
Lagi-lagi Arsene pulang terlambat di malam ini. Meskipun tadi subuh mereka sudah sama-sama bisa melepas hasrat, Zaara tetap saja merasa Arsene lebih mementingkan pekerjaannya dibanding dirinya. Ia ingin sekali berbicara dari hati ke hati, tetapi pasti sepulang ini Arsene akan langsung tertidur.
Bahkan Arsene terlambat lebih lama. Adzan isya sudah berkumandang. Hati Zaara semakin cemas saja. Ia terus menengok jam dindingnya. Pesan singkat sudah dikirimkannya, tetapi Arsene belum membacanya. Kini Zaara mencoba menghubunginya lewat telepon. Sambungan terhubung, tetapi tidak ada yang mengangkat. Apa Arsene selalu meninggalkan ponselnya di dalam tas?
Sebuah ketukan terdengar. Zaara lekas-lekas membukanya.
“Assalam…”
“Abang tuh kalau pulang terlambat bisa kasih tau sebelumnya gak sih?!” Zaara langsung menodong pria yang terlihat lesu itu dengan omelannya.
“Maaf aku selalu tinggalin ponsel di dalam tas,” Arsene masuk ke dalam apartemennya.
“Apa gak bisa sama sekali hubungi aku dulu?!”
“Tas aku ada di loker, tempatnya jauh dari dapur, sedangkan dapur terus sibuk!” Arsene mendudukkan dirinya di atas kursi sofa.
“Sampai kapan sih Abang kaya gini terus? Ini gak sekali dua kali lho! Abang tuh sering kaya gini! Kenapa selalu pulang lewat dari jam kerja Abang?!”
“Bisa gak ngomongnya nanti?! Aku capek banget!” keluh Arsene, pria itu langsung mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi.
Zaara mendengus kesal. Kesabarannya sudah hampir mencapai limit. Arsene sama sekali tidak menjelaskan apapun. Padahal ia sudah sering bertanya ketika pria itu sedang santai. Alasannya pasti sama, karena orang-orang di restoran membutuhkannya. Apa Arsene pernah berpikir kalau istrinya sama membutuhkannya di rumah? Zaara kembali melanjutkan pekerjaannya mengedit naskah novel.
“Abang bisa bicara sebentar?” tanya Zaara ketika pria itu hendak membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Besok aja ya, aku ngantuk!”
Zaara berdecak. Ia harus menahan diri.
\=======
Siang itu seperti biasanya, Arsene akan menjemput Zaara untuk makan siang bersama di kampus dengan bekal yang sudah disiapkan. Mereka memilih sebuah kursi panjang di taman yang dikelilingi oleh gedung perkuliahan.
“Bulan depan Abang bisa antar aku ke klinik kan?” tanya Zaara saat ia berhasil menghabiskan makan siangnya.
“Insya Allah!” jawab Arsene datar.
Mendengar intonasi datar suara suaminya, Zaara berpikir Arsene mungkin masih mempermasalahkan hal semalam, ketika dirinya terus memberondongi suaminya dengan kata-kata protesnya saat suaminya itu pulang. Mereka memang belum berbicara lagi pagi tadi karena sama-sama ada perkuliahan pagi.
“Aku udah catat, Abang 2 kali selalu berucap gitu, tapi ujung-ujungnya aku berangkat sendiri,” keluh Zaara.
“Iya kah?” tanya Arsene menatap istrinya.
__ADS_1
“Iya. Apa Abang sayang aku dan anak kamu sendiri? Bahkan akhir minggu pun udah gak ada lagi waktu buat aku!” protes Zaara lagi.
Jantung Arsene bergetar mendengar ucapan istrinya.
“Aku kerja keras karena aku sayang kalian. Aku berusaha menyiapkan semuanya yang terbaik untuk masa depan kita semua. Maaf karena mungkin aku udah lalai, tapi impian kita bisa terwujud dengan cepat,” terang Arsene.
Zaara menghela nafasnya.
“Semenjak Abang kerja di restoran, banyak waktu kita yang terkikis. Aku ngerti Abang berusaha mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan kita di masa depan, tapi bisakah Abang lebih perhatian sama aku?” pinta Zaara.
“Bisakah kita bicarakan ini di apartemen?” Arsene melihat wajah bergetar Zaara di depannya.
Zaara membalas tatapan suaminya dengan tajam.
“Maaf!” ucap Zaara lalu pergi dari hadapan suaminya.
Arsene mendesah kesal. “Zaara!” panggilnya, membuat mahasiswa lain menoleh ke arahnya. Ia tidak mengejar istrinya yang berjalan menuruni tangga. Pria itu hanya mengembuskan nafasnya panjang, adakah yang salah dengan dirinya? Padahal ia berusaha bekerja keras setiap malam agar tabungannya bisa bertambah dengan cepat. Apalagi ia mendengar desas-desus terkait promosi dirinya yang akan naik ke posisi chef lebih atas, karena kinerjanya sangat bagus. Ia tahu, ia sangat mencintai pekerjaannya, sehingga berusaha mungkin disiplin dan bekerja seprofesional mungkin.
Arsene membereskan kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Lalu berjalan menuju gedung C untuk melanjutkan perkuliahannya siang itu tanpa lagi menghubungi istrinya yang tengah pulang seorang diri, memilih membolos kuliah saat itu.
\======
Terpaksa Arsene harus mengejar ke ruangan yang kemungkinan Zaara berkuliah. Ia memang tidak hafal dimana, hanya saja mereka selalu janjian untuk bertemu di gedung B di hari Senin sore. Arsene menaiki anak tangga menuju lantai dua, sambil mengedarkan pandangannya. Mudah-mudahan ada teman sekelas Zaara yang bisa dikenalnya.
Dua orang gadis berhijab menuruni anak tangga dari lantai tiga menuju lantai dua. Ia mengenal suara mereka yang berbincang. Itu Terry dan Hana.
“Zaara mana?” tanya Arsene pada sahabat istrinya.
“Lah? Kita juga gak tau. Dia gak masuk kelas soalnya, gue kira dia sakit makanya pulang.” Terry berjalan menuju teras yang lebih luas.
“Pulang?!” tanya Arsene tidak percaya.
“Mungkin. Habis sholat dzuhur kan kalian biasa bareng, emang lu gak nanya?” ucap Terry.
“Tadi dia pergi gitu aja, dan gak bilang apa-apa,” terang Arsene jujur.
“Kalian ada masalah ya? Cepet selesein dulu lah. Inget Sen, Zaara lagi hamil anak lo. Akhir-akhir ini dia murung, coba tanya kenapa?”
Arsene tertegun. Memang, Zaara terlihat murung beberapa hari terakhir. Ia sudah jarang melihat senyuman dengan rona pipinya yang merekah. Hanya sesekali saja seperti saat gadis itu meminta jatahnya subuh kemarin.
“Gue balik dulu kalau gitu! Thanks ya!” ucap Arsene dan langsung kembali menuruni anak tangga menuju tempat parkiran.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.15. Untuk mencapai tempat kerjanya, Arsene membutuhkan waktu 30 menit. Sedangkan ia mesti bersiap-siap untuk berganti pakaian, sholat maghrib, dan sedikit makan untuk kerjanya yang dimulai di waktu 18.30. Apakah cukup waktu untuk menemui istrinya? Mengingat ia sudah diwanti-wanti general manager restorannya untuk datang lebih awal karena kedatangan artis terkenal.
Arsene mengetikkan sesuatu di ponselnya. Memberikan kabar pada istrinya kalau ia akan langsung ke tempat kerjanya sore itu karena ada kepentingan mendesak sehingga terpaksa ia tidak libur hari ini. Ia berjanji akan berbicara dengan Zaara setelah itu. Tetapi tidak bisa di waktu ini. Arsene memacu motornya ke pusat kota menuju tempat kerjanya.
Zaara telah membaca pesan suaminya, sudah ia duga pasti hari liburnya malam ini pun tidak jadi. Ia sendiri sudah berada di rumah orangtuanya. Selalu merasa kesepian di dalam apartemen, membuat dirinya pulang ke rumah ayah dan ibunya siang itu. Tentu saja, Karin sangat terkejut dengan kedatangan Zaara siang itu dengan kondisi mata yang merah. Wanita itu berusaha membuat hati putrinya berlapang dada atas setiap kondisi yang dialaminya.
“Ra, kamu udah kasih kabar sama suami kamu?” tanya Karin pada putrinya yang berselonjoran kaki di atas sofa.
“Belum Umi!” jawab Zaara.
“Astaghfirullah Zaara! Kamu harus minta izin setiap pergi. Arsene pasti khawatir nanti!”
“Biarin aja Mi! Zaara dicuekin terus, dia mah lebih cinta sama kerjanya!” seru Zaara tanpa menatap wajah ibunya dan tetap melihat televisi.
“Astaghfirullah Zaara… Kamu gak boleh gitu, Sayang!”
Wajah Zaara tertunduk sedih.
“Mau Zayyan antar ke apartemen?” tawar Karin.
“Gak usah Mi! Aku bilang aja nanti sama Arsene kalau aku nginep di sini!”
Karin menggeleng-geleng melihat tingkah laku anaknya yang sedang mengandung itu. Memang Zaara jadi semakin sensitif, rapuh, dan haus perhatian setelah hamil. Sedangkan Arsene semakin sibuk saja karena kuliah dan kerja malamnya.
“Zaara Sayang, lain kali gak boleh gini ya? Bagaimanapun, Arsene itu suami kamu. Kamu gak boleh pergi tanpa seizinnya, sekalipun kamu pergi ke rumah Abi dan Umi. Umi ngerti kamu sedang butuh perhatian banyak dari Arsene. Coba kalian saling bicara dari hati ke hati, bilang sejujurnya apa yang kamu inginkan. Semakin dewasa usia pernikahan, semakin banyak ujian untuk kalian.” Karin mengelus kepala anaknya yang tertunduk.
“Udah Mi! Tapi Arsene selalu nunda-nunda pembicaraan kita. Dia selalu bilang capek. Bahkan hari ini pun dia gak libur, kemarin dia pulang terlambat 4 jam! Gak pernah antar Zaara lagi ke klinik. Siapa yang gak kesel, Mi?! Padahal aku lagi butuh dia!” terang Zaara, bulir-bulir air matanya kembali menetes.
Karin menarik kepala putrinya ke dalam dekapannya.
“Bicarakan di saat yang tepat, dia pasti ngerti! Kamu harus lebih sabar. Seorang istri itu harus lebih sabar! Sekarang cepet hubungi dia, biar dia bisa jemput kamu kesini!”
Zaara mengangguk. Gadis itu mengeratkan pelukannya pada ibu yang melahirkannya 20 tahun silam, merasakan kehangatan yang membuat hatinya jauh lebih baik.
\======
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa like, comment dan vote
Makasiiiih ^_^
__ADS_1