
"Kenapa kamu gak pernah cerita tentang trauma kamu ke aku?" tanya Ajeng di jalan sepulangnya mereka dari rumah orang tua Ferdian.
Ferdian tampak fokus di jalanan yang lurus dan lengang.
"Aku cuma belum siap!" ucapnya tanpa memandangi istrinya.
"Kalau kamu siap ngehamilin anak orang, harusnya kamu cerita dong!"
Ferdian menoleh pada istri yang berekspresi datar, ia sadar ia melakukan kesalahan di awal. Harusnya ia menceritakan hal itu sejak sebelum mereka menikah. Meskipun ia sendiri tidak tahu apakah traumanya akan sangat membebani dirinya saat ini atau tidak.
Ajeng menghembuskan nafasnya. Wajahnya menatap pinggir jalanan yang dilewatinya. Pikirannya melayang, perasaannya dilanda kecemasan. Ia sangat khawatir kalau suaminya itu justru akan bersikap tak acuh. Padahal ia sangat membutuhkannya saat ini.
Ajeng menaruh kotak pemberian dari kakak iparnya di atas meja makan sesampainya di apartemen. Ia kemudian hendak membersihkan tubuhnya yang terasa sangat gerah.
"Sayang, ini kotak dari Kak Resha aku buka ya?" tanya Ferdian yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Iya, kamu buka aja. Aku mau mandi dulu!"
Ferdian membuka kotak itu karena terlalu penasaran dengan isinya. Tumben sekali kakak perempuannya itu mau membelikan untuk istrinya hadiah. Padahal selama ini, ia sebagai adiknya saja jarang sekali diberi hadiah. Ferdian cukup terkejut dan antusias melihat isi kotak hadiah itu ternyata berisi buku-buku mengenai kehamilan dan parenting. Ada buku khusus parenting untuk ibu dan parenting untuk ayah. Kemudian di sana terdapat secarik kertas kecil berisikan tulisan tangan.
Selamat buat kalian berdua. Doakan kami juga semoga menyusul ya. Sehat-sehat selalu.
Special for Ferdian:
You can do this, my cute little brother! Don't be afraid and be strong! (Kamu bisa, adik kecilku yang lucu! Jangan takut dan kuatlah!)
Rajin bacanya yaa!
Leo & Resha <3
Ferdian tersenyum, Ia merasa sangat beruntung karena keluarganya begitu mencintainya dan mendukungnya. Apalagi momen saat ayahnya tadi sempat mengucapkan kata, ia sangat terharu. Ia berharap dengan kelahiran anaknya nanti bisa berbarengan juga dengan kesembuhan ayahnya.
"Udah dibuka?" tanya Ajeng yang masih sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk.
"Udah, isinya buku kehamilan sama parenting nih! Kamu udah kasih tau Kak Resha lebih dulu ya?"
"Wah senangnya! Iya aku kasih tau kakak-kakak kamu lebih dulu," jawab Ajeng memperhatikan buku terkait kehamilan.
Ajeng tampak antusias membuka isi buku itu halaman demi halaman. Wajahnya berbinar dan tersenyum. Ferdian melihat itu semua, ia menyadari istrinya itu sedang sangat bahagia, Ferdian mengecup keningnya karena tak tahan melihat betapa cantik istrinya itu. Ia hanya berharap semuanya akan bisa dilewatinya dengan baik.
\=====
"Kamu mau makan apa?" tanya Ferdian mengambil sebuah jeruk dari kulkas. Ia berusaha bersikap sebaik mungkin pada Ajeng apalagi pada hari libur seperti ini.
Ajeng sedang menyandarkan tubuhnya di sofa sambil membaca buku kehamilan yang diberi Kak Resha dan suaminya kemarin.
__ADS_1
"Hmm... aku pengen makan salad aja, Sayang! Rasanya terlalu enek kalau makan nasi," jawab Ajeng yang matanya tak lepas dari buku barunya itu.
"Aku bikinin ya?" tawar Ferdian yang sigap langsung mengambil jenis buah-buahan yang ada di dalam kulkasnya. Ada apel, pir, melon, jeruk, dan anggur. Ia juga mencampur daun selada jenis lettuce untuk ditambahkan ke dalam mangkuk besar. Dengan handal, Ferdian mengaduk potongan buah segar, selada, dan mayones. Lalu menghidangkannya di mangkuk lain yang lebih kecil untuk diberikan kepada istrinya.
Ferdian membawa mangkuk berisi salad buah segar dan segelas air putih pada Ajeng. Ajeng yang melihatnya, langsung menutup bukunya.
"Ini sarapan kamu, Sayang!" ucap Ferdian memberikan mangkuk itu pada istrinya dan menaruh gelas kaca berisi air di atas meja.
"Makasih banget!" ucap Ajeng sumringah mengambil salad dari tangan suaminya.
"Sama-sama, mana hadiahnya?" tanya Ferdian, matanya terlihat genit dengan kerlingannya.
Ajeng mengecup salah satu pipi kekar suaminya, membuat Ferdian terlihat merona seketika.
"Terus kamu makan apa?" tanya Ajeng sambil menyuapkan salad segar itu ke mulutnya.
"Berdoa dulu, Sayang!" sergah Ferdian.
"Oh iya!" ucap Ajeng seraya melafalkan doa sebelum makan.
"Aku mau masak nasi goreng aja!" ucap Ferdian menatap istrinya yang lahap menyuapkan sendok demi sendok salad buatannya itu.
"Gak apa-apa bikin sendiri?"
"Aku udah biasa kok! Nasi goreng buatanku kan enak banget," ucapnya percaya diri.
"Kalau kamu udah mau makan nasi lagi, nanti aku bikinkan ya?!"
Ajeng tersenyum mengangguk.
Ferdian kembali berjalan menuju dapurnya. Ia mengambil talenan, juga bawang merah dan bawang putih untuk diirisnya. Dengan lihai, ia mengiris bawang-bawang itu bak koki handal. Ajeng yang tertarik untuk melihat aksi masak suaminya, memutuskan untuk duduk di bangku tinggi bar dapur.
"Wah ada juri nontonin aku masak nih!" ucap Ferdian masih mengiris bawang sambil sesekali melihat ke arah istrinya yang masih lahap memakan salad buatannya.
"Aku kan belum pernah liat kamu masak!"
"Oke deh, pasti kegantengan aku naik 10 level kalau lagi masak!"
Ajeng terkekeh geli, tidak ada yang bisa mengalahkan kenarsisan seorang Ferdian, dan memang dalam hati Ajeng, ia bertambah tampan saja ketika melancarkan aksinya di dapur.
Ferdian mengambil bahan apa saja yang ada di dalam kulkasnya untuk menjadi pelengkap di menu hidangan nasi gorengnya yang spesial itu. Ada keju, kornet, dan bawang goreng. Ia juga menambahkan telur dadar, irisan timun dan tomat juga selada untuk semakin membuat nasi gorengnya lengkap. Bau sedap tercium seantero ruangan.
Ajeng pun mencium itu dengan jelas, membuat lidahnya mengeluarkan salivanya. Bahkan meski ia sedang melahap saladnya, ia pun ikut tergiur dengan aroma sedap yang sedang menggodanya itu.
Ferdian menata nasi goreng buatannya itu di piring datar. Tampilannya cukup menarik dan pasti rasanya akan terasa lebih lezat. Ia membawa piring berisi nasi gorengnya ke atas meja bar di mana istrinya berada di sana.
__ADS_1
"Kamu gak pusing cium bau masakan aku?" tanya Ferdian, nasinya belum diletakan di atas meja. Karena ia khawatir akan membuat Ajeng pusing dan mual.
Ajeng yang menatap lekat pada piring di tangan kanan suaminya tidak bergeming.
"Sayang!" panggil Ferdian, menengok pada wajah istrinya yang tergiur dengan benda di tangannya.
"Oh, enggak! Aneh ya? Aku ga pusing kok!" jawab Ajeng menatap suaminya.
Ferdian meletakan piringnya di atas meja. Dengan tajam wangi hidangan itu menusuk hidung Ajeng, membuat lidahnya meronta ingin ikut mencicip masakan suaminya itu.
"Kayanya enak ya?" ucap Ajeng.
"Mau coba?"
Ajeng mengangguk mantap. Sementara Ferdian tersenyum saja melihat tingkah istrinya yang menggemaskan di matanya. Ferdian mengambil dua sendok, satu untuknya dan satu untuk istrinya. Ia mendekatkan piring itu pada istrinya. Ajeng yang penasaran, langsung mengambil satu sendok penuh nasi goreng spesial ala chef Ferdian.
Ferdian membiarkan istrinya itu mengambil lebih dulu, sedangkan ia lebih tertarik dengan ekspresi Ajeng dan tentunya menunggu bagaimana komentarnya terkait masakannya itu.
Wajah Ajeng tampak berbinar sambil mengunyah nasi goreng. Ia menyuap lagi nasi goreng itu pada mulutnya. Ferdian menatapnya cemas dan penasaran.
"So, how's the taste (Jadi, bagaimana rasanya)?" tanya Ferdian.
Ajeng tak bisa berkata dengan mulutnya yang penuh. Ia hanya mengisyaratkan dengan kedua jarinya yang melingkar. Lalu berucap setelah mulutnya kosong.
"Enaaaaak bangeeeet!!" ucapnya berlebihan dengan mata yang berkaca-kaca, dan mungkin memang seperti itulah lezatnya nasi goreng buatan suaminya. Bahkan ketika sebelumnya, perutnya itu tak mau diisi dengan nasi apalagi daging, dengan takjub ia mengatakan hal itu.
Tentu saja pujian Ajeng membuat Ferdian serasa terbang mengawang ke udara. Apalagi ia dipuji langsung oleh istrinya yang sedang mengandung anaknya. Ferdian langsung memberikan piringnya itu pada Ajeng.
"Habisin ya?!" pinta Ferdian sumringah.
"Tapi kamu gimana?" tanya Ajeng sungkan, ia memang tak bisa menampik keinginannya untuk menghabiskan nasi goreng spesial itu.
"Ini masih ada kok, aku buat lebih!" jawab Ferdian mengambil piring yang lain untuk dirinya.
Ajeng tersenyum senang. Tak ragu lagi, ia kembali menyendokan hidangan yang ada di depannya itu. Padahal mangkuk saladnya sudah habis ketika Ferdian selesai memasak.
Entah kenapa sarapan hari itu terasa lebih lezat dan menyenangkan daripada biasanya. Bahkan Ferdian tak pernah berhenti menatap istrinya yang antusias menghabiskan menu masakan buatannya itu.
\=====
Siapa yang mau ikut icip juga?
Haha
VOTE yaa 10 poin juga gak papa dong, tapi kalau mau lebih besar boleeeeh bangeeet
__ADS_1
makasiiiiih