
Zaara memandangi cupcake yang dibawa Arsene tadi siang. Ia memperhatikannya dengan seksama. Mulai dari tekstur kue, wangi vanilla yang lembut, juga butir buah blueberry. Wangi kue itu mirip sekali dengan kue yang didapatnya di sekolah, meskipun ia tahu kalau wangi vanilla dalam kue seperti itu aromanya. Ia juga tahu kalau cupcake dan muffin adalah kue dengan jenis yang berbeda. Cupcake memiliki tekstur yang lebih ringan, sedangkan muffin lebih berat. Tetapi tetap saja keduanya sangat lezat di lidahnya. Gadis itu kini memasukan potongan kuenya ke dalam mulutnya. Rasanya benar-benar lezat dan lidahnya sangat menyukainya, apalagi ketika buah blueberry itu pecah dan mengeluarkan cairannya manis sedikit asamnya. Moodnya kembali naik, sama seperti di sekolah saat itu.
“Apa Arsene yang kirim kue buat aku?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mengambil dompetnya ketika kuenya itu sudah habis sekejap di mulutnya. Lalu mengeluarkan beberapa kertas bertulis kutipan-kutipan kata bijak. Waktu itu dirinya memperhatikan tulisan tangan Arsene, tetapi sangat berbeda dengan tulisan ini yang jauh lebih rapi dan elegan. Bisa saja pria muda itu mereka-reka tulisannya, entahlah. Yang jelas benaknya kini bertanya-tanya, untuk apa Arsene mengirimkan kue-kue itu? Kalau ia menduga karena Arsene menyimpan perhatian lebih padanya sepertinya tidak mungkin. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena berkat kue itu moodnya selalu membaik sepuluh kali lipat.
Zaara tersenyum sendiri, lalu mulai menulis di dalam buku catatannya, seperti kebiasaannya.
\=\=\=\=\=
Arsene dan Rainer sudah berada di kediaman oma dan opa mereka. Keduanya menonton televisi sambil memutar film yang sudah berada di dalam flashdisk milik Arsene. Opa mereka belum tiba dari yayasan miliknya, sehingga oma membiarkan kedua cucunya itu untuk bersantai saja.
“Abang…” panggil Rainer.
Arsene menoleh pada adiknya yang baru saja membersihkan tubuhnya.
“Kenapa?” tanya Arsene.
“Apa abang pernah jatuh cinta atau naksir cewek gitu?” tanya Rainer membuat ekspresi Arsene sedikit terkejut.
“Kenapa, kamu lagi suka sama seseorang?” Arsene malah bertanya balik.
“Enggak!” sergah Rainer.
“Terus kenapa tanya itu?”
“Ya mau tanya aja. Kata orang kalau kita lagi suka sama seseorang bisa bikin kita berbuat hal konyol, betul gak?” tanya Rainer menatap mata abangnya.
“Entah betul atau enggak, soalnya aku juga belum pernah. Coba tanya daddy,” jawab Arsene kembali memperhatikan layar televisi.
Rainer menggaruk kepalanya yang masih basah. Ia teringat kejadian di sekolahnya tadi, seorang cewek aneh muncul dan berpura-pura baik padanya. Ia memberikan kelonggaran saat berlari, juga tiba-tiba memberinya air minum. Apakah itu hal konyol?
“Apa gak ada cewek yang abang suka selama ini?” tanya Rainer lagi.
__ADS_1
Arsene melirik kepada adiknya. “Hmm… ada sih. Tapi gak yakin, apa bisa aku deket sama dia?”
“Emang kenapa? Kan abang baik, ganteng, pinter lagi!” puji Rainer membuat Arsene tersenyum merona.
“Bukan masalah itu. Sikap orang itu berbeda-beda penerimaannya terhadap kita. Kita harus tetap bersikap baik sama orang, tapi kan kita gak tau apa respon mereka. Meski kita udah baik, ada aja kan yang gak suka. Nah, sama juga kaya menaruh perasaan kita kepada orang lain. Belum tentu orang yang baik, ganteng dan pintar, perasaannya dibalas suka oleh dia,” jelas Arsene.
Rainer mengangguk-angguk. Ternyata ribet juga untuk menyimpan perasaan pada seseorang apalagi ketika orang yang dituju tidak mengetahui. Ah, kenapa ia jadi membahas hal itu? Gara-gara cewek aneh yang muncul tadi sepertinya.
Sebuah mobil van hitam mengkilat terparkir di halaman kediaman. Itu Opa Gunawan sudah datang. Ia terlihat turun dari mobilnya. Ternyata ia tidak sendiri, seorang gadis remaja terlihat turun dari sana. Arsene dan Rainer saling berpandangan terkejut.
“Fea!” jawab mereka berbarengan.
[Elena Fea]
Opa Gunawan masuk ke dalam rumahnya setelah asisten rumah tangganya membukakan pintu untuknya. Kedua cucu laki-lakinya itu menyambutnya dengan sopan dan penuh rindu.
“Alhamdulillah, cucu-cucu Opa pada datang, rumah jadi gak sepi nih!” ucap Opa Gunawan senang memeluk kedua cucunya bergantian.
“Iya mau sebulan juga gak apa-apa kok! Nih, Fea aja ikut pindah kesini. Katanya mau sekolah di Bandung.”
Gadis bernama Elena Fea itu masih berada di halaman, sedang sibuk memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran di pot-pot milik omanya.
“Kok bisa pindah?” tanya Arsene.
“Dia pengen hidup mandiri katanya kaya kalian, dan nanti kuliah di Bandung. Ya udah Opa bawa aja kesini, biar rumah gak sepi-sepi amat,” terang Opa.
“Mau sekolah dimana dia?” tanya Arsene lagi.
“Katanya biar asik, masuk sekolah bareng kalian!”
DEG. Arsene dan Rainer terkejut.
Elena Fea adalah anak pertama dari Damian dan Tania, jadi gadis yang berusia 15 tahun itu adalah sepupu dari Arsene dan Rainer. Fea seangkatan dengan Rainer, meskipun Rainer lebih muda satu tahun dari gadis itu karena Rainer pernah akselerasi kelas ketika di Singapura. Kedua remaja itu saling berpandangan.
__ADS_1
“Abang Aceeeen…! I miss you so muuuuch!” teriak Fea dari luar ketika ia melihat abang sepupunya dan langsung menghamburkan dirinya pada tubuh lelaki remaja itu. Fea memeluk Arsene dengan erat dan membuat Arsene tidak berkutik. Gadis itu melepasnya, lalu memeluk Rainer yang memasang ekspresi sama seperti Arsene tadi.
“Oh my handsome cousins, akhirnya gue bisa ketemu kalian disini, yeaaay!” ujarnya riang sekali.
“Jadi opa jemput Fe tadi?” tanya Arsene mengikuti kakeknya yang akan duduk di sofa khusus miliknya.
“Enggak. Tadi Pakde kalian datang ke yayasan, kita bertemu di sana. Cuma karena ketemu di sana, akhirnya pakde kalian titip Fea langsung karena masih ada perlu lagi.”
“Oohh….”
“Lo kangen gue kan, Rain?” tanya gadis centil itu membuntuti kedua sepupunya.
Rain menatapnya aneh, bibirnya mengerucut bulat.
“Ah, kalau Abang Acen pasti kangen deh!” kini gadis itu merangkul lengan Arsene. Pria remaja itu tersenyum kaku. Gadis itu terduduk di antara Arsene dan Rainer, sehingga dengan mudah merangkul lengan kedua remaja pria itu.
Opa Gunawan tersenyum bahagia melihat cucunya berkumpul seperti ini. Opa Gunawan dan Oma Bella kini sudah memiliki cucu sebanyak 7 orang. Dua cucu dari Damian dan Tania, sebagai anak pertamanya. Dua orang cucu dari Resha dan Leon, anak keduanya. Serta tiga cucu dari Ferdian dan Ajeng, anak ketiganya, yang mudah-mudahan akan bertambah satu sebentar lagi. Lelaki tua itu begitu bahagia.
Tidak lama, Oma Bella datang menghampiri. Fea beranjak dari tempat duduknya dan memeluk neneknya itu.
“Fea Sayang mau sekolah di sini?” tanya oma Bella.
“Iya, Oma! Fe mau sekolah bareng sama Abang Acen sama Rainer juga!” ucapnya riang dan heboh.
“Besok Senin, Pak Arsyad daftarin kamu sekolah,” ucap Opa Gunawan menyebut nama asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya.
“Yeaaay, akhirnya Fe satu sekolah bareng Abang Acen sama Rainer!”
Kedua remaja pria yang sejak tadi memandanginya tampak lelah. Memandanginya saja lelah, apalagi mengurusnya. Keduanya mendesah berbarengan.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa...
Jangan lupa ***like, comment, vote & tips :****
__ADS_1
thank youuu