Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 105. Tes


__ADS_3

Raffa terlihat puas dengan tempat prakteknya selama jenjang profesi menuju gelar dokter giginya. Ia telah ditempatkan di sebuah klinik yang masih milik universitasnya. Ia merasa lega karena tidak ditempatkan di puskesmas atau klinik lain di tengah masyarakat yang jauh dari perkotaan.


Pria itu membuka jas dokternya. Berjalan menuju minimarket yang terletak di lantai dasar sebuah apartemen. Pria itu hendak pulang, hanya saja ia ingin membeli minuman ringan dulu sebelum membawa mobilnya.


Matanya menyusuri deretan botol-botol minuman di dalam kulkas showcase. Tatapannya terkunci pada sebuah botol berisi minuman isotonik dingin. Akan tetapi, seorang gadis berhijab tiba-tiba saja lebih dahulu membuka kulkas yang ada di hadapannya itu sambil mengucap permisi. Raffa menatap ke arahnya.


“Zaara?!” ucapnya, sedikit terkejut. Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah kejadian lamaran Arsene untuk Zaara.


Gadis itu menoleh sambil mengambil satu botol air teh dingin.


“Mas Raffa?!”


“Hai,” sapanya berusaha ramah. Entah mengapa jantungnya malah kembali bergetar melihat mantan hatinya di depan.


“Baru pulang, Mas?” tanya Zaara basa-basi.


“I-iya. Kamu sendiri? Mana Arsene?” tanyanya menoleh, mencari sosok pria yang menjadi saingannya waktu itu.


“Ah, Arsene masih jaga toko.”


“Ooh…” Raffa mengangguk-angguk.


“Saya duluan ya, Mas!” pamit Zaara.


“Eh, kamu pulang sama siapa?” tanya Raffa teringat matahari sudah tenggelam satu jam yang lalu.


“Saya tinggal di sini!” jawab Zaara.


“Di apartemen ini?”


Zaara mengangguk lalu berpamitan kembali. Sementara Raffa tertegun, ternyata Zaara dan Arsene telah tinggal di apartemen ini. Artinya bisa saja ia akan selalu melihat sosok mereka di area ini, mengingat kliniknya hanya berjarak beberapa puluh meter saja.


Raffa kembali memilih minuman ringannya. Entah mengapa perasaannya itu kembali kacau ketika bertemu Zaara. Pria itu mendengus kasar.


\=\=\=\=\=\=


Dosen mata kuliah penulisan kreatif telah masuk siang itu. Para mahasiswa Sastra Indonesia telah bersiap mendengarkan penjelasan atau mungkin saja dosen itu akan langsung memberikan tugas berupa membuat karangan fiksi berbentuk prosa atau cerita pendek. Kepala Zaara terasa berkedut-kedut nyeri sambil berusaha memperhatikan dosennya.


Hari ini tubuhnya, entah mengapa, terasa lemas dan lelah. Ia ingin sekali berbaring karena bagian punggungnya terasa pegal-pegal. Posisi duduknya selalu terasa tidak nyaman, terlebih lagi karena busa kursi yang terlalu tipis. Zaara menaruh keningnya di atas tangannya yang terlipat.


“Ra!” panggil Terry yang duduk di sebelahnya.


Zaara menoleh pelan.


“Ada tugas tuh!” bisik Terry.


Zaara mengangguk dan memperhatikan kembali dosennya. Benar, sang dosen langsung memerintahkan membuat tugas cerita pendek fiksi dari materi yang telah diterangkan minggu kemarin.


Zaara mengambil pulpen dan membuka kertas dalam bindernya. Ia bersiap-siap menuliskannya di sana. Hanya saja lagi-lagi kedutan di kepalanya itu membuat ia memejamkan matanya. Zaara memijit kepalanya yang pusing.


“Lu kenapa Ra? Pusing?” tanya Terry memperhatikan gelagat Zaara sejak tadi.


Zaara mengangguk. Wajahnya terlihat pucat.


“Mau izin pulang?” tawar Terry khawatir.


“Gak usah, aku masih kuat!” jawabnya pelan.


Meski begitu, Terry tetap saja merasa khawatir. Zaara terlihat lemas sejak tadi pagi dan tidak terlalu banyak tersenyum hari ini. Apakah ada masalah dengan Arsene? Ia tidak tahu dan tidak mau turut campur.


Tiba-tiba gadis berhijab hijau lumut itu berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari keluar setelah izin pada dosennya. Terry dan Hana saling berpandangan heran.


“Zaara kenapa sih?” tanya Hana.


“Sakit kayaknya. Gue kasih tau Arsene aja deh!” ucap Terry berinisiatif.


Perkuliahan itu berlangsung satu jam lagi. Arsene pun sedang mengikuti perkuliahan di gedung yang sama. Terry sudah memberitahukan perihal kondisi Zaara yang tampak lesu. Arsene mengabarinya akan menjemput istrinya itu setelah perkuliahan selesai.


Zaara kembali ke kelas dengan wajah pucatnya. Hijab bagian depannya terlihat basah karena percikan air. Ia menutup mulutnya dengan tisu.


“Lu gak apa-apa?” tanya Terry lagi.


Zaara menggeleng, tersenyum sedikit. Ia melanjutkan kembali untuk menuliskan tugasnya.


Otaknya tidak bisa berpikir saat ini, karena rasa pusingnya belum saja hilang. Padahal biasanya setelah muntah, rasa pusingnya itu akan berkurang.


Akhirnya Zaara tidak memaksakan dirinya untuk berpikir. Ia hanya terdiam masih dengan pulpen yang dipegangnya. Kadang mual terasa dari perutnya, tetapi masih bisa ia tahan. Ia memakan permen mint yang selalu dibawanya untuk mengurangi rasa mualnya.


Tak terasa perkuliahan berakhir siang itu. Banyak mahasiswa yang belum menyelesaikannya, sehingga menjadi tugas rumah. Zaara bersyukur karena ia tidak sendiri. Bahkan ia tidak menulis sama sekali. Masih ada satu mata kuliah menanti setelah dzuhur. Nyeri di kepalanya belum hilang. Ia kembali berlari keluar sambil memegang mulutnya. Arsene yang tengah berdiri di depan pintu kelas itu seketika terkaget-kaget mendapati istrinya tengah berlari menuju toilet.

__ADS_1


“Zaara!” panggilnya.


Pria itu menghampiri dan menunggunya di luar toilet.


Tak lama Zaara keluar. Ia terkejut mendapati suaminya di sana. Matanya berair, ia mengelap mulutnya dengan tisu.


“Kamu sakit?” tanya Arsene cemas.


“Pusing sama mual aja dikit! Mungkin masuk angin!” jawab Zaara menduga-duga.


“Ke klinik ya?” tawar Arsene.


“Gak usah, aku gak apa-apa kok. Aku bawa obat anti masuk angin.”


“Kamu pucat, Sayang! Kita pulang aja ya?” tawar Arsene lagi.


“Aku masih ada kuliah satu lagi, sayang kalau izin.”


“Bandel dikasih tau! Ayo pulang!” Arsene menarik lengannya, membawanya ke dalam kelas untuk mengambil tasnya.


Terry dan Hana sudah membantu memasukan barang-barang milik Zaara ke dalam tasnya. Mereka memang teman yang sangat baik, sehingga Zaara tinggal mengambilnya. Kelas sudah sepi dan hanya ada mereka saja.


“Makasih ya!” ucap Arsene pada kedua sahabat istrinya itu.


Zaara kembali berlari keluar.


“Zaara emang ngapain Sen, kok muntah-muntah gitu?” tanya Terry.


“Kemarin biasa aja sih, gak kemana-mana juga! Apa karena pulang sore terus ya?”


“Bisa jadi sih!” sahut Terry.


“Atau…” Hana berucap ragu.


“Atau apa?” tanya Arsene.


“Zaara hamil?!”


DEG. Jantung Arsene melompat, alisnya terangkat. Dipandanginya lagi istrinya yang baru masuk ke dalam kelas. Gadis itu mengajaknya pulang karena badannya terasa lemas sekali.


“Mungkin aja, Sen!”


“Bawa ke klinik kandungan!” saran Hana.


“He?!” Zaara terkejut, bertanya-tanya.


“Lu hamil Ra?!” ujar Terry.


“Gak tau!” jawabnya refleks.


Wajah Terry dan Hana berbinar, meski harap-harap cemas.


“Ya udah yuk kita ke dokter!” ajak Arsene.


“Tunggu sebentar!” tahan Zaara. Ia mengeluarkan ponselnya, mengecek kalender menstruasi miliknya. Terakhir kali ia datang bulan adalah satu bulan lebih yang lalu, artinya ia sudah telat hampir 3 minggu lebih. Ia tidak pernah menyadarinya karena memang datang bulannya jarang teratur. Jadi ia selalu menganggapnya biasa saja. Hanya saja ia tidak ingin berharap banyak, ia khawatir ini hanya telat datang bulan saja.


“Kenapa?” tanya Arsene.


“Aku udah telat 3 minggu. Ya udah yuk ke dokter biar pasti!”


“Mending beli testpack aja dulu! Kalau udah bener positif baru ke dokter,” Hana menyarankan. Ia teringat kakaknya saat itu.


“Oh ya?” tanya Arsene.


Hana mengangguk.


“Ya udah kita pulang. Kamu istirahat aja dulu!” Arsene menarik lengan istrinya keluar kelas dan membawanya ke apotek sebelum pulang untuk membeli testpack.


Mereka telah tiba di apartemen. Terpaksa Arsene juga izin tidak kuliah untuk menemani istrinya yang sedang terlihat tidak baik.


“Ini pakainya harus pas baru bangun tidur ya?” tanya Arsene tidak mengerti cara kerja alat uji tes kehamilan.


“Iya katanya gitu! Berarti baru coba besok subuh!” jawab Zaara.


“Duh gak sabar!”


“Kalau positif gimana?” tanya Zaara menatap cemas suaminya.


“Alhamdulillah kita harus bersyukur, Allah udah kasih rezeki. Rezeki anak mana bisa ditolak ya kan?”

__ADS_1


“Iya betul. Tante Jingga aja sekarang kasian,” ucap Zaara sedih.


“Emang kenapa?”


“Tante Jingga kena kanker rahim, jadi gak bisa punya anak!”


“Innalillahi…”


“Kata umi, beliau kanker rahim stadium tiga. Mungkin bentar lagi rahimnya bakal diangkat,"


Arsene terdiam mendengar cerita istrinya.


“Kasian banget Tante Jingga! Untung Om Kevin bisa kasih pengertian.” Zaara terlihat sedih sekali.


Arsene jadi ikut terhanyut. Jika istrinya benar-benar hamil sekarang, ia harus mempersiapkan semuanya dengan baik.


Bunyi alarm dari ponsel berteriak keras tepat di pukul 3.30 dini hari. Zaara terbangun. Ia teringat akan alat tes kehamilan yang sudah ia beli kemarin sebanyak 3 buah. Badannya terasa pegal-pegal pagi ini. Tetapi ia memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi.


Gadis itu berlari keluar dari kamar mandi sambil memegang benda pipih panjang itu. Arsene yang belum terbangun, digoyangkan tubuhnya.


“Abang… bangun!” seru Zaara.


“Mmhh… bentar lagi!” ucapnya parau tanpa membuka matanya.


“Cepet bangun, ini udah keluar hasilnya!”


Arsene membuka matanya langsung. Tubuhnya dipaksa bangun. Ia menatap istrinya yang sumringah.


“Mana? Mana?” tanya Arsene tidak sabar.


“Ini!”


Zaara memberikan dua alat tes kehamilan itu pada suaminya setelah ia menyalakan lampu utama kamarnya. Terlihat di sana, dua garis merah terdapat di dua alat tes kehamilan itu. Tertanda kalau Zaara positif hamil.


“Alhamdulillah….” ucap Arsene berbinar dan bahagia, ia lekas memeluk istrinya.


“Eh ini akurat gak?” tanya pria itu lagi, khawatir hasilnya salah.


“Aku baca di artikel sih, 99% akurat! Nanti kita ke dokter aja buat memastikan.” Zaara menaruh testpack di atas nakas.


“Alhamdulillah mudah-mudahan ya, Sayang!” pria itu tersenyum lebar meski matanya masih terlihat sayu.


Arsene kemudian terdiam, berpikir sejenak sambil melirikan matanya yang sipit.


"Kenapa?" tanya Zaara.


"Umm... kalau hamil, masih boleh 'itu' gak sih?!" tanya Arsene ragu-ragu.


Zaara jadi ingin tertawa mendengar pertanyaan suaminya.


"Nah lho... aku juga gak tau sih! Hehe!" jawab Zaara. "Coba aja browsing di internet, Abaaaang!"


"Iya ya!"


Arsene lekas mencari keberadaan ponselnya, kemudian langsung mengetikkan sesuatu di kolom pencarian mesin pencari di internet. Matanya yang sipit dan menyembul tampak fokus menatap layar ponsel yang menyala. Zaara hanya memperhatikan suaminya saja yang serius, terlihat lucu.


"Jadi, gimana?" tanya Zaara.


Pria itu masih fokus menatap ponselnya.


"Boleh katanya, tapi ada dokter yang menyarankan untuk tidak melakukannya di dua bulan pertama. Dia menyarankan untuk melakukan itu setelah 16 minggu, berarti pas 4 bulan ya? Atau setelah trimester pertama," terang Arsene setelah membaca beberapa artikel tadi.


"Ooh..."


"Ya udah aku kelonan aja sama kamu!" ucap Arsene menarik tubuh Zaara untuk tertidur lagi.


"Udah subuh Abang! Sholat dulu!" seru Zaara.


Arsene terkekeh-kekeh.


\=\=\=\=\=


Alhamdulillah, Zaara hamil gaess


Ayo vote poin dan koin yang banyak XD


jangan lupa klik LIKE dan tulis komentar kamu yaa


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2