
Bulan Ramadhan telah berjalan beberapa hari. Kaum Muslimin berusaha menjalankan salah satu rukun Islam ini dengan sungguh-sungguh demi meraih ketakwaan. Suasana religi begitu kuat di mana pun. Dari masjid-masjid senantiasa dialunkan ayat-ayat suci yang menyentuh hati. Ini bukan Ramadhan pertama Ajeng dan Ferdian setelah mereka menikah, akan tetapi Ramadhan pertama sebagai orang tua dari Arsene Rezka, anak laki-laki mereka.
Ajeng bangun untuk menyiapkan makan sahur hari ini. Ia dibantu oleh Bi Asih yang biasanya akan mempersiapkan bahan dan membuat bumbu, sedangkan Ajeng hanya perlu mengerjakan sisanya.
"Mau bikin apa, Bi?" tanya Ajeng sambil mengikat rambut panjangnya.
"Sayur sop tomat sama ayam saus mentega."
"Siap!"
Ajeng merebus air di panci, lalu ia memasukan wortel, tomat, potongan daging sapi, dan kentang yang sudah dipotong dan dicuci bersih. Wanita itu lalu memasukan bumbu yang sudah dibuat oleh Bi Asih, tinggal menunggu mendidih dan matang. Ia juga menambahkan daun bawang dan seledri agar semakin sedap. Sementara Bi Asih fokus untuk memasak menu saus ayam saus mentega di sebelahnya. Menu praktis, sehat, dan lezat.
Ajeng pun berjalan kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur lelap.
"Sayang, bangun! Sahur yuk!" ucap Ajeng lembut menepuk pipi suaminya.
"Mmhh..." Ferdian malah menarik tubuh Ajeng dalam dekapannya.
"Hey nanti kesiangan lho!" ucap Ajeng mengingatkan.
"Bentaaaaar aja!" ucap Ferdian yang masih memejamkan matanya. Ia mengelus-elus rambut istrinya.
"Ayo ah!" Ajeng melepas tubuhnya dari dekapan suaminya, lalu menarik tangan suaminya agar tubuhnya itu terbangun.
Ferdian berakting saja seolah-olah ia masih lemas, setelah istrinya berhasil membuat tubuhnya terduduk, ia kembali tertidur.
"Ooh, mau aku ambilkan air dingin ya?" ancam Ajeng.
Ferdian langsung bangkit dari tempat tidurnya. "Iya aku udah bangun nih!"
Ia tidak mau lagi disemprot air dingin oleh istrinya, seperti tahun lalu, karena tidak bangun saja. Ia benar-benar kapok karena dikiranya istrinya itu hanya bercanda.
Mereka pun berjalan ke ruang makan. Bi Asih sudah menyiapkan semua menu sahur di atas meja makan, wanginya tercium sangat sedap. Ferdian mencuci tangannya, lalu duduk di kursi meja makan.
"Yuk Bi duduk di sini!" ajak Ajeng.
"Iya Neng!"
Mereka bertiga menikmati makan sahur yang sederhana namun hangat.
\=====
Ajeng mengenakan dress menyusuinya setelah selesai mandi. Arsene sedang bermain di karpet bersama bola-bola kecil kesukaannya. Bayi itu sudah bisa berdiri dan menyusuri langkah demi langkah sambil berpegang pada benda-benda di sisi tembok. Sebentar lagi mungkin akan bisa berjalan sambil melepas pegangan.
"Arsene, come here to Mommy!" seru Ajeng, membuat bayi yang sedang berpegangan pada sofa itu menoleh.
"Come, come!" ucap Ajeng lagi sambil menepuk tangannya. Ia memancing agar Arsene jalan kepadanya.
Bayi itu tiba-tiba melepas pegangannya, lalu mulai melangkah sedikit demi sedikit ke arah mommy-nya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan tubuh berat itu pun terjatuh. Ajeng segera menghampirinya, karena ia terkejut lalu menangis.
"Cup,cup, it's okay honey! Yeaaah, you made your first step!" ucap Ajeng menggendong anaknya, membuat bayi itu berhenti menangis.
"Kamu hebat! Nanti kita coba lagi ya?" ucap Ajeng mendudukan Arsene di atas karpet lagi.
Ajeng mengambil bola berwarna ungu lalu menggelindingkannya pada anaknya. Arsene menangkapnya dengan dua tangannya yang imut. Bayi itu tersenyum riang ketika bermain dengan ibunya yang sedang libur.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Ajeng melihat ke arah monitor yang memperlihatkan wajah tamu yang tersorot kamera CCTV di depan pintunya. Ternyata itu Andre dan Nava yang datang berkunjung. Ajeng pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Hai...." ucap Ajeng menyapa Andre dan Nava. Mereka berdua tersenyum.
__ADS_1
"Hai! Maaf ganggu ya?" ucap Nava.
"Enggak, lagi santai kok! Yuk masuk, maaf ya berantakan!" ucap Ajeng sambil mengantarkan Andre dan Nava masuk ke dalam menuju ruang tengah, tempat keluarga Ferdian bersantai.
"Haha gak apa-apa," jawab Andre, wajahnya langsung antusias ketika melihat Arsene sedang bermain dengan bola-bola di atas karpet.
"Hallo Arsene, duh udah gede aja ini anak!" ucap Andre menggendong tubuh Arsene. Bayi itu memperhatikan wajah pamannya, lalu menepuk-nepuk pipinya.
"Iyalah, namanya manusia, pasti bertumbuh dan berkembang!" ucap Ajeng duduk di sofa bersama Nava.
"Berapa usianya sekarang Jeng?" tanya Nava memainkan tangan Arsene yang dipangku oleh Andre.
"Udah satu tahun dua bulan."
"Daddy Arsene kemana?" tanya Andre.
"Lagi ada urusan di cafe nya."
"Ooh..."
"Gimana pernikahan kalian? Aku udah gak sabar!" ucap Ajeng antusias.
Nava dan Andre saling berpandangan tersenyum. Lalu Nava mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ada sebuah kertas padat berwarna peach keemasan yang terbungkus plastik bening. Ia memberikan kertas itu pada Ajeng.
"Yeay, akhirnya dapat undangan!" seru Ajeng langsung membuka undangan itu, lalu memperhatikan isinya. Mata Ajeng berseri-seri, apalagi ketika melihat waktu dan tanggal pernikahan Nava dan Andre.
"Wow, kalian nikah minggu depan, bulan Ramadhan ini?" tanya Ajeng memastikan.
"Iya, aku pikir ini waktu yang baik untuk memulai. Jadinya kita pilih di bulan Ramadhan, setelah berbuka puasa," terang Andre.
"Lagian pestanya emang privasi sih, jadi gak terlalu banyak yang datang. Cuma keluarga dan sahabat terdekat aja!" ujar Nava menambahkan.
Mereka semua tertawa-tawa.
"Yah bentar ajalah, kan minggu depannya juga udah lebaran!" ucap Andre.
"Semoga lancar ya acara kalian," ucap Ajeng.
"Aamiin," ucap Andre dan Nava berbarengan.
"Ya udah kita pamit lagi ya, soalnya mau ke kampus anter undangan buat para dosen!" ujar Andre.
"Oh iya deh, lain kali mampir lagi ya!"
"Bye Acen, uncle pergi dulu ya, nanti kita ketemu lagi!" ucap Andre mengecup pipi gembul Arsene.
"Onty juga ya Cen!" ucap Nava yang juga mengecup pipi Arsene.
Andre memberikan Arsene pada mommy-nya. Namun Arsene ingin kembali lagi ke pangkuan Andre.
"Nah lho, pengen ikut uncle ya?"
Andre terkekeh melihat Arsene yang melihat ke arahnya sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Yuk kita anter uncle sama onty nya!" ucap Ajeng sambil mengantarkan Andre dan Nava ke luar pintu apartemen.
"Bye, bye, Acen!" ucap Nava dan Andre bersamaan.
__ADS_1
"Bye uncle, bye onty!" ucap Ajeng.
\=====
Hari berbahagia untuk Nava dan Andre pun tiba. Resepsi diadakan di sebuah hotel berbintang lima yang terletak tidak jauh dari rumah Nava. Ferdian dan keluarganya sengaja tinggal di rumah orangtuanya karena lebih dekat lokasinya. Apalagi mereka juga mengejar waktu resepsi yang diadakan setelah berbuka puasa itu. Ferdian dan keluarga kecilnya berangkat bersama dengan orangtuanya mengenakan mobil alphard hitam milik ayahnya itu.
Mereka pun memasuki ruangan resepsi bernuansa peach-gold. Ferdian menggendong anaknya yang sama-sama mengenakan setelan tuksedo hitam. Sementara Ajeng mengenakan midi dress brukat peach yang seragaman dengan keluarga besar Winata Arthajaya juga keluarga besar Nava.
Semua makanan yang menggugah selera telah tersaji di meja prasmanan dengan dekorasi cantik. Ferdian dan keluarganya berjalan menuju pelaminan untuk mengucap selamat kepada mempelai yang malam ini sudah sah menjadi suami istri. Nava terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin panjang kombinasi kain satin, tile, brokat dan permata yang berkilauan. Di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota kecil. Meski riasan wajahnya terbilang minimalis, tetapi tetap saja wajah wanita itu sangat terlihat cantik dan berkilauan. Sementara di sebelahnya, Andre yang sudah sah menjadi suaminya, mengenakan setelan tuksedo berwarna cokelat keemasan. Akhirnya penantian cinta selama delapan tahun mereka telah usai pada hari ini.
"Selamat ya, Nava, Andre! Semoga kalian bahagia selalu!" ucap Ajeng menyalami keduanya.
"Semoga menjadi sakinah mawaddah wa rohmah!" ucap Ferdian.
"Aamiiin, terima kasih banyak! Berkat bantuan kalian juga kita akhirnya bisa seperti ini!" ucap Andre yang wajahnya terpancar aura kebahagiaan.
"Ah cuma bantuan ecek-ecek!" jawab Ajeng terkekeh.
Mereka pun berfoto di panggung pelaminan sambil menunjukan wajah-wajah ceria yang berbahagia.
"Cepet kasih Arsene temen ya, biar bisa main bareng!" ucap Ferdian menepuk pundak sepupunya itu, sebelum turun dari panggung.
"Doain aja!" jawab Andre.
"Ramadhan penuh berkah, pasti cepet jadi, kaya Miss Novi dan Pak Ardi!" goda Ferdian terkekeh-kekeh.
Andre tertawa saja mendengar celotehan Ferdian.
Ferdian bersama keluarganya pun duduk di sebuah kursi yang dekat dengan para pemusik yang memainkan musik instrumental. Ada alunan piano, biola, juga cello. Musik indah mengiringi acara bahagia malam itu.
"Acen sini mamam dulu yuk!" seru Ajeng, ia mengambil sebuah mangkuk berisi sup krim.
Dengan lahap Arsene menikmati suapan ibunya itu. Meski sudah malam, tampaknya bayi itu cukup antusias. Beberapa kali Ferdian mengajaknya berjalan mengelilingi ruangan yang cukup luas itu. Bayi itu juga memetik bunga-bunga yang ada.
"Give this to your mom, Cen!" instruksi daddy-nya ketika bayi itu mengambil sebuah bunga dahlial berwarna merah.
Arsene, yang dituntun dua tangan oleh daddy-nya, berjalan menuju mommy-nya. Ia pun mengulurkan tangannya, dan memberikan bunga itu pada ibunya. Wajah Ajeng begitu antusias menerima bunga dari anaknya.
"Oh you're so sweet, Arsene! Come and kiss Mom!" pinta Ajeng sambil menggendongnya. Arsene pun mencium pipi ibunya sampai basah. Ajeng dan Ferdian tertawa-tawa saja melihat tingkah Arsene yang membuat gemas.
Malam pun semakin larut, acara bahagia yang singkat itu pun berakhir malam itu. Namun rasa bahagia tetap berlangsung sepanjang masa. Ferdian dan keluarganya kembali ke kediaman orang tuanya.
\=====
Alhamdulillah, Nava Andre udah sah ^_^
Lanjut besok yaa
Yuk poinnya kasih buat penganten baru :D
Like dan komennya jangan lupa
Makasiiih
[BONUS VISUAL]
Ferdian's Little Family
__ADS_1