersuntingnya.
Namira memandangi wajah ustadzahnya, lalu sedikit ke arah ustadznya. Ustadz Ahmed salut dengan ketegasan dan tekad dari Ridho.
“Akan saya pikirkan dahulu, Kak!” jawabnya.
__ADS_1
“Baiklah!”
Acara itu berlanjut ke ruang makan, karena matahari sudah merangkak naik ke atas langit. Perbincangan itu pun tetap dilanjutkan sampai keduanya tidak lagi memiliki uneg-uneg di dalam hati mereka.
\=\=\=\=\=
Patricia terlihat berdiri di depan sebuah gedung bertingkat yang memiliki teralis cokelat. Wanita itu tampak ragu memandangi gedung itu. Ada kumpulan brosur-brosur yang terdapat di dalam sebuah kotak besi yang tertempel di tembok. Ia mengambil dan membukanya.
Bagaimana Mengenal Islam? Itu adalah judul dari artikel di brosur itu. Sebuah brosur untuk menyiarkan dakwah dan agama Islam. Patricia berdiri tepat di gedung Islamic Center. Hatinya terpanggil untuk mengunjungi tempat ini di kala libur. Ia tahu, Ferdian dan Ridho sering mengunjunginya, tetapi ia berharap agar ia tidak bertemu dengan keduanya di sini. Lalu ia melipat dan memasukan brosur itu ke dalam tas selempangnya.
Wanita berambut pirang itu ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam, hanya saja langkahnya itu terasa berat. Ia memejamkan matanya, mungkin belum waktunya, pikirnya dalam hati. Ia pun pergi menjauhi gedung itu dan memanggil taksi untuk kembali ke Winston Tower.
Taksi memberhentikannya tepat di pelataran Winston Tower. Ia melangkahkan kakinya keluar dari sana. Hatinya terkesiap ketika di depan taksinya itu, turun juga Ridho dan Ferdian.
“Hey, Pat!” seru Ferdian yang baru saja melihatnya.
Wanita itu tersenyum kaku padanya, apalagi dilihatnya Ridho tampak tidak melihat ke arahnya. Hatinya sedikit tergores.
“Kau mau ke atas?” tanya Ferdian.
“Ah iya, tetapi sepertinya aku melupakan sesuatu,” ujarnya berbohong.
“Ada apa?”
“Aku harus pergi ke minimarket dulu, ada sesuatu yang harus kubeli!”
“Oh begitu, baiklah!” ujar Ferdian.
Patricia membelokan langkahnya menuju minimarket. Padahal tidak ada yang harus ia beli. Ia hanya ingin menghindari Ridho saja agar tidak berada di dalam satu lift dengannya. Dengan wajah pria yang dingin seperti itu, ini membuatnya tersiksa.
Sementara itu, Ridho dan Ferdian sudah berada di dalam lift. Ferdian memandangi sahabatnya yang terdiam.
“Perasaan kamu sekarang gimana sih, Dho?” tanya Ferdian penasaran.
Ridho terdiam. Seharusnya Ferdian tidak bertanya, ia sedang malas menjawabnya.
“Susah dijelasin Fer!”
“Kenapa susah? Harusnya udah jelas dong, perasaan kamu harusnya udah ada untuk Namira. Iya kan?”
“Iya, tapi gak segampang itu, ternyata,” ujar Ridho menunduk.
Ferdian terkejut. Ia menarik asumsi jika Ridho masih menyimpan perasaannya untuk Patricia.
“Bersihin hati kamu, Dho! Istikhoroh sering-sering, apalagi tadi kamu udah kaya bakal ngelamar Namira. Kamu udah gak polos kaya dulu lagi, Dho!”
“Apa aku berubah?”
“Iya kamu berubah, dan jadi aneh. Sorry ya Men!”
“Astaghfirullah! Kamu bener Fer, aku harus bersihkan hati. Bantuin aku, Fer!"
\=\=\=\=\=
Haduh, Ridho....
Komennya dong
Like dan vote juga yaa
__ADS_1
Thank youuu