Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 109. Panas


__ADS_3

Zaara menaruh buah dan sayur yang baru dibelinya tadi di dalam kulkas. Ia mengambil dua helai roti tawar yang dibelinya tadi untuk makan malam sendirinya. Setiap malam ia harus merasakan kesendirian ini di dalam apartemennya. Padahal dulu sebelum Arsene kerja di restoran, tawanya seringkali pecah karena gombal receh suaminya. Kini Arsene jarang sekali menggodanya. Zaara hanya bisa merasakan pelukan hangat suaminya ketika ia sudah jauh terlelap ke dalam dunia mimpi. Paginya, Arsene kadang tertidur kembali setelah subuh karena pria itu pulang larut. Lalu mereka akan sarapan pagi dan pergi ke kampus bersama. Begitu pula ketika di akhir pekan. Bahkan Arsene bekerja seharian penuh di hari Sabtu Minggu. Rasanya waktu untuk Zaara semakin sedikit saja. Padahal dirinya sedang haus perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu,  Zaara selalu menunggu-nunggu ketika datang hari Senin dan Jumat.


Zaara terlihat meringkuk di kasurnya ketika Arsene membuka pintu kamarnya malam itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Pria itu menaruh tas kecil di gantungan pintunya, lalu beralih ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang menempel aroma asap dari dapur restoran tempat kerjanya.


Arsene merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah berpakaian lengkap. Melihat wajah damai istrinya, ia jadi tergoda untuk mengecup wajahnya. Ia merasa menyesal karena selalu tidak bisa mengantarkan istrinya itu untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. Wajah Arsene pindah ke perut Zaara.


“Assalamu’alaikum anak ayah. Maaf ya ayah gak bisa antar kamu. Ayah sayang kamu.” Arsene berbisik di samping perut istrinya, lalu mengecupnya.


Tiba-tiba Zaara bergerak, menelentangkan tubuhnya tanpa sadar. Arsene jadi memperhatikannya. Wajah Zaara mengernyit.


“Jangaaan!” racaunya sambil mengubah posisinya lagi ke pinggir.


Arsene jadi terkekeh melihat istrinya mengigau. Pria itu baru akan menyadarkan istrinya.


“Mas, gak boleh! Mas Raffa!”


DEG.


Nama itu tentu saja membuat Arsene naik darah. Zaara bermimpi apa sampai-sampai bisa menyebut nama itu dalam tidurnya?


“Abang! Maaf!” racaunya lagi.


Zaara memang sering meracau akhir-akhir ini. Apa karena kehamilannya, Arsene tidak tahu. Yang jelas ia tidak suka racauan kali ini.


“Zaara!” Arsene menyentuh pipi gadis yang terlihat resah dalam tidurnya itu.


“Zaara!” panggilnya lagi.


Zaara terkejut dan terbangun begitu saja. Dipandangi suaminya yang terlihat segar dengan tatapannya yang terkejut.


“Kamu mimpi apa?” tanya Arsene.


“Eh?! Astaghfirullah!” ucapnya tertunduk, jantungnya berpacu cepat. Ia ingat sedikit mimpinya tadi. Ia berusaha mengatur nafasnya.


Arsene terus memandangnya dengan tajam karena gadis di depannya belum menjawab pertanyaannya.


“Zaara, kamu mimpi apa?” tanyanya lagi.


“Aku gak tau!” jawab Zaara pelan. Ia hanya menutupi mimpi yang diingatnya.


“Kamu nyebut nama seseorang!”

__ADS_1


“Hah?!”


“Udahlah lupain aja, kita tidur lagi aja!” ucap Arsene berusaha tidak membahas itu di malam hari. Tidak baik.


Akan tetapi, Zaara malah semakin penasaran. Wajah Arsene terlihat kesal ketika menarik selimut ke tubuhnya. Gadis itu bertanya-tanya. Apa jangan-jangan ia menyebut nama Raffa sehingga membuat Arsene marah?


Zaara memeluk tubuh suaminya dari belakang, karena Arsene memunggunginya. Arsene bersikap biasa saja, tidak merespon pelukan istrinya itu. Padahal biasanya, pria itu akan mengelus dan menggenggam tangannya. Zaara jadi cemas dan tidak bisa tidur kembali.


“Abang marah?” tanya gadis itu ragu-ragu.


Arsene menghela nafas.


“Aku ngantuk dan capek!” suara Arsene terdengar datar.


Zaara terdiam, hatinya merasa kacau. Aliran air turun dari matanya. Ia berusaha menahan isakannya agar suaminya itu tidak mendengar. Ia membalikkan posisi tidurnya sehingga saling memunggungi satu sama lain. Wajahnya dibenamkan ke dalam guling yang dipeluknya sehingga ia bisa menumpahkan air matanya di sana.


Merasa ada yang tidak beres, Arsene menoleh pada istrinya. Terlihat dari bahunya, gadis itu tengah gemetaran. Arsene bangkit dan menarik guling yang dipeluk istrinya. Guling itu basah di salah satu sisinya. Zaara tidak berkutik kecuali menampakkan wajahnya.


“Kenapa nangis?” tanya Arsene tidak mengerti. Ia menghalau anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


Zaara tidak menjawab, ia masih terus menangis. Arsene sadar, istrinya itu semakin sensitif saja sejak kehamilan ini. Jadi ia harus bersabar menghadapinya. Pria itu menarik lengan Zaara agar gadis itu terduduk. Dipeluknya hangat tubuh istrinya, hanya itu yang bisa menyembuhkannya.


“Untuk apa?” Arsene masih tidak mengerti. Apa untuk racauannya yang tadi?


“Karena aku pergi…,” kata-kata Zaara terputus.


“Gak apa-apa, Sayang!” ucap Arsene mengelus terus punggung istrinya.


“Aku pergi sama Mas Raffa!” lanjutnya, membuat Arsene melepas pelukannya.


Wajah yang teduh itu kini berganti merah padam. Emosi bercampur rasa lelah dan letih dengan cepat menyentak perasaannya. Dadanya terasa sesak, amarah berkumpul semua di kepalanya, hingga rasanya lidahnya itu ingin sekali mengeluarkan api.


“Apa maksud kamu?!” tanya Arsene menghentak, matanya membesar seperti mau keluar. Ia benar-benar marah.


“A-aku terpaksa…,” lidah Zaara terasa kelu di ujung, apalagi nafasnya juga tercekat hingga tak mampu melanjutkan kalimatnya.


“Ngapain kalian berdua, hah?!” bentak Arsene.


“Eng- enggak….” Zaara berteriak lirih sambil menggeleng.


Kepala Arsene berdenyut hebat. Ia tidak bisa melanjutkan diskusi yang memancing amarahnya ini. Kepalanya terasa panas sekali hingga seperti akan pecah dan mengeluarkan isi-isinya. Pria itu berdiri dari kasur dan berjalan keluar masih menahan emosinya yang menyekat dadanya. Ia takut tidak bisa mengontrol emosinya, baru kali ini perasaannya naik dan panas. Ia butuh waktu untuk mendinginkan kepalanya.

__ADS_1


Arsene pindah ke kamar sebelah, menutup pintu dan menguncinya.


Di dalam kamar, Arsene gelisah. Meski lelah menyapa tubuhnya, hatinya yang resah tidak bisa membuatnya tidur. Ia masih bisa mendengar isakan istrinya yang menangis lirih. Suasana sedang hening-heningnya, hingga suara Zaara begitu menyayat. Arsene tidak tahu apa yang terjadi antara Zaara dan Raffa, karena ia lebih memilih untuk pergi ketika Zaara berusaha sekuat tenaga menjelaskan apa yang terjadi.


Mata pria itu terpejam sebentar, masih terdengar suara dari kamar sebelahnya. Ia mengembuskan nafasnya kasar. Arsene bangkit dan keluar dari kamar itu.


Zaara terlihat masih terduduk di atas kasurnya dengan bahu yang bergetar dan tangan yang menutupi wajahnya. Tidak tega, Arsene segera memeluk istrinya erat-erat.


"Bobo yuk!" ajaknya. Ia berusaha melupakan apa yang terjadi agar bisa membuat istrinya tenang. Tidak baik untuk kehamilan Zaara.


Mungkin memang tidak ada apa-apa antara Zaara dan Raffa. Ia berusaha berpikir positif malam itu dan berdamai dengan istrinya. Ia terlalu lelah untuk berdiskusi. Zaara tidak mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu meringkuk di dalam pelukan suaminya yang terus mengelus punggungnya. Sampai akhirnya keduanya benar-benar tertidur dengan masalah yang belum selesai.


Subuh itu Zaara terbangun. Matanya terasa lengket karena bengkak. Ia bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Arsene yang masih tertidur lelap. Setelah shalat subuh, Zaara membangunkan suaminya pelan.


Gadis yang tengah mengandung itu sedang menyiapkan sarapan sederhana. Ia belum berbicara apapun dengan suaminya. Arsene duduk di kursi meja makan. Sambil menatap wajah istrinya yang terdiam, ia menyesap air putih hangat.


"Bisa kita bicara yang semalam?" tanya Arsene, ia berharap Zaara bisa jujur.


"Maaf…." Zaara memulai pembicaraan itu sebelum sarapan.


"Maaf aku pergi ke supermarket bareng Mas Raffa kemarin malam setelah dari klinik. Maaf karena aku gak bilang sama kamu. Mas Raffa menawarkan tumpangan karena dia juga mau kesana saat kita ketemu di gerbang klinik." Zaara mencoba menjelaskan sedetail mungkin.


Arsene menghela nafas.


"Apa ada yang lainnya terjadi?"


"Enggak, cuma Mas Raffa antar jemput aku ke apartemen. Maksud aku, sampai halaman parkir aja."


"Ya udah. Lebih baik kamu tunda belanja kalau gak sama aku. Ngerti kan?" Ucap Arsene berusaha tidak membentak.


"Iya, maafin aku!"


Arsene anggap permasalahan itu selesai. Ia tidak menunjukkan emosinya, karena khawatir menyakiti. Hanya saja perasaan wanita memang berbeda, Zaara justru berharap Arsene akan meluapkan emosinya. Apakah suaminya itu tidak cemburu? Atau memang rasa marahnya sudah berhasil diredamkan? Zaara kembali menyiapkan sarapan untuk mereka dan berusaha melupakan itu semua. Ia berjanji pada dirinya untuk tidak mengulanginya.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung....


Makasih sudah setia membaca kisah Arsene dan Zaara


LIKE, COMMENT dan VOTE kalian sangat berarti buat aku <3

__ADS_1


__ADS_2